
Malam hari di rumah James.
Julian telah kembali kerumahnya dan kini James sedang sendiri di ruang kerjanya. Dari beberapa jam lalu dia sudah di sibuk kan dengan urusan tentang Julia, kini dia merasa letih. James menyandarkan bahunya di kursi, sambil mengotak - atik hapenya melihat - lihat beberapa sosial media miliknya ataupun sekedar melihat status kawan - kawan nya sembari menghilangkan penat.
Sesekali James nampak tertawa geli melihat status kawan - kawan nya yang terkadang lucu dan menggelitik. Jarang sekali James punya waktu melihat status kawan - kawan nya. Dia terlalu sibuk untuk mengurusi hal seperti itu.
Namun James nampak terperanjat saat melihat status salah satu teman usahanya. Tak lama dari itu dia langsung menelpon seseorang dan entah apa yang dia katakan.
Pagi hari di penginapan tempat Julia dan Wira menginap.
'' Julia.... Julia.... cepatlah... nanti kita bisa terlambat,,,'' kata Wira pada gadisnya yang sedang sibuk dengan guyuran air di kamar mandi.
'' Iya.... iya.... aku masih mandi,,,'' mendengar jawaban Julia dari dalam kamar mandi, Wira memilih menunggu di sofa ruang tamu. Dia juga sudah memesan sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat ke bandara.
Beberapa saat Julia keluar dari kamarnya dengan baju santai. Celana panjang dengan kaos berkerah warna merah muda yang dia pilih dari apa yang di beli orang jepercayaan Wira di salah satu toko pakaian terdekat. Meski sederhana namun tetap elegan. Dia juga memilih jaket trendi dan topi cantik warna hitam untuk dia pakai saat keluar dari penginapan nanti.
'' Ada yang salah,'' kata Julia bertanya pada Wira yang terus memandangnya.
'' Ah.... tidak... kau hanya nampak berbeda tapi tetap cantik seperti biasanya, ayo kita sarapan dulu,,,'' puji Wira.
Canda dan tawa mengiringi makan pagi mereka. Ya... seperti biasa, Wira selalu membuat kelucuan yang membuat Julia tertawa dengan riang. Sedikit melupakan bahwa mereka sedang dalam pelarian.
Mereka berdua menikmati sarapan nya dan setelah selesai segera bersiap menuju ke bandara. Seperti yang di rencanakan, Julia keluar dengan menggunakan jaket hitam dan topi menuju ke parkiran. Semua berjalan lancar seperti yang mereka harapkan namun ada seseorang yang sedang mengamati gerak gerik mereka dari lobi.
__ADS_1
Mobil yang membawa Julia dan Wira melaju kencang menuju bandara. Beberapa orang bodyguard sewaan nya juga ada dalam.satu mobil di belakangnya. Mobil mereka berjalan beriringan tanpa menyadari ada mobil - mobil lain yang mengikuti.
Sesampainya di bandara mereka langsung menuju ke arah pesawat pribadi yang telah disiapkan orang kepercayaan Wira sebelumnya. Julia dan Wira turun dari mobil dan segera menuju ke pesawat itu.
'' Ayo.... Julia..... cepat,'' kata Wira saat akan menaiki tangga masuk ke pesawat. Namun baru beberapa anak tangga yang Julia lewati, suara dencit rem dan ban mobil nampak begitu keras terdengar di telingga Julia.
Wira dan Julia pun menoleh ke arah itu dan betapa terkejutnya mereka saat melihat para bodyguard Wira yang telah di todong pistol oleh beberapa orang. Dan nampak dua orang pria yang sepertinya Julia kenal keluar dari mobil utama.
'' Julia..... satu langkah lagi kau menaiki anak tangga itu... akan banyak orang yang mati di sini karenamu,,,,'' kata seseorang yang sangat Julia kenal sambil sambil menunjuk pada anak buahnya yang telah siap dengan peralatan merka masing - masing.
Julia terdiam melihat itu. Sesungguhnya dia tak ingin menjadi penyebab dari kematian orang lain, tapi dia harus memperjuangkan Wira yang juga telah memperjuangkan nya.
Melihat Wira yang telah di depan pintu pesawat mengajukan tangan nya untuk meraih Julia, Julia melangkahkan satu langkah menaiki anak tangga itu lagi dan '' dor '', suara itu membuat Julia bergetar. Julia membalik kan tubuhnya melihat apa yang terjadi dan dia bernafas lega saat tak ada satu orang pun terluka.
'' Julia.... aku fikir kau sangat memahami kakakmu ini, apa kau mau mempermalukan kakak mu ini di depan James ha....'' Kata Julian sambil melangkah mendekat ke arah Julia berada. Julia menatap James dan James hanya diam.
Julian menjentikan jarinya dan para anak buahnya telah membuat para bodyguard Wira berlutut dengan mengacungkan pistol ke kepala mereka.
'' Kakak.... apa tidak ada yang bisa ku harapkan darimu... hanya kau satu - satunya orang yang aku percayai selain mama,,,'' kata Julia memelas pada kakak nya itu.
'' Julia .... ini bukan tentang harapan tapi tentang harga diri kakak mu ini yang dipertaruhkan untuk melindungi adiknya, apa kau tak melihat di sana, dalam sekali tembak pesawat ini akan hancur juga pacarmu... aku pasti akan menyelamatkan mu tapi dia,,,,'' kata Julian lagi seraya menunjuk mesin penembak dengan peluru ledak yang siap diledak kan kapanpun Julian menginginkan nya. Kini jarak antara Julian dan Julia hanya tinggal beberapa langkah.
Julia kembali menoleh pada Wira. Wira masih mengulurkan tangan nya berharap Julia ikut bersamanya. '' Ayo ... Julia, kita akan hadapi bersama,'' kata Wira.
__ADS_1
Melihat wajah kekasihnya yang meski baru beberapa hari mereka menjalani hubungan namun cukup membuat Julia bahagia memilikinya. Julia tak ingin terjadi sesuatu pada Wira, dan dia berkata,'' Wira pergilah,,, jika kau aman,,, suatu saat, kau bisa menjemputku lagi.''
'' Tidak Julia, kita akan pergi bersama,'' jawab Wira sambil terus mengulurkan tangan nya untuk Julia.
'' Wira aku mohon,,, pergilah,,, demi aku,,,'' kata Julia mengatupkan kedua tangan nya di dada pertanda permohonan.
'' Baiklah Julia,,, aku berjanji akan menjemputmu lagi,,, tapi kau juga harus berjanji untuk menjaga dirimu baik - baik,'' kata Wira bergegas masuk dan Julia menuruni anak tangga mendekati kakak nya.
'' Kakak aku mohon biarkan dia pergi dengan selamat dan juga orang - orangnya,'' pinta Julia pada kakak nya.
Pintu pesawat segera menutup dan pesawat itupun segera lepas landas. Julian mengangkat tangan nya dan seketika anak buahnya telah melepaskan orang - orang Wira yang kini telah pergi dengan mobil yang mereka tumpangi tadi.
Julian membawa sang adik menuju mobil yang di tumpanginya bersama James. Julian duduk di sebelah pengemudi sedangkan Julia duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan James.
Pengemudi segera melajukan mobilnya begitu juga anak buah Julian yang segera mengikuti mereka dari belakang. Suasana di dalam mobil yang Julia tumpangi nampak tegang. Kakanya yang masih menampak kan ekspresi marah di wajahnya dan tak melirik ke adiknya sedikitpun.
Sedang Julia hanya duduk diam dengan menyandarkan kepalanya di kursi. Bahkan Julia tak menoleh ke arah James sama sekali, dia selalu mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
Beberapa menit kemudian akhirnya James buka suara. '' Julia.... Julia,'' kata James memanggil gadis yang duduk di sebelahnya itu. Namun tak ada jawaban kemudian James memegang tangan Julia yang terasa sangat panas.
''Julia..... Julia.... sadarlah,'' kata James khawatir sambil menyentuh kening Julia yang juga terasa amat panas. James menarik tubuh Julia kepangkuan nya.
'' Lian.... badan Julia panas sekali...bagaimana ini.... Julia.... Julia....''
__ADS_1