
Pak direktur tersenyum simpul, dan saat Julia menyudahi alunan musik nya dia menoleh ke arah pintu, ia merasa ada sekelebat orang tak dikenal memperhatikan dirinya di belakang anak - anak namun saat dia menoleh ke sana tak ada yang nampak mencurigakan.
''Well.... i think that's enough,,, thank you guys student.... saya permisi pak,,,'' kata Julia di iringi riuhnya suara anak - anak.
'' Saya yang seharusnya berterimakasih pada ibu karena sudah bersedia menuruti kemauan anak - anak,,,,,'' sahut pak guru seni.
Sama - sama pak....''
Belum sempat Julia berpamitan pada guru seni, anak - anak sudah sibuk ingin bertanya sesuatu.
'' Mrs. Julia... Mrs. Julia....'' Riuh suara anak - anak memanggil nya.
''Maaf bu Julia sebentar.....'' Pinta guru seni.
Julia tersenyum dan mengangkat sedikit alis matanya, pertanda apa lagi yang anak - anak inginkan darinya.
'' Mrs.... dari siapa Mrs belajar musik?''
'' Dari seorang guru ... yang jelas masih banyak hal di luar sana yang belum kita ketahui... jadi jangan pernah berhenti belajar.... dan yang namanya guru itu... tidak hanya yang ada di dalam kelas...Ok... ibu rasa cukup ... dan selamat belajar....'' Kata Julia mengarahkan pandangan kepada guru seni, dia menganguk kan sedikit kepalanya sambil tersenyum pertanda pamit undur diri.
Julia kemudian mengajak anak - anak nya masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran. Sedangkan di sana, di ruang rapat, direktur beserta jajaran nya tengah mengadakan rapat terbatas.
Di sela - sela rapat mereka, mereka juga membahas mengenai ulang tahun sekolah yang tinggal satu minggu lagi.
Beberapa orang tengah membahas bagaimana proses penyelenggaraan nya nanti, tapi Wira Gunawan, si pria lajang yang mendapat julukan playboy tengah melamun.
Dia teringat saat - saat pertemuan nya dengan Julia waktu pertama kali.
'' Oh... maaf ... maaf pak,,, ini berkas anda.... saya benar ... benar minta maaf, saya sedang terburu - buru....'' Kata Julia yang saat itu tengah sedikit berlari dan tak sengaja menyenggol sekertaris Wira ketika mereka berpapasan di lobi. Tanpa memperhatikan seorang yang di samping nya Julia berlalu pergi.
Saat itu Wira tak sempat mengatakan apa - apa dan dia hanya tertegun melihat gadis yang masih begitu anggun meski dia sedang terburu - buru.
'' Pak Wira.... pak.... bagaimana menurut anda?'' Panggil salah seorang anggota rapat mengejutkan nya.
'' Silahkan buat rancangan nya dan berikan ke sekertaris saya besok, kita harus segera menyiapkan acaranya....'' Jawab Wira tegas sambil beranjak keluar ruang rapat.
Wira adalah anak dari pak Gunawan yang merupakan salah satu rekan bisnis keluarga Parta.
Wira dipercaya untuk mengelola cabang perusahaan hasil merger antara perusahaan ayah nya dan ayah Julia. Sedangkan ayah Wira sendiri memiliki beberapa perusahaan di bidang elektronik.
'' Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan dia....'' Kata batin Wira, yang belum menyadari siapa Julia sebenarnya.
'' Pak Wira memanggilku?'' Tanya sekertarisnya selalui saluran khusus yang baru saja dia tekan.
'' Kau harus membuat gadis itu ikut dalam pesta ulang tahun sekolah minggu depan.... apapun caranya....'' Katanya dengan penuh penekanan.
'' Baik pak saya usahakan... ada lagi pak?'' Kata sekertrisnya itu.
'' O... ya satu lagi... siapkan berkas - berkas yang di perlukan, sebentar lagi kita akan ke kantor ayahku...'' Kata Wira lagi.
__ADS_1
'' Baik... pak...'' Jawab sekertarisnya segera keluar dari ruang Wira.
Sementara itu di kota A, tempat kelahiran Julia. Tempat di mana papa dan mama Julia tinggal saat ini.
'' tlriiiiing.... tliiiing.....'' Dering telfon yang tergeletak di atas meja keluarga berbunyi.
'' Hape tuan tertinggal rupanya....'' Seorang asisten rumah tangga membawakan untuk tuan besar Parta yang sedang berada di taman belakang rumah.
'' Maaf tuan hape ttuan tertinggal di ruang keluarga... tadi berbunyi tuan....'' Kata asisten rumah tangga itu.
'' Iya terimakasih bik...'' Jawab tuan nya.
'' Ada apa pa?'' Tanya Aida sang istri tercinta.
'' Ini ... Ferdinan nelfon ngak ke angkat ma...'' Jawab ayah Julia.
'' Telfon balik pa... siapa tahu ada hal yang penting....''
'' Iya ini lagi aku telfon ma.....''
'' Tuuuuut..... tuuuut.......''
'' Halo....'' Jawab seseorang dari sebrang sana.
'' Halo Fer, ada apa?'' Tanya pak Parta
'' Tidak ada apa?''
'' Aku ingin mengajakmu makan siang bersama keluarga, sudah lama kita tidak bertemu, sekalian ada yang ingin aku bicarakan soal bisnis kita.'' Jelas pak Ferdinan.
'' Baiklah, kau tentukan tempat nya....'' Ucap pak Parta
'' Ok.... nanti aku kabari, jangan lupa ajak anak - anak... supaya mereka lebih akrab....'' Jawab pak Ferdinan
'' Baiklah....'' Pak Parta
'' Ok... sampai jumpa nanti... assalam mualaikum....''
'' Waalaikum salam....''
'' Ada apa pa?'' Tanya mama nya Julia.
'' Ferdinan ngajak kita makan siang ma...''
'' O.... di mana pa?
'' Nanti dia kabari kita di mana tempatnya, dia juga minta kita ajak anak - anak ma?''
'' Ya ... nanti mama kabari Julian dulu...''
__ADS_1
Sementara itu di ruang presdir sebuah perusahaan ternama, pada bangunan pencakar langit. Seseorang sedang sibuk membolak balik berkas saham hasil laporan yang baru saja di terima nya.
'' tlring..... tlinggg.....''
Hand phone yang berada di sisi kanan meja nya berbunyi. Dia segera melihat siapa yang berani mengganggunya di jam - jam kantor seperti ini.
'' Oh.... my big boss...'' Gumam nya pelan.
'' Halo,,,'' jawabnya.
'' James .... siang nanti datang ke J2 Resto, kita akan makan siang bersama keluarga Parta...'' Jelas pak Ferdinan pada anak tertua nya itu.
'' Ayaaah.... aku sedang sibuk.... bisa lain kali saja tidak?'' Tolak James Ferdinan.
'' Ayolah James... pak Parta itu teman baik ayah sekaligus rekan bisnis kita...'' Tambah pak Ferdinan.
'' Baiklah,,, ,,, '' jawab James dengan malas.
'' Ok.... ayah tunggu... ingat jangan terlambat... '' Kata ayah James lagi mengingatkan.
'' Iya.... iya.....'' Jawab James.
James mematikan panggilan telfon nya.
'' Ada - ada aja ayah ni.... hufh...'' Gerutu James sambil membuka kembali berkas - berkas di depan nya.
'' Halo... Victor...'' Panggil James pada sekertarisnya melalui saluran telfon.
'' Keruangan ku sekarang?'' Pinta James.
Victor sang sekertaris segera memasuki ruangan.
'' Tolong batalkan semua jadwal ku siang ini, kami akan ada pertemuan dengan keluarga pak Parta ...'' Kata James.
'' Baik tuan... ada lagi?'' Tanya sang sekertaris yang sekaligus menjadi teman nya, karena Victor lah yang selalu berada di samping sang CEO kemanapun dia pergi.
'' Oh... ayolah Victor... tidak ada yang melihatnya.. jangan terlalu formal...'' Kata James.
Meski James mengangap Victor sebagai teman nya, walau bagaimana pun dia tetaplah atasan nya. Sehingga Victor tetap harus menjaga sikap padanya.
'' Menurut mu... apa yang akan di bicarakan dua sahabat itu?'' Tanya sang bos seraya menghentikan kegiatan nya menanda tangani berkas - berkas yang ada.
'' Banyak fersi.... bisa jadi tentang bisnis.... atau..... tentang memper erat tali persahabatan....'' Jawab sang sekertaris.
James memandang ke arah Victor dengan rasa penasaran, sambil memutar - mutar kan pena yang berada di tangan nya dia menanyakan sesuatu pada Victor untuk menjawab rasa penasaran dari jawaban sekertarisnya yang masih mengambang.
'' Mempererat persahabataaan.... maksutnya?''
'' Ehm.....'' Gumam Victor pelan hendak mengatakan sesuatu.
__ADS_1