Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 54


__ADS_3

Gibran menyapu semua peralatan kerjanya di atas meja dengan kedua lengannya. Semua buku dan kertas berserakan di lantai. Tak hanya itu, vas bunga pun juga ikut menjadi sasaran amukannya. Setelah mengamuk nafasnya beradu, terlihat guncangan naik turun di bahu dan guratan wajahnya seakan menyala. Orang di luar ruangan mampu mendengar kegaduhan itu, tapi diam saja tak mau berkomentar atau bertindak. Mereka sangat takut akan kemarahan atasannya.


Beberapa waktu lalu, sekretarisnya datang dan memberi tahu kalau para karyawan melakukan demo dengan alasan gaji akhir tahun terbilang cukup sedikit dan kurang mencukupi kebutuhan hidup bulan berikutnya, oleh karena itu pendemo melakukan tuntunan untuk kenaikan gaji karyawan. Gibran sudah mendengar keributan itu sejak ia masuk ke ruangannya.


Uang dari mana yang harus dia dapatkan untuk memenuhi tuntutan itu. Dana yang ia pinjam dari uang perusahaan sudah berpindah tangan, tentu ini semakin rumit jadinya.


Sekretarisnya juga memberi tahu, jika dalam waktu dekat ini tidak segera melakukan PHK serentak pada sejumlah karyawan, maka tidak menutup kemungkinan dana yang tersisa tidak akan cukup menggaji mereka semua. Apalagi ini dengan adanya demo tentang tuntutan gaji. Bagi Gibran ini sudah suatu kebijakan jika ia menaikkan 1 persen gaji mereka, tapi tidak ia lakukan karena alasan lain.


"Lebih baik saya mengundurkan diri mulai detik ini juga. Saya telah membuang waktu di sini. Anda tidak perlu khawatir, simpan saja gaji untuk saya." ujar sekretarisnya tanpa keraguan sedikit pun di wajah ayu nya.


"Kamu!" Sentak Gibran sambil menudingkan jarinya, ia sungguh tak menyangka orang kepercayaan nya sudah tidak mau lagi bekerja sama dengannya.


"Saya juga sudah diterima di perusahaan Karel. Saya permisi." wanita berusia 30 tahun itu membungkukkan badan dan berbalik. Bahkan orang terdekatnya sudah menyerah apalagi anak dan istrinya nanti?


Gibran sangat marah dan berteriak lalu terdiam sesaat setelah panggilan ponselnya berbunyi.


"Hallo!" Sentak Gibran pada seseorang di seberang sana.


Orang di seberang sana terdengar sangar dan berkata, "Kami telah menemukan seseorang yang membuat perusahaan Anda diambang kehancuran." terang suara pria terdengar berat dari arah seberang. Dari ucapannya yang menyebut kami, berarti orang itu bekerja tidak sendiri.


Gibran menautkan kedua alisnya dan bertanya dengan kasar, "Siapa!"


"Dia seorang wanita dan baru saja mengikuti acara fashion show semalam di Jakarta." ujar pria itu dengan secara langsung tidak menyebut nama terang.


Gibran masih berpikir, "Aku tidak punya musuh wanita, selidiki dia, sepertinya dia masih sangat muda!" Gibran teringat dengan putrinya tempo hari yang ingin mengikuti fashion show, sudah pasti usia peserta fashion show tidak jauh dari usia putrinya.

__ADS_1


"Baik." kemudian sambungan telepon terputus tanpa sahutan dari Gibran lagi.


Gibran duduk dengan kasar di kursi hitamnya. Memijat pelipis sambil berfikir siapa wanita muda yang memiliki kekuasaan tinggi melebihi dirinya.


Dia ingin keluar sekarang tapi tak bisa, sejumlah pendemo masih berteriak di depan sana. Jadi Gibran akan menunggu sampai pendemo itu bubar. Meski terlihat gusar ia harus segera bertindak untuk menyelamatkan perusahannya.


Terbesit juga dalam benaknya untuk menjual perusahaan itu jika sudah tidak bisa dipertahankan. Dan modalnya nanti untuk berbisnis usaha lain yang kekinian.


Hampir semua aset kekayaan milik perusahaan Gibran hilang. Sebagian untuk melunasi hutang yang meninggi bunganya dan sebagian karena untuk keperluan pribadi. Jadi, tidak ada peluang untuk mempertahankan perusahaan itu.


Maria istri Gibran sudah menghabiskan sebagian uang perusahaan untuk membeli perhiasan dan mengikuti arisan yang nominalnya cukup besar.


Maria sendiri kini tengah terduduk lemas di emperan toko. Ia baru saja mengalami kerugian. Semua uang arisan dibawa kabur oleh Ratih, 23 tahun.


Matanya menatap kosong ke arah jalan raya. Dia seperti orang linglung.


Masih teringat jelas di dalam otaknya, tentang peristiwa siang tadi.


Maria ingat awal bertemu dengan Ratih ketika dikenalkan oleh temannya. Ratih mengatakan pada Maria akan menjanjikan bunga besar dan menjanjikan anggota akan memperoleh profit besar dalam waktu 1-2 bulan sejak pertama kali ikut arisan.


Misal Rp 5 juta Maria investasi, Ratih menjanjikan kembali Rp 7 Juta dalam waktu satu bulan. Iming-iming profit besar yang diterima tersebut maka membuat Maria tertarik untuk ikut dalam arisan itu.


Namun seiring berjalannya waktu, Maria mulai curiga terkait arisan yang dilakukan oleh Ratih. Dirinya mengakui kecurigaan tersebut muncul ketika Ratih memberikan iming-iming hadiah seperti ponsel merek iPhone hingga sejumlah uang bagi anggota yang menginvestasikan uangnya dengan jumlah terbesar.


Sebelum curiga Maria sudah terlanjur tertarik dan menginvestasikan uangnya sebesar 100 juta, namun saat jatuh tempo ingin menagih hasil arisan nya, Ratih justru mengalami kolaps atau gagal bayar pada bulan lalu.

__ADS_1


Akibatnya, bukannya melunasi uang milik Maria, Ratih justru kabur dan sampai sekarang akhirnya diblokir (nomor WhatsApp).


Siang tadi Maria didampingi kuasa hukumnya, sudah melaporkan masalah ini ke pihak berwajib yaitu Polda Jatim.


Maria sudah mengumpulkan bukti-bukti berupa aliran dana, nomor rekening, hingga bukti chat group. Namun Polda Jatim menyatakan itu belum cukup bukti.


Tidak hanya Maria korban dari arisan bodong itu, ada sejumlah seratus orang di Jakarta yang mengalami kerugian yang sama dengan dirinya.


Deringan ponsel membuatnya kaget dan tak berani untuk mengambil di dalam tas kecilnya. Ia mengabaikan panggilan telepon itu. Setelah pikirannya mulai tenang namun tidak seratus persen, Maria bangkit dan memesan taksi.


Di dalam taksi, tangannya tergerak untuk melihat siapa yang meneleponnya tadi. Benar dugaannya, panggilan itu dari Gibran, suaminya.


"Papa pasti marah kalau tahu uang yang sudah ia berikan padaku habis. Aku harus mengatakan apa nanti?" meski mencoba untuk tenang, dia tetap gusar. Tangannya meremas ujung baju bawahnya.


Terlalu lama berpikir dan tak menemukan titik terang, tanpa ia sadari taksi itu sudah menghentikan dia tepat di depan pintu gerbang rumahnya.


"Sudah sampai, Bu!" ujar si sopir dengan sopan.


Karena kesal Maria pun membentak sopir itu yang tak bersalah sama sekali.


"Aku bukan ibumu , sejak kapan aku menikah dengan bapakku!" pekiknya.


Mendengar itu, si sopir melongo dan tak mau menjawab.


Maria segera turun dan berjalan lesu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2