BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
64


__ADS_3

Di dalam ruangan rawat John sekertarisnya sedang memberi tahukan sesuatu.


'' Tuan, pihak James juga mengetahui tentang cctv ini,'' ucap sang sekertaris.


'' Hemm... baguslah,'' jawab John santai.


'' O...ya bagaimana perkembangan rencana kita?''


'' Semua lancar tuan.''


'' Bagus... lanjutkan rencananya...ingat aku tak mau ada kegagalan...''


'' Baik tuan,'' jawab sang sekertaris kemudian berlalu pergi setelah memberitahukan segala yang diperlukan pada bosnya.


John menyandarkan badan nya sembari terus memperhatikan layar gadgednya.


Sedangkan di depan ruang rawat papa Julia, Julia dan James tengah berpamitan pada mamanya. James mengandeng tangan istrinya pergi dari rumah sakit.


'' Aku memang tak seberuntung mereka, bahkan kakak ku pun tak ingin tinggal bersamaku, tapi lihat saja... aku akan mendapatkanya...'' Ucap John dengan sebelah tangannya mengepal.


Sementara di sudut meja sebuah caffe, dua orang tengah berbincang.


'' Lian... apa semua baik - baik saja?'' Tanya seorang wanita berparas cantik dengan rambutnya terikat.


'' Semua akan baik - baik saja...'' Jawab Julian memegang tangan Lea seraya tersenyum meyakinkan kekasihnya.


'' Apa kau yakin? Apa kau membutuhkan bantuanku...mungkin,'' ucap Lea tersenyum.


Mereka berbincang dengan santai dan terlihat mesra menampak kan bahwa hubungan mereka telah begitu dekat meski mereka menjalin nya dengan diam - diam.


Hari semakin gelap, kumandang adzan mulai bergema di masjid - masjid, jalanan pun nampak sedikit lengang meski masih banyak kendaraan berlalu lalang. Sedang James dan Julia juga masih berada di jalan.


Mobil mewah hitam pekat yang membawa Julia dan James berhenti di depan sebuah mushola. Nampak Julia keluar dari mobil itu dan menuju ke tempat wudhu.


James yang berada di dalam hanya memandangi istrinya melalui dinding masjid yang sebagian nya di buat dari kaca tebal transparan, hingga nampak sebagian aktifitas orang - orang yang ada di dalamnya. James tak pernah mengalihkan pandangan nya dari sang istri.


'' Betapa bersyukurnya aku mendapatkan istri seperti Julia, di tengah hiruk pikuk glamornya dunia, dia tetap teguh dengan keyakinan nya, sedangkan aku... belum bisa mencoba lebih baik....'' James berkata pada dirinya sendiri.

__ADS_1


James menyandarkan keningnya di atas kemudi sembari menunggu istrinya selesai. Sedang Julia yang telah keluar dari mushola pun bergegas menemui suaminya.


Saar membuka pintu mobil, dia melihat suaminya telah tertidur di atas kendali mobilnya, dengan kedua lengan tangan menopang keningnya di atas kendali. Julia tersenyum melihat itu, dia tahu pasti bahwa yang sedang di hadapi suaminya akhir - akhir ini sangatlah berat. Mulai dari persaingan bisnis hingga masalah keluarga.


Hampir saja Julia membangunkan suaminya, namun gerakan tangan nya terhenti sekitar beberapa centi dari kepala sang suami yang tengah menunduk tertidur. Dia menggurungkan niatnya dan memilih duduk diam membiarkan suaminya istirahat sejenak.


Tak lama kemudian James mengangkat kepalanya. Dia mengarahkan pandangan nya ke arah depan. Tapi pandangan matanya nampak bingung seperti mencari - cari sesuatu namun tak ketemu. Hingga dia menolah ke kursi di sebelahnya. Dia merasa lega mengetahui orang yang di cari tersenyum begitu manis seraya memandangnya.


'' Sudah bangun?'' Sapa sang istri.


'' Julia... kenapa kau tidak membangunkan aku?''


'' Aku sengaja .. supaya kau bisa istirahat sejenak...'' Ucap Julia dengan ringan nya seraya mengikat rambutnya sembarang.


James yang merasa gemas dengan tingkah laku istrinya itu mencubit manja hidung sang istri. Hingga Julia menepis tangan nya.


'' James... hentikan, kau bisa melukai ku,'' ucap Julia kesal.


'' Iya ...maaf...'' Mengatakan itu James segera menyalakan mesin mobilnya, menginjak pedal gas dan bergegas pergi.


'' Lian... apa aku perlu menemanimu menemui mamamu?'' Tanya Lea sambil memegangi kontak berisi makanan dan kue untuk nyonya Parta yang mereka beli saat berada di cafe.


'' Sementara ini aku rasa kau jangan muncul dulu Lea... aku tak ingin menambah beban fikiran mama... tapi jika keadaan sudah pulih... aku janji akan mengenalkan mu pada mama dan papaku sebagai calon pendampingku...''


Lea yang mendengar perkataan Julian hanya tersenyum meski dalam batin nya kecewa. Lagi pula masih banyak urusan yang harus dia selesaikan, hingga dia juga berfikir mungkin keadaan ini lebih baik ketimbang memaksakan kehendaknya.


'' Ya sudahlah lagi pula aku masih harus mengurus adik - adik ku dulu,'' batin Lea.


Julian mengantarkan Lea pulang ke apartemen nya terlebih dahulu sebelum menemui mamanya di rumah sakit.


'' Bye... hati - hati...jangan lupa....'' Ucap Lea sambil tersenyum setelah turun dari mobil Julian sambil melengkungkan ibu jari dan jari kelingking ke telingganya pertanda meminta Julian menelfon nya.


Julian membalas dengan senyuman dan membunyikan klakson mobilnya lalu melaju menyusuri jalan menuju rumah sakit. Setibanya di sana, Julian telah di sambut oleh beberapa orang termasuk mamanya yang tengah berbincang di ruang tunggu depan ruang rawat papanya.


'' Eh...om ...tante... Mikes....'' Ucap Julian ramah seraya menyalami tangan mertua adiknya itu.


'' Julian....tambah gagah aja anak bujang satu ini... kapan ngenalin gandengan nya sama om dan tante?'' Ucap nyonya ferdinan menyambut kedatangan James.

__ADS_1


'' Iya kak... cakep lho ceweknya kak Lian ini bu?'' Sahut Mikes.


'' O...ya..'' Ucap nyonya Ferdinan seraya menatap besan nya yang juga terkejut mendengar ucapan adik ipar anaknya itu.


'' Ah... Mikes bisa saja...'' Ucap Julian menepuk pundak Mikes.


'' O ...ya tadi Julian beli makanan di luar sebelum kesini... kebetulan om dan tente juga di sini jadi bisa menemani mama makan... mama belum makan sama sekali dari tadi siang tan...''


'' Liaaan....kenapa curhat sama om dan tante sih....'' Sahut sang mama menyenggol Julian.


'' Biar om dan tente tau ma jadi bisa sekalian menemani makan, kalau makan bersama - sama mamakan jadi ada selera.''


'' Jeng... saya tahu jeng ngak ada selera makan... tapi siapa yang akan jaga papanya Julia dan Lian kalau jeng juga sakit... '' Sahut nyonya Ferdinan.


'' Iya....iya mama makan... ayo jeng... pak Ferdinan kita makan bersama, Mikes juga ayo...'' Ucap mama Julian.


'' Iya tante... silahkan....'' Jawab Mikes


'' Iya.... iya... ma tolong temani besan kita makan...'' Pinta pak Ferdinan pada sang istri.


Setelah kedua wanita itu duduk di sudut ruangan sambil membuka bungkus makanan yang di bawa Julian, pak Ferdinan mendekat ke arah kaca yang memperlihatkan besan nya sedang terkulai lemah dalam perawatan intensif. Julian pun mendekatinya dan mereka sedikit berbincang tentang keadaan papanya pada pak Ferdinan.


Sementara itu di ruang sebelah.


John yang menatap serius layar cctv di handphone nya dengan ekspresi yang tak dapat di tuangkan dalam kata - kata. Dia seperti terharu, ada ekspresi sedih bahkan marah.


'' Seandainya papa dan mamaku juga masih ada, aku pasti tidak akan merasa sepi seperti ini, aku juga akan merasakan kebahagiaan seperti apa yang mereka rasakan,'' gumam John mengepalkan sebelah tangan nya.


💦


💦


💓


Halo rekan - rekan pembaca sekalian, terimakasih atas dukungan kalian pada author. Semoga kalian dalam keadaan baik - baik saja dan selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Terimakasih banyak dukungan nya, love you all.


Salam hangat 🙏 dari author.

__ADS_1


__ADS_2