
''Huft... berapa banyak wanita dengan jenis itu yang kau kenal James?'' Ucap Julia sambil menghempaskan badan nya di sofa.
'' Jameess....'' Ucap Julia yang melihat suaminya terdiam dengan tatapan penuh tanya.
Mendengar itu, James tersenyum lalu mendekati Julia. Dia mengambilkan satu botol air mineral di atas meja, membuka tutupnya dan memberikan nya pada Julia.
Sementara itu Victor telah memberikan sejumlah uang dalam amplop kepada Silvia. Mengatakan pada wanita itu,'' jangan pernah menampak kan wajahmu di depan tuan dan nonaku, atau kau bahkan tak akan mampu bernafas, ingat itu baik - baik.''
Victor memberikan kode kepada para security untuk melepaskan wanita itu dan meninggalkan nya di sana. Mengatakan itu, Victor kembali ke lantai atas ke ruang kerjanya.
Di dalam ruangan James.
Setelah berbincang dengan Julia dan menghujaninya dengan pujian - pujian perihal keberanian nya, James beranjak ke kursinya. Tapi masih terselip rasa penasaran di fikiranya tentang isi amplop yang Silvia berikan. James mengambil amplop itu dari atas meja di depan Julia dengan tangan kiri dan membukanya.
Mata James membelalak, dia menoleh ke arah istrinya, sedang Julia hanya tersenyum. James membawa amplop itu ke mejanya. Dia duduk di kursinya, bersandar dan mengusap wajahnya pelan.
James tak habis fikir dengan apa yang dia lihat dalam amplop itu dan reaksi Julia yang berbanding terbalik dengan seharusnya. Dia menghubungi Victor dengan handphonenya meminta agar Victor masuk ke ruangan nya. Tak lama kemudian Victor masuk ke ruangan James. Dilihatnya Julia sedang sibuk dengan beberapa berkas.
'' Ada apa bos?''
'' Lihat ini,'' ucap James meletak kan dengan keras amplop itu di mejanya.
Victor melihat isi amplop itu dan dia pun terkejut. Dia menoleh ke arah nyonya mudanya yang nampak tak memiliki beban setelah menerima amplop pemberian Silvia.
'' Apa sebenarnya yang ada dalam fikiran nona Julia, bagaimana bisa dia bersikap sesantai itu?'' Dalam benak Victor.
'' Emmm... mau di apakan ini tuan?'' Tanya Victor yang bingung tentang apa yang harus dia kerjakan dengan foto - foto itu.
'' Cari siapa dalang pembuatan foto ini.''
'' Baik tuan,'' Victor segera membawa amplop itu pergi dari ruangan bosnya.
James merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Dia menatap ke arah Julia, dia masih tak habis fikir. James mengambil handphone nya dan mengirimkan pesan chat pada Victor.
Sementara itu di sebuah coffe bay, seorang wanita duduk di sudut ruangan. Wajahnya nampak kesal, dia terus memainkan handphone nya. Nampak beberapa kali dia menempelkan handphone nya di dekat telingga. Dia sedang menghubungi seseorang.
'' Halo... kenapa panggilanku selalu di reject? Aku tak mau tahu kau harus segera menemuiku di tempat biasa, tuuut .... tuut....'' Demikian wanita itu mengakhiri panggilan nya.
__ADS_1
Tak lama seseorang muncul, berdiri di depan nya. Pria itu menarik kursi dan duduk di depan wanita itu. Seorang pramusaji nampak menghampiri mereka dan menulis sesuatu di dalam buku pesanan.
'' Rencanaku gagal Leo,'' ucap wanita itu menekuk wajahnya.
'' Salahmu sendiri, kau tak pernah membicarakan nya dengan ku bukan?''
'' Jadi kau menyalahkan aku,'' kata wanita itu kesal.
'' Kau hanya akan membuat hubungan mereka semakin membaik,'' balas Leo yang juga kesal.
'' Lalu apa yang akan kau lakukan?'' Tanya Silvia.
'' Aku perlu memikirkan nya dulu agar tak gagal seperti dirimu,'' jawabnya ketus.
Leo berdiri dan meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja lalu beranjak pergi. Sementara Silvia hanya merutuki apa yang terjadi padanya. Dia kini tak bisa lebih dekat dengan James atau sekedar datang kekantornya, jika ia masih ingin nyawanya melekat dengan tubuhnya.
Sedangkan Victor sedang berada di sebuah tomo perhiasan ternama di kota nya. Dia sibuk melihat - lihat perhiasan dari berlian yang di tunjukan oleh salah satu pegawai toko.
'' Yang mana ya kira - kira?'' Ucap Victor bingung.
'' Untuk siapa tuan, istri anda?'' Tanya sang pegawai wanita.
Siang hari di kantor JJ Group tower.
Julia yang merasa lelah setelah melihat - lihat beberapa berkas, merebahkan badanya di sofa panjang sambil menunggu pekerjaan James selesai. Julia memainkan Handphone nya, sekedar melihat - lihat media sosial miliknya. Matanya semakin lama terasa semakin berat.
Tak lama kemudian handphone Julia telah tertelungkup di dadanya sedang sang pemilik sudah memejamkan matanya menuju mimpi di siang hari.
Merasa suasana begitu sepi, James yang masih menyelesaikan pekerjaan nya, memanggil Julia. Tadinya dia ingin bertanya menu apa yang akan di pesan untuk makan siang ini, tapi setelah memanggil - manggil Julia beberapa kali tak ada sahutan, James menoleh.
'' Julia.... Julia....'' James mengelengkan kepalanya dan tersenyum melihat istrinya telah tertidur pulas di sofa. James menghubungi Victor untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
'' Halo tuan,'' jawab Victor dari sebrang sana.
'' Victor apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?''
'' Iya bos.''
__ADS_1
'' Bagus, kalau begitu segeralah ke ruangan ku.''
James menutup terfonya dan berjalan ke arah Julia. James mengambil handphone dari atas a Julia dan meletak kan nya di dalam tas Julia. James duduk di tepian sofa, memandangi Julia yang terlelap dengan anggun nya. James nampak tesenyum memandangi wajah istrinya sambil memegang tangan nya.
'' Bos,'' suara itu mengejutkan James. Rupanya itu adalah Victor yang tersenyum malu melihat bosnya.
'' Maaf bos,'' ucap Victor akan menutup kembali pintu itu, tapi James mencegahnya.
'' Victor.''
'' Ya bos?''
'' Kau selesaikan pekerjaanku, aku akan pulang bersama Julia.''
James mengendong Julia dalam pelukan nya dan Victor membawakan tas dan membukakan pintu untuk tuan nya. Sesampai di bawah James meletak kan Julia dalam mobil dan mengambil sebuah kotak cantik dari tangan Victor.
'' Terimakasih Victor,'' ucap sang bos.
'' Sama - sama tuan.''
James melajukan kendaraan nya, sementara di rumah pak Parta, di ruang kerja papa Julia.
'' Papa... apa papa masih tidak percaya padaku?''
Pak parta hanya terdiam, dia nampak memijat pelipisnya. Tak habis fikir dengan apa yang dia lihat, dia bertanya pada putranya.
'' Dari mana kau mendapatkan ini?''
'' Aku meminta salah seorang ahli IT kepercayaan ku untuk mengecek kembali cctv itu, dab dia mendapatkan potongan vidio ini, bodohnya orang itu tak menghapusnya secra permanen,'' jelas sang anak.
'' Maafkan papa Julian, harusnya papa lebih mempercayai putra papa sendiri ketimbang orang lain,'' ucap sang papa dengan penyesalan tersirat di wajahnya.
'' Aku faham pa, mereka juga orang - orang kepercayaan papa dan sudah lama mengabdi paa papa, jadi wajar jika papa mempercayai mereka.''
Sementara di balik pintu, nyonya Parta tersenyum gembira melihat putranya telah berhasil meyakinkan sang ayah untuk mempercayainya kembali. Tak lama Julian keluar dari pintu. Dilihatnya sang mama aa di sana dengan senyum merekah di bibirnya.
Nyonya Parta langsung memeluk anaknya itu dan berkata,'' Lian kenapa lama sekali, mama sudah sangat merindukanmu, mama kesepian, Julia sudah tak lagi tinggal di sini dan kau, juga tak ada di sini.''
__ADS_1
'' Mama Julian belum akan kembali kerumah ma,'' ucapan Julian benar - benar meruntuhkan perasaan mamanya yang bahagia.
'' Kenapa Lian?''