BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
58


__ADS_3

'' James... apa terjadi sesuatu?''


'' James......'' Julia mengulangi perkataan nya karena James hanya diam.


'' Dari mana saja kau barusan?''


'' Deg....''


Julia nampak bingung gelagapan mendengar pertanyaan James. Dia baru menyadari kesalahan nya mengabaikan pesan yang diberikan oleh James sebelum pergi ke kantor.


'' Em......''


'' Ada apa Julia? Kenapa kau ke sana? Di sana sarangnya buaya,'' James meninggikan suaranya.


Julia menundukan kepalanya, matanya terasa perih. Kini ia tak mampu menahan lagi air itu menetes dari matanya. Di dalam lubuk hatinya, ia sungguh sangat menyesal.


James duduk di sebelah Julia memegang pundaknya dan menghadapkan wajah Julia padanya dan berkata,'' kau tahu betapa resahnya aku saat mengetahui kau pergi ke kantor John?''


'' James maafkan aku, aku hanya.... aku hanya...'' ucap Julia terbata.


'' Mencoba membantuku, itukah yang ingin kau katakan?''


Julia menganguk pelan, air matanya terus saja mengalir dan kini semakin deras. James menghapus air mata itu dari pipi istrinya dan meletakkan kepala Julia di dadanya.


'' Jangan lakukan hal itu lagi, aku tidak akan pernah memintamu melakukan nya sayang.''


Julia menganguk kan kepalanya dan berkata ,'' maafkan kelancangan ku James.''


'' Apa kau sudah makan?''


Julia mengelengkan kepalanya yang masih tetap berada dalam dekapan dada James. Julia memberanikan dirinya melihat ke arah mata James.


'' Apa kau memaafkan ku?''


'' Heem, apa yang ia lakukan padamu?''


'' Aku bahkan tidak bersalaman dengan nya, kami hanya bicara,'' jelas Julia.


'' Baiklah kau pesan makanan aku akan mandi dulu,'' ucap James.


Julia mengangkat kepalanya dari dada bidang James dan meraih handphone nya memesan sesuatu yang bisa di makan dari sebuah aplikasi.


Sementara itu di kantor John.


'' Halo paman.''


'' Apa kau sudah melakukan seperti yang ku minta?''

__ADS_1


'' Bagus, jangan sampai ada yang tahu.''


Demikian John mengatakan itu melalui telfon gengamnya. John meletakkan handphone nya di meja. Dia memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.


'' Bagaimana bisa dia mengabaikan aku,'' ucap James mengepalkan tangan nya memukul meja kerjanya. Dia teringat saat Julia meninggalkan nya begitu saja tadi.


'' Tidak ada gunanya berbicara dengan orang gila sepertimu,'' ucap Julia lalu melangkah menuju pintu.


'' Kau benar, aku memang gila, gila karenamu Julia,'' balas John namun Julia tak menghiraukanya lagi, Julia membuka pintu dan berlalu pergi.


'' Kringgg....kringg....''


Dering telfon mengejutkan John yang sedang larut dalam fikiran nya sendiri.


'' Apa yang kau dapat?''


'' Aku melihat mereka sedang berada di sebuah cafe bos,'' jawab seseorang dari sebrang telfon.


'' Terus awasi mereka,'' pinta John yang kemudian mematikan telfon nya. Dia menatap tajam ke arah luar jendela kantornya. Entah apa yang ia fikirkan dan siasat apa yang sedang berkecamuk dalam otaknya.


Keesokan harinya


Pagi sekali James nampak rapi, dia bersiap pergi ke kantornya. Sebelumnya ia duduk di ruang makan bersama Julia menikmati sarapan pagi mereka, dengan sedikit canda juga tawa menghiasi pagi.


James mengecup kening istrinya dan melangkah kan kakinya menuju Victor yang telah siap membukakan pintu mobil untuk sang bos. Tapi langkahnya berhenti saat mendengar suara istrinya memanggilnya.


'' James....''


'' Ada apa?'' Tanya James dengan lembut.


'' Apakah aku boleh mengunjungi mama dan papa?'' Ucap Julia sambil tersenyum manja.


'' Kenapa tidak, pergilah dengan supir jangan sendirian, mengerti?'' Tegas James pada istrinya itu. Karena dia tak mau terjadi sesuatu yang tak ia inginkan seperti saat itu.


Julia menganguk kan kepalanya dan tersenyum riang mendengar apa yang ia ucapkan. James kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil. Setelah Victor masuk dan duduk di belakang kendali James mengatakan sesuatu.


'' Awasi nyonyamu apapun yang ia lakukan dan laporkan padaku,'' ucap James.


'' Baik bos, ada lagi?''


'' Tidak , ayo jalan.''


Mobil mewah berwarna hitam yang membawa Victor dan bosnya itu segera melesat menyusuri jalanan hitam menuju pusat perkantoran. Sedang Julia yang masih berada di rumah segera bersiap pergi untuk mengunjungi mama dan papanya.


Seperti apa yang dikatakan oleh James, Julia pergi dengan seorang supir bersamanya. Di dalam mobil Julia nampak tersenyum sambil melihat foto dalam wall paper sosial media milik mamanya. Di tengah perjalanan Julia meminta sang sopir untuk berhenti sebentar karena dia teringat akan membawakan sesuatu untuk mamanya.


Mobil yang membawa Julia berhenti di sebuah toko kue. Julia keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko. Namun di sisi lain sesosok pria menatap ke arahnya dengan tajam dari dalam mobil yang berada tak jauh dari mobilnya.

__ADS_1


Tak lama Julia keluar dari toko kue dengan menenteng beberapa tas berisi kue - kue dan makanan ringan. Dia segera masuk ke dalam mobil dan meminta sang sopir untuk melajukan mobilnya ke tempat yang dituju.


Tiba di rumah mama dan papanya, Julia segera turun dan sang sopir dengan sigap segera menolong Julia membawakan barang bawaan nya. Namun tatapan mata Julia nampak bingung saat melihat seseorang keluar dari pintu rumah.


'' Kenapa dia ada di sini? Siapa yang sakit?'' Tanya Julia dalam batin nya.


'' Dokter?'' Sapa Julia pada pria setengah baya itu.


'' Eh... non Julia, apa kabar lama tidak berjumpa?''


'' Baik dok, dokter bagaiman?''


'' Saya juga baik non, hanya saja kesehatan papa anda sedikit menghawatirkan.'' Jawab sang dokter membuat Julia semakin penasaran.


'' Apa yang terjadi dengan papa saya dok?''


'' Saya tidak bisa menceritakan nya lebih baik non Julia masuk dan melihatnya sendiri, sepertinya papa anda syok berat, saya permisi dulu nona Julia, masih ada yang harus saya kerjakan.'' Julia hanya tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh sang dokter yang segera berlalu pergi.


Julia segera masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamar utama. Yakni kamar mama dan papanya. Julia hampir saja memanggil papanya namun dia urungkan saat sayup - sayup terdengar percakapan dari dalam ruang kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.


'' Papa sebaiknya jangan banyak fikiran, biarkan saja Julian dan menantu papa menyelesaikan nya pa?''


'' Bagaimana papa bisa tenang ma, jika ada seseorang yang akan menghancurkan usaha keluarga kuta ma?''


'' Pa.... papa tidak ingat apa kata dokter tadi, papa harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak fikiran... kalau tidak sakit papa bisa bertambah parah...''


'' Tapi ma... ''


'' Pa sudahlah... kalau papa tidak segera sembuh... Julia akan tahu, papa mau membuat dia khawatir?''


Papa Julia mengelengkan kepalanya menatap wanita yang rambutnya sudah mulai beruban itu nampak begitu telaten mengurusnya. Tatapan mata papa Julia nampak sedih namun ada kegundahan dalam hatinya yang terpancar dari tatapan itu.


Julia yang mendengar itu dari celah pintu yang terbuka nampak berkaca - kaca. Bahkan sudah ada butiran - butiran yang jatuh di pipinya. Julia segera menghapus air mata itu dan berjalan mundur beberapa langkah lalu maju lagi seraya memanggil papa dan mamanya.


'' Papa.... mama.....''


Mendengar suara itu, dua orang yang berada di dalam kamar tersebut saling tatap. Dengan tatapan mata yang susah diartikan.


๐Ÿ’•


๐Ÿ’–


๐Ÿงก


๐Ÿ’


Halo readers, author memohon maaf atas keabsenan nya mengupdate bab ke 58 kali ini. Author juga berharap para pembaca sekalian tetap dalam keadaan sehat dan kelimpahan rezeki di tengah wabah yang sedang merajai negeri tercinta ini.

__ADS_1


Terimakasih untuk terus mendukung author.


Salam hangat, author ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2