
Setelah selesai mandi Julia dengan pakaian kimono mandinya sedang sibuk memilih baju di lemari pakaian yang hampir dua minggu tidak dibuka.
Merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman, Julia menoleh. Julia sungguh - sungguh tak dapat mempercayai apa yang di lihatnya, mulutnya sedikit mengangga bahkan dia sempat mengedip - ngedipkan matanya beberapa kali.
Sedangkan seseorang di sana duduk di tepi tempat tidur Julia sambil tersenyum - senyum.
'' Apa kau sudah gila?'' Kata Julia sedikit berbisik, dengan segera menutup pintu kamar yang sedikit terbuka dan perlahan mendekati pria itu.
Sedang pria itu tak menjawab apapun dan dia masih saja tersenyum sambil membuka topi hitam yang ia kenakan dan terus memandangi Julia.
'' Wira... bagaimana kau bisa masuk, banyak mata - mata di luar sana,'' lirih Julia yang tangan nya di tarik oleh pria itu agar segera duduk di sampingnya.
'' Aku merindukan mu, Julia...'' Kata pria itu menghapus cairan bening dari sudut mata Julia yang menetes di pipinya yang merona layaknya mutiara.
'' Maaf kan aku, karena aku hubungan kita jadi seperti ini,'' ucap Julia dengan sesenggukan. Menyadari tak bisa terlalu lama Wira segera memberikan kartu namanya pada Julia.
'' Ssttt.... Julia kenapa kau masih cantik meski menangis....simpan ini, kau bisa menemuiku di sini atau jika suatu saat kau bisa menelfonku,'' ucap Wira bergegas mengenakan topinya kembali dan saat dia akan berpamitan pada Julia, tiba - tiba James menerobos masuk ke kamar Julia.
'' Julia...... bukan kah kau orang yang akan membawa Julia kabur waktu itu?'' Kata James saat mengenali siapa pria yang berada di dalam kamar Julia itu.
Karena faham situasi ini akan membahayakan Julia, Wira memutuskan untuk segera pergi. Namun dengan sigap James memegang tangan Wira dan menguncinya ke belakang.
'' Kau akan kabur?'' Kata Wira sambil mengeratkan kuncian tangan nya pada tangan Wira.
'' Kurang ajar, aku dipermalukan di depan wanitaku olehnya, akan ku balas kau,'' batin Wira yang tak menduga gerakan James menghindar akan sangat cepat saat dia mendorongnya dari pintu malah justru James dapat meraih tangan nya dan melakukan hal memalukan itu.
'' James... lepaskan dia, ini bukan salah nya, keadaan lah yang membuat semua jadi serumit ini,'' pinta Julia agar James melepaskan Wira.
James nampak berfikir lalu melepaskan Wira. Wira segera pergi namun sebelum dia pergi dia sempat melihat mata Julia yang juga menatapnya penuh harap tentang keselamatan Wira. Segera Wira melesat pergi. Dari jendela kaca kamar Julia nampak Wira menaiki mobil berwarna hitam dan melesat pergi.
__ADS_1
Wira telah pergi, kini hanya ada Julia dan James di sana. James menatap Julia dengan tatapan aneh. Tapi James segera pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
'' Hik....hiks...hik... kenapa ini terjadi padaku... aku benci papa... aku benci... hhuuuuhuuuu...'' Tangis Julia pecah setelah kepergian James.
Julia yang duduk di tepi tempat tidur itu merasakan lemas di seluruh kakinya, dia meringsek memegang lututnya sendiri dengan kedua tangan nya dan membenamkan kepalanya di sana. Kesedihan menyelimuti hatinya begitu juga dengan kebencian nya pada sang papa yang selalu mementingkan harta, harta dan harta.
Kini hari sudah malam, James yang baru datang entah dari mana bertanya pada salah seorang pegawai Julia apakah bosnya itu sudah turun atau belum. Namun sang pegawai mengatakan tak melihatnya turun dari lantai atas.
Mendengar itu Jamea segera naik ke atas, memeriksa ke kamar Julia. '' Tok... tok...tok...'' Begitulah ketukan pintu kamar Julia terdengar namun tak ada jawaban sama sekali. James mencoba membuka pintu kamar Julia namun tak terkunci. James masuk dan melihat Julia terbaring di lantai.
'' Julia.... Julia sadarlah, Julia,'' James menepuk - nepuk pipi Julia dengan lembut mencoba membangunkan nya. Badan Julia sedikit panas namun tak sepanas waktu itu.
James bergegas mengendong Julia dan membawanya ke atas tempat tidur. James meminta sekertarisnya membawakan obat - obatan yang diperlukan dan juga makanan untuk Julia.
'' James apa yang terjadi?'' Kata Victor yang baru datang dan langsung naik ke tempat James dan Julia berada saat ini.
'' Apa perlu aku panggilkan dokter?'' Tanya Victor.
'' Aku rasa tidak perlu, mungkin dia hanya syok, aku sendiri yang akan menjaganya,'' ucap James pada sekertarisnya itu. James memegangi tangan Julia dan memberikan sesuatu di hidungnya berharap Julia segera bangun dari ketidak sadaran nya.
Sementara itu, mobil yang membawa Wira telah tiba di rumah Wira. Wira segera masuk kerumah dan naik ke kamarnya.
'' Prang,,,,'' suara benda berjatuhan dari dalam kamar. Para asisten rumah tangga yang mendengar itu berbisik - bisik membicarakan kemarahan tuan mudanya itu.
Asisten Wira yang melihat itu segera menegur mereka. '' Jaga mulut kalian jika masih ingin bekerja di sini.'' Seketika semuanya diam dan pergi melanjutkan pekerjaan mereka masing - masing.
Di dalam kamar Wira.
Lantai kamar yang terbuat dari marmer nampak seperti kapal pecah. Banyak benda yang seharusnya tak ada di sana kini berserakan tak tentu arah, kertas - kertas bahkan juga ada pecahan kaca dan barang - barang terbuat dari keramik pecah tak berbentuk.
__ADS_1
Meja kerja Wira bersih tak ada satupun barang lagi tersisa di atasnya. Hanya tangan Wira yang mengepal sambil memukul - mukul meja kerjanya sendiri. Matanya menyiratkan rasa dendam yang amat mendalam.
Ke ''Julia coffe shop and book store.''
James yang sedang melamun sambil memandangi ke arah luar jendela yang kini telah gelap di kejutkan dengan panggilan yang keluar dari bibir Julia dengan parau. '' James....''
'' Julia kau sudah bangun, apa yang kau rasakan, apakah kau sakit, pusing atau apa?'' James menghujani Julia yang baru sadar dengan banyak pertanyaan.
'' Aku lapar, ayo kita cari makanan keluar,'' ucap Julia dengan lemah sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan mencoba berdiri.
'' Tidak Julia kita akan makan di sini, Victor sudah membelikan makanan dan obat untuk mu,'' jawab James memgang lengan Julia agar kembali duduk.
'' Apa kau juga belum makan?'' Julia melihat ada dua mangkuk makanan di atas meja.
'' Aku ingin makan bersamamu,'' jawab James tersenyum sambil memberikan satu mangkuk sup hangat pada Julia dan mengambil yang lain untuknya.
'' Maafkan aku James, aku selalu merepotkan mu,'' ucap Julia sambil menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.
'' Tidak ada yang perlu minta maaf, bukan kah keadaanlah yang membuat semua ini jadi semakin rumit? Aku sudah cukup senang karena bisa bersamamu dan menemanimu.'' Kata James sambil tersenyum menatap Julia.
'' Kenapa James? Kenapa kau tetap baik padaku padahal kau tahu aku tidak mencintaimu.'' Julia hanya menatap James yang nampak tulus padanya dengan hati berdesir.
💓
💓
💓
Pembaca sekalian, di tunggu lho like, coment, dan vote nya. Terimakasih, semoga menginspirasi, salam hangat author 🙏
__ADS_1