
Masih di rumah sakit.
Bola lampu kecil berwarna merah yang terhubung dengan peralatan rawat pak Parta berbunyi namun intensitas kecepatan bunyi nya rendah. Sontak nyonya Aida dan Julian saling memandang.
''Seperti ada yang tidak beres?'' Dalam batin Julian.
Nyonya Ferdinan dan suaminya juga tak kalah heboh. Mikes yang dengan sigap melihat tanda bahaya segera memanggil dokter untuk datang ke sana. Tak lama kemudian dokter datang dengan dua orang perawat memasuki ruangan. Mereka bergegas mengecek apa yang terjadi pada pasien. Sang dokter memberilan aba - aba sedang dua perawat lainya dengan segera melakukan apa yang di minta.
Kepanikan menyelimuti wajah - wajah seisi ruang tunggu. Apalagi nyonya Aida, sang istri pak Parta yang sejak tadi mondar mandir di depan pintu ruangan ke jendela lalu ke pintu lagi berkali - kali.
'' Mama... kita tunggu apa kata dokter selanjutnya bersama - sama ma...'' Kata Julian menenangkan mamanya seraya memegang tangan sang mama.
Nyonya Parta hanya memeluk lengan anak nya dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Yang jika tak terbendung lagi, sudah pasti akan mengalir dengan derasnya.
Sedang tuan dan nyonya Parta serta Mikes masih setia memandang ke arah dokter dan para perawat yang ada di dalam dari sebrang kaca jendela. Tak lama kemudian dokter dan perawat pun keluar.
'' Dokter... apa yang terjadi pada suami saya dok?''
'' Kasus yang terjadi pada pak Parta ini agak aneh bu... dia seakan pingsan namun ritme detak jantungnya terus bertambah... lebih cepat dari beberapa jam yang lalu... kami mohon anda dan keluarga bersabar... kami sedang berusaha dengan semaksimal mungkin...'' Jelas dokter itu seraya berjalan.
'' Baik dok ... terimakasih,'' sahut mama Julian.
Sedang Julian yang terlihat mengambil handphone dari sakunya bersiap menelfon seseorang namun mamanya menghentikan nya.
'' Lian kamu mau menelfon siapa?''
'' Lian ingin mengabari Julia mam,'' ucap Julian.
'' Tidak usah sayang... biarkan mereka berdua beristirahat dulu Lian...''
'' Mama benar...mereka juga harus beristirahat...'' Batin Julian.
'' Baik ma...'' Lian menutup handphone nya kembali setelah mendengar permintaan mamanya. Julian memutuskan untuk menelfon beberapa rekan bisnis papanya juga orang kepercayaan nya untuk mendatangkan dokter terbaik ke rumah sakit tersebut.
Beberapa waktu kemudian seorang dokter datang dan Julian langsung membawanya ke ruangan papanya tapi tak berselang lama dokter itu telah keluar.
'' Bagaimana dokter?''
__ADS_1
'' Maaf tuan saya belum pernah menanggani pasien dengan penyakit seperti ini, saya mohon maaf saya tidak dapat membantu,'' demikian jelas dokter itu pada Julian dan mamanya serta keluarga Ferdinan yang masih berada di sana seraya berlalu pergi.
Beberama menit kemudian datang lagi seorang dokter wanita paruh baya. Di lihat dari penampilanya nampak meyakinkan. Dokter itu lalu di sambut oleh Julian lalu masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi papa Julian. Tapi hasilnya juga nihil. Hingga beberapa orang dokter kenamaan yang merupakan kenalan keluarga Ferdinan di panggil pun hasilnya tetap sama.
Julian merasa frustasi dengan keadaan papanya yang kian memburuk. Julian bahkan telah meminta anak buahnya menyiapkan penjemputan beberapa dokyer luar negri yang terpaksa harus di boyong ke kotanya karena kondisi papanya yang tak memungkinkan untuk di bawa pergi.
Karena hari telah larut seluruh keluarga Ferdinan telah berpamitan pulang. Hanya Julian dan mamanya yang masih setia berada di sana. Julian menoleh ke arah mamanya yang telah tertidur bersandar di kursi ruang tunggu.
Wajahn mamanya mulai pucat karena kondisi badan yang juga mulai menurun. Akhirnya Julian meminta beberapa orang perawat untuk membawa mamanya ke ruang perawatan dan beberapa menunggu di depan ruang papanya.
Sedang Julian sendiri pergi entah kemana. Dia hanya menugaskan beberapa orang kepercayaan nya untuk mengawasi gerak gerik para petugas rawat.
Hari begitu cepat berganti. Gelapnya malam yang di hiasi dengan kesunyian kini telah berganti dengan cerahnya mentari pagi. Julia mencoba membuka matanya saat sinar mentari menelisik masuk melalui celah - celah tirai yang terbuka.
Di lihatnya sang suami tengah tertidur begitu pulas di sampingnya. Julia yang sebenarnya ingin membangunkan nya pun mengurungkan niat karena tak tega. Julia memilih bergegas ke kamar mandi untuk bersiap.
Sementara itu di sebuah apartement.
'' Lian... aku sudah membuat sarapan, makanlah dulu sebelum pergi,'' ucap seseorang dari dalam kamar mandi.
'' Hemmm.....'' Ucap Julian seraya mengancingkan bajunya. Julian mengambil beberapa sandwich dan menyuapkanya ke mulutnya.
'' Ok....take care...'' Sahut wanita itu dari dalam kamar mandi.
Dengan segera Julian beranjak mengendarai mobilnya melaju menyusuri jalanan yang lumayan padat merayap pagi itu. Ada beberapa orang dokter dari luar yang telah siap menunggu persetujuan nya, begitu juga dari pihak rumah sakit.
Sementara di rumah Julia.
'' Cup...''
James mengecup puncak kepala istrinya yang sedang sibuk memilih baju untuk di pakainya.
'' Jameees... kau mengagetkan aku saja,'' kata Julia.
'' Masih pagi sudah wangi saja,'' sanjung James memeluk sang istri dari belakang.
'' Kan mau ke rumah sakit ... darling... kasian mama, dia pasti udah kecapean.''
__ADS_1
'' Ehm... '' James bukanya segera mandi tapi malah mengeratkan pelukanya.
'' Jammes....'' Julia membalik tubuhnya dan memberikan kecupan manis di bibir suaminya.
'' Cepat mandi sana...''
'' Siap capten.....'' Ucap James dengan penuh semangat mengangkat tangan kanan nya memberikan hormat pada Julia lalu segera berlari ke kamar mandi.
'' Dasar.... nakal....'' Julia menggerutu sendiri melihat tingkah sang suami.
Sementara itu, di rumah sakit, nyonya Parta bersama anak lelakinya sedang menunggu seorang dokter dari Australia yang sedang memeriksa suaminya. Tak lama dokter pun keluar.
'' Dokter ..... dokter....? What happen with my husband?'' Tanya nyonya Parta menyambut dokter itu.
'' Mama biarkan dulu dokter ini bernafas, dia baru keluar dari ruangan papa,'' ucap Julian bercanda.
'' Lian... kamu ini ,'' kata sang mama menepuk pundak anaknya yang masih sempat - sempatnya bercanda itu.
'' I'm sorry, to say this but your husband has been infact by a kind of poison,'' demikian sang dokter itu menjelaskan.
'' Prakkk.....''
Semua orang menoleh ke arah suara benda terjatuh ke lantai. Di sana Julia menjatuhkan beberapa kotak makanan yang ia beli dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia terkejut mendengar apa yang di katakan oleh dokter itu.
Julia sudah tak lagi menghiraukan apa yang dia bawa. Kini dia berjalan menuju ke arah dokter itu dengan ekspresi seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
'' What?''
'' I'm sorry docter, did i hear something wrong?'' Ucap Julia memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah.
'' I'm sorry Mrs. i don't know but that's my prediction, let's wait another,'' ucap dokter itu dengan ekspresi berharap apa yang ia katakan bukanlah suatu kebenaran.
Mendengar penuturan itu Julia terduduk lemas. James kemudian memegang tangan istrinya berusaha menguatkan nya.
💝
💝
__ADS_1
💝
Salam hangat dari author 🙏