Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 51


__ADS_3

Memikirkan perkataannya sendiri membuat Kevin menggosok alisnya dan mengeluarkan ponsel.


"Aku dengar Lula ingin mengikuti fashion show besok. Aku ingin melihat acaranya, setelah itu aku ingin tidak melihatnya lagi." Kemudian Kevin mencari kontak seseorang dari ponselnya.


Nabil melongo mendengar penuturan bosnya. Lagi, ia tak bisa menyahut dan hanya menatap diam.


Seorang desainer gaun ternama di kota itu menerima panggilan Kevin. Ia segera menyiapkan gaun yang cocok untuk Lula jadi Kevin memesannya dari jarak jauh.


"Kamu ambil gaun itu sore nanti! Lula akan memakainya besok." perintah Kevin.


Nabil sekali lagi tak bisa menolak dan hanya menyahut,"Baik." sambil membungkukkan badan ia segera pergi setelah Kevin mengayunkan tangan.


Suasana hati Kevin sangat kacau. Pikirannya juga tak bisa berpikir secara jernih saat ini. Dia merencanakan sesuatu entah itu apa.


Di lain sisi, Arjun sudah siap dengan pekerjaannya untuk merias seorang model cantik, ia seprofesi dengan Alula. Dan menjadi lawan main Alula saat syuting sebuah film.


Pekerjaan itu ia lakukan dengan baik hingga membuat Naura puas.


"Kedua tanganmu sangat terampil sekali!" Naura melengkungkan bibir memuji Arjun dan membenahi pakaiannya.


Arjun tersenyum tipis dan menimpali dengan anggukan. Kemudian dia berkata, "Terima kasih Nona Naura!"


Sebenarnya Naura ingin lebih dekat dengan Arjun, karena pekerjaannya yang sangat padat ia jarang sekali bisa ngobrol dengannya selain saat dirias. Karena perannya tidak begitu penting dalam syuting kali ini, Naura lebih singkat dirias dari pada peran utama.


Tak hanya Naura yang mengakui kehebatan Arjun selain sebagai aktor cadangan, sebagai perias juga. Sutradara Yuda juga berpikiran sama dengannya. Keahlian Arjun sebagai perias patut diacungi jempol.


"Bisakah kita makan malam bersama?" tawar Naura dengan kepedean tingkat tinggi.


Arjun mengerutkan alisnya dan menjawab dengan sedikit acuh. "Maaf, aku sangat sibuk."


Tentu saja ia menolak, secara Naura baru saja kenal dengannya dan bagaimana bisa dia ingin mengajaknya makan malam. Biasanya pria yang mengajak wanita, ini malah sebaliknya.


"Oh," Naura merasa malu dan kecewa. Kemudian dia beranjak.


Kini giliran Lula sekarang yang akan di rias. Ia duduk menghadap Arjun. Lula mulai memejamkan mata. Arjun menyapukan bedak ke wajah Alula tipis -tipis.

__ADS_1


Wajah cantik yang terpejam ini begitu ia kagumi sejak lama dan berharap bisa memilikinya selamanya. Itu semua hanya di angan saja.


Di sela-sela merias, Alula membuka suara, "Arjun, menurut kamu aku besok saat fashion show memakai gaun yang mana?" ucapan Lula membuyarkan lamunannya.


Arjun menghentikan pergerakannya dan menatap Lula, "Apapun yang melekat di badan kamu akan selalu pas."


Lula menyebik seakan ucapan temannya ini bukanlah pujian.


"Aku serius ...."


"Malah seribu rius ini," timpal Arjun yang membuat Lula tertawa. Arjun ikut bahagia. Kemudian Lula tiba -tiba menghentikan tawanya dan mendesah.


"Aku berharap mas Kevin sudah pulang besok dan melihat aku berputar di atas panggung."


"Dia sudah menelepon kamu?"


"Belum, aku kesal dengannya. Sibuk apa sih dia, bahkan membalas pesanku juga tidak." Lula menggerutu.


"Mungkin pekerjaannya sedang menumpuk, setelah selesai dia pasti akan menelepon kamu." Arjun mengatakan demikian agar Lula tak merasa cemas. Meski Lula tak mengatakan, Arjun tahu dari reaksinya barusan.


"Semoga saja!"


Arjun melanjutkan pekerjaannya. Tak ada lagi obrolan diantara keduanya.


Sepasang mata melihat kedekatan mereka dari jauh. Marah dan iri. Gadis berusia 24 tahun itu menghentakkan kaki dengan kasar sambil mencibir.


"Kenapa bukan aku sih yang menjadi pemeran utama. Jika posisi itu dalam genggaman, seseorang yang aku suka pasti merias ku lebih lama." gerutunya kesal, menghentakkan kaki dan mengepalkan tangan.


Semua pemain sedang berakting di depan kamera sekarang. Arjun melihat penampilan Lula dari jauh. Ia tak jemu memandangnya. Suara deringan ponsel mengalihkan pandangannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan. Kita bertemu di taman sore nanti!" ujar seseorang dari arah seberang.


Arjun belum sempat membalas dan mengambil keputusan mau atau tidak. Tapi si penelpon sangat pemaksa dan menginginkan dia untuk bertemu. Arjun ingin mengabaikan keinginan penelpon itu. Rasanya dia tak akan bersalah jika tak datang.


Menjelang sore, Kevin sudah agak mendingan. Ia keluar dari rumah sakit, meminta Nabil untuk mengantarnya ke sebuah taman. Ia sedang ada keperluan dengan seseorang.

__ADS_1


"Kamu sudah mengambil gaun itu?" Kevin menoleh dan melihat sebuah kotak yang dibawa Nabil.


Nabil menjawab, "Iya, ini!" Nabil menyerahkan kotak berwarna biru dengan pita kuning di atasnya. Kevin menerimanya.


"Kamu boleh pergi!" Kevin mengayunkan tangan ke arah Nabil. Nabil mengangguk dan membungkukkan badan hormat sebelum berlalu dari sana.


Hari semakin gelap. Namun Kevin belum juga beranjak. Dia duduk sambil memangku kotak persegi itu. Sudah dua jam lamanya ia duduk menunggu. Namun yang ditunggu tak kunjung tiba.


Karena telat minum obat, ia merasakan nyeri di dada. Bahkan merasakan mual juga.


Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Saat ia sudah melangkah jauh, ia berpapasan dengan seseorang yang telah membuatnya menunggu dua jam lamanya.


"Aku kira kamu sudah pergi." ujar orang itu tanpa rasa bersalah.


"Arjun, aku ingin menitipkan kotak ini padamu." Kevin memperlihatkan kotak biru yang sejak tadi ia jaga.


Arjun sendiri melongo melihat sikap Kevin yang sedikit berubah. Biasanya jika tak cocok dengan keinginannya ia akan membentak dan marah-marah. Tapi tidak saat ini, justru ia diam dan dengan raut muka yang sedih.


Arjun mengulurkan tangan menerima kotak itu sambil bertanya, "Kotak apa ini?"


"Berikan kotak ini pada Lula. Ia akan mengenakan gaun itu besok saat acara fashion show."


Merasa aneh kenapa dia yang harus menyerahkan, kemudian Arjun bertanya lagi. "Kenapa bukan kamu sendiri yang memberikan pada Lula, kenapa harus aku?"


"Jangan salah. Anggap ini seolah kamu yang memberikan pada Lula." Lalu tanpa banyak kata lagi, Kevin yang menahan sakit segera pergi menghubungi Nabil agar segera menjemputnya.


Seolah ada rahasia besar yang disimpan oleh Kevin. Mengapa dia bersikap baik pada musuhnya. Seolah mendekatkan istrinya pada musuh.


Arjun memperhatikan kotak yang ada di tangannya. Kemudian dia pergi menuju apartemen Lula. Sesampainya di sana, Arjun memperlihatkan kotak tadi pada Lula.


Lula sangat senang setelah tahu kotak itu berisi gaun yang sangat bagus dan mahal.


"Terima kasih Arjun, tapi lain kali kamu tidak perlu melakukan ini!"

__ADS_1


Arjun menarik nafasnya dalam -dalam dan menghembuskan pelan. Sedikit mendesah ia bergumam dalam hati. "Itu pemberian Kevin. Bukan dariku."


"Sama -sama." sahut Arjun.


__ADS_2