BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
23


__ADS_3

'' O...ya Julia, saat aku menolongmu dulu, kau pernah berjanji akan mentraktirku di cafe itu kan?'' Kata James mengingatkan Julia.


Julia diam, dia mencoba mengingat - ingat tentang apa yang di katakan James. Saat Julia belum sempat berkata apa pun, James kembali berkata padanya,'' tidak apa jika kau sudah lupa, lupakan saja.''


'' Tidak ... tidak... aku tidak lupa, tapi apa bisa di tempat lain saja?'' Pinta Julia


'' Kenapa?'' Tanya James.


Julia berfikir sejenak,'' aku tak tahu apa aku sanggup melukai hati Wira jika aku harus berada di sana bersama lelaki lain.''


'' Aku tahu apa yang kau fikirkan Julia, pasti tentang lelaki itu,'' batin James.


Kedua orang itu kini tengah bergelut dengan pemikiran dan perasaan mereka sendiri. Julia sibuk dengan pemikiran dan rasanya pada Wira sedang James sibuk dengan hatinya yang bergemuruh saat melihat Julia bersama lelaki lain. Namun dia belum bisa melakukan apapun karena menjaga perasaan gadis yang entah sejak kapan dia kagumi.


'' Tidak apa, jika kau tak bisa Julia,'' kata James memecah keheningan diantara mereka.


Tiba - tiba pintu kamar James di ketuk seseorang. James membuka pintu dan itu adalah sekertaris James yang mengantarkan makanan untuk mereka berdua. Sekarang memang sudah siang. Bahkan perut Juliapun mulai menggeliat minta di isi sesuatu.


'' Bagaimana?'' Tanya Victor.


'' Bagaimana apanya?'' Jawab James sedikit berbisik agar Julia tak mendengar percakapan mereka.


'' Itu... sang putri, udah dapat hatinya belum?'' Kata Victor menegaskan karena James yang masih malu - malu.


'' Siapa James?'' Tanya Julia yang agak lama menunggu James.


'' Sttt... jaga bicaramu, nanti dia mendengarnya, lagi proses,'' jawab James langsung menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


'' Ini... sekertaris aku, ngantar makanan untuk makan siang kita,'' jawab James sambil tersenyum.


'' Dasar bodoh... gitu doang, rayu kek, apa kek.. biar cepet prosesnya, ngak aku terus yang di suruh ngerjain kerjaan mu.... hemh....'' Gerutu sang sekertaris sambil berlalu pergi.


James meletak kan semangkuk sup dan beberapa makanan pendamping untuknya di meja. Sedangkan untuk Julia dia letak kan dalam nampan agar dia bisa makan di atas tempat tidur. James mencoba menyuapi Julia, namun Julia menolaknya.


'' Tidak James, aku bisa makan sendiri, bukan kah ku juga harus makan,'' jawab Julia menolak suapan yang di berikan James padanya. Julia meminta agar dia di bantu duduk di sofa. Julia ingin makan bersama James di sana.


'' Tidak Julia, kau masih lemah,'' jawab James meletak kan nampan yang berisi makanan di atas meja bersebelahan dengan makanan nya. Dia membantu memapah Julia yang yerus bersikeras ingin makan bersamanya.


Akhirnya James menuruti permintaan Julia yang bersikeras dengan keinginannya. Mereka makan dengan tanpa berkata - kata, hingga Julia mengatakan sesuatu padanya. '' James kapan kau bisa pergi bersamaku ke kota B?''


James Tercengang mendengar perkataan Julia. Diapun menghentikan makan nya saat itu juga.


'' Apa sakitnya sangat parah, hingga merusak jaringan sarafnya?'' Batin James yang tak menyangka jika Julia akan menepati Janjinya itu. James tahu pasti jika Julia bukanlah tipe yang mudah di taklukan.


'' Baiklah ... aku akan minta izin pada papa untuk pergi bersama mu minggu depan, apa kau ada pekerjaan?''


Dengan cepat James menjawab,'' tidak ada pekerjaan yang akan menghambat satu rencana jika itu kau yang membuatnya.'' Mendengar itu Julia tersenyum simpul dan segera menyelesaikan makan nya.


Sementara itu di rumah Julia. Mamanya Julia telah menyelesaikan makan siangnya bersama sang suami. Kini dia pergi ke kamar James untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak gadisnya, karena dia merasa ada sesuatu yang ditutup - tutupi oleh James.


Nyonya Parta mebgetuk pintu kamar anak lelakinya itu. '' tok...tok...tok...'' Begitulah pintu itu di ketuk dan segera seseorang muncul dari balik pintu.


'' Mama... masuk ma,'' kata Julian pada mamanya itu.


'' Lian... apa kau sedang sibuk?'' Tanya sang mama.

__ADS_1


'' Sedikit ma, hanya menyiapkan berkas - berkas yang akan ku bawa untuk James,'' jawab Julian seakan tak menyadari gelagat kecurigaan mamanya.


'' Emh... bolehkah mama bertanya sesuatu Lian?'' Kata sang mama lagi.


'' Apa itu ma?''


'' Lian.... sebenarnya apa yang terjadi pada adikmu Lian?'' Tanya mamanya sambil memegang lengan Julian yang sedang sibuk memasukan beberapa berkas ke dalam map hingga Julian pun menghentikan pekerjaan nya. Julian menatap mamanya, seakan tak mengerti tentang apa yang mamanya tanyakan.


'' Tidak ada apa - apa ma... aku berjanji akan membawanya pulang sore ini setelah menyelesaikan pekerjaan ku dengan James, lagi pula dia akan jenuh jika terus berada di rumah,'' jawab Julian meneruskan pekerjaan nya yang sempat tertunda.


'' Lian... apapun yang terjadi kau harus selalu melindungi adikmu.''


'' Mama jangan khawatir, aku pasti akan menjaganya, James juga akan membantuku menjaga Julia ma,'' kata Julian meyakinkan mamanya.


Mama Julian menganguk dan keluar dari kamar anak lelakinya itu diikuti oleh Julian. Sesampainya di lantai bawah Julian berpamitan ke rumah James untuk melakukan pekerjaan nya. Julian pun segera berangkat.


Sementara itu di Kota B.


Seorang lelaki tengah mengurung diri di kamarnya. Dia tidak pergi bekerja ataupun sekedar keluar bersama teman - teman nya. Matanya nampak sayu, raut wajahnya kusut layaknya baju yang belum di setrika. Otaknya tak mampu bekerja lagi.


Dia hanya tergelepar di atas tempat tidur. Tatapanya tertuju pada langit - langit kamar berwarna keemasan. Rona wajah yang biasanya berseri - seri kini menerawang jauh, jauh entah kemana. Nama Julia memenuhi fikiran nya, bayangan gadis itu selalu membayang di matanya.


Hatinya terasa sakit kala harus mengingat kembali saat -saat dia harus berpisah dengan Julia. Meski hand phone sang playboy ini tak pernah sepi dari rayuan para gadis - gadis penggoda pemburu harta, tapi ia tetap tak bisa memungkiri jika Julia lah yang mengisi seluruh relung hatinya.


Wira mengingat - ingat siapa orang yang berdiri di belakang Julia saat itu. Julia memanggilnya dengan sebutan kakak. Mata Wira terperanjat mengetahui siapa sebenarnya Julia. Bahwa gadisnya adalah anak dari seorang pengusaha ternama yang sebenarnya telah lama bekerja sama dengan ayah Wira.


Terbesit sesuatu di benak Wira saat ini. Mungkin dia akan malu dan tak tahu di mana harus menyembunyikan wajahnya, tapi demi gadis itu dia rela melakukan nya. Kini matanya berbinar, dia segera menyambar handuk yang tergantung di sisi lemari dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian rapi. Dengan bersemangat Wira menapaki anak tangga dengan menyandang jas di tangan kirinya dan kunci mobil di sebelah kanan. Wira menyambar roti bakar di atas meja makan yang berada di lantai bawah dan bergegas mengendarai mobilnya.


__ADS_2