
Kiki melihat Lula sedang masuk ke dalam kamar mandi, ini kesempatan bagus untuk menyelinap. Tas Lula tergeletak rapi di dalam rak. Kiki mengambil bedak milik Lula dan membubuhkan serbuk yang ia dapat dari Vivi.
"Nah, beres. Aku tak tahu apa yang ditaruh si model itu pada benda ini. Yang jelas tugasku selesai dan aku tak mau berurusan dengan polisi." Kiki segera melepas sarung tangan miliknya dan menghilangkan jejak. Dia sangat hati -hati melakukan pekerjaannya.
Mendengar Lula membuka pintu, Kiki segera menghilang.
"Seger banget setelah cuci muka, saatnya memakai make up." Lula seperti biasa memulai dengan memakai krim penyejuk ke seluruh wajahnya dan mulai menggunakan bedak. Lula suka sekali menggunakan bedak tabur. Dia memoles wajahnya dengan tenang.
Tiba-tiba Lula menjerit histeris. Kiki yang mendengar itu segera pergi dan memberi laporan pada Vivi kalau misinya berhasil.
"Astaga, gara-gara cicak bedakku jadi tumpah semua!" keluhnya sambil mengusir cicak itu. Alula belum sampai memoles wajahnya, bedak tabur miliknya jatuh dan tumpah. Cicak itu jatuh mengenai pahanya hingga membuat dia kaget dan sontak menjerit.
Emi datang mendengar jeritan Lula.
"Lula, apa yang terjadi? Apa ini yang berserakan di lantai?" Matanya berkeliling menyapu lantai.
"Eh, Emi, ini tadi ada cicak, aku kaget dan bedakku jadi tumpah deh," sahut Lula mulai beranjak dari kursi nya.
"Oh, hari ini kita kan gajian, kamu bisa membeli yang baru nanti. Ayo, kita ke kantin!" ajak Emi antusias lantaran perutnya sangat lapar.
"Benar juga yah, eh tapi ini aku beli di salon tempat temanku bekerja loh. Jadi limited edition katanya."
"Oh, temen kamu yang kayak cowok korea itu ya, aku ikut dong kalau kamu ke sana lagi !" rengek Emi yang sudah lama mengidolakan Arjun.
"Oke, aku kirim pesan dulu ya," Lula mengambil ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.
Tak lama kemudian ada balasan masuk dari Arjun. Lula membaca pesan itu, mengangguk mengerti.
"Emi, bagaimana kalau kita pergi sekarang!" ajak Lula.
"Ke mana, ke kantin kah, ayo!" Emi melangkah duluan namun Lula menarik tangannya.
"Bukan, ke salon temen aku. Dia bilang kita disuruh ke sana sekarang, mumpung salonnya sepi pengunjung!"
"Ayuk!" Emi antusias sekali bahkan dia melupakan perutnya yang tadi lapar.
Lula dan Emi pergi ke salon Arjun mengendarai ojek online dan mereka berdua hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke sana.
"Arjun!" sapa Lula ketika sudah sampai.
"Hai, Lula!" balas Arjun.
"Jangan lupakan aku, Lula!" Emi menyikut dan berbisik agar Lula memperkenalkan dia seperti janjinya tadi.
"Eum, Arjun, perkenalkan ini temen aku, namanya Emi Nirlaba." Lula memegang kedua bahu Emi dan memajukan beberapa langkah tepat di depan Arjun.
Arjun tersenyum manis yang membuat Emi terlena.
"Hallo, aku Arjun Anaufal Okta!" Arjun mengulurkan tangan.
"A-aku Emi!" Emi yang tadinya antusias banget kini jadi gugup sendiri. Emi menerima uluran tangannya.
"Oh iya, Lula, bedak tabur yang kamu minta seperti kemarin sudah kosong." Arjun mengarahkan kedua tamunya untuk duduk. Emi dan Lula pun duduk.
"Yah, padahal aku terlanjur cinta banget sama bedak itu." keluh Lula.
Sementara Emi masih menjelajahi dunia halunya, menghayal bersama Arjun.
"Tenang, aku punya produk terbaru lagi dan khusus buat kamu."
"Benarkah, aku nggak tahu harus berkata apa padamu. Kamu selalu memberikan yang terbaik padaku. Jadi, kali ini aku akan bayar, katakan berapa harganya?"
Arjun tertawa, membuat Emi semakin tergiur dengan pesona Arjun.
"Lula, jangan kamu kira aku sombong ya, tapi jujur, aku tak perlu uang darimu. Simpanlah uangmu dan ambil ini!" Arjun menyerahkan bedak keluaran terbaru itu.
__ADS_1
"Yah, padahal aku berharap kamu menerima uang dariku. Tapi baiklah, tidak apa -apa. Terima kasih, Arjun!" Alula membuka bedak itu dan mulai mengenakannya di wajah, tipis -tipis.
"Kamu seperti tak tahu aku saja, kita berteman cukup lama saat kecil dulu. Membuat kamu menjadi cantik adalah tugasku." Arjun sangat senang melihat aura kecantikan Lula terpancar. Terlebih bedak yang barusan itu membuat Lula terlihat tiga kali lebih cantik dari yang sebelumnya.
Selesai itu, Lula dan Emi kembali ke kantor, mereka disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Mengemas kertas bekas dan memasukkan ke dalam kardus.
"Ya Ampun, Lula, Arjun itu tampan banget. Sampai-sampai aku menghayal kalau dia jadi pacar aku." curhat Emi di sela-sela bekerja.
"Kamu mau jadi pacar nya?" Alula tak menoleh, matanya fokus pada sampah di depannya.
"Mau banget Lula, emangnya boleh? Entar kalau aku dekat in dia, kamu gimana, cemburu pastinya lah ?"
Lula terkekeh. "Itu tidak mungkin. Dia adalah temanku dan sudah aku anggap saudaraku. Jika kamu mau, ambil saja!"
"Sungguh?" Emi sontak memeluk Lula hingga dia kesulitan bernafas.
Seketika itu Kevin melintas. Berdehem dengan gentle membuat Emi melepaskan pelukannya.
"Siang Bos!" sapa Emi.
Kevin tak menyahut, matanya sibuk menyorot wajah Lula yang begitu cerah.
"Si playboy ini sombong banget, di sapa malah cuek. Awas nanti kalau sudah di apartemen!" Gumam Lula tak suka dengan cara Kevin yang mengabaikan bawahannya.
Kevin berlalu meninggalkan sejuta pertanyaan bagi para office girl yang ada di sekitar Lula.
"Sepertinya, bos menyukaimu Lula," bisik Emi dan terdengar bisik -bisik juga dari temannya yang lain.
"Ah, itu tidak mungkin. Aku seperti buih ini mana pantas untuknya. Kamu juga tahu sendiri kan, bos pacarnya banyak, malah cantik-cantik pula, termasuk model itu!" Lula menunjuk Vivi yang melintas ingin ke ruangan CEO.
Mata Vivi membulat kaget, Lula baik -baik saja wajahnya. Malah terlihat begitu cerah. Dengan hati yang panas dia segera mencari Kiki.
"Kiki, kamu mempermainkan aku ya!" bentak Vivi saat Kiki sedang membuat kopi di dapur. Kebetulan siang ini bos Kevin ada klien di ruangannya. Jadi Kiki membuatkan kopi.
"Pergi dan lihat sendiri sana! Kamu bilang misi kamu berhasil, nyatanya Alula baik-baik saja."
"Saya memang tidak melihat langsung kejadiannya seperti apa, saya hanya mendengar dia berteriak seperti kesakitan. Permisi Nona, saya ingin mengantar kopi ini ke ruangan bos dulu." Kiki yang licik itu menghindari amukan Vivi yang sudah di ubun-ubun.
Vivi menghentakkan kaki layaknya anak kecil.
"Kamu masih beruntung Lula, tapi aku takkan menyerah untuk membuat kamu jauh dari Kevin." Vivi memikirkan cara lain.
Tak begitu lama Kiki kembali dan masih mendapati Vivi di sana.
"Maaf Nona, saya disuruh bos untuk memesan bakso di seberang jalan sana. Ada tamu juga." pamit Kiki.
"Ada rencana B yang harus kamu lakukan!" perintah Vivi yang mendadak punya ide brilian. Ini sudah Maria persiapkan sebelumnya.
"Barusan kamu dari ruangan CEO kan?"
Kiki yang niatnya ingin menjauh malah dapat misi lagi. Kiki mengangguk.
"Bagus, tugas kamu, taburkan ini pada makanan tamu!" Vivi menyerahkan paksa bungkusan putih, Kiki yang enggan akhirnya terpaksa juga.
"Apa ini, Nona? Saya takut,"
"Sudah jangan banyak tanya kamu, setelah kamu kembali pastikan Lula yang mengantarkan bakso itu." Vivi melenggang pergi meninggalkan Kiki yang bimbang.
Takut dengan ancaman Vivi, Kiki pun melakukan misinya yang kedua. Kiki sedang menunggu abang tukang bakso langganannya.
Kiki kembali dengan dua porsi bakso dan menaburkan sesuatu pada salah satu mangkuk.
"Lula, aku mau ke toilet. Antarkan bakso ini ke ruangan CEO!" ujar Kiki beralasan, Lula yang sudah selesai beres-beres pun menyanggupi.
Kiki berjalan ke arah toilet, sesampainya di sana dia berbelok arah menemui Vivi.
__ADS_1
"Sudah, Nona!"
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi!" Vivi tersenyum licik membayangkan petaka apa yang akan menimpa Lula.
Sementara Alula tak mencurigai perintah Kiki barusan. Dia sudah di depan pintu, mengetuk pintu dan masuk.
"Permisi, ini bakso pesanan Anda." ujar Lula seraya meletakkan baki di sudut ruangan.
Melihat Lula yang datang, Kevin berseru.
"Lula, bisa kamu membantuku sebentar!" Lula yang niatnya tak ingin melihat Kevin akhirnya menoleh.
"Baik, Bos!" Lula dengan langkah malu-malu mendekati Kevin.
"Tolong, kamu pegang sebentar ini!" Kevin memberikan beberapa materai sepuluh ribuan.
"Dia pasti mau mengerjaiku lagi." batin Lula menggerutu.
"Tuan Kevin, setelah saya selesai menandatangani kontrak ini maka kita akan menjadi tim yang hebat. Bergabung dengan perusahaan Anda adalah suatu keberuntungan bagi kami." ujar pak Yahya selaku kliennya.
"Pak Yahya jangan merendah, perusahaan saya juga tak sebanding dengan perusahaan Anda. Sebentar, saya bubuhkan materai dulu." Kevin menadahkan tangan ke arah Lula yang berdiri tepat di sampingnya.
Lula memberikan materai itu. Kevin segera menempelkan di berkas dan segera ia tanda tangani.
Sedikit rasa kagum di hati Lula, betapa serius nya suaminya itu dalam bekerja meski menyandang gelar playboy. Lula belum beranjak sebelum dia mendapat perintah. Kalau jasa nya masih diperlukan lagi.
"Bawa ke sini bakso itu!" perintah Kevin.
"Baik!" sahut Lula, dugaannya benar.
Lula memindahkan baki di atas meja kosong yang ada di sebelah Kevin. Segera Lula pergi setelah jasanya tak diperlukan lagi. Kevin dan kliennya menikmati bakso itu.
Belum sampai habis bakso milik pak Yahya, beliau sudah mendesis.
"Saya perlu ke toilet sebentar, permisi!"
"Ya, silahkan, toilet ada di luar!"
Sudah sepuluh kali pak Yahya keluar masuk toilet. Membuat Kevin heran dan bertanya.
"Apa Anda baik-baik saja?" Kevin cukup khawatir melihat kliennya yang bercucuran keringat itu.
"Saya sudah merasa lega sekarang." sahut pak Yahya yang membuat Kevin bertambah heran.
"Maksud Anda?"
"Saya sudah satu minggu lebih tidak BAB, bahkan saya juga sudah mengkonsumsi pil pelancar pencernaan, namun tak ada efeknya. Sekali saya makan bakso tadi, perut saya langsung mules dan bisa BAB dengan lancar." terang pak Yahya.
"Syukurlah kalau begitu, tidak ada yang perlu saya khawatirkan lagi." Kevin lega mendengar penuturan kliennya. Awalnya dia ketir-ketir juga jika akan batal kerjasama dengan perusahaan milik pak Yahya.
"Bisakah Anda memanggil office girl yang mengantar bakso tadi?"
Kevin awal nya cemburu dan enggan mengabulkan permintaan kliennya.
"Saya ingin berterima kasih padanya. Dan juga memberi dia hadiah."
"Oh, tentu bisa!" Kevin tersenyum puas, dia segera menghubungi asistennya untuk mencari Lula. Tak terasa hatinya pun bergetar. Istri nya tak hanya cantik, tapi juga memiliki hati yang mulia. Kevin semakin ingin cepat pulang.
Tak ada setengah jam Lula pun masuk ke ruangan CEO.
Kiki melihat itu segera menemui Vivi untuk menceritakan apa yang ia lihat.
Jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya kakak reader semuanya.
😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1