
Seharian ini Lula dan Arjun berada di lapangan. Lula sangat pandai dan begitu mudah menerima pelajaran menyetir. Tentu Arjun sangat bersemangat sekali. Pernah muncul di benaknya, untuk apa Kevin membiarkan hal ini terjadi?
"Ah, itu tak masalah bagiku. Yang terpenting Lula bahagia. Itu sudah cukup." batin Arjun.
Menjelang sore mereka baru kembali ke apartemen.
"Terima kasih Arjun, menyetir ternyata sangat menyenangkan! Setelah aku benar-benar mahir, aku akan pergi ke mana pun dengan mobilku." terang Lula dengan begitu bahagian. Seakan lupa dengan masalah yang ada.
"Itu tak masalah. Baiklah. Kamu terlihat lelah, segera masuk dan beristirahatlah!" perintah Arjun sebelum ia berbalik.
Alula tersenyum dan hanya mengangguk. Saat Arjun berbalik Lula memanggil namanya.
"Ada apa lagi?" Arjun menoleh dan memperhatikan Lula yang sedang menunduk.
"Aku tahu, yang membuatmu melakukan ini adalah Kevin." ujar Lula setelah 2 menit diam.
"Iya, subuh tadi ia menelponku. Sudahlah, jangan dipikirkan! Dia memang pria yang sangat sibuk."
"Bukan itu yang aku maksudkan."
Arjun melangkah lebih dekat lagi. Memperhatikan sahabatnya yang enggan untuk bicara lagi.
"Kamu ada masalah?" tanya Arjun setelah menangkap gelagat Lula yang ingin bercerita.
"Sebenarnya ada, tapi itu tidak terlalu penting. Baiklah. Kamu boleh pergi sekarang!" ia ingin bercerita masalah kehamilannya. Tapi, ia urungkan lagi.
Meski terkadang ia sangat terbuka perihal apa pun itu, dia bisa menyimpan rahasia untuk ini. Biarkan waktu yang menyampaikannya.
Arjun menyipitkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya. Ia berbalik dan segera menghilang dari pandangan.
Lula menghubungi Nabil ingin bertanya soal kepergian Kevin ke kota.
"Nabil, kamu tahu ke kota mana suamiku bertugas?" tanya Lula sedikit penasaran. Pasalnya, selama menikah baru kali ini ia ditinggal pergi ke kota.
"Hah, ke kota? Bahkan aku baru dengar darimu." sahut Nabil dengan ekspresi terkejut. Lantaran Kevin tak mengabarinya setelah semalam pergi.
"Bahkan kamu tak tahu kemana atasanmu pergi? Pekerjaan kamu ngapain saja sih!" gerutu Lula setengah berteriak.
__ADS_1
"Aku berada di rumah sakit sekarang, bahkan aku mengerjakan pekerjaan kantor di sini."
"Kamu sakit?"
"Bukan aku. Temannya sedang di rawat di sini."
Mendengar itu, Lula tersadar kalau suaminya sudah tak sedekat itu dengan mantan pacarnya. Nabil bisa menjadi bukti. Kemungkinan Kevin ke sana tidak sendiri, ada Nabil juga. Itu asumsi Lula yang membuat dia sedikit tenang sekarang.
Bersyukur suaminya semalam merobek map, apa jadinya jika suaminya menanda tangani surat cerai itu? Bisa jadi ia menjanda dalam keadaan hamil.
Lula mengakhiri panggilan dan segera masuk. Ia menuju dapur untuk membuat minuman untuk dirinya sendiri.
Sempat tadi ia berhenti di mini mart untuk membeli susu ibu hamil. Menyimpan susu bubuk itu ke dalam toples. Ia mengambil tiga sendok dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Lalu menghabiskan susu rasa coklat itu.
Ponsel suaminya sangat sulit dihubungi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera tidur karena sangat lelah belajar menyetir. Apalagi ia dalam keadaan hamil muda.
Sementara Kevin tengah berbaring di atas ranjang pasien. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Bibirnya juga kering. Akhir -akhir ini tensinya juga cepat naik.
Tubuhnya juga mudah lemas dan saat bernafas terlihat terengah-engah padahal hanya melakukan aktivitas fisik yang ringan. Tidak hanya itu, kepala nya juga merasa pusing yang muncul secara tiba-tiba dan disertai rasa tidak nyaman, nyeri, atau sesak di dada.
Kebetulan semua yang ia alami dalam keadaan tidak ada orang sama sekali. Baik di kantor mau pun di apartemen.
"Kamu memang tak pernah mendengarkan ucapanku. Padahal kamu tahu jantungmu sudah tidak sesempurna dulu." ujar dokter yang usianya sebaya dengan Kevin. Dia mengucapkan dengan acuh.
Kevin hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter yang memang ia abaikan.
"Urusan mati itu hanya Tuhan yang tahu. Tugasmu hanya merawat ku saja." Kevin tak begitu mempermasalahkan penyakitnya. Jika pun dia nanti harus meninggalkan dunia, hanya satu yang ingin ia minta. Mempunyai keturunan.
"Minum obat ini dan jangan sampai telat!" pesan dokter Shodiq sebelum pergi.
Kevin menerima resep obat dan menyimpannya di saku. Karena kesehatannya sedikit menurun ia berniat untuk rehat dari pekerjaan. Ia juga menonaktifkan ponselnya. Dokter Shodiq memberi pilihan agar dia menginap di rumah sakit. Jadi, selain dokter itu tidak ada yang tahu dimana dia sekarang.
Di sisi lain, Vivi sudah mulai bisa berjalan secara normal.
Malam ini ia mengundang Andho untuk makan malam bersama orang tua di rumah. Maria dan Gibran menyambutnya hangat.
"Semenjak putus dengan Kevin, Andho lah yang selama ini membantuku." ujar Vivi setelah selesai makan.
__ADS_1
Sebenarnya Andho sudah malas dengan keadaan ini. Tapi ia butuh suplai uang untuk keperluan pribadinya. Setelah menguras habis uang Vivi, ia berencana untuk mendekati Lula. Bahkan kalau bisa ia ingin membuat Kevin lenyap dari muka bumi. Dengan begitu ia mudah untuk mendapatkan Lula.
"Vivi, kita sudah kenal sejak kecil. Kamu tak perlu sungkan padaku." ujar Andho.
Maria dan Gibran menyetujui jika keduanya menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
"Kapan kamu akan melamar Vivi?" ujar Gibran hingga membuat Andho tersedak saat minum.
"Pa, biarkan mereka berpacaran dulu," Maria menyela ucapan suaminya. Sudah pasti Andho menolak, secara ia tahu putrinya masih sulit untuk melupakan mantan.
"Kan kalian sudah saling kenal sejak lama," ujar Gibran lagi yang terdengar memaksa.
Sebenarnya Gibran berniat melepaskan Vivi agar terbebas dari rasa tanggung jawab. Sebelum perusahaan yang ia kelola benar -benar bangkrut. Dia hanya memiliki sedikit tabungan dan pasti tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Vivi yang terlanjur terbiasa mewah.
Vivi dan Andho hanya saling diam dan melempar pandang.
"Pa," tegur Maria.
"Ya sudah, terserah kalian!"
"Secepatnya Om, saya akan melamar Vivi." ujar Andho seolah menyakinkan.
"Oh ya, Andho, dua hari lagi akan ada acara fashion Show, kamu bisa menemaniku kan?" Vivi mengubah topik pembicaraan.
"Tentu, aku senggang waktu itu." Mereka kemudian tak membicarakan lagi mengenai pertunangan atau pun pernikahan.
Andho belum tahu keluarga Gibran dalam ambang kehancuran. Setelah tahu, mungkinkah ia tetap mempertahankan Vivi?
Tentu tidak. Selagi uang yang memimpin ia akan terus mengejarnya. Bila sudah tak bisa menghasilkan uang, buat apa dipertahankan?
Usaha mendekati Vivi kembali berhasil, ia akan terus pepet Vivi hingga mengeluarkan banyak uang. Ia tak mau rugi sendiri. Butuh upah besar untuk melakukan pekerjaan yang ringan.
Pasangan muda itu terlihat serius mengobrol di teras depan.
"Kevin berada di rumah sakit sekarang." ternyata Andho tahu akan hal itu.
"Dia sakit?" Vivi terkejut mendengar itu.
__ADS_1
Andho hanya mengangguk.