
''Nona Julia mau minum apa?'' Tanya Leo pada Julia yang pandangan nya kini tertuju pada layar handphone yang baru kakak Leo berikan padanya saat masuk ke kamar tadi.
'' Ehm... apa saja, dan... panggil saja Julia,'' Julia tersenyum mengatakan itu dan Leo segera memanggil sekertarisnya untuk membawakan minuman.
Julia kembali melihat dan menghidupkan layar hapenya yang sempat off saat di ambil Leo, nampak panggilan tak terjawab muncul di sana. Julia melihatnya dan langsung menelfon balik pada James.
'' Apa aku boleh ke toilet?''
'' Tentu... ada di sebelah sana,'' tunjuk Leo ke arah sebelah kanan nampak sebuah pintu berwarna coklat pekat bertulis kan private room.
Julia memasuki ruangan itu dan mencari di mana letak toiletnya. '' Tuuut... tuuut... hallo Julia, Julia apa kau baik - baik saja, apa aku perlu menjemputmu?'' Jawab seseorang dari sebrang telfon dengan begitu panik.
'' James... kau tidak perlu menjemputku, aku baik - baik saja, Leo akan mengantarkan aku pulang,'' jawab Julia sedikit berbisik.
'' Julian bilang dia sudah meminta seseorang untuk membawamu pulang, apa itu benar?'' Tanya James.
'' Aku tidak tahu tentang itu James, tapi mungkin saja ia,'' jawab Julia kembali teringat tentang seorang wanita yang Julia temui di rumah Leo.
'' Apa mungkin kakak ku mengenal kakaknya Leo?'' Fikir Julia penasaran.
'' Julia... Julia.... '' Suara Leo memanggil - manggil.
'' Ya.... sebantar,'' pekik Julia dari dalam toilet.
'' James, aku akan mengabarimu lagi nanti,'' kata Julia sedikit berbisik.
Julia mematikan sambungan telfon nya dan keluar dari toilet. Di lihat nya Leo sedang duduk di dekat tempat duduknya tadi sambil meminum sesuatu di dalam gelas keramik berwarna keemasan. Julia segera duduk dan meminum minuman nya.
'' Julia apa kau ada waktu makan malam ?'' Leo menatap Julia lekat berharap kata ya atau ada.
Julia nampak bingung akan memberi jawaban apa. Dia masih terdiam hingga Leo mengatakan sesuatu. '' Tidak papa jika kau tidak bisa, lain kali saja?''
'' Apa dia sakit, cepat sekali berubah, dia pasti menginginkan sesuatu,'' dalam batin Julia melihat perubahan pada diri Leo.
'' Apa pekerjaan mu sudah selesai?'' Tanya Julia.
'' Apa kau sudah ingin pulang?'' Leo bertanya balik.
__ADS_1
Julia menganguk pelan dan berkata,'' ada hal yang harus aku lakukan.''
'' Baiklah, ayo aku antar pulang,'' ucap Leo seraya berdiri mengambil kunci di atas meja kerjanya.
Sementara di rumah Julia, mamanya sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan pitrinya. Nyonya Aida tentu saja tak mau jika ada satu kekurangan pun dalam acara itu. Jika sedikit saja kesalahan terjadi, itu akan menjadi aib bagi keluarganya seumur hidup.
Nyonya Aida nampak menghubungi seseorang. '' Tuuut... tuuut... halo ma,'' jawab Julian.
'' Lian... apa adikmu ada di sana, tadi malam dia tidak pulang, ponselnya juga selalu sibuk,'' keluh sang mama.
'' Julia aman bersamaku ma, mama tenang saja, apa persiapan pernikahan Julia besok sudah selesai?'' Kata James sambil merebahkan badan nya di tempat tidur setelah selesai mengecek beberapa berkas yang di kirimkan sekertarisnya padanya.
'' Iya sayang, semuanya sudah oke, tinggal pengantin nya lah lagi, makanya mama menelfon mu,'' tutur sang mama.
'' Julia sedang keluar , mungkin sebentar lagi dia pulang, mama tenang saja,'' jawab Julian.
Begitulah perbincangan seorang mama dengan anak lelakinya. Meski Julian bukanlah anak kandungnya, tapi nyonya Aida tidak pernah membeda - bedakan kasih sayang antara Julia dan Julian. Demikian juga dengan Julian yang sangat menyayangi keluarganya.
Di sisi lain, James sedang mendapat laporan dari sekertarisnya, Victor, mengenai beberapa permasalahan di kantor cabang di kota B. James sedang membahas hal itu dengan Victor saat hand phone nya bergetar.
'' Nomor tak di kenal,'' gumamnya malas sambil meletak kan kembali hape yang di pegangnya di atas meja. James tidak mengindahkan pesan chat itu sama sekali. Dia justru melanjutkan perbincangan nya dengan Victor dan saat itu pula dia menerima sebuah pesan chat kembali.
James meminta Victor untuk menyelidiki siapa pemilik nomor yang tak dikenal itu dan memastikan foto yang tertera di sana asli dan bukanlah hasil dari editing.
'' Paling lambat besok pagi sebelum acara pernikahan ku, kau sudah harus mendapatkan informasi itu,'' ucap James pada Victor.
Di sisi lain, Julia telah sampai di rumahnya.
'' Terimakasih banyak Leo,'' ucap Julia sedikit merundukan kepalanya ke arah jendela mobil yang memperlihatkan wajah Leo dengan senyuman nya.
'' Bisakah nanti malam aku menjemputmu, hanya makan malam sebentaaar saja,'' pinta Leo memohon. Julia tak bicara apapun dia hanya menganguk kan kepalanya dan segera masuk ke rumahnya.
'' Mama... mama... ma...'' Julia mencari - cari di mana keberadaan mamanya, tapi dia tak dapat menemukan nya. Saat Julia tiba di dapur, seorang asisten rumah tangga memberitahunya.
'' Maaf non, nyonya sedang keluar,'' ucap wanita itu menundukan kepalanya.
'' Di mana papaku?'' Tanya Julia lagi.
__ADS_1
'' Papa nona sedang istirahat di kamarnya nona,'' jawab wanita asisten rumah tangga lagi.
Julia beranjak menuju kamar papa dan mamanya. Dia mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan. Lalu Julia memegang gagang pintu dan dia dapati tak di kunci. Julia mencoba membuka pintu, dilihatnya sang ayah sedang tertidur begitu pulas hingga tak mendengar ketukan nya. Julia tersenyum lalu menutup kembali kamar papanya.
Merasa lelah, Julia naik ke lantai dua menuju kamarnya. Kamar dengan lebar seperti lapangan bola bernuansa biru muda dengan segala fasilitas ada di sana. Julia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa lelah yang menjalari tubuhnya membuat matanya terasa begitu berat, hingga Julia terlelap.
Siang hari menjelang sore.
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Julia. Pria itu mengetuk pintu rumah dan di sambut oleh seorang wanita paruh baya dengan sapaan hangat.
'' James... ayo masuk,'' ucap nyonya Parta pada calon mantu nya itu.
'' Terimakasih tante,'' kata James sambil duduk di sofa ruang tamu rumah Julia.
'' Mau minum apa James?'' Tanya nyonya Parta.
'' Em... tidak usah repot - repot tante saya cuma sebentar, apakah Julia nya ada?''
'' Ada dia masih di kamarnya, James naik saja, pintu yang berwarna biru itu kamar Julia, tante ke belakang sebentar,'' jawab mama Julia lalu berjalan ke arah dapur.
Berdasarkan atas izin dari mamanya Julia, James naik ke lantai dua menuju kamar Julia.
Di ketuknya pintu itu tapi tak ada jawaban. James mencoba membuka pintu dan ternyata pintu itu tidak di kunci.
Seorang wanita cantik dengan mata tertutup rapat tergeletak di tepi ranjang. James tersenyum dan mendekatinya. James mengambil kursi di depan meja rias dan duduk di sebelah ranjang memandangi wajah itu.
'' Julia... Julia... '' Gumam James pelan mengambil tangan Julia dan melilitkan liontin yang dia temukan di mension Leo saat itu.
James sejenak teringat saat dia menerima pesan dari nomer tak di kenal tadi saat di kantor. '' Wanita secantik ini tidak mungkin tidak memiliki masa lalu,'' batin James berkata.
💕
💖
💖
Terimakasih kepada para pembaca sekalian yang sudah dengan setia menunggu update dari author dan juga atas jejak yang telah ditinggalkan berupa komentar, like, vote dan yang lainnya. Hal itu akan menjadi semangat lebih bagi author untuk terus berkarya dan berusaha lebih baik lagi.
__ADS_1
Mohon maaf atas keterlambatan update dari author. Jangan lupa tinggalkan jejak, like , comment, hadiah atau votenya. Terimakasih, salam sehat selalu dan semoga selalu dalam kelimpahan rezki, amiiin. Tanpa anda author bukan apa - apa.
Salam hangat, Author 🙏🙏🙏