
Satu minggu kemudian.
Mentari pagi bersinar cerah, jalanan pagi ini telah ramai lalu lalang kendaraan membawa para penumpangnya hilir mudik. Sementara pagi hari di rumah Julia, semua sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing - masing. Bersiap melakukan pekerjaan mereka, termasuk nyonya Parta yang akan pergi ke Julia Jewelry.
Sebelum berangkat mereka semua berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi. Tuan dan nyonya Parta duduk terlebih dulu diikuti Julian dan terakhir Julia. Mereka menyusun makanan nya di dalam piring menikmatinya. Suasana meja makan saat itu begitu hening. Meski terkadang suara benturan sendok makan dengan piring kerap terdengar.
Sedangkan Julia pagi ini nampak begitu rapi, sejak pagi dia juga telah menyiapkan apa saja yang ia perlukan untuk di bawa ke kota B. Julia nampak bersemangat akan hal itu.
'' Julia apa kau jadi pergi dengan James hari ini?'' Tanya papanya Julia sedikit memecah keheningan meja makan.
'' Iya pa,'' jawabnya santai.
'' Ingat .... jangan lakukan hal - hal yang bisa membuat papa malu di depan keluarga Ferdinan,'' seru papa Julia sambil terus menghabiskan isi di dalam piringnya.
Jujur sebenarnya Julia sangat kesal pada papanya. Julia mengangap papanya telah merusak waktu sarapan pagi yang seharusnya diisi dengan keceriaan. Julia teringat waktu itu saat dia meminta izin pada papanya untuk pergi ke kota B bersama Julian.
Saat itu Julia dan James datang bersama setelah hari di mana Julia demam tinggi dan menginap di rumah James. Waktu itu sore hari James mengantarkan Julia pulang karena kakak Julia ada sedikit urusan sehingga tak bisa pulang bersama Julia.
'' Papa... aku minta izin untuk pergi ke kota B minggu depan,'' kata Julia pada papanya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama mamanya.
'' Tidak... kau akan tetap di rumah sampai kau menikah dengan James.'' Jawab sang papa tanpa memandang Julia malah berlalu pergi meninggalkan Julia dan mamanya.
__ADS_1
Julia tahu papanya tak akan mengizinkan nya bahkan mungkin jika dia mengatakan akan pergi bersama James. Sehingga dia memilih mengatakan hal itu pada mamanya. Julia duduk di sebelah mamanya dan berkata,'' mama... tolong bilang dengan papa, aku tak akan pergi sendiri, James akan menemaniku, lagi pula dia juga ada urusan di perusahaan anak cabang di sana... mama please.''
Mama Julia menepuk tangan putrinya pertanda bersabar sebentar kemudian mamanya mengikuti langkah papanya yang kini berada di dalam kamar.
'' Pa... biarlah Julia pergi, lagi pula James juga bersamanya, Julia sudah besar pa, kita tak bisa mengekangnya lagi seperti dulu, papa tidak kasian apa sama anak gadis papa nampak lesu hanya duduk di rumah tanpa memiliki kegiatan apapun, lagi pula Julia juga punya usaha di sana, pa....?'' Bujuk sang mama kepada pak Parta.
'' Apa mama yakin Julia tidak akan kabur seperti yang pernah dia lakukan, itu memalukan ma...'' Tolak sang papa yang telah mengetahui kelakuan anak perempuan nya itu yang mencoba kabur dari salah seorang kepercayaan nya.
'' Pa... biarkan mereka berdua lebih dekat, mungkin itu bisa merubah pemikiran Julia tentang perjodohan ini, dan mama lihat James juga sedang berusaha mendapatkan bati Julia.'' Akhirnya dengan perbincangan yang alot papa Julia mengizinkan nya pergi bersama James ke kota B, dengan alasan tak bisa jauh dari pengawasan James.
Mama Julia pun keluar kamar dan mengatakan keputusan papanya pada Julia. Julia bersorak dan nampak girang mendengar itu. Mama Juliapun ikut bahagia melihat putrinya bahagia.
'' Iya pa,'' jawab Julia dengan senyuman meyakinkan papanya.
'' O ya Julia, mama dan papa akan berangkat lebih dulu, kamu berangkat ke bandara jam berapa sayang?'' Dengan senyuman hangat sang mama berikan pada Julia berharap anak gadisnya tal melakukan kesalahan lagi.
'' Mungkin sebentar lagi James tiba ma,'' kata Julia sambil melahap makanan kemulutnya.
'' Baiklah sayang, hati - hati di jalan, jangan lupa kabari mama, mama akan selalu mendukungmu, ingat jangan lakukan sesuatu yang bisa membuat papamu marah lagi sayang,'' kata mama Julia sedikit berbisik pada kalimat terakhir seraya mencium pipi anak gadisnya, sedang Julia hanya tersenyum kecut.
Papa dan mama Julia segera pergi begitu juga dengan kakak nya. Kini Julia hanya sendiri di meja makan. Dia merasa jemu dengan semua ini. '' Lebih menyenangkan tinggal bersama nenek, nenek tak pernah meninghalkan ku sebelum aku memakan makanan ku sampai habis,'' gerutu Julia yang merasa tak akan ada yang mendengarkan nya lagi, sedangkan seorang lelaki tengah memandanginya sambil tersenyum mendengar apa yang dia katakan.
__ADS_1
'' Hem ... hem...'' Karena Julia tak segera menyadari kehadiran James, James pun membuat batuk - batuk kecil agar Julia dapat menoleh kearahnya.
'' James... apa kau sudah lama berdiri di sana,'' kata Julia penasaran. James hanya tersenyum dan menghampiri Julia di meja makan.
'' Aku akan segera bersiap,'' kata Julia sambil berdiri dan memundurkan kursinya.
'' Tidak usah buru - buru Julia, em..... apa kau tak mau menawariku sarapan?'' Julia yang mendengar itu segera membuka kan piring di depan James.
'' Makan apa tuan Jammmmes?'' James terkikik melihat wajah Julia yang lucu dan mendengar kalimat Julia barusan, saat dia melirik ke arah gadis itu, Julia tengah cemberut. James pun menyudahi tawanya dan menunjuk beberapa menu untuk di letakkan di piringnya.
James memakan sarapan nya dan Julia segera menghabiskan makanan yang masih ada sedikit di piringnya. Setelah menghabiskan makanan mereka Julia mengambil tasnya di kamar dan James menunggunya di ruang tamu. Tak lama kemudian mereka berangkat ke bandara dengan menggunakan pesawat jet pribadi.
Sementara itu di kota B, Wira sedang sibuk dengan urusan kantornya. Perusahaan nya semakin berkembang akhir - akhir ini begitu juga sahamnya yang terus naik. Dia juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk membangun usaha baru dan melebarkan sayap perusahaannya. Kini Wira lebih kuat dari yang dulu.
Di pesawat.
Julia yang duduk bersebelahan dengan James kini tertidur. Julia yang dari tadi berusaha menahan kantuk akhirnya tak mampu lagi membuka matanya. James yang melihat Julia tertidur, merapatkan posisi duduknya dengan Julia dan merebahkan kepala Julia di pundaknya.
Gadis yang masih begitu anggun meski tertidur, kadang berekspresi lucu bahkan galak saat serius itu berhasil menawan hati James. James yang tak pernah merasakan jatuh hati kini mulai berdebar saat berada dekat dengan Julia bahkan saat dia hanya mengingatnya.
Suasana aman damai dan tenang itu sesaat di kagetkan dengan sesuatu yang menggetarkan pesawat saat hampir landing dan hal itu membuat Julia kaget bahkan hampir terjatuh dari pundaknya. Julia memegang lengan James begitu erat sambil memejamkan matanya.
__ADS_1