
Julia membalikan badanya dan menatap James. '' Apa yang dia lakukan, ini tak pantas untuk ku yang hanya mengangapnya sebagai teman, aku tak bisa menerima ini, aku akan sangat malu pada diriku sendiri,'' batin Julia.
'' Tidak James, aku tidak bisa menerima ini,'' ucap Julia sambil mengalungkan tanganya di leher ingin melepaskan pengait liontin itu.
Dengan cepat James memegang kedua tangan Julia. '' Ternyata Julia belum bisa menerima perasaan ku,'' batin James.
'' Tidak Julia, kau harus tetap memakainya, setidaknya anggaplah ini sebagai tanda bahwa kau tidak sendirian, ada seseorang yang akan selalu setia menemanimu,'' tutur James.
Mendengar perkataan James, Julia tak mampu menolaknya. Julia memutuskan untuk mengurungkan niatnya melepaskan liontin itu. Julia tak tahu persis perasaan apa yang ia rasakan saat ini.
Apakah dia harus senang, ataukah dia harus apa. Ada rasa malu, sedih, bahkan bahagia, setidaknya dia memiliki seseorang yang ada di sisinya. Julia segera masuk ke kamar ganti untuk melepaskan gaun nya. Lalu dia dan James segera pergi dari tempat itu.
Sementara itu di kantor, Wira sedang mendapat telfon. '' Halo....'' Jawab Wira.
'' Bos... nona Julia akan menikah lusa,'' kata seseorang di sana.
'' Bukankah seharusnya , masih minggu depan?'' Tanya Wira memastikan informasi yang ia terima tidak salah.
'' Iya bos jika sesuai tanggal, tapi pihak James mempercepat waktu pernikahan nya dan di setujui oleh keluarga nona Julia,'' tutur seseorang di sana.
'' Aku ingin kau melakukan sesuatu,.... .. .... '' Begitulah Wira meminta mata - matanya melakukan sesuatu untuknya dan segera memutuskan sambungan telfon nya.
'' Dasar tidak berguna, kenapa dia sangat lamban,'' gerutu Wira memgebrak mejanya sendiri.
Sedangkan di rumah James. Seorang dokter pribadi keluarga James tengah memeriksa keadaan Julian. Sedang James dan Julia tengah duduk menunggu di sofa sebelah tempat tidur Julian.
Julia nampak bahagia melihat kakak nya sudah mulai pulih. Julian terpengaruh oleh obat - obatan yang dengan sengaja di campurkan ke dalam minuman nya saat dia pergi ke bar waktu itu. Untung saja Julian belum mengalami kecanduan dan masih bisa tertolong.
James memandang wajah anggun yang sedang duduk di sebelahnya. Ada lengkungan senyum di bibir James saat melihat rona mata Julia yang berbinar. Ada kebahagiaan mendalam yang ia rasakan saat melihat gadis itu bahagia. James tak faham tentang sesuatu yang bergetar yang ia rasakan bisa begitu dalam.
__ADS_1
'' Setidaknya aku bisa melihatnya tersenyum, meksi hatinya belum menerimaku, tapi aku yakin cepat atau lambat aku akan segera merengkuh hatinya,'' batin James.
'' Tuan... nona... keadaan pasien sudah mulai pulih, usahakan agar jangan bekerja atau berfikir terlalu keras dulu, biarkan sampai kesehatanya benar - benar membaik,'' tutur seorang dokter laki - laki paruh baya itu.
'' Baik dokter terimakasih banyak,'' sahut Julia sambil berdiri. Dokter itu tersenyum melihat reaksi dari Julia yang amat bersemangat.
'' Saya sudah memberikan beberapa obat dan fitamin, semoga tuan muda Julian bisa lekas pulih total.'' Kata sang dokter.
'' Terimakasih dokter,'' jawab Julia lagi. Dokter itu keluar dari ruangan di mana kakak Julia di rawat. James sengaja tak membawanya ke rumah sakit karena takut jika terjadi sesuatu pada calon kakak iparnya itu.
James mengantarkan dokter itu keluar ruangan, dan Julia mendekat ke Julian. Dia duduk di tepi tempat tidur kakaknya.
'' Kakak kau harus segera sembuh, kami semua membutuhkan mu, aku tak mampu melakukan ini sendirian kakak, aku terlalu rapuh melawan mereka.'' Kata Julia terisak di dekat kakaknya yang masih dalam pengaruh obat tidur.
'' Jangan khawatir kakakmu akan segera pulih Julia,'' sahut James yang mendengar dengan jelas apa yang di katakan Julia barusan setelah mengantarkan dokter pribadinya keluar kamar.
James mendekati Julia dan mengusap kepala Julia, mengambilnya dalam pelukan nya. Lalu Julia berkata, '' terimakasih James....James aku akan pulang dulu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada papaku, aku titip kakak ku dulu ya.''
James mengantarkan Julia pulang. '' James di sini saja,'' kata Julia saat di depan pintu gerbang rumahnya.
'' Apa kau yakin?'' Tanya James membuka jendela kacanya dan berbicara pada Julia yang telah berada di luar.
'' Heem,'' jawab Julia singkat dengan senyum manis di bibirnya.
'' Baiklah, aku ke kantor dulu, ada berkas yang harus di tanda tangani, jaga diri jangan lupa kabari aku,'' pesan James sebelum melaju pergi.
Julia menganguk pelan tanpa menghilangkan senyuman itu. James melajukan mobilnya meninggalkan Julia yang masih di depan gerbang. Julia menekan bell pintu gerbang namun dia terkejut saat seseorang menepuk punggung Julia dari belakang.
Seketika Julia telah terkulai lemas saat sebuah sapu tangan menempel tepat di hidung nya. Dalam dekapan seorang lelaki berbadan kekar yang langsung membawanya masuk dalam sebuah mobil panjang nan mewah.
__ADS_1
Mobil yang membawa Julia melaju kencang menuju sebuah mension. Seseorang dengan kemeja putih keluar dari dalam mobil dan mengendong Julia ala bridal masuk ke mension.
'' Kau akan menjadi miliku Julia,'' ucap lelaki itu dengan angkuhnya seraya menatap ke arah Julia.
Sementara Julia tengah tak sadarkan diri, di ruang bawah mension seseorang tengah menerobos masuk ke dalam mension.
'' Leo.... leo.... keluar kau, di mana Juliaku, Leo... Leo...'' Seseorang berteriak hingga membuat kebisingan. Leo keluar dari kamar lantai dua tempat dia meletak kan Julia. Leo mengunci kamar dan mengantongi anak kunci dalam saku kemejanya.
'' Sssttttt.... kau tak boleh berteriak di rumah orang lain Wira,'' ucap Leo sembari menuruni anak tangga.
'' Kurang ajar kau Leo, di mana Juliaku ha?'' Ancam Wira sambil menarik kemeja Leo.
Leo melepaskan dengan kasar gengaman tangan Wira pada kemejanya. '' Ha... ha...ha... Juliamu... dia Juliaku... kau telah memberikan nya padaku bukan?'' Tawa Leo mengema di dalam ruangan.
'' Shit... kenapa dia lebih dulu membawa Julia, harusnya aku yang membawanya, andai saja tidak delay penerbangan nya tadi, tidak akan terjadi seperti ini,'' batin Wira merutuki dirinya sendiri.
'' Tenanglah Wira, duduklah dulu, kita akan bicara,'' ucap Leo dengan santainya sambil duduk di sofa.
Sedang James tengah mengendarai mobilnya menuju kerumahnya. Di perjalanan dia menelfon Julia namun tidak ada jawaban. Karena telah beberapa kali James menelfon dan masih tetap tidak di angkat, maka James menghidupkan aplikasi sejenis spy pada handphone nya yang terhubung dengan sebuah chip di liontin yang dia berikan pada Julia.
'' Apa yang Julia lakukan di tempat itu,'' gumam James saat mengetahui arah dalam aplikasi yang menunjukan suatu tempat yang jauh dan terletak di pinggiran kota.
💗
💖
Hallo readers, terimakasih sudah mampir di karya ku ini, maaf jika ada banyak kesalahan dalam pengetikan dan lain - lain.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like , comment, hadiah atau votenya. Terimakasih, salam sehat selalu dan semoga selalu dalam kelimpahan rezki, amiiin. Tanpa anda author bukan apa - apa.
__ADS_1
Salam hangat, Author 🙏🙏🙏