
Nyonya Parta langsung memeluk anaknya itu dan berkata,'' Lian kenapa lama sekali, mama sudah sangat merindukanmu, mama kesepian, Julia sudah tak lagi tinggal di sini dan kau, juga tak ada di sini.''
'' Mama Julian belum akan kembali kerumah ma,'' ucapan Julian benar - benar meruntuhkan perasaan mamanya yang bahagia.
'' Kenapa Lian?''
Julian tersenyum dan berkata,'' Mama... Lian masih ada urusan ke luar kota jadi belum bisa pulang.''
'' Buat nangkap maling Lian harus masuk keruangan lebih dulu ma,'' kata Lian dalam batin nya.
'' Ya sudah kamu hati - hati ya sayang, jangan lupa kabarin mama,'' pinta sang mama sambil memegang tangan anak nya itu. Julian berpamitan pada mamanya dan segera pergi dari sana.
Senja itu di rumah Julia.
James meminta Julia berganti pakaian karena akan mengajak Julia makan di luar. James memberikan sebuah kotak berisi gaun dan high hills. Julia melihat isi kotak itu dan berdecak kesal.
'' Jameeesss baju dan sepatu ku sudah banyak, aku bahkan belum sempat memakainya semua.''
'' Sudah... pakai saja, lain kali saja pakai baju yang lain,'' ucap James mengelus puncak kepala Julia.
Sementara Julia hanya duduk diam di tepi tempat tidur sambil memegang gaun itu. Setelah mengatakan itu, James keluar dari kamar. Dia menunggu di lantai bawah. James nampak menelfon seseorang.
'' Victor... apa sudah siap?''
'' Siap bos,'' jawab Victor.
Julia keluar dari kamar saat James masih menelfon. Julia memanggil - manggil James tapi dia sibuk dengan perbincangan nya di telfon.
'' Jaaaames,'' pekik Julia.
'' Yaaa...a..'' James menoleh dan tanpa sadar mulutnya mengangga.
'' Halo... bos...bos...bos...'' James mengabaikan panggilan dari Victor.
'' Duh si bos kenapa sih, main diem - diem aja,'' gerutu Victor mematikan panggilan nya.
'' James sadar James, kamu itu sudah berkali - kali melihatnya tapi kenapa masih bengong,'' ucap James dalam hatinya yang mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Julia menapaki setiap anak tangga, dengan tas jinjing di tangan kanan nya. Gaun berwarna merah dengan lengan pendek dan panjang selutut, membuat lekuk tubuh Julia benar - benar terlukis dengan indah. James melangkahkan kakinya maju memberikan tangan kanan nya untuk membantu Julia turun dari tangga terakhir.
'' Mari nyonya,'' mengengam tangan Julia dengan tangannya mengajak Julia masuk ke mobil. James menginjak pedal gas mobilnya dan melajukan nya membelah jalanan yang telah gelap.
'' James... sebenarnya kita mau ke mana?'' Ucap Julia menatap James yang masih terus mengemudikan mobilnya.
James tersenyum dan berkata,'' nanti kau juga tahu.'' Ucap James sembari terus melajukan mobilnya.
Mobil James tiba di sebuah restoran berkelas. Di depan pintu masuk, Victor telah menunggu mereka di sana. Victor dan seluuh pegawai restoran menyambut kedatangan James dan Julia.
Seorang manager di sana menyalami James dan Julian dan membawa mereka menuju ruangan vvip di lantai dua. Banyak mata memandang James dan Julia yang tengah berjalan menuju lantai dua.
Ruangan iti di hias sedemikian rupa sehingga nampak sangat cantik, nuansa warna merah muda dengan semerbak bunga - bunga menguar di seluruh ruangan. Romantis adalah satu - satunya kata yang pas untuk menyatakan nuansa di ruangan itu.
'' Silahkan tuan nyonya, maaf jika banyak kekurangan,'' ucap sang manager membungkukan badanya dan berpamita pergi.
Julia tersenyum mendengar ucapan manager itu. James mengajak Julia duduk di tempat yang telah di sediakan di sana dan dalam ruangan sebesar itu habya ada dua tempat duduk dan satu meja untuk James dan Julia duduk.
Beberapa orang pramusaji masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa sajian pembuka dan pramusaji lain membawa menu utama. Setelah beberapa orang pramusaji itu membawakan menu penutup, James memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan begitu cantik pada Julia.
'' Bukalah,'' ucap James.
'' James, aku rasa ini berlebihan,'' kata Julia seraya memegang cincin bertahtakan berlian itu di tangan nya.
James hanya tersenyum dan mengambil cincin yang di pegang Julia, kemudian memakaikan nya di jari manis Julia sebelah kanan. Julia memperhatikan cincin yang melekat di jari manisnya itu dan menyandingkan dengan cincin di jari manisnya sebelah kiri.
'' James, apa kau yakin?'' Ucap Julia menatap James dengan menunjukan kedua tangan nya.
'' Kau bisa memilih mana yang kau suka Julia, anggap saja ini adalah hadiah untuk hubungan kita yang semakin membaik.''
Saat James dan Julia berbincang, mereka mendengar pintu ruangan mereka di ketuk. James meminta orang itu masuk, dan Victor menyampaikan pesan dari sepupu James.
'' Maaf tuan, nona, sepupu anda mengundang anda ke club malam milik nya, dia sedang mengadakan pesta ulang tahun.''
'' Ulang tahun? Hary? Kenapa mendadak? Kenapa dia tidak menelfonku langsung? Tanya James penasaran.
'' Saya juga kurang tahu tuan,'' jawab Victor.
__ADS_1
Akhirnya James membawa Julia pergi memenuhi undangan dari Hary, sepupu James. Victor membukakan pintu mobil untuk tuan dan nona nya. Diapun segera masuk dan duduk di belakang kendali mobil, melajukan kendaraan mereka menuju ke club malam milik sepupu James.
Beberapa saat mereka tiba di sana, nampak pintu kaca dengan dua orang bodyguard di sisi luar. Para bodyguard itu membukakan pintu untuk James dan Julia. James mengandeng Julia masuk.
Hinggar binggar lampu club yang berwarna warni berputar - putar membuat orang yang tak biasa masuk ke club menjadi pusing. Musik yang di putar dengan kencang membuat harus berteriak saat berbicara dengan yang lain. Julia mengengam lengan James dengan erat.
Seorang lelaki berperawakan tinggi besar menunjukan jalan dimana seseorang tengah sibuk tertawa dan bercanda dengan beberapa orang tamunya di sebuah meja panjang. Langkah Julia terhenti dan menatap James saat melihat ke arah tamu yang Hary ajak bicara. Ya, itu John, orang yang waktu itu memaksa Julia berdansa.
James menepuk tangan Julia pelan, tanda bahwa ia tak perlu takut karena ada James di sisinya. Mereka berjalan menuju meja itu dan menyapa sepupunya.
'' Selamat malam semuanya,'' sapa James pada mereka.
'' O... James... akhirnya kau datang juga, ayo duduk... em.... James apa kau tak mau mengenalkan ku pada kakak sepupuku ini?'' Ucap Hary.
'' Em... sayang, ini Hary sepupuku.''
'' Dia ini playboy cap kadal,'' tambah James berbisik di telingga Julia. Julia tersenyum dan menyalami Hary.
'' Kakak sepupu, kau tahu, kau sangat cantik,'' ucap Hary mencium tangan Julia sambil melirik ke arah James. James segera menepis tangan Hary agar tak berlama - lama menyentuh tangan istrinya.
'' Kakak sepupu, James ini pelit sekali, dia tidak pernah mau mengenalkan aku pada kakak sepupu,'' menanggapi itu Julia hanya tersenyum.
'' Ternyata Mikes benar, istri James benar - benar cantik, pantas saja dua kadal di sebelahku ini selalu membicarakan nya.''
Hary teringat saat dia mendengar Leo dan John sedang mabuk, mereka berbicara di depan bartender tentang kecantikan Julia, bahkan mereka sempat adu mulut memperebutkan nya.
'' Hehh, apa kau mengenal istri James, kau bisa mengenalkan aku padanya?'' Tanya John. Sedang Leo hanya mengelengkan kepalanya.
'' Bukankah istri James memiliki beberapa persen saham di perusahaan mu? Bagaimana bisa kau tak mengenal istrinya yang cantik itu? Dasar bodoh kau.'' Umpat John
'' Apa kau bilang, kau yang bodoh kenapa juga Julia harus mengenalmu hah?'' Emosi Leo mulai naik saat itu, tapi Hary datang menepuk pundak mereka, hingga pertengkaran mereka pun tertunda.
Hary tersadar dari lamunan nya dan mempersilahkan Julia untuk duduk, dia juga meminta beberapa orang pelayan clubnya menyuguhkan beberapa gelas minuman dan camilan pelengkap.
'' Hai, James,'' sapa Leo dan John berbarengan tapi mata mereka tertuju pada Julia yang sedang menyingkapkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telingganya.
'' Halo,'' jawab James menyadarkan mereka, pandangan mereka memang tak pernah berganti arah sejak tadi.
__ADS_1