
Di sebuah mansion pribadi milik John.
Hari sudah siang namun John belum beranjak dari tempat tidurnya. John menggeliat, tanggan nya mencari - cari ponsel yang berdering sejak tadi. John menemukan handphone nya ada di bawah bantal dan melihat siapa yang sedang menelfon nya.
'' Julia..... astaga.... apa aku masih bermimpi,'' John mengerjapkan matanya berkali - kali dan mengusap wajahnya kasar sambil sesekali memegang pipinya.
'' Tidak... ini nyata... ini bukan mimpi,'' ucap John langsung menekan tanda biru.
'' Halo.... '' Bersikap cool
'' Hai.... John, apa aku menganggumu?''
'' Tidak.... '' John bangun dari posisinya menuju tepian jendela kamarnya.
'' Apa kau ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan.''
'' Tentu saja, kapan? Di mana?''
'' Sekarang, kau saja yang tentukan tempatnya.''
'' Baiklah 15 menit lagi kita bertemu di coffe shop x, kau bisa?'' Tanya John balik.
'' Iya... jangan lupa bawa surat perjanjian itu, dan ... bawa juga obat penawar untuk papaku.''
'' Ok.... bye Julia.''
Betapa senangnya John mendapati Julia menghubunginya dan lebih lagi Julia bersedia menandatangani perjanjian itu.
'' Yes..... yes.... yes....''
'' Mension ini tidak akan sepi lagi,'' ucap John melompat - lompat kegirangan.
John segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu bersiap dan berangkat menuju tempat yang ia sebutkan di telfon tadi.
Setibanya di sana John masuk ke dalam coffe shop dan melihat seorang wanita yang amat sangat ia kenal mengenakan dress selutut berwarna maroon dengan cardigan hitam membalut lengan nya.
Wanita itu sedang menyesap secangkir minuman di depan nya. Terkadang anak rambutnya yang tak ikut dalam ikatan meliuk - liuk sedikit menutupi dahi wanita anggun itu. Bahkan sesekali wanita itu melihat ke arah luar jendela kaca melihat pemandangan di luar sana. Meski nampak murung namun wanita itu menutupi dengan senyuman nya.
'' Hai....'' Sapa John membuat Julia yang tengah melihat ke arah luar jendela sambil melamun itu terperanjat.
'' Kau sudah lama?'' imbuh John.
__ADS_1
Julia tersenyum dan menjawab, '' baru lima menit.''
John tahu Julia berbohong, mana ada lima menit lattenya sudah siap. Dia tersenyum dan berkata, '' Apa kau sudah benar - benar memikirkan nya? Jangan sampai menyesal nanti.''
'' Menyesal... aku memang sudah sangat - sangat menyesal telah bertemu dengan mu John, kalau saja hukum tuhan dibenarkan membunuh sembarangan, maka tangan ku sendiri yang akan membunuhmu John,'' meski batin Julia menggerutu tapi dia tetap menganguk.
John mengeluarkan lembaran kertas juga bulpoin yang telah ia siapkan. John meletak kan nya di atas meja dan menyodorkan nya pada Julia.
Julia melihat kertas itu dan masih termenung, ia seperti tidak yakin tentang apa yang akan di lakulan nya. Namun, kata - kata John membuyarkan lamunan nya.
'' Tidak perlu di tanda tangani jika kau tak yakin Julia.''
'' Dasar pria laknat... saraf...'' Batin Julia terus saja mengata - ngatai John yang sangat dia benci. Bahkan melihatnya pun dia hampir - hampir muntah. Jika tidak karena menjaga harga diri dan keluarganya, Julia pasti sudah memaki - maki John di sana.
Tapi ini tentang nyawa ayahnya, ya... sebenarnya Tuhanlah sang pemilik ruh itu namun apa salahnya jika berusaha. Tak hanya itu, Julia juga mempertaruhkan kepercayaan James padanya.
'' Aku ingin lihat apa kau membawa obat penawarnya?'' Julia menatap John intens.
John pun hanya tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya. Sebotol cairan berwarna biru dengan ukuran botol yang amat kecil.
'' Apa kau yakin tidak salah membawa obat penawarnya atau malah racun yang kau berikan untuk papaku?''
'' Aku mempertaruhkan ini atas nama cinta, aku tidak akan berani mencintaimu lagi Julia jika ini salah,'' ucap John dengan begitu yakin.
Setelah menandatangani surat itu, Julia menyerahkan nya pada John. John pun melipat surat perjanjian itu dan berkata, '' jadi kapan aku bisa segera menikah denganmu Julia?''
Pertanyaan itu membuat Julia merasa jengah. Baru saja menandatangani surat perjanjian sudah membicarakan pernikahan. '' Sakit Jiwa,'' gumam Julia.
'' Setelah aku menyelesaikan masa iddahku,'' jawab Julia segera mengambil botol obat penawar itu dari tangan John dan beranjak pergi tanpa menghiraukan lelaki yang menggilainya itu.
John sama sekali tak marah dengan sikap Julia pada dirinya itu. Dia justru tersenyum sambil mengetuk - ngetukan satu jarinya di atas meja. John pun lantas mengikuti Julia keluar dari coffe shop itu.
John sengaja menghentikan mobilnya di depan Julia yang tengah menunggu taksi. Dia membuka jendela mobilnya meminta Julia masuk dan akan mengantarkan nya.
'' Ayo masuklah... kau akan terlambat jika tidak cepat.''
Julia memutar bola matanya malas, tapi dia harus cepat sampai ke rumah sakit.
'' John benar juga,'' kata Julia dalam batin sembari membuka pintu mobil John.
Tak ada kata terucap selama perjalanan dari bibir Julia. Dia hanya memandangi ke arah luar jendela di sebelahnya. Tak lama mobil yang di bawa John berbelok ke area parkir rumah sakit. Julia segera keluar dari mobil itu dan bergegas menuju ruangan ayahnya.
__ADS_1
Lagi - lagi John hanya bisa menghela nafas mendapat perlakuan tak acuh dari Julia. '' Semuanya akan segera berubah setelah kau menjadi miliku,'' batin John.
Julia kini telah berada di dalam lift. Saat pintu lift terbuka dia berlari menghampiri mamanya yang nampak duduk di kursi sambil sebentar - sebentar melirik papanya di dalam ruangan.
'' Mama....''
'' Julia.... kenapa lama sekali sayang.''
'' Maaf ma, jalanan macet jadi butuh waktu lama ke sini.''
Tak lama seorang dokter dan dua perawat melewati mereka dan masuk dalam ruangan papa Julia. Dokter itu sempat tersenyum pada Julia sebelum memasuki ruangan. Dua wanita itu berdiri di depan jendela kaca.
Julia nampak menggenggam ke dua tangan nya sendiri dengan erat. Berharap tidak ada kesalahan yang terjadi karena obat penawar yang di berikan John tadi. Sayup - sayup Julia seakan mendengar dering handphone nya. Julia mengambilnya dari dalam tas.
'' Halo.... James....''
'' Halo sayang.... apa kau sudah mendapatkan nya?''
'' Iya ... sekarang dokter sedang menyintikan penawar itu.''
'' Baiklah.... kau jangan khawatir oke, aku akan segera ke sana menjemputmu... bye darling....''
Saat Julia mengakhiri panggilan James, dokter telah melewatinya. Dia segera mendekat ke mamanya dan bertanya tentang apa yang dikatakan oleh dokter.
'' Dokter bilang kita harus menunggu hasilnya setidaknya 15 atau 30 menit sayang.''
Julia mengangguk mendengar penjelasan mamanya. Anak dan ibu itu duduk sambil terus memperhatikan mesin waktu yang melekat di pergelangan tangan mereka.
'' 25 menit... '' Gumam Julia sambil berdiri melihat ke dalam jendela kaca itu.
Tak lama berselang, Julia pun melihat jari tangan papanya bergerak - gerak. Saking senangnya Juliapun berteriak memanggil mamanya.
'' Mama...mama.... papa.... ma.... jari papa bergerak - gerak.''
'' Ia sayang..... papamu sadar,'' ucap sang mama mengengam tangan anak perempuan nya itu. Bahkan mereka berduapun sempat melompat - lompat kecil.
Mama Julia melihat guratan kesedihan dari wajah Julia yang tadi sumringah. Nyonya Parta itu merasa ada yang aneh dengan putrinya.
'' Ada apa sayang.... apa kau tidak senang papamu bangun?''
'' Mama..... aku akan bercerai dari James.''
__ADS_1
'' Duarrrrrr......''