BERSAMAMU AKU DAN HATIKU

BERSAMAMU AKU DAN HATIKU
47


__ADS_3

''Aku pernah terjatuh di kolam itu, saat itu aku masih kecil dan belum pandai berenang, begitu juga dengan Julian, tapi dia nekad terjun untuk menyelamatkan aku. Aku sangat menyayangi Julian, bahkan saat aku tahu tentang kebenaran nya.''


'' Kebenaran? Kebenaran tentang apa?'' Batin Leo penasaran.


Saat Leo ingin bertanya tentang rasa penasaran nya, seseorang memanggil nama Julia dari arah belakang mereka. Leo yang masih berdiri pun ikut menoleh.


'' Kakak?'' Julia yang mendengar suara seperti memanggil seseorang, menoleh mencari sumber suara.


'' Kak Julia?'' Tanya anak gadis itu.


'' Iya,'' jawab Julia heran kenapa gadis itu bisa tahu namanya.


'' Kakak seseorang mengirimkan ini untuk kakak,'' anak gadis itu memberikan seikat bunga dengan selembar memo berwarna merah muda padanya. Julia menerima bunga itu dan membaca memo yang terselip di dalamnya.


'' Tidak ada wanita lain yang aku inginkan kecuali dirimu, apa yang baru saja kau lihat adalah sebuah kesalahan, sesungguhnya tidak ada jumlah kata maaf yang dapat mewakili rasa bersalahku, mohon maafkanlah aku, aku sungguh - sungguh tak punya niatan melakukan itu, sepertinya wanita itu menginginkan sesuatu yang buruk pada hubungan kita, kembalilah padaku my honey.''


Julia terdiam membaca itu, dia bingung harus apa. Julia memijat pelipisnya dan memejamkan mata, menelangkupkan ke dua telapak tangan kewajahnya.


'' Ada apa Julia?'' Tanya Leo yang melihat ekspresi sedih dan bingung Julia. Leo sebenarnya sudah bisa menduga siapa pengirim buket bunga itu. Jujur hatinya juga sakit melihat kesedihan di mata Julia.


'' Julia sudahlah, ayo aku antar pulang,'' ucap Leo berjongkok di depan Julia dan memegang tangan Julia.


'' Leo....'' Bentak seseorang menyebut namanya.


'' James?''


'' Jauhkan tangan mu dari tangan istriku.''


James melangkah mendekati Leo dan Julia, menarik tangan Julia dan mengajaknya pergi. Tapi belum sempat James melangkah, Leo mencegahnya pergi.


'' Tidak, kau tak bisa pergi begitu saja, aku yang membawa Julia ke sini maka aku pula yang harus mengantarnya pulang.''


'' Apa kau bilang ha? Apa kau lupa ingatan, kalau Julia adalah nyonya James sekarang ini?'' James berbalik meraih kerah kemeja Leo, mencengkeramnya kuat.


Melihat suasana semakin keruh, Julia segera berlari mencegah dua pria itu berkelahi.


'' James... sudah James...ayo kita pulang.'' Julia meraih tangan James untuk melepaskan cengkraman nya pada kerah baju Leo.


'' Leo terimakasih sudah mengantarkan aku ke sini, aku akan pulang dengan James, kau tahu sendiri statusku saat ini, kau juga sebaiknya pulanglah, sekali lagi terimakasih Leo.''


Tersirat senyum kemenangan dari wajah James mendengar perkataan Julia barusan.


Julia segera melangkahkan kakinya menarik tangan James untuk segera pergi dari sana, Julia takut terjadi sesuatu yang lebih parah jika dua pria itu tidak segera di pisahkan.

__ADS_1


Leo hanya diam menatap kepergian Julia bersama suaminya itu. Tangan nya mengepal kencang, dia sungguh - sungguh kesal. Dia duduk di kursi tempat Julia duduk tadi.


'' Ini baru permulaan James,'' gumam Leo dengan tatapan penuh dendam.


Di sisi lain James membawa Julia pulang. Suhu dingin yang berhembus dari pendingin udara di dalam mobil memperparah suasana canggung antara mereka berdua.


'' Terimakasih Julia...'' Ucap James pelan.


'' Untuk apa?''


'' Bahwa kau mengakui aku sebagai suamimu tadi di depan Leo.''


Julia tak menjawab, dia hanya memandang ke arah luar jendela. Hatinya masih perih saat teringat apa yang ia saksikan sendiri dengan mata kepalanya pagi ini.


'' Julia....''


'' Hem...''


'' Maafkan aku atas kejadian tadi pagi, wanita itu yang mendadak memeluk ku, aku sungguh - sungguh minta maaf.''


Julia masih tak menjawab apapun dan tak mengalihkan pandangan nya.


'' Dia Silvia, mantanku saat di SMA, dia meninggalkan aku demi orang yang lebih kaya, aku bahkan tidak tahu kenapa dia muncul lagi setelah aku menikah.''


'' Àpa kau mau makan sesuatu?'' Kata James merayu saat melewati taman bersantap.


Julia hanya mengelengkan kepalanya tak berucap. Julia masih kesal saat terlintas bayangan James yang nampak menikmati saat di peluk oleh wanita itu.


Handphone Julia berbunyi, ''tling''.


Julia melihat handphone nya dan itu adalah pesan chat dari Leo.


'' Maafkan atas sifatku tadi yang ke kanak - kanakan 🙏.''


'' Tidak masalah, itu juga bukan salahmu, patitnya akulah yang bersalah karena melibatkan mu dalam masalah keluargaku.''


'' Tliiing.''


'' Jangan sungkan, kedua tangan ku terbuka untukmu.''


Julia hanya membaca pesan chat itu tak membalasnya lagi. Dia tak mau jika itu akan memperkeruh keadaan. Julia memasukan kembali handphone nya ke dalam tas.


'' Siapa Julia?''

__ADS_1


'' Leo...''


'' Apa yang dia katakan?''


'' Dia hanya meminta maaf.''


'' Meminta maaf? Dasar kadal, awas saja dia,'' gerutu James dalam hati.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di depan rumah. James keluar lebih dulu untuk membuka pintu mobil untuk Julia, tapi dia terlambat. Julia telah membuka pintu itu sendiri. Tanpa berkata - kata Julia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


'' Sepertinya dia masih marah padaku,'' batin James.


'' Wajar saja, jika aku jadi dia akupun akan seperti itu,'' batin James lagi.


James mengikuti Julia masuk ke dalam rumahnya. Julia meletak kan tasnya di atas meja rias, menarik baju mandinya dan sgera ke kamar mandi. Menguyur dirinya berharap setelah mandi fikiranya bisa lebih fresh.


Sedangkan James sedang memperhatikan handphone nya. Dia mengeratkan giginya, membaca pesan chat dari Leo untuk Julia.


'' Dasar kadal, berani - beraninya dia merayu istriku, untung saja aku memasang aplikasi spy di hape Julia,'' James tersenyum - senyum mengingat waktu itu saat dia memasang aplikasi spy di hape Julia sehari setelah hari pernikahan nya.


Saat itu, Julia bangun lebih dulu, merasa ada sesuatu di tangan nya, Julia terkesiap saat melihat tangan James melekat erat di tangan nya. Julia melepaskan nya pelan lalu dia turun ke lantai bawah dan membuat dua gelas minuman hangat. Satu cangkir teh untuknya dan secangkir kopi untuk James.


Dia juga membuat roti panggang dengan olesan krim dan keju yang dia letak kan dalam nampan bersama dua cangkir minuman yang akan dia bawa ke dalam kamar.


Di saat Julia berada di bawah itulah James mengambil hape Julia yang tidak di aktifkan kunci kodenya. Jadi dengan mudah dia dapat mengakses hape Julia.


James tersadar dari lamunan nya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. '' Bos semuanya sudah siap,'' ucap Victor saat James membuka pintu kamarnya.


'' Baiklah, terimakasih Victor.''


'' Siapa James?'' Kata Julia yang mendengar James berbicara dengan seseorang.


'' Victor, dia bilang ada paket untukmu di bawah.''


'' Perasaan aku tak pernah memesan sesuatu secara on line,'' dalam batinnya, Julia mengerutkan dahinya merasa heran.


'' Kenapa dia tidak membawakan nya ke atas?''


'' Mungkin dia tak kuat membawanya ke sini.''


'' Hem... aneh.'' Ucap Julia menatap James heran.


James hanya mengangkat bahunya, tanda bahwa dia tak mengerti apapun.

__ADS_1


__ADS_2