Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 60


__ADS_3

Gibran tersadar dari pingsannya tapi ia tak bisa menggerakkan semua tubuhnya. Kaki serta tangan mendadak kaku, rasanya seperti mati separuh. Kepalanya juga sedikit pusing.


Maria yang sudah dua hari ini menunggu di rumah sakit merasa lega dengan keadaan suaminya yang sudah siuman, "Papa sudah sadar?"


Gibran mengedarkan pandang mengamati keadaan di sekitar, dengan suara lemah dan bergetar, "Aku di mana, Ma?"


Maria mengusap lembut bahunya dan menjawab, "Papa sekarang sedang dirawat di rumah sakit."


Gibran mencoba untuk bangkit tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Ia merasa panik dan bertanya pada istrinya yang terlihat sedih. "Ma, tubuh aku kenapa sulit sekali untuk digerakkan?"


Maria menarik nafasnya dan membuangnya pelan, "Papa terkena stroke."


Gibran sangat kaget, "Apa Ma, Stroke?" Dia menangis meronta. Jeritan suara nya tak akan mampu mengubah apa pun.


Harta yang sudah lama ia kumpulkan tak akan mampu untuk menolongnya. Percuma, mungkin satu kata itu yang cocok untuknya.


Maria tak tega melihat keadan suaminya saat ini.


Gibran menguras air matanya sampai tak keluar lagi, kemudian dia berteriak. "Aku tak mau begini Ma, bantu aku!"


Maria ikut menangis, lalu menghibur. "Sudahlah Pa, yang sabar, mungkin ini adalah cobaan untuk kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi."


Setelah suaminya membaik dan menerima keadaan, Maria berusaha menceritakan semua kejadian sebelum dirinya pingsan. Gibran menangis meratapi nasib buruk yang menimpa nya.


Tak lama kemudian, dokter yang merawatnya datang. Mengecek keadaan tubuh dan tekanan darahnya.


Meski Gibran bertanya tentang kebenaran keadaan dirinya yang sekarang, jawaban dokter sama dengan perkataan Maria. Terkena stroke.


Mau bagaimana lagi keadaan sudah berputar seperti roda yang tidak selalu berada di atas. Melihat keadaan dirinya, Gibran mendadak ingat dengan putri sulungnya.


Merasa Gibran sedang berpikir, Maria penasaran dan bertanya, "Apa yang sedang Papa pikir kan?"


Kemudian Gibran menceritakan masa lalunya.


Dulu sebelum menikah dengan Maria, dia sudah menikah dengan wanita desa dan memiliki satu anak perempuan yang usianya sebaya dengan Vivi.

__ADS_1


Maria menegang mendengar cerita suaminya, "Jadi Vivi punya seorang kakak?" Dan tanpa disadari air matanya pun jatuh. Merasa kalau cinta suaminya bukan hanya untuk dirinya seorang, tapi juga telah ada pada wanita lain.


Gibran menyesal telah meninggalkan putri nya dan ia merasa mendapatkan karma dari sikap nya. "Aku ingin bertemu dengan putriku. Aku ingin meminta maaf padanya. Dengan begitu rasa sakit yang aku derita ini bisa sedikit terobati."


Maria menggeleng tak percaya, "Tapi Pa, aku mau mencari ke mana putri mu itu?"


Gibran mendesah, "Aku juga tak memiliki fotonya. Dia bertubuh gemuk dan bernama Alula Farhah. Ada nama belakangku di sana. Tolong aku Maria, siapa lagi yang peduli dengan hidupku jika itu bukan kamu. Temukan dia demi aku!"


Maria ingat pada uang yang suaminya telah berikan padanya, uang itu hilang akibat terjebak arisan bodong. Bahkan, Gibran tak memarahinya. Mengingat itu membuat Maria menyanggupi permintaan suaminya untuk mencari Alula. "Baik. Jangan pikirkan soal itu, yang terpenting Papa segera sembuh dan keluar dari rumah sakit ini!"


Kemudian Maria mengangkat tangan dan mengusap lembut punggung tangan suaminya, "Aku akan minta bantuan Vivi."


Mendengar itu Gibran merasa lebih tenang, "Iya Ma, papa juga tidak suka dengan bau rumah sakit."


***


Vivi merasa bosan di kamar terus, ia ingin keluar untuk melihat -lihat rumah Nabil. Nabil tinggal sendiri sedangkan orang tuanya tinggal di Bandung.


Vivi mengitari rumah dan melihat -lihat, berharap menemukan makanan di dapur. Setiba di sana ia tak mendapati makanan apapun, bahkan isi kulkas kosong.


Suara seseorang mengagetkan dia ketika membuka kulkas. "Vivi, maaf aku lupa kalau kamu sedang berada di rumahku. Aku tinggal sendiri jadi jarang masak dan bahkan aku sama sekali tak pernah menyentuh dapur." ujar Nabil yang pulang terlebih dahulu saat jam istirahat kantor.


Nabil terlalu peka dengan mantan pacar sahabatnya ini. Ia membawakan sebungkus makanan kesukaannya, nasi kebuli.


Nabil menuntun Vivi menuju meja makan, memperlihatkan bungkusan makanan, "Ayo sarapan, kamu pasti lapar.


Vivi menampakkan senyum dan terbatuk canggung, "Iya,"


Nabil mengeluarkan piring dan meletakkan bungkusan itu di atasnya, "Aku akan kembali ke kantor. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku!"


Vivi mengangguk patuh.


Nabil berbalik dan langkahnya tertahan ketika Vivi memanggilnya, "Nabil, eum, terima kasih!"


Nabil melengkungkan senyum, "Santai saja, anggap ini rumah kamu sendiri!"

__ADS_1


Setelah itu Nabil pergi.


Di sisi lain. Alula segera menyelesaikan syutingnya dan ingin pergi ke suatu tempat.


Menimbang dari saran Arjun tadi, Alula dengan mobil sport merahnya sudah tiba di rumah sakit.


Bertanya pada bagian administrasi dengan sopan, "Pasien atas nama Gibran Farhah ada di kamar berapa ya,"


Seorang wanita yang sebaya usia dengannya membuka catatan, "Mawar nomor 4, lurus saja ke kanan lalu belok kiri."


Alula bersenandung, "Terima kasih!"


Dengan perasaan sedikit mendebarkan Alula memberanikan diri untuk masuk.


"Selamat pagi!" sapanya terdengar memaksa.


"Pagi!" Maria yang tengah merapikan bekas makanan menoleh, seketika matanya membulat melihat kedatangan tamu tak diundang. Sementara Gibran sudah tertidur setelah mengkonsumsi obat.


"Kamu wanita kemarin yang membeli mobil sport merah kan?" Maria mengernyitkan dahi.


Alula tersenyum getir, "Iya,"


Sebelum Maria bertanya untuk apa dia datang ke sini, Alula sudah mempersiapkan serangan yang ia khususnya pada wanita paruh baya di depannya itu. Wanita yang telah merebut ayah nya, hingga melupakan anak dan istri.


"Aku ke sini sekedar melihat keadan sepasang suami istri yang mengenaskan hidupnya."


Maria berpikir lalu berkata dengan kasar, "Aku tidak mengenalmu. Tapi kamu begitu sombong sekali, jika keadaan ini berputar padamu, maka kamu akan merasakan dimana kamu berada pada titik akhir hidupmu!"


Alula tertawa mengejek, "Memang kita tak saling mengenal dengan baik, setidaknya aku sudah merasa lega dengan semua ini."


"Merasa lega? Heh, dasar perempuan gila! Pergi kamu dari sini!" usir Maria.


Alula gedeg -gedeg saja sambil melipat tangan di depan dada. "Selamat atas kehidupan kalian!"


Kemudian tanpa menunggu reaksi Maria yang tersulut emosi, Alula segera pergi.

__ADS_1


Alula melangkah dengan rasa sedikit sesak di hati. Meski baru bertemu, Alula sudah bisa menebak watak dari ibu tirinya, terlihat bukan dari kalangan wanita yang terhormat, dan pemarah.


Lantas Alula meninggalkan rumah sakit menuju kantor suaminya.


__ADS_2