
"Vivi, apa yang kamu lakukan di apartemen ku malam -malam begini?" kegelisahan Kevin mulai muncul, ia takut Lula salah paham dengan kedatangan pacarnya. Vivi sudah terbiasa keluar masuk bahkan sebelum Kevin menikah.
"Loh, kamu kok terlihat takut begitu, setiap kali aku datang kamu akan menyambutku dengan pelukan dan ciuman. Tapi, malam ini kamu beda. Kamu sudah tak cinta lagi ya denganku?" Vivi bergelanyut manja, namun Kevin tak bereaksi sedikit pun. Biasanya ia dengan cepat melahap sajian lezat di depan matanya ini. Kali ini ia tak mendapatkan rasa apa pun. Rasa yang begitu rakus itu kini telah hilang. Hanya pada Alula lah rasa itu datang.
"Aku capek. Aku ingin istirahat. Pulangkan kamu!" usir Kevin dengan ekspresi datar.
"Kamu mengusirku, Sayang?" Vivi tak tinggal diam dan menunjukkan senjata ampuh untuk menaklukkan Kevin.
Lula masuk dan memergoki mereka berdua. Acuh dan cuek, itulah sikap Lula sekarang. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak jatuh seperti hari -hari kemarin. Sudah banyak air mata yang jatuh dan sia-sia karena melihat Kevin bermesraan dengan wanita lain.
"Lula, dari mana saja kamu?" Kevin melepas tangan Vivi yang sejak tadi sibuk bergerilya. Kevin bangkit dari sofa. Vivi sangat marah karena terabaikan. Alula menghentikan langkah kaki tanpa menoleh.
"Dari bengkel." sahut Lula singkat. Sebenarnya ia males menyahut.
"Bukan itu maksudku, kamu pergi dengan seorang pria tadi,"
"Itu bukan urusanmu."
"Lula, kamu sadar sedang bicara dengan siapa. Kevin ini majikanmu, jadi tunjukkan rasa sopan mu!" bentak Vivi yang sudah berada dekat dengannya.
Seketika itu Lula membalikkan badan menatap dua insan di depannya.
"Kamu berkata apa barusan, kesopanan mana yang kamu maksud. Lebih tak sopan mana antara kamu dengan ku, hah?" Lula menunjuk Vivi tepat di muka nya.
"Lancang sekali kamu, mulutmu tak pernah sekolah apa!" Vivi hendak menampar pipi Lula dengan Sigap Kevin menahan tangan itu.
"Lepaskan tanganku, Vin! Kamu sadar jika pembantumu ini sangat kurang ajar. Dia perlu diberi pelajaran, mungkin satu tamparan bisa meluruskan mulutnya." omel Vivi yang terlanjur sakit hati.
Tiba -tiba saja keributan di ruangan itu terhenti lantaran ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen.
Semua mata sejurus menyorot pintu. Lula bergegas membuka pintu, penasaran dengan tamu yang tak diundang.
"Arjun!" pekik Lula setelah tahu siapa yang datang. Kevin sendiri semakin memuncak emosinya melihat sosok tamu itu. Lula terlihat berubah ekspresinya, senyumnya yang menawan ia tunjukkan pada Arjun.
"Lula, kamu meninggalkan dompet ini di mobil." ujar Arjun memberi tahu seraya menyodorkan dompet kecil yang berbentuk persegi berwarna ping itu.
"Oh, terima kasih kamu sudah mengantar, padahal aku belum mengecek di tasku." Lula menerima dompet itu.
Sebuah tangan yang kekar berhasil menerjang badan Arjun. Seketika Arjun terhuyung.
"Dasar pria hidung belang, tak tahu adab kamu. Masih berani mendatangi perempuan bersuami!" bentak Kevin dengan amarah menggebu -gebu.
Arjun tersenyum tipis.
"Seharusnya kalimat itu pantas untukmu." hanya itu yang dapat Arjun ucapkan. Dia tahu batasan dan segera pergi.
Vivi mendengar pembicaraan mereka di luar.
__ADS_1
"Oh, Lula ternyata sudah menikah, apes banget nasib nya sudah dibuang suami. Untungnya, kekasihku masih mau menampung dia menjadi pembantu." batinnya mengira demikian.
"Baiklah, sepertinya malam ini kamu lagi tak baik -baik saja. Aku akan kembali besok." Vivi menyambar tasnya dan pergi. Kevin hanya acuh.
Dua pasangan suami istri itu saling diam, duduk berhadapan.
"Puas kamu!" Lula berdiri mencoba mengontrol emosinya yang meledak.
"Kamu bilang akan berpoligami dengan wanitamu, segeralah lakukan itu. Dan tunggu gugatan cerai dariku!" Lula sudah di ambang batas kesabaran. Ini kali Lula bersikap tegas pada suaminya.
"Lula, apa yang barusan kamu katakan, kamu sedang bercanda kan?" Kevin terlihat sangat gugup ia tak ingin ini terjadi.
"Aku sudah capek dengan semua ini. Terserah apa yang akan kamu lakukan aku tak peduli lagi." Lula sedikit berlari menuju kamarnya. Tak terasa bulir air mata yang tertahan jatuh juga.
"Lula, maafkan aku. Aku baru sadar kalau aku jatuh cinta padamu. Aku terlalu gengsi untuk mengakui itu. Lidahku terasa kelu untuk mengucap cinta padamu." Gumam Kevin monolog. Ia kesal dengan prinsipnya. Begitu ada wanita cantik, ia langsung tergoda dan mudah mengatakan cinta. Namun, dengan Alula istri nya sendiri terasa sulit melakukan itu.
Alula terisak dan lambat laun ia tertidur.
Keesokan paginya, Kevin lebih dulu bangun. Dia berkutat di dapur untuk kali pertama. Menyiapkan sarapan dengan menu orak -arik telur. Tentu dari bantuan mbah google ia dapat resepnya. Setelah tiga puluh menit, menu yang baginya spesial itu sudah jadi. Ia meletakkan di atas piring yang khusus buat istrinya.
"Lula," panggil Kevin di balik pintu kamarnya. Lula tak menyahut dan segera membuka pintu.
"Aku, eum, sudah membuatkan sarapan untukmu." ujar Kevin ragu-ragu jika tawarannya ditolak. Dugaan Kevin benar.
"Aku sudah makan tadi sebelum adzan subuh." sahut Lula yang sudah rapi dengan pakaian kerja nya.
Lula tak menyahut, dia melenggang begitu saja dengan anggun.
Sepeda Lula sudah tak kempes lagi. Arjun kemarin mengajak Lula untuk mampir ke salonnya, memperlihatkan produk kecantikan yang baru dan harus ia coba. Arjun juga menyuruh seseorang untuk membawa sepeda Lula ke bengkel dan mengantar pulang. Lula semalam telah berbohong pada Kevin kalau dia ke bengkel. Dia tahu hal itu salah. Tapi setelah tahu Vivi semalam datang, membuat moodnya berubah.
Alula kini sedang mengepel di lantai satu, kebetulan suasana masih sepi. Alula sungguh cantik pagi itu, penampilannya membuat Kiki iri terhadapnya. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai lurus ke belakang. Memakai make up yang semalam Arjun perlihatkan. Ternyata benar, make up itu membuat Lula terlihat makin cantik.
"Kemarin ku lihat dia sedang naik mobil sport, seminggu yang lalu dia semobil dengan bos besar. Dasar wanita bermuka dua. Aku ingin sekali mencakar wajahnya yang seperti topeng itu." Kiki ngedumel sendiri, terbesit dalam otaknya ingin mengerjai Alula.
Kiki berjalan kearah Lula. Lula sudah hapal betul suara langkah kaki itu.
"Pagi ini, dia pasti berulah lagi padaku. Aku sudah cukup sabar meladeni dia. Kalau bukan senior sudah ku tinju dia dengan tanganku." batin Lula yang sudah bersiap -siap. Lula sendiri terlihat santai dan serius dengan pekerjaannya.
Bayang-bayang Kiki sudah terlihat jelas. Kiki membungkukkan badan mengambil ember dan mengangkat setinggi kepala. Kiki bermaksud menumpahkan air di ember ke arah Lula. Kini tubuh Lula terasa ramping dan mudah sekali bergerak lincah. Dengan gesit Alula menghindar. Air bekas mengepel itu tumpah namun sedikit pun tak mengenai Lula. Air kotor itu mengenai kepala direksi.
"Kiki!" bentak kepala direksi yang kebetulan lewat. Beliau sengaja berangkat lebih pagi juga untuk menyiapkan keperluan rapat siang nanti.
Seketika Kiki mengangkat tangan memohon ampun.
"Maafkan saya Pak, saya sungguh ceroboh!" ujar Kiki menahan takut.
"Ikut aku sekarang!" bentak kepala direksi yang terlihat naik pitam. Kiki pun mendapat peringatan. Pagi ini untuk mengganti kesalahannya, Kiki mengepel lantai seluruh kantor tanpa jeda.
__ADS_1
Bukannya jera, Kiki semakin dendam dengan Lula.
"Awas kamu Lula, kali ini kamu selamat!" Kiki menyorot tajam Lula yang sedang bergurau dengan Emi di kantin. Sementara dirinya masih melanjutkan hukuman.
"Ayo, makan!" ajak Emi.
"Kamu duluan saja." tolak Lula dengan halus.
"Kamu lagi diet?" Emi seolah penasaran dengan sahabatnya yang biasanya memesan makanan sepenuh meja.
"Bisa dibilang begitu." sahut Lula sambil bermain ponsel.
"Kamu itu sudah langsing, buat apa diet segala!" protes Emi.
"Hehehe, rahasia. Sudah, cepet lanjut makannya!"
Lula mendapat satu pesan masuk dari Kevin.
[Setelah pulang kerja, cepet pulang.]
Lula tak merespon, dan terkesan cuek.
Merasa pesannya tak dibalas, Kevin pun mengetik lagi.
[Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu]
Lula sama sekali tak tertarik dengan apa yang dipamerkan suaminya.
[Aku tak tertarik]
Satu balasan yang membuat Kevin berpikir ulang agar istrinya pulang sebelum magrib.
[Aku nggak enak badan, jadi aku pulang dulu]
Kevin akhirnya menyusun strategi yang berhasil membuat Lula luluh.
[Sudah minum obat?]
[Sudah tadi, Nabil membelikanku parasetamol.]
[Aku akan tiba di rumah sebelum pukul 17.00]
Lula menyimpan ponselnya di dalam tas.
Selesai menunggu Emi makan siang, Lula segera melanjutkan pekerjaan. Berharap bisa pulang lebih awal. Rencananya sepulang kerja ia ingin mampir ke salon Arjun.
"Arjun, maafkan kelakuan suamiku semalam." ujar Lula yang sedang mendapati Arjun sibuk mengecat rambut pelanggannya.
__ADS_1