Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 26


__ADS_3

"Apa?"


"Masuk dulu!" Alula masuk dan duduk di jok depan, Kevin menutup pintu dan kembali ke bagian kemudi. Menyalakan mesin dan melajukan mobil.


"Setelah kamu memberikan pilihan B tadi pagi, aku seperti menjadi diriku yang baru." ujar Kevin memulai pembicaraan.


"Pilihan B?" bahkan dirinya sendiri lupa dengan apa yang baru saja ia sampaikan pagi tadi.


"Aku ke kantor tadi dan menyelesaikan semuanya dalam sekejap."


"Udah deh, Mas, ngomong yang bener, aku sama sekali tak paham."


"Oke-oke, dengarkan aku baik-baik! Intinya, aku sudah memimpin perusahaan ku kembali." Kevin tetap fokus menyetir meski bicara serius.


"Sungguh, alhamdulillah! Lalu bagaimana dengan mantan pacarmu?" Lula sungguh terkejut dengan berita yang menggembirakan ini, tapi dia juga tak lupa dengan perasaan temannya.


"Jangan sebut dia seperti itu, panggil nama saja!"


"Iya, maksud ku Vivi, apa dia tak memberontak?"


"Sangat. Dan kamu bisa membayangkan ekspresinya seperti apa tadi saat aku depak dari posisi CEO."


"Wah, Mas, andai aku ada di sana tadi! Selamat atas terpilihnya kembali!" Alula mengulurkan tangan untuk menyalaminya.


Kevin menatap tangan itu dan menyambutnya.


"Terima kasih, Lula, sudah menyemangati ku!"


"Aku tidak melakukan apa pun Mas, kepercayaan dirimulah yang membuat kamu kembali di posisi itu. Aku juga ada cerita bagus untukmu!"


"Aku bukan anak-anak lagi yang mau mendengar dongeng mu!" celetuk Kevin.


"Ini bukan cerita dongeng lebih tepatnya mengenai Permadani,"


"Baiklah, kalau yang itu aku mau mendengarnya."


"Aku memerankan menjadi seorang Kartini, awalnya aku gugup banget tapi setelah season berikutnya aku sudah biasa."


"Wah, selamat juga untukmu!" Kevin mengulurkan tangan seperti yang dilakukan Lula tadi. Lula terkekeh dan menerima uluran tangannya. Menepuk bahu suaminya, "kamu lucu, Mas!"


Keduanya pun tertawa.


"Bagaimana kalau kita merayakan kebahagiaan kita ini?"


"Eum, boleh juga."


Kevin membawa Lula menginap ke hotel, sebelumnya Kevin memesan untuk mendekorasi kamar hotel agar menjadi indah.


Ketika turun dari mobil, Kevin langsung membopong Lula masuk ke dalam hotel.


Alula menjerit histeris karena malu.


"Turun kan aku, Mas! Aku masih punya kaki dan bisa berjalan sendiri."


"Pelankan suaramu Lula, kamu bisa membangunkan orang seisi hotel. Dikira aku mau apa in kamu,"

__ADS_1


"Lagian Mas Kevin, begini!"


"Sudah, diam ya, jangan teriak -teriak!"


"Baik, Mas!"


Kevin menggendong Lula sampai ke kamar yang sudah di pesan. Setelah membuka pintu, Kevin menurunkan Lula tepat di atas kasur yang ditaburi banyak bunga mawar.


"Kita salah kamar?"


"Tidak,"


"Kamu Mas, yang menyiapkan semua ini untukku ?" Kevin hanya mengangguk. Mata Lula berkeliling mengedarkan pandangan. Semua lantai bertaburan bunga mawar yang beraneka ragam warnanya. Alula memejamkan mata sejenak untuk menikmati harumnya bau bunga. Aneka lampu kecil juga berkedip menghiasi kamar. Menambah suasana romantis malam ini.


Kevin menghampiri Lula dan naik di atas ranjang. Perlahan mendekat dan mencium keningnya yang lebar.


"Kita lakukan lagi ya," bisik Kevin yang membuat jantung Lula hampir meletus sangking cepatnya berdegup.


Lula tak banyak bicara hanya mengangguk saja tanda setuju.


***


Vivi dan Andho terlihat sedang duduk menikmati secangkir teh manis di sebuah cafe dengan cahaya lampu temaram. Obrolan mereka sangat serius dan Andho sesekali mengangguk paham ketika Vivi bicara.


"Kamu tahu siapa istri nya Kevin?" tanya Vivi seraya menyodorkan ponselnya. Andho hanya menggeleng.


"Bukankah dia seorang pembantu?" Andho melihat layar ponsel, ia ingat betul wajah Alula yang waktu itu masih gendut.


"Kamu kenal dia?"


"Wanita itu bernama Alula Farhah, kini dia seorang artis yang baru-baru ini namanya melonjak di dunia hiburan. Bahkan popularitas ku tergeser olehnya." Vivi terdengar resah setelah menyeruput teh manis.


"Pantas saja Kevin tergoda, parasnya sungguh cantik!"


"Secara tidak sengaja kamu sudah membandingkan aku dengannya." mendengar ucapan Vivi, Andho langsung terkekeh.


"Bukan begitu maksudku, kamu tahu sendiri sifat Kevin seperti apa jika melihat wanita cantik, dia langsung ingin memangsanya, bukan?"


"Bahkan kamu juga sudah sering tidur dengannya." imbuh Andho.


Vivi menyebik tak menghiraukan ocehan Andho. Diam -diam Andho mengambil tangan Vivi dan mendekapnya.


"Tenang Sayang, tidak ada wanita yang lebih cantik di dunia ini selain kamu di hatiku. Jangan cemberut begitu, aku akan melakukan apa pun untukmu!"


Vivi menoleh dan raut wajahnya kembali ceria.


"Kamu mau membalas sakit hatiku?"


"Tentu, apa pun itu!"


Vivi menyeka air matanya yang menitik. Seakan beban sakit hatinya berkurang.


Keesokan paginya kedua pengantin baru yang semalam memadu kasih kini sudah mandi dan rapi.


"Kita kembali ke apartemen dulu."

__ADS_1


"Baik Mas!"


Tak ada satu jam, mereka sudah tiba di apartemen.


"Bunga, dari siapa?" Kevin yang terlebih dulu tiba di depan pintu. Dia berjongkok dan memungut setangkai mawar.


Dari pengemar rahasia mu.


Tertulis jelas namun tak ada nama pengirimnya. Sebelum Lula melihat, ia sudah lebih dulu membuang bunga itu ke bak sampah.


Lula tak tahu karena sedang sibuk menelepon seseorang.


"Siapa Lula, pagi-pagi yang menelepon?" Kevin membukakan pintu.


"Emi, Mas, dia menanyakan kabarku. Dia bilang kamu yang awalnya mengajak dia bicara hingga membuat dia gugup setengah mati."


Kevin terkekeh mendengar penuturan istrinya.


"Yah, sepatah dua kata. "


"Kamu yakin nggak merendahkan dia kan?" selidik Lula yang tahu betul sikapnya pada bawahan.


"Tidak, aku bisa menjamin itu." sahut Kevin yang segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Demikian juga dengan Alula yang masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


Setelah keduanya kompak keluar bersama.


"Sepertinya ada yang aneh, deh!" ujar Kevin sambil berpikir hal apa itu.


"Aku juga sama, Mas, apa yah?" Alula menggaruk kepalanya.


"Sudahlah, itu kita pikirkan nanti! Kamu mau makan apa?" tanya Kevin seraya memperlihatkan ponselnya.


"Apa saja, asal bikin perut kenyang." Lula mengambil sapu untuk menyapu lantai. Kevin hendak melerainya.


"Mas, ini pekerjaan ringan, jangan melarangku untuk bersih -bersih. Kamu tahu, jika kita diam saja maka lemak kita tak kan bisa terbakar. Dengan kita melakukan pekerjaan seperti menyapu misalnya, itu sudah termasuk melakukan pergerakan." terang Lula.


"Iya deh, aku takut nya kamu terlalu capek, Sayang. Kalau begitu aku yang mengepel ya," tawar Kevin yang segera mengambil alat pelnya.


Kedua pasangan ini terlihat santai melakukan pekerjaan di dalam apartemen. Tanpa terasa pengantar makanan datang.


Mereka segera mencuci tangan dan sarapan setelah itu pergi ke tempat kerja masing -masing.


Alula sudah dijemput oleh mobil pengawal. Sepanjang perjalanan menuju lokasi syuting ia dikejutkan dengan deringan ponselnya yang sejak tadi hening.


"Hallo, dengan siapa?" tanya Alula dengan sopan.


Masih tak ada sahutan, Alula memutus sambungan telepon. Kejadian ini sudah sampai tiga kali. Dipanggil an terakhir, Alula memaki si penelepon.


"Apa yang Anda sedang lakukan, jika tak ada yang ingin disampaikan jangan menelepon! Mengganggu saja!"


Terdengar jelas suara pria tertawa dari arah seberang.


"Nona Alula Farhah yang terhormat, aku sangat mengagumi Anda. Bisakah kita berkencan hari ini?"


Setelah mendengar suara itu, Alula menjadi panik dan segera mematikan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2