BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
61


__ADS_3

Suasana di ruang tunggu tempat papa Julia di rawat kini telah lengang. James di jemput sang sekertaris ke kantor sedang Julian juga berpamitan ada urusan sedang nyonya Parta sedang berada di ruangan dokter yang menangani suaminya. Hanya Julia yang tertinggal di depan ruang rawat papanya.


Julia duduk menatap sang papa dari luar jendela kaca. Karena sementara ini, tak ada satu orangpun yang diperbolehkan masuk ke dalam ruang perawatan khusus tersebut tanpa seijin dokter yang bertugas. Julia menyandarkan bahu dan kepalanya di kursi, dia memejamkan matanya untuk sekedar menenangkan fikiran saat tiba - tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


'' Mama....'' Ucap Julia segera menoleh ke arah suara berasal. Namun betapa terkejutnya Julia saat melihat siapa yang datang.


'' Apa yang kau lakukan di sini ha...?'' Kata Julia pada John dengan nada kesal seraya berdiri.


'' Aku hanya ingin menjenguk papa rekan sekaligus lawan bisnisku, apa tidak boleh?'' Jawab John menatap ke dalam ruangan rawat di mana nampak seorang pria berumur dengan matanya yang terpejam.


'' Apa kau sudah melihatnya?'' Ucap Julia yang juga menatap ke arah papanya.


'' Dia akan tertidur selama 3 hari,'' lirih John.


'' Apa maksutmu John?'' Julia merasa penasaran dengan apa yang diucapkan John.


'' Nasib papamu tergantung padaku Julia?''


'' Apa yang...'' Kalimat Julia terhenti saat mamanya memanggil namanya.


'' Julia...'' Ucap sang mama dengan amplop besar berwarna coklat di tangan nya.


'' Eh... ada nak John... apa kabar John?'' Sapa nyonya Parta pada tamunya yang membuat anak nya kebingungan.


'' Em... tante... saya dengar om Parta sedang di rawat, makanya saya mengunjunginya, ingin tahu bagaimana keadaan nya.'' Jawab John.


'' Manis sekali mulutnya pada mamaku, aku bahkan ingin muntah mendengarnya, tapi bagaimana mama bisa mengenal John, tapi John kan juga pegusaha wajar saja jika mereka saling kenal,'' batin Julia memalingkan wajahnya yang dilirik oleh John.


'' Yah... beginilah keadaan om Parta.. John.. '' Keluh sang mama.


'' Saya berharap om Parta bisa segera sembuh tante,'' balas Joh.


'' Terimakasih John.''


'' Kalau begitu saya pamit dulu tante, masih ada yang harus saya urus di kantor,'' ucap John.


'' Mari nona Julia...'' Sapa John pada Julia seraya tersenyum penuh arti.


Julia pun dengan terpaksa tersenyum membalas senyuman John demi menjaga sikap di depan mamanya. John pun bergegas pergi dari sana. Sementara Julia segera bertanya pada mamanya tentang apa yang dikatakan oleh dokter.

__ADS_1


Tapi mamanya tak menjawab malah memberikan amplop coklat berisi beberapa lembar kertas hasil uji lab yang dilakukan pihak rumah sakit.


Merasa tak yakin dengan apa yang di bacanya, Julia bertanya sekali lagi pada sang mama yang kini mendekat ke arah kaca memperhatikan suaminya yang seakan tertidur dengan pulas dan engan membuka matanya.


'' Mama... apa maksutnya ini ma?''


'' Dokter bilang penyakit papamu sangat langka dan jarang ditemui bahkan baru kali ini mereka menanggani penyakit seperti ini Julia.''


'' Lalu mereka bilang apa lagi ma?'' Desak Julia pada mamanya yang matanya semakin basah menatap keadaan suaminya.


'' Mereka bahkan belum dapat memahami obat apa yang harus diberikan untuk papamu, tapi detak jantung papamu semakin melemah, itulah yang mereka katakan Julia...'' Jelas nyonya Parta sambil menyeka air matanya.


Julia terduduk lemas, begitupun dengan amplop coklat dan kertas yang kini telah berserakan di lantai. Julia memeganggi kepalanya yang terasa berat. Untuk sejenak jangankan berfikir, berkata pun Julia tak mampu. Tiba - tiba dia berkeinginan menelfon kakaknya.


'' Tuuut.... Tuuttt....''


'' Halo...'' Jawab seseorang dari sebrang telfon sana.


'' Kakak... kakak di mana? Apa kau sibuk?''


'' Kakak di kantor ada apa Julia, apa terjadi sesuatu pada papa?'' Desak James mendengar suara adiknya yang sedikit parau meski Julia sudah berusaha menutupi dengan sekuat tenaganya.


'' Baiklah... kakak akan segera ke sana, kau tunggu di sana oke,'' jawab Julian.


'' Iya kak bye...''


Julia mengajak mamanya yang masih berdiri di depan jendela kaca untuk duduk bersamanya sembari menunggu kedatangan Julian. Julia mengajak mamanya berbincang supaya sang mama bisa sedikit terhibur. Meski dia tahu ini mungkin akan sulit tak hanya bagi mamanya tapi juga untuknya sendiri.


Sementara Julia sedang membeli sesuatu di supermarket, nyonya Parta mencoba menghubungi teman - temanya untuk sekedar bertanya apakah mereka punya rekomendasi rumah sakit yang bagus atau dokter terbaik di tempat lain.


Sedangkan di kantor


Julian memberi tahu James bahwa Julia menelfonya untuk mengatakan sesuatu. Julian mengajak iparnya itu untuk segera pergi ke rumah sakit.


'' James... apa kau sudah mendapat telfon dari Julia?''


'' Belum ada apa memangnya?'' Tanya James balik pada kakak ipar sekaligus temanya itu.


'' Sepertinya kita perlu ke rumah sakit sekarang James, jika kau tidak sibuk cepat susul aku ke sana, aku akan pergi lebih dulu.''

__ADS_1


'' Baiklah aku memang masih sedikit sibuk tapi aku akan segera ke sana.''


Di depan supermarket yang hanya bersebrangan dengan rumah sakit tempat papa Julia dirawat.


Dua pasang mata sedang memandang pada arah yang sama. Yakni seorang perempuan yang tengah berdiri di trotoar menunggu rambu penyebrangan menyala. Wanita itu nampak kacau, bahkan rambutnya hanya di ikat sembarang dengan beberapa helai nampak menjuntai dan melambai - lambai tertiup angin.


'' Bukankah dia cantik?''


'' Iya meski sedang kacau.''


Mendengar jawaban dari sang sekertaris John memandang lebih lekat pada Julia. Memang ada sedikit guratan di keningnya yang menandakan bahwa dia berfikir keras.


Kini Julia tengah berjalan menyebrangi zebra cross namun sebuah mobil berwarna silver dari arah belakang mobil John melaju dengan kencang tanpa menghiraukan rambu - rambu lalu lintas. Julia terkejut karena baru menyadari ada mobil yang menuju ke arahnya dengan begitu kencang namun mobil sudah terlalu dekat dan....


'' Bruuuk...''


'' Apa kau tidak papa Julia...?''


Mendengar kata itu Julia segera membuka matanya , dan betapa terkejutnya Julia ketika melihat John dengan darah di keningnya.


'' Apa... John...? Orang yang sangat aku benci tapi dia menyelamatkan nyawaku,'' batin Julia.


Julia segera


'' John... keningmu berdarah...'' Ucap Julia dengan panik dan segera melepas jaket yang ia gunakan untuk menyeka darah di kening John.


'' Tuan... ayo kerumah sakit.''


'' Ini tidak papa... tidak perlu kerumah sakit.''


'' Tidak John.... lukamu perlu diperiksa dulu,'' ucap Julia segera menggandeng lengan John dan menuntunya kerumah sakit.


John tak mampu menolak Julia, dia hanya mengikuti apa yang Julia katakan.


Julia sudah tak berfikir siapa yang dia bawa, dia hanya berfikir yang di gandengnya adalah orang yang menyelamatkan nyawanya.


Sedangkan di depan rumah sakit James seperti melihat seorang yang sangat... sangat dia kenal. Namun dia mencoba menepis fikiranya karena tak mungkin seseorang yang bermusuhan bisa berjalan bersamaan....


🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam hangat Author.


__ADS_2