
"Aku membeli langsung dari dokter pribadiku. Obat ini sangat bagus, dan memang begitu aturannya." sanggah Kevin yang mulai gusar jika sampai kecolongan.
"Tapi setahu ku suplemen atau vitamin apa pun itu aturan pakainya hanya sebutir loh! Ini malah 3 butir, gede-gede pula,"
"Kan aku spesial, jadi beda dong!"
"Masa?"
"Iya, ayo tidur! Udah ngantuk banget nih, "
"Mas Kevin nggak ngelembur?"
"Enggak, malam ini aku free jadi kita bisa eng ing eng,"
"Ih, apaan sih!" Alula merasa malu dan reflek menepuk dada Kevin. Meski tak terasa sakit tapi sentuhan istrinya sangat mengena di hati.
Merasakan ini membuat Kevin bergumam dalam diam. "Tuhan, panjangkan umurku agar aku bisa bahagia bersama istriku!"
Alula menatap suaminya yang diam. "Mas, kok ngelamun!"
Kevin tersadar, "Eh, enggak, ayo kita mulai."
Alula mengangguk malu dan mulailah ritual nya.
Dilain sisi, keluarga Gibran sudah tiba di kediaman Nabil siang tadi. Meski rumah Nabil tak sebesar miliknya dulu, ia tak mencemooh dan malah merasa bersyukur bisa ditampung di sini. Ambisi tentang kekayaan perlahan sirna dari pikirannya. Gibran akan lebih fokus lagi tentang kesehatannya. Berbeda dengan Maria, dalam diam dia merutuki nasib buruk yang menimpanya, seperti tidak ikhlas. Padahal di depan suaminya ia terlihat seperti garda paling depan menasehati suaminya perihal cobaan hidup. Nyatanya dia sendiri dusta. Apalagi Vivi tak jauh dari sifat mama nya.
Di dalam rumah Nabil tidak ada seorang pembantu, jadi Maria turun tangan untuk memasak ke dapur. Meski ini hal mudah, tapi ia tetap tak rela hidupnya jungkir balik seperti ini.
Pagi ini Vivi sudah bersiap akan pergi ke tempat pemotretan. Ia mendapatkan tawaran dari sebuah majalah dewasa, menjadi sampul majalah tidaklah sulit baginya. Ia menerima tawaran itu.
Saat semua orang berkumpul di meja makan, Vivi meminta izin untuk pergi ke suatu tempat.
Nabil mengizinkan tapi ia yang akan mengantar. Meski ini bukan tanggung jawabnya, tapi ia dasari lagi sebagai rasa solidaritas. Terlebih Vivi dan keluarganya adalah tamu di rumahnya, jadi Nabil akan menjaga tamunya sesuai kemampuannya.
__ADS_1
"Baiklah jika kamu memaksa!" ujar Vivi yang dengan segera memasukkan makanan ke mulutnya.
"Masakan Tante enak!" Nabil memuji masakan Maria. Sudah lama ia tak menikmati sarapan bersama keluarga. Meski ini bukan keluarga kandung.
"Ah, Nak Nabil bisa saja, kalau begitu nambah ya, biar kuat nanti saat bekerja!"
Nabil mengangkat kedua tangannya, "Sudah cukup Tante!" namun Maria sudah menambahkan udang goreng di atas piringnya. Terpaksa Nabil menyumbat mulutnya lagi.
Selesai sarapan Nabil mengantar Vivi ke tempat pemotretan.
"Terima kasih atas tumpangannya!" Vivi mendorong pintu mobil dan menoleh ke arah Nabil.
"Sama-sama, jangan sungkan!"
Vivi tersenyum kemudian menurunkan kakinya, baru kemudian dia menutup pintu. Nabil segera memutar balik menuju kantor. Vivi melambaikan tangan meski Nabil tak melihatnya.
Setelah mobil Nabil menghilang dari pandangan, Vivi masuk ke sebuah bangunan kuno. Tempat pemotretan itu sangat sepi, bahkan terlihat tak ada penghuninya.
Meski sedikit ragu demi uang ia akan menerjangnya. Vivi masuk dan mendapati seseorang berbadan tegab sedang menyangga kamera. Pria itu sudah menunggu nya sejak tadi.
"Tunggu, sesuai perjanjian berapa kompensasi yang akan aku dapatkan?" Vivi menujukkan telapak tangan mengisyaratkan agar pria itu tidak mendekat.
Melihat tubuh Vivi yang adu hai, siapa sih yang enggak tergoda, pria itu meletakkan kamera di atas meja dan tak menghiraukan larangan Vivi.
Bak kucing yang siap menerkam tikus, pria itu kalap dan ingin menikmati tubuh Vivi.
"Ku bilang jangan mendekat!" teriak Vivi namun pria hidung belang itu terus saja berjalan cepat membuat Vivi takut dan ingin berlari.
Karena hill yang Vivi gunakan terlalu tinggi hingga membuat dia kesulitan untuk berlari. Pria itu dengan mudahnya menguasai area. Menarik kuat bahu Vivi hingga robekan terjadi di bagian bahu.
Merah muka Vivi diperlakukan seperti ini. "Jahanam kamu! Lepas kan aku!" Vivi meronta setelah pria itu mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
"Santai saja manis, kamu takkan bisa lari dariku. Di tempat ini sepi, tidak ada orang yang akan mendengar suara bahkan teriakanmu."
__ADS_1
"Tolong ....!" teriak Vivi histeris.
Mobil Nabil belum cukup jauh, ia baru sadar melihat ponsel Vivi tertinggal. "Lah ini ponselnya Vivi tertinggal, bagaimana dia bisa seceroboh ini," Nabil memungut ponsel itu dan memutar balik mobil nya ketempat tadi.
Nabil sudah tiba di lokasi. Mematikan mesin mobil dan segera turun. Matanya berkeliling mengamati area sekitar. Dia merasakan hawa negatif dari tempat itu. Nabil mempercepat langkahnya memasuki bangunan kuno itu.
Nihil, ia tak menemukan Vivi di dalam tempat itu. Semua perkakas terlihat berantakan. Matanya berputar mencari sosok Vivi.
Dari arah belakang, terdengar jeritan suara wanita. Nabil berlari ke arah sana.
Satu pukulan mendarat di kepala pria berhidung belang. Pria itu hampir saja menancapkan senjata nya ke lubang surga dunia.
Melihat Nabil datang, Vivi berusaha untuk bangkit dan berlindung di balik tubuh Nabil.
"Syukurlah, kamu datang! Aku terjebak di sini." ujar Vivi dengan suara bergetar dan rasa ketakutan.
Nabil merentangkan tangan menghalangi pria itu, "Kamu tidak apa-apa?" Nabil menoleh ke arah belakang.
"Iya, aku hampir saja diperkosa oleh pria jahanam ini!" rutuk Vivi dengan mata memerah.
"Siapa kamu, berani-beraninya merebut tikus kecilku!"
"Itu bukan urusanmu!" Sentak Nabil dan terjadilah perang di antara keduanya.
Meski tubuh Nabil tak sekekar lawannya, paling tidak dia bisa menyelamatkan Vivi.
Nabil jelas kalah telak. Ia tersungkur dan hampir pingsan.
Pria kekar itu berjalan mengendap ke arahnya dan hendak memberikan serangan lagi.
Tiba-tiba terdengar jeritan dari pria itu, "Argh!" pria itu berdarah di bagian kepala lalu jatuh tak sadarkan diri. Sebuah benda keras berhasil menghantam kepalanya. Vivi yang melakukan itu.
"Nabil, ayo kita pergi dari sini!" dengan sisa kekuatan yang ada, Nabil bangkit dan dengan bantuan Vivi keduanya berjalan dengan sempoyongan menuju mobil.
__ADS_1
"Apa kamu sanggup menyetir?" Vivi merasa cemas dengan keadaan Nabil.
Nabil terlihat seperti berkunang -kunang, Vivi menepuk pipinya, "Sadar Nabil, orang itu pasti akan mengejar kita! Jadi, jangan pingsan dulu!"