BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
27


__ADS_3

Di ''Julia coffe shop and book store,'' waktu itu.


'' Maafkan aku James, aku selalu merepotkan mu,'' ucap Julia sambil menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.


'' Tidak ada yang perlu minta maaf, bukan kah keadaanlah yang membuat semua ini jadi semakin rumit? Aku sudah cukup senang karena bisa bersamamu dan menemanimu.'' Kata James sambil tersenyum menatap Julia.


'' Deg....'' Kata - kata yang Julia ucapkan itu di kembalikan padanya. Sebenarnya ada rasa sedikit kesal, tapi mau apa lagi memang semua seperti itu adanya. Julia menatap James yang masih sibuk dengan makanan nya.


'' Kenapa James? Kenapa kau tetap baik padaku padahal kau tahu aku tidak mencintaimu.'' Julia hanya menatap James yang nampak tulus padanya dengan hati berdesir.


'' Em... Julia... tadi ayahku menelfon... '' James memutus kalimatnya. Dia teringat saat ayahnya menelfon tadi sewaktu Julia sedang tak sadarkan diri.


'' Halo ayah...''


'' Apa kau bersama Julia,'' tanya ayah James.


'' Iya, ?''


'' Ayah baru saja pulang dari rumah pak Parta.''


'' Ada apa yah?'' Tanya James penasaran.


'' Kami telah menentukan hari pernikahan kalian.''


Demikian pak Ferdinan mengatakan mengenai hari dan tanggal pernikahan anaknya dengan Julia.


James menatap Julia yang menunggu kelanjutan kalimatnya.


'' Mereka sudah menentukan tanggal pernikahan kita,'' kata James kembali melahap makanan nya tanpa menoleh pada Julia. Sedang Julia hanya bisa menoleh ke arah James tanpa dapat berkata - kata.

__ADS_1


'' Jika kau tak ingin, aku akan coba menggagalkan nya sebisa ku,'' James menoleh pada Julia menatapnya meminta persetujuan Julia tapi Julia malah terpaku mendengar itu.


'' Secepat itukah papa melakukan nya?'' Batin Julia tak menyangka jika akan secepat itu.


'' Jika kau diam aku anggap kau setuju dengan keputusan ku,'' ucap James karena tak mendengar apapun dari mulut Julia.


Julia meletak kan mangkuk makanan nya. Lalu dia berkata pada James,'' tidak, aku bersedia melakukan nya, kita akan menikah.''


James mendongak, dia hampir - hampir tak percaya apa yang di katakan Julia barusan. James menepuk pipinya sendiri berharap itu bukan mimpi, dan memang dia tidak sedang bermimpi.


Julia mengambil selembar tisu dan menyentuh sudut bibir Julia yang terdapat sisa makanan dengan tisu itu. Julia kaget namun membiarkan James melakukan itu. Untuk beberapa menit suasana hening. Tapi James tersenyum di hatinya. '' Setidaknya, semua akan lebih mudah jika dia di sisiku.''


'' Apa kau yakin dengan keputusan mu?'' Tanya James. Julia menganguk kan kepalanya pelan.


'' Setidaknya, aku dapat melindungi Wira,'' gumam Julia dalam hati.


Di sela perbincangan mereka hand phone James berbunyi. James berkata pada Julia untuk keluar sebentar menemui orang yang menelfonya. James pun segera beranjak pergi dari kamar Julia.


Julia sedang duduk di tepi tempat tidurnya saat James membawa bantal yang dia gunakan untuk tidur di ruang vip sebelah kamar Julia.


'' Apa yang kau lakukan?'' Tanya Julia.


'' Menurutmu?'' Tanya James balik.


Malas berdebat dengan James, Julia merebahkan badanya di tempat tidur memandang langit - langit kamar. Sedang James tidur di sofa yang posisinya tak jauh bersebelahan dengan ranjang tempat tidur Julia. Julia memiringkan badanya memandang ke arah James.


'' James.... apa kau sudah tidur,'' panggil Julia lirih.


'' Hem.... '' Jawab James tanpa membuka matanya.

__ADS_1


'' Aku akan pergi ke sekolah untuk berpamitan besok pagi,'' kata Julia.


'' Tidak masalah aku akan mengantarmu sebelum ke kantor cabang,'' jawab James masih dengan mata tertutup.


Julia memandang James, dia menumpukan tanganya di bawah kepalanya. Ada secercah kehangatan dan rasa nyaman saat memandang James. Meski kadang James sering membuatnya kesal tapi tak dapat di pungkiri wajahnya yang tenang begitu menampak kan sisi kelaki - lakian nya.


Angan Julia melayang - layang membuat fikiranya terasa lelah dan matanya terasa berat, hingga menutup sepenuhnya. Kini mereka berdua telah terlelap dalam dunia mimpi masing - masing.


Langit malam yang kelam kini telah ada garis putih menyeruak di langit timur. Jalanan yang tadinya lengang kini telah mulai banyak kendaraan berlalu lalang.


Begitu juga dengan James dan Julia. Mereka telah bangun dan bersiap. James telah duduk di ruang tunggu di depan kamar Julia sambil memainkan gadgednya. Tak lama dari itu seorang gadis keluar dari kamar.


Kemeja abu - abu dengan kerah menjuntai panjang yang di bentuk sedemikian sehingga begitu cantik dan rok hitam selutut membalut tubuh gadis. Meski menampakan betapa seksinya Julia tapi tetap sopan.


Melihat pemandangan indah di pagi itu, James menelan salivanya lalu bergegas menuju lantai bawah diikuti Julia di belakangnya. Mereka menaiki sebuah mobil berwarna hitam menuju ke sekolah Julia.


Dari luar jendela ruang guru James dapat melihat apa saja yang Julia lakukan di dalam dengan jelas. Julia berpamitan pada semua rekan kerjanya. Para ibu - ibu satu persatu datang padanya dan memeluknya. Sedang para bapak menyalaminya.


'' Bapak ibu sekalian, meski hanya beberapa bulan saya bekerja di sini, tapi saya mendapat banyak pengalaman dan pelajaran berharga dari kalian semua, saya sungguh senang dan merasa sangat beruntung dapat bertemu dan bekerja dengan kalian, ini akan jadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya, terimakasih semuanya saya pamit assalam mualaikum.'' Julia bergegas keluar dari ruang itu menuju ke ruang HRD yang hanya bersebelahan dengan ruang guru.


Julia segera keluar dari ruang HRD dan saat akan menghampiri James suara sedikit manja terdengar lantang dari lorong sebelah kanan James. Seorang gadis cilik sepundak Julia berhamburan memeluk Julia di ikuti teman - teman nya yang berlari di belakangnya.


'' Ibu.... apa ibu akan pergi? Ibu akan meninggalkan kami? Kapan ibu kembali lagi ke sini?'' Kata anak itu dengan nada sedih.


Julia tersenyum pada mereka semua dan memegang bahu anak gadis itu agar ada sedikit celah baginya bernafas. '' It's ok, sweety, meski ibu tidak ada di sini kalian harus terus belajar, ingat apa yang sudah pernah ibu katakan pada kalian, mungkin suatu saat kita akan bertemu kembali okey.''


'' Ibu... kami sayang ibu,'' sahut seorang anak lain dari belakang.


'' Ibu juga menyayangi kalian, jaga diri kalian baik - baik, ibu pergi dulu, see you guys.'' James mengandeng tangan Julia berlalu pergi. Sambil melambaikan tangan pada para siswa yang berkumpul di lobi melepas kepergianya, Julia menitik kan air mata.

__ADS_1


Di dalam mobil.


James mengulurkan tangan nya memberikan tisu pada Julia yang matanya masih terus basah dengan air kasih. '' Terkadang perpisahan sangat cepat tapi kenangan begitu sulit di hilangkan,'' kata James sambil melajukan kendaraan nya keluar gerbang sekolah. Julia masih diam dengan terus menempelkan tisu yang James berikan di sudut matanya.


__ADS_2