BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
71


__ADS_3

Hari hari berganti dan waktu pun begitu cepat berlalu. Pagi hari yang cerah dan malam yang gelap dengan kemerlip bintang silih berganti menghiasi menghiasi setiap sisi kehidupan manusia.


Kini seminggu setelah keadaan papa Julia membaik dan pulang ke rumah. Dalam seminggu itu pula Julia dan James menjalani kehidupan mereka seperti biasa meski James masih terus berkutat dengan masalah saham nya dan berusaha memperbaiki segalanya yang kacau.


Pagi ini saat Julia sedang menyiapkan sarapan di ruang makan bersama seorang asisten rumah tangga, dia mendengar handphone nya berbunyi. Julia menggerutu, '' siapa sih pagi - pagi gini sudah telpon.''


Julia sengaja tak menerima panggilan telfon itu karena malas dan dia memang juga sedang sibuk. lagi pula posisi handphone nya memang agak jauh karena di letakan di atas meja di sudut ruangan bersebelahan dengan pas photo keluarga.


Hingga beberapa kali telfonya masih tetap berbunyi. Dengan kesal Julia berjalan ke arah handphone nya berada. Mata Julia membelalak dan ekspresinya yang kaget melihat nama yang tertera pada panggilan telfon itu.


Julia bingung, kesal bahkan marah pada orang yang menghubunginya itu. Pada saat yang sama ia melihat ke arah anak tangga nampak suaminya sedang menuruni satu per satu anak tangga itu menuju ke ruang makan yang juga melihat ke arahnya mengangkat ke dua alisnya seakan bertanya pada Julia tentang siapa yang menelfonya.


'' John,,,'' ucap Julia.


'' Angkat tidak?'' Imbuh Julia.


James menganguk kan kepalanya dan ikut mendengarkan apa yang John katakan.


'' Ha... halo....'' Julia menjawabnya dengan suara agak terbata - bata.


'' Halo sayang.... apa kau melupakan janjimu atauuuu.... kau belum mendapat telfon dari mamamu?''


'' Apa maksutmu?'' Sahut Julia.


'' Sudahlah Julia jangan berpura - pura lupa, aku sengaja memberikan waktu untukmu agar kau menyelesaikan semuanya dengan baik, tapi apa yang kau lakukan, kau justru hidup dengan sangat nyaman tanpa mengingat sedikitpun janji yang kau buat padaku.....''


'' Emmm....''


'' Kenapa? Apa kau takut hem? Tak apa jika kau tak mau, sebentar lagi kau akan mendapat telfon dari mamamu sayang dan kaulah yang akan memohon padaku..... tuuuut... tuuut....tuuut....'' Sambungan telfon itu terputus begitu saja.


'' Halo.... John.... john....halo....''


'' Dasar saraf....''


Julia menggerutu sendiri seraya menoleh ke arah suaminya dan berkata, '' menurutmu apa maksut John?'' Namun James hanya mengangkat ke dua bahunya menandakan ketidak tahuan nya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu terdiam sejenak, mereka nampak berfikir tentang apa yang barusan mereka alami. Memang sangatlah aneh bahwa John memberikan obat penawar itu begitu saja hanya dengan beberapa lembar surat perjanjian yang tak dapat di duga kepastian nya.


'' Suadahlah James.... biarkan saja ... ayo kita sarapan dulu.... ''


Julia menggandenga tangan sang suami menuju meja makan yang telah siap beberapa menu tertata dengan apik diatasnya. Bahkan beberapa diantaranya masih nampak mengepulkan asap pertanda bahwa makanan itu masih hangat.


Julia mengambilkan beberapa sendok nasi ke dalam piring James serta lauk dan juga beberapa hidangan pelengkap lainya. '' Sayang.... itu terlalu banyak.... apa kau ingin membuat perutku buncit?''


Julia menoleh ke arah suaminya dan tersenyum lalu meletakkan piring itu di depan suaminya lalu berkata,'' James... kau harus makan yang banyak, karena juga banyak hal yang harus kau urus, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu hanya karena kau banyak kerjaan dan fikiran hingga melupakan pola makan mu.''


'' Tapi ini terlalu banyak sayang.... bukankah kita biasanya sarapan ringan, roti isi atau sandwich misalnya.''


James dan Julia terus berdebat di meja makan tentang isi piring James yang terlalu banyak hingga telfon Julia mulai berdering kembali.


'' Siapa lagi sih yang menelfon, ngak tahu apa orang lagi mau sarapan....'' Gerutu Julia seraya mengambil handphone nya dan melihat ke arah layar yang tertera nama '' My mom''.


'' Halo ma... ada ap.....'' Kalimat Julia terhenti mendengar isak tangis sang mama dari sebrang telfon.


'' Ma...ma... apa yang terjadi... kenapa mama menangis?'' Tanya Julia sambil melirik ke arah suaminya yang masih dengan terpaksa memakan makanan yang menumpuk di dalam piringnya. James pun hanya memandangnya penasaran.


'' Papamu... papamu sayang....''


'' Papa kenapa ma?''


'' Papamu kambuh lagi... bahkan kata dokter ini lebih parah dari yang kemarin...''


Deg, Julia seakan kehilangan detak jantungnya saat mendengar ucapan sang mama. Dia terus menatap ke arah suaminya dan tak menghiraukan ponselnya lagi. Matanya mulai berkaca - kaca. James yang melihat itupun bertanya,'' ada apa sayang?''


Julia menceritakan apa yang di katakan mamanya di telfon tadi. Meski papa Julia sering kali memaksakan kehendaknya tapi dia tetaplah papanya. Tanpa menyelesaikan sarapan, mereka bergegas ke rumah sakit. Setibanya di sana nyonya Parta sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan ruang di mana suaminya sedang diperiksa hingga tak menyadari kahadiran anak dan menantunya.


'' Mama....'' Panggil Julia dari kejauhan.


'' Sayang....'' Nyonya parta menyambut tangan putrinya dengan kecemasan menghiasi wajah wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dan cantik itu.


'' Bagaimana keadaan papa ma?''

__ADS_1


'' Papamu bertambah parah.... Dokter masih memeriksa ulang hasil tes sempel darah papamu sayang...''


'' Memangnya kenapa perlu di periksa ulang ma?''


'' Mereka merasa ada sesuatu yang aneh pada darah papamu, itu adalah racun yang sama namun dengan kadar yang lebih tinggi ...'' ucap sang mama dengan tangan nya yang bergetar saat menceritakan itu pada Julia.


Julia teringat perkataan Joh tadi pagi padanya. '' Apa mungkin ini ulah John lagi? Seperti yang ia katakan tadi pagi?'' Dalam batin Julia.


Julia menoleh ke arah suaminya, seakan ingin berkata sesuatu namun James sudah mengangguk. Sepertinya James tahu tentang apa yang ada dalam fikiran Julia. Julia lalu berpamitan pada mamanya untuk mengantar James ke bawah karena dia harus pergi ke kantor.


Di lantai bawah rumah sakit.


'' Halo.... sayang....kenapa lama sekali.... aku sudah menunggu telfonmu dari tadi....'' Seseorang menyambut dengan ramah dari sebrang telfon.


'' Dasar bajingan kau John,, apa yang kau berikan pada papaku John...''


'' Maaf Julia.... aku hanya berjaga - jaga, kalau - kalau kau tak menepati janjimu... tapi kau tak perlu takut Julia... aku masih memiliki obat penawarnya.... ha... ha...ha....''


'' Jadi apa maumu John...''


'' Cerailah dari suamimu yang tak berguna itu dan menikahlah denganku seperti yang telah kita sepakati sebelumnya....''


Julia mematikan panggilanya dan menatap sang suami dengan aliran air yang telah begitu deras menuruni sudut matanya. Sementara James mencoba meyakinkan Julia dengan berkata ,'' aku sudah siap untuk ini, kita selamatkan papamu lebih dulu.''


'' Bagaimana bisa ini terjadi padaku James.... kalian berdua sangatlah berarti bagiku, bagaimana bisa aku harus memilih salah satu dari kalian... ''


Julia terduduk lemas di lantai lobi rumah sakit. Dia terus saja menundukan kepalanya dengan buliran - buliran air yang tak henti mengalir. James mendekap Julia dan membawanya ke mobil mereka. Di dalam mobil James merebahkan kepala Julia di dadanya.


'' Kau tidak usah takut sayang, aku dan hatiku selalu bersama mu,'' ucap James.


'' kakak .... ya kak Julian... aku harus menelfonya James....'' Julia bangkit dari dekapan James dan bergegas mengambil handphone nya di dalam tas dan menelfon kakaknya.


'' Tuuuut.... tuuut.... tuut....''


'' Hallo sayang......''

__ADS_1


Deg.....


__ADS_2