BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
59


__ADS_3

Setelah berbincang dan memakan kue bersamma papa dan mamanya, Julia berpamitan pulang.


'' Mama... papa.... Julia pulang dulu ya, Julia juga mau mampir dulu ke JJ Jewelry dulu,'' ucap Julia dengan lembut seraya mengengam tangan papanya juga memandang ke arah mamanya yang masih setia dengan piring kue serta sendok yang digunakan untuk menyuapi papa Julia.


'' Iya sayang... mampirlah ke toko kita, mama sudah beberapa hari tidak ke sana,'' sahut sang mama.


Seera setelah berpamitan, Julia segera beranjak menuju mobilnya. Julia duduk termanggu di kursi penumpang mobil nan mewah itu. Untuk beberapa saat tatapan mata Julia tak dapat di artikan. Dia lalu merogoh tas jinjing yang di letakkan di sebelahnya.


Julia mencoba menghubungi seseorang dengan chat dan beberapa menit kemudian telfon gengam yang masih setia dalam genggamanya berdering.


'' Ya...'' Demikian Julia menjawab panggilan itu.


Dalam beberapa menit kemudian Julia tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya yang seksi itu. Ia hanya mendengarkan seseorang berbicara dari sebrang telfon yang sepertinya menjelaskan sesuatu padanya.


Ada buliran bening yang hampir... hampir saja menetes namun Julia tak mengizinkan air itu jatuh. Dia segera menghapusnya dengan ujung ibujarinya dengan masih menempelkan telfon gengamnya di telingga.


'' Baiklah...terimakasih, terus kabari aku jika ada hal yang penting,'' ucap Julia menutup telfon nya.


Mobil yang membawa Julia terus melaju melewati sebuah taman. Julia meminta pak supir untuk memutar balik dan berhenti di taman. Julia duduk di kursi panjang yang berada di bawah batang pohon nan rindang.


Termanggu - manggu menunggu sesuatu yang tak tentu. Sesekali dia mengurut pelipisnya pelan sedang sang sopir setia menunggu nya dari kejauhan.


Sedang di tempat lain seseorang menerima notifikasi chat dengan senyum simpul di bibirnya. Dari kejauhan nampak John menyandarkan bahunya di sandaran kursi kebesaranya dengan kaki di atas meja sambil terus menatap layar hand phone nya. Tatapan mata penuh arti yang selalu ia tunjukan saat menatap foto itu.


'' Kena kau Julia...'' Demikian ucapan yang lolos dari bibirnya.


'' Bagus... awasi terus dia, laporkan padaku setiap geraknya.'' Balas John pada chat itu.


Sedang Julia yang tak menyadari bahwa ada beberapa orang yang selalu mengawasinya masih saja duduk termenung di tempatnya. Seperti ada gelombang besar berkecamuk dalam lautan fikiranya yang siap menggulung segala apa yang ada di dekatnya bila terjadi sedikit saja kesalahan dalam langkah Julia.


Julia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya kini. Di sana pak sopir dengan sigap telah bersiap membuka kan pintu mobil untuknya.


'' Kemana arah kita nona?'' Tanya pak supir pada nonanya yang nampak linglung.

__ADS_1


'' Ke JJ Jewelry pak,'' jawab Julia.


Mobil hitam pekat itupun segera melaju dengan cepatnya menuju pusat kota membawa Julia ke JJ Jewelry. Di sana Julia di sambut dengan begitu ramah oleh sang manager.


Julia meminta beberapa berkas laporan keuangan dan keadaan tokonya. Julia duduk di kursinya dan memeriksa berkas - berkas itu. Setelah selesai Julia bergegas pergi. Dia meminta sang sopir membawanya pulang kerumah.


Di kantor James sedang sibuk menelfon istrinya namun tak ada jawaban. Beberapa kali James menelfonya tapi tetap tak ada jawaban.


'' Kemana lagi dia...'' Gerutu James.


'' Kemana nonamu?'' Tanya James pada sang sekertaris yang setia di sampingnya.


'' Nona sudah ada di rumah bos,'' ucap sang sekertaris.


'' Kenapa dia tak menjawab telfonku? Apa terjadi sesuatu?'' Ucap James panik.


Sementara James sedang sibuk dengan kekhawatiran nya, Julia tengah berada di ruang mandi. Dari luar kaca tempat mandinya nampak Julia mengguyur puncak kepalanya dengan derasnya air yang keluar dari ujung shower.


Julia terlihat membiarkan air membasahi wajahnya tanpa berusaha mengusapnya. Dia nampak memikirkan sesuatu yang begitu berat. Kini dia duduk di bawah guyuran air dengan meletakkan kepala di kedua lututnya. Sesekali dia mengusap kepalanya.


Mata indahnya menatap langit - langit kamar yang di hiasi dengan warna perak dan kekuningan. Semilir angin dari pendingin udara yang terasa lembut membelai kulitnya membuai Julia dalam angan dan kelamaan membuat matanya terpejam.


Belum beberapa lama kemudian seseorang membuka pintu kamar Julia dengan kerasnya.


'' Ya Tuhan.... Istriku sedang tidur, pantas saja dia tidak mengangkat telfonku.'' Demikian gumam James pada dirinya sendiri saat mengetahui Julia sedang tertidur dengan pulasnya. Bahkan tak menyadari kedatangan suaminya.


James mengecup kening istrinya dengan lembut dan duduk di sampingnya. Di pandangnya wajah sang istri yang nampak letih. Disibakkan nya anak rambut lembut yang menutupi kening istrinya. Tak bosan James memandang wajah sang istri. Dia tahu pasti jika Julia juga mengetahui apa yang keluarganya dan suaminya alami di dunia bisnis saat ini.


James memang tak berbicara pada Julia tentang semua masalah yang ia alami, karena tak ingin Julia berfikir berat tentang hal itu. Tapi apa mau di kata, Julia tak mungkin tidak mengetahui nya hanya saja James bersikukuh tidak berbicara pada Julia karena di berharap dia masih mampu menyelesaikan segalanya sendiri.


Tiba - tiba sesuatu berdering di dalam kantongnya. James melihat siapa yang menelfonya dan menerima panggilan itu.


'' Ada apa Victor?''

__ADS_1


'' Apa maksutmu?''


'' Baiklah kau ke sini segera,'' ucap James setelah mendengar sesuatu dari sang kepercayaan nya.


James kembali memandang Julia lalu berkata,'' maafkan aku yang masih terlalu sibuk saat ini sayang.''


James lalu mengecup kening sang istri dan beranjak keluar dari kamarnya menuju keruang kerja. Di sana Victor telah menunggu kedatangan bosnya.


'' Ini berkasnya James,'' ucap sahabat James dari kecil itu.


'' Hem...'' Jawab James menerima berkas itu dan membukanya.


'' Kapan dia melakukan ini?'' Tanya James.


'' Baru saja, mereka juga menawarkan merger salah satu perusahaan kita dengan miliknya.'' Jelas Victor.


'' Kasian James... pengantin baru tapi sudah di cecar dengan masalah yang sedemikian berat.... yah...namanya juga persaingan bisnis...apalagi ada hubunganya dengan perempuan.... fiuhf....'' Dalam batin Victor yang tahu dengan pasti seberat apa masalah sahabatnya itu.


Sementara itu di kamar, handphone Julia berdering. Matanya yang masih terasa berat namun telingganya terganggu dengan dering ponsel yang tak segera berhenti. Terpaksa Julia mengangkat telfonya tanpa melihat siapa yang menelfonya.


'' Hem...hallo....'' Jawab Julia dengan suara yang masih serak dan malas.


'' Halo sayang... apa kau merayuku?'' Ucap seseorang dari sebrang telfon.


Mendengar jawaban itu seketika mata Julia membelalak melihat pada nomor yang menelfonya.


💗



💖


💕

__ADS_1


Hallo readers, mohon maaf karena sudah terlalu lama author tidak update bab pada novel ini. Tidak ada maksut untuk mengesampingkan update bab baru ataupun mengabaikan pembaca sekalian, ini dikarenakan ada hal yang perlu author selesaikan dengan segera. Author harap pembaca sekalian dapat memakluminya dan salam hangat dari author 🙏🙏🙏


__ADS_2