Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 29


__ADS_3

"Sejauh mana hubunganmu dengan pria itu?" tanya Kevin dengan raut muka yang begitu dingin. Dia berdiri membelakangi istrinya.


"Siapa?" tanya Lula seraya berpikir, pria mana yang ia maksudkan. Pengawalnya kah, karena mereka juga seorang pria.


"Kamu jangan pura-pura lugu di depanku, siapa lagi kalau bukan Arjun Anaufal Okta itu!" suara Kevin terdengar membentak hingga Alula dibuatnya kaget. Kevin menatap Lula sekarang. Sorotan matanya menunjukkan kalau dia sangat marah. Lebih tepatnya cemburu.


"Dia bukan siapa-siapa, dan dia adalah temanku waktu kecil. Aku sangat takut waktu tadi, mencoba menghubungi nomormu namun hingga puluhan kali tak ada sahutan. Hingga terpikir dalam benakku untuk memanggil dia. Dan dalam sekejap saja dia datang untuk menolongku. Seharusnya kamu tak berpikiran negatif tentang kami. Karena kami hanya berteman tidak lebih!" Lula sedikit menekankan suara nya di kalimatnya yang terakhir. Sedikit rasa sesal juga karena belum sempat mengucapkan terima kasih pada sahabatnya.


Kevin membuang muka acuh. Alula bangkit dan memeluk erat pinggang suaminya. Kevin mematung, seharusnya dia bisa bersikap bijaksana untuk menghadapi masalah hati seperti ini. Ia akui sangat cemburu sekali jika istrinya berdekatan dengan pria lain selain dirinya. Dari pria playboy yang mencintai banyak wanita hingga jadi seorang pria pencemburu yang mencintai satu wanita.


"Hanya kamu pemenang di hatiku. Kalau kamu tak percaya, belah dadaku. Akan terukir jelas namamu di sana. Jadi, ku mohon jangan cemburu yang tak beralasan seperti ini. Kamu sudah memilikiku seutuhnya dengan menjadikan aku istri mu yang sah." Mendengar itu, Kevin yang sikap awalnya dingin dengan cepat meleleh. Perlahan hatinya pun melunak untuk memahami situasi ini. Dari awal melihat Arjun yang ia akui juga tampan, rasa was-was seketika itu muncul, begitu takut kehilangan jika Lula berpaling.


"Aku pastikan kamu agar berhati -hati dengan pria lain. Karena kedekatan kamu bisa menyakiti hatiku." ujar Kevin yang kini menangkup wajah istrinya. Alula mengangguk sambil tersenyum. Senyuman manis itu membuat Kevin bergairah dan ingin mencicipi lagi semua yang Alula miliki. Alula memejamkan mata, menikmati sapuan hangat dari nafas suaminya. Perlahan tubuhnya pun sudah pindah di atas ranjang. Kevin yang berinisiatif segera memiliki keturunan dari Lula tak henti -hentinya menggempur setiap hari. Dengan begitu Lula akan cepat hamil dan tak kan pernah menggugat cerai seperti yang pernah ia katakan.


Keesokan paginya, Alula terbangun dengan dikejutkan suara dering ponselnya.


"Hallo!" sapa Lula dengan suara sedikit berat.


"Hallo, Sayang, bagaimana dengan tawaranku kemarin? Apa kamu tak merindukanku?" suara pria misterius terdengar menjijikan di telinga Lula.


"Kamu gila! Enyahlah!" teriak Lula yang membuat Kevin membuka mata lebar dan segera duduk. Lula membuang ponselnya hingga berantakan di lantai.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang? Dan barusan kamu bicara dengan siapa, apa yang orang itu lakukan padamu hingga kamu marah dan membuang ponselmu?" berbondong pertanyan dari Kevin.


Alula bergidik ngeri dengan omongan pria yang terekam di memori otak nya.


"Pria misterius yang selalu menerorku." sahut Alula dengan sedikit ketakutan, terlihat jelas dari sorotan matanya.


"Itu alasan kamu mengganti nomor kamu kemarin?" Alula mengangguk cepat. Kevin turun dan mengemasi ponsel Lula.


"Kamu tenang saja, aku akan meminta seseorang untuk mencari tahu siapa orang yang menerormu. Segera bersihkan dirimu!"


"Baik Mas!" Lula sedikit tenang sekarang. Ia patuh dan segera bergegas ke kamar mandi.


Hari ini Alula mendapatkan teguran dari sutradara dan meminta Lula untuk cuti beberapa hari sampai kondisi pulih kembali. Nabil sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, membersihkan nama Lula. Namun, kebijakan dari pihak produksi film untuk memberhentikan Lula sebagai pemeran utamanya.


Kevin mendengar hal itu segera menghibur istri nya, mengajak pergi jalan -jalan ke sebuah taman yang indah mumpung suasana pagi masih sejuk. Hari ini kebetulan hari Minggu, jadi kedua pasangan bisa bersantai sehari saja.


Saat di taman.


"Kevin, aku sangat merindukanmu!" suara seorang gadis yang Alula temui kemarin tiba -tiba datang tanpa diundang. Gadis itu tanpa malu mencium pipi Kevin. Mata Lula menghangat dan rasanya air matanya hampir jatuh. Tapi sebagai wanita yang kuat, ia menahannya.


"Intan," Gumam Kevin. Kevin sendiri tak bisa menghindar ciuman yang mendarat di pipinya, karena begitu cepat dan singkat. Terlebih penampilan Intan pagi ini sungguh mendebarkan siapa pun hati pria yang memandangnya, termasuk Kevin. Kevin dengan kasar menelan ludah.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini, nomor kamu sulit sekali dihubungi, kamu tahu tidak kalah aku sekarang hamil?" ucapan Intan benar -benar membuat petaka dalam bahtera rumah tangga Kevin dan Lula.


"Hamil?" Alula bergetar hebat bibirnya saat berkata demikian. Air matanya seketika jatuh.


"Hamil?" Kevin sontak melongo mendengar penuturan Intan.


"Eh, Nona Lula, senang bisa bertemu kembali dengan kamu. Kebetulan kamu di sini, ini adalah Kevin, pacar aku." terang Intan begitu santainya mengucapkan demikian.


"Intan, cukup! Jangan bicara kebohongan di sini! Kita sudah lama putus dan tidak pernah sama sekali melakukan hubungan badan. " ucap Kevin tegas dan lantang. Memang benar, sudah dua bulan lebih sebelum Kevin benar -benar mencintai Alula hubungan mereka kandas karena pacaran jarak jauh. Lantas tentang kabar kehamilan Intan ini bagaimana, siapa ayah janinnya?


Alula tak bisa berkata banyak lagi. Suasana hatinya benar -benar hancur berkeping -keping. Sudah bersusah payah ia menerima perubahan suaminya tapi apa hasil yang ia dapatkan? Sebuah kabar tentang mantan pacarnya yang hamil.


"Mas Kevin, aku kecewa berat denganmu. Kamu bilang kamu akan berubah, dan malah sekarang kamu menghamili gadis ini! Aku sudah sabar di ambang kesabaran, aku tak bisa terima kenyataan ini. Dan aku pasti kan segera surat dari pengadilan agama akan sampai ke tanganmu!" Lula balik badan dan melangkah lebar.


"Alula, tunggu!" teriak Kevin dan ingin mengejarnya. Namun lengannya tertahan oleh Intan.


"Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab. Segera nikahi aku!" ujar Intan penuh ancaman.


"Intan, kamu gila ya! Kita tidak pernah melakukan hubungan itu! Pasti janin di perut kamu itu anak orang lain yang jelas bukan aku."


"Aku punya bukti yang bisa menguatkan perkataanku tadi." Intan buru -buru mengeluarkan selembar foto dari tasnya dan menunjukkan bukti itu pada Kevin. Mata Kevin membulat sempurna, foto dia dan Intan sedang bertelanjang dada, foto itu diambil hanya setengah badan. Menunjukan kalau mereka pernah bercinta. Tapi seingat Kevin, dia tak pernah melakukan itu pada Intan.

__ADS_1


"Kalau kamu tak percaya juga, kita bisa ke rumah sakit untuk USG dan tes DNA!" Satu kalimat yang berhasil membuat Kevin tak bisa menyangkal.


__ADS_2