
Hari sudah semakin sore, Julia mulai jenuh duduk di ruang tunggu bersama mamanya. Ia ingin sekedar mencari angin segar sambil menunggu James menjemputnya. Julia berpamitan ingin duduk di taman rumah sakit sebentar pada mamanya.
Julia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju lift yang ada di sudut lorong. Secara tak sengaja ia menoleh pada ruangan yang tirainya sedikit terbuka. Nampak John sedang duduk sambil memegangi keningnya.
Julia yang tak kan pernah bisa melupakan jasa John mempertaruhkan nyawanya merasa tak enak hati, hingga dia memutuskan untuk melihat John barang sebentar.
'' Toook ....tok...tok...''
Dengan santainya John berkata, '' masuk, pintu tidak di kunci.''
Julia membuka pintu dan tersenyum pada John. Senyum John tentu saja langsung merekah saat melihat siapa yang membuka pintu dan masuk ke ruangan nya.
'' Deg... duh manisnya,'' batin John melihat Julia tersenyum padanya.
'' Julia...''
'' Em... hai.... apa kau sudah mendingan?'' Sapa Julia dengan senyuman.
'' Seperti yang kau lihat...''
'' John sebelumnya aku ingin meminta maaf atas sikap ku sebelumnya padamu... dan aku juga berterimakasih banyak karena kau telah menyelamatkan ku bahkan membuat dirimu hingga terluka seperti ini...'' Ucap Julia menunduk.
'' Hei... aku tidak apa, ini hanya luka ringan jangan terlalu difikirkan....'' Ucapan John sukses membuat Julia menatapnya.
'' Apa aku tanyakan saja pada John ya tentang maksut ucapan nya saat itu?'' Batin Julia menatap John.
'' Julia... ada apa?'' Tanya John mengagetkan Julia dalam lamunan nya.
'' Ehm.... tidak apa... apa kau membutuhkan sesuatu? Aku akan keluar sebentar.''
'' Sesungguhnya aku membutuhkan dirimu Julia.'' Ucap John dalam dirinya.
'' John... '' Tanya Julia lagi karena John tak kunjung menjawabnya.
'' Tidak ada Julia... yang aku butuh adalah keselamatan mu agar aku tetap bisa melihat senyuman mu...'' Ucap John.
'' Kau bisa saja John,'' ucap Julia tersipu lalu berpamitan dan beranjak pergi.
John menatap punggung Julia keluar dari ruangan rawatnya dengan senyum kemenangan. Setidaknya sudah ada signal - signal positif dari hubungan nya yang kian membaik dengan Julia.
Julia berjalan ke luar dari rumah sakit. Dia menuju pada sebuah kursi panjang di bawah pohon dan duduk di sana sembari memainkan handphone nya. Ada beberapa pesan laporan dari managernya di Julia coffe shop and book store namun baru beberapa menit kemudian seseorang mengagetkan nya.
__ADS_1
'' Maaf ... apa anda yang bernama nona Julia?'' Tanya seorang lelaki muda pada Julia.
'' Ya ... saya sendiri, ada apa ya?''
'' Maaf nona ... silahkan tanda tangan di sini,'' lelaki muda itu menyodorkan secarik kertas dan bulpoin pada Julia.
Meski penuh dengan rasa penasaran, Julia menandatanggani nota terima barang dari laki - laki itu dan segera menyerahkan kembali padanya. Sang kurir segera memberikan sebuah kotak untuk Julia dan beranjak pergi.
'' Ini kiriman untuk anda nona... saya permisi dulu.''
Julia yang sangat penasaran dengan isi kotak itu segera membukanya. Setangkai mawar merah dengan sekotak coklat kesukaan nya tertata dengan manis di dalamnya.
Julia tersenyum dan mengambil bunga itu. Dia juga mencium wangi bunga mawar itu lalu berusaha mencari siapa pengirimnya karena dia tak menemukan di bagian luar kotak juga dalam nota kurir yang mengantarkan tadi.
Tapi tetap tak dapat menemukan nya. Tiba - tiba suara lembut menyapa dari arah belakangnya.
'' Apa kau menyukainya?''
Dengan cepat Julia menolah dan di temuinya sang suami yang berada di belakangnya.
'' James...''
'' Iya ... aku sengaja memberikan kejutan untukmu agar kau tidak selalu bersedih hati dengan kondisi papa... kita akan mencari jalan keluarnya...'' Ucap James meraih pungung tangan istrinya dan menciumnya.
'' Aku tak akan membiarkan orang lain mencurimu dariku Julia,'' dalam batin James seraya mengelus lembut rambut Julia. James teringat saat Victor mengirimkan rekaman cctv yang ia lihat di kantor tadi. Rekaman yang menunjukan Julia yang berkunjung ke ruang rawat John.
'' James apa kita akan pulang?'' Pertanyaan Julia mengagetkan James yang sedang hanyut dalam lamunan nya.
'' Iya... ayo kita pamitan sama mama dulu,'' ajak James.
'' Tapi siapa yang menemani mama James?''
'' Julian bilang dia akan segera ke rumah sakit, jadi kamu bisa pulang dulu untuk sekedar istirahat oke...'' James menyentuh hidung istrinya dengan lembut sedang Julia hanya tersenyum manja.
Sedangkan di ruang rawat John, seseorang sedang memarahinya.
'' Dasar anak bodoh.. apa yang kau lakukan ha.. hingga masuk rumah sakit seperti ini? Coba ku lihat.... sepertinya lukamu tidak parah... sebenarnya apa tujuanmu John? Katakan pada kakak?'' Dengan nada bicara amat kesal wanita itu menginterogasi adik nya itu. Namun John hanya diam sambil memainkan hapenya dengan santai.
Karena geram sang kakak mengambil handphone John agar adiknya mau mendengar ucapan nya.
'' John.....?''
__ADS_1
'' Kakak .... kau diamlah aku akan segera pulang.''
'' Tapi kau harus janji jangan membuat masalah...''
'' Iya...iya... baik.. aku tak akan membuat masalah,'' ucap John mengangkat tangan nya membentuk huruf ''V''.
Melihat ekspresi John yang memelas, kakaknya mengembalikan hand phone John dan bergegas pergi dari sana.
Sedangkan James dan Julia tengah berada di dalam lift menuju ke lantai di mana papa Julia di rawat. Saat pintu lift terbuka mereka berpapasan dengan seorang wanita. Wanita itu tersenyum pada Julia, demikian pula Julia. Merasa pernah melihatnya, Julia mencoba mengingat - ingat tentang wanita itu.
'' Siapa wanita itu tadi? Aku seperti pernah melihatnya?'' Ucap Julia tanpa sadar.
'' Dia Lea... kakak dari Leo,'' jawab James yang mendengar apa yang Julia ucapkan.
'' Apa yang dia lakukan di sini? Apa Leo sakit?''
James hanya mengangkat pundaknya pertanda tak mengetahui apa - apa. Mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju ke ruangan rawat papa Julia.
Setibanya di sana sang mama tengah duduk sambil berbicara melalui telfon.
'' Ya jeng... terimakasih...mudah - mudahan suami saya segera membaik, assalam mualaikum.''
Nyonya Parta menutup telfon nya saat Julia dan menantunya tiba di sana.
'' Mama...''
'' Eh...Julia... James sudah datang juga rupanya.''
'' Iya ma... mama bicara dengan siapa barusan ma?''
'' Oh...itu...mamanya James, dia bilang mau ke sini nanti malam sayang...''
'' Oh....'' Ucap Julia menatap suaminya.
'' Iya... ayah dan ibu sudah pulang, mereka tadi memberitahuku sewaktu di kantor.''
'' James...harusnya kau memberitahuku James, bukanya kita harus menjemput mereka ke bandara...''
'' Aku sudah meminta Mikes menjemput ayah dan ibu di bandara, tidak apa Julia... aku sudah memberitahu mereka perihal papamu,'' jelas James tersenyum melihat ekspresi cemberut istrinya.
'' O..ya kalian pulanglah dulu, biar mama yang yang menjaga papa di sini, sebentar lagi Lian juga datang.'' Timpal sang mama.
__ADS_1
Julia dan James pun berpamitan pada mamanya dan segera pergi dari rumah sakit. Sedangkan dari ruangan sebelah John sedang mengamati perbincangan mereka.
'' Aku memang tak seberuntung mereka, bahkan kakak ku pun tak ingin tinggal bersamaku, tapi lihat saja... aku akan mendapatkanya...'' Ucapnya dengan sebelah tangan mengepal.