Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 10


__ADS_3

Siang ini Vivi datang ke kantor untuk menemui Kevin, namun Kevin tak ada di ruangannya.


"Ke mana Kevin?" tanya Vivi pada Nabil yang sedang berkutat dengan laptop.


"Hai Lula, lama nggak jumpa, kamu makin seksi saja!" Nabil menghentikan pekerjaan dan berdiri.


Vivi yang gampang membumbung tinggi saat dipuji pun mengedipkan mata. "Tentu saja, aku kan selalu perawatan,"


"Pantas saja, Kevin nempel terus ke kamu."


"Emang perangko, nempel, kemana Kevin?" tanya Vivi yang tak menjumpai Kevin sejak melangkahkan kaki masuk ke kantor ini.


"Loh, bukan nya dia lagi kencan sama kamu!"


"Aku baru saja datang dari salon, dan ingin memperlihatkan penampilan baruku. Kamu jangan bercanda ya," Vivi menyibak rambutnya.


"Dia juga membatalkan semua rapat siang ini, aku pikir dia lagi sama kamu." Nabil ikut berpikir, dengan siapa lagi si Kevin itu, kalau dengan Intan tidak mungkin. Karena Andho dan Intan sedang ada acara keluarga ke puncak.


"Cih, aku tak bisa membiarkan dia bersama wanita lain!" kemudian Vivi keluar dengan perasaan kesal.


"Jangan -jangan, Kevin lagi kencan sama pembantunya," batin Nabil, dia tak ambil pusing karena lebih pusing memikirkan pekerjaannya yang lagi menumpuk.


Vivi menyusuri lorong dan berpapasan dengan Kiki di sana. Kiki kenal betul wanita yang melintas di depannya itu. Jika tersulut amarah sedikit saja, semuanya akan lenyap. Kesempatan yang bagus itu ia gunakan untuk menghasut Vivi dan tentu saja Alula yang akan kena imbasnya.


"Nona Vivi, Anda model yang terkenal itu kan, saya sangat mengagumi Anda. Kesempatan yang sangat langka bisa bertemu Anda sedekat ini. Eum, tunggu Nona!" Kiki mengeluarkan buku dan pulpen.


"Bisa minta tanda tangan di sini?" Kiki basa-basi untuk memulai menyulut api.


Tanpa keberatan Vivi yang terlihat buru-buru itu dengan rela memberi tanda tangannya. Sebenarnya Kiki tak begitu mengidolakan dia.


"Terima kasih, Nona Vivi!" Vivi hanya membalas dengan anggukan. Vivi hendak pergi namun tertahan dengan pertanyaan Kiki.


"Sepertinya, Anda sedang terburu -buru?"


"Aku sedang mencari Kevin."


"Bos baru saja pergi,"


"Kamu tahu kemana dia pergi?" Vivi seperti mendapat penerangan dalam gelap.


"Tahu Nona, tapi sepertinya bos Kevin tak pergi sendiri."


"Katakan, dengan siapa dia pergi!" Dan benar saja, amarah Vivi membludak.


Kiki tak langsung menyahut, dia menunjukkan dua jarinya dan menggerakkan tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan memberikan tip lebih banyak, cepat berita tahu aku!"


"Bos pergi dengan seorang office girl." Vivi langsung mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan. Mata Kiki menghijau.


"Office girl? Dia bekerja di sini juga, kamu tahu namanya?" Vivi semakin penasaran dengan info ini. Kembali Kiki diam. Vivi tahu reaksi ini, dia mengeluarkan semua uangnya.


"Wah, banyak banget Nona!" Kiki menjejernya di udara.


"Bos tadi keluar bersama seorang office girl bernama Alula. Saya mendengar mereka akan pergi ke taman." terang Kiki.


"Alula si jelek itu!" pekik Vivi tak percaya.


"Iya Nona, saya permisi dulu Nona!" Kiki yang merasa mendapat rezeki nomplok segera menjauh. Iya tahu akan ada badai besar.


Vivi menghentakkan kaki ke lantai, ponsel Kevin sejak tadi sangat sulit dihubungi membuat dia semakin cemburu dan marah. Lantas dia segera keluar mengendarai mobilnya menuju taman.


Vivi mengedarkan pandang keseluruh penjuru, dan setelah berkeliling di bawah sengatan matahari, ia menemukan apa yang dicari.


****


"Biarin aku cepet tua sekalian, toh kamu juga nggak akan bersamaku." ujar Lula yang membuat suasana memanas.


"Apa maksud kamu, Lula," Kevin mengernyitkan dahi.


"Udah deh, kamu nggak usah bloon, sebentar lagi kamu kan mau berpoligami, tapi tenang, sebelum itu terjadi aku akan mengurus gugatan cerai." ujar Lula tegas.


"Hah, untuk apa kamu mempertahankan buih sepertiku, sudah jelas kamu berkali -kali berpacaran dengan wanita yang lebih cantik dariku, ada Intan, Vivi, entah diluar siapa lagi. Kamu memang playboy cap jempol, yang bisa menggoda wanita lain. Tapi tidak denganku. Aku Lula Farhah, yang takkan tertipu oleh topengmu." Alula seketika dibuat kaget, tubuh nya terhuyung oleh tangan seseorang.


Seketika itu juga Vivi menyeret Lula yang tengah menikmati es krimnya hingga dia tersungkur. Es krim itu jatuh.


"Aww!" desis Lula yang mendadak mendapat serangan dari Vivi. Lula mencoba bangkit.


Kevin juga tak menyadari kalau Vivi datang. "Vivi!" bentaknya cukup keras.


Kevin hendak membantu istrinya berdiri, namun Vivi mencegahnya hingga Kevin tak ada celah.


"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mengencani dia juga!" Vivi mulai emosi dan siap menyerang Lula jika itu sampai benar.


"Kamu ngapain ke sini?" Kevin tak suka karena acaranya untuk meminta maaf Lula jadi berantakan. Padahal sedikit lagi akan berhasil.


"Kok kamu nanya nya gitu, aku ke sini untuk menjemput kamu. Ayo pulang!" ajak Vivi sambil menarik lengan Kevin.


Sementara Lula sudah berdiri tegak. "Aku pulang saja." Lula membalikkan badan.


"Tunggu Lula!" teriak Kevin agar Lula tak pergi.

__ADS_1


"Ngapain Sayang, kamu panggil dia, sudah biarkan pembantu sekaligus OG itu pergi. Di sini juga tak cocok untuk wanita lusuh seperti dia. Sana, kamu bersihkan kloset saja!" omel Vivi yang tentu saja membuat Lula terpojok.


"Meski aku seorang OG, aku punya harga diri dan nggak murahan seperti kamu!" ujar Alula membalas hinaan Vivi.


Kevin melerai agar Lula tak terpancing emosi.


"Apa kamu bilang, murahan? Hallo, siapa yang di sini yang murahan, aku atau kamu yang jelas -jelas merebut pacar orang."


"Cih, dasar tak tahu diri!" Lula menantang, melipatkan tangan di depan dada.


"Jaga bicaramu, aku sungguh tak suka melihatmu sejak kali pertama kenal denganmu. Rasanya aku ingin sekali mencongkel matamu itu. Cih, sudah hidup kere, terlahir hina dan sekarang kamu mendekati pacarku pasti untuk merentas kekayaannya kan?" tuduh Vivi yang jelas sangat tak enak didengar. Lula meski dulu memiliki penampilan yang buruk, setidaknya dia memiliki bola mata yang sangat indah, bulat dan lentik. Itulah yang membuat Vivi iri padanya.


"Aku bukan hina!" bentak Lula tak tinggal diam.


Vivi sangat geram dan spontan dia menjambak rambut Lula. Segera Lula bisa melepaskan diri, beruntung sedikit yang rontok.


Kevin melihat itu sangat murka dan segera mencengkeram tangan Vivi dengan kuat.


"Sakit!" pekik Vivi namun Kevin tak mengindahkannya.


"Jaga sikapmu Vivi! Kita sekarang tak ada hubungan apa pun lagi. Kita putus. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu. Alula yang kamu kenal sebagai pembantu dan office girl ini adalah istriku yang sah. Jadi, mulai detik ini juga kamu jangan mengganggunya atau bahkan menghinanya lagi. Sampai itu terjadi, kamu tahu kan akibatnya. Aku tak segan-segan bertindak kasar lebih dari ini." jelas Kevin seraya menghempaskan tangan Vivi ke udara dengan kasar.


Vivi seolah tersambar petir di siang bolong. Dia bergetar.


"Ka-kamu sudah menikah? Itu tidak mungkin. Kamu menghianati cinta kita. Kamu bilang akan segera melamar ku jika papamu pulang nanti." Vivi menyangkal.


Kevin mendekati Lula dan merangkul pundaknya.


"Kamu nggak apa -apa kan?" tanya nya khawatir seraya merapikan rambut istri nya yang kusut.


Sementara Lula juga shock mendengar itu. Yang ia yakini, suaminya akan menikah lagi dengan pacar nya, Vivi. Namun, baru saja ia mendengar kalau mereka berdua sudah resmi putus.


Lula masih mematung, saat Kevin mengulang lagi pertanyaan yang sama Lula hanya mengangguk pelan seraya menatap pria yang sering ia sebut playboy itu.


"Kevin, aku tak terima putus denganmu. Aku mau menagih janji yang pernah kamu ucapkan! Tak boleh ada wanita lain yang boleh memilikimu selain aku." Vivi bersitegang.


"Terserah apa yang kamu katakan, tinggalkan tempat ini, sekarang!" bentak Kevin, seketika itu juga Vivi terbakar api cemburu dan semakin membenci Lula.


Vivi berurai air mata tetap tak terima. Dia bergegas pergi.


Sementara Lula mendesis merasa sakit di bagian sikut akibat tersungkur ditarik Vivi tadi. Kevin dengan sigap melihat sikutnya. Meniup dengan lembut.


Alula dibuat merinding. Hati mulai melunak. Apakah Kevin sungguh mengakui dia sebagai istrinya sekarang? Atau kah ini hanya sandiwara saja?


Bersambung ...

__ADS_1


Hai reader semuanya, jangan lupa like, vote, komentar dan hadiahnya ya ... 😘😘😘😘😘


__ADS_2