
Matahari pagi masih enggan menampakkan sinarnya, namum Alula sudah sibuk dengan urusan dapur. Kali ini dia tak membuat menu nasi goreng yang menjadi menu wajib untuk sarapan. Capjai dan telur mata sapi yang menjadi pilihan gadis itu. Selesai membuat sarapan ia tak lekas mandi melainkan menuju pintu kamar suaminya. Pertama, berdehem untuk menetralkan suaranya. Kedua, mengetuk pintu hingga tiga kali.
"Mas, Mas Kevin!" panggil Lula sambil mengetuk pintu. Karena tak ada sahutan, ia pikir Kevin masih tidur dan ia pun membalikkan badan membiarkan suaminya itu bangun sendiri. Baru saja ia berbalik, pintu itu terbuka lebar. Sebuah senyum manis terpampang nyata menghiasi wajah Kevin yang tampannya tak akan hilang dimakan usia.
"Lula!" seru Kevin bahagia, karena kali pertama ia dibangunkan sang istri dengan gelar barunya, sebenarnya ia sudah lama bangun, sudah mandi dan rapi tapi masih enggan untuk keluar kamar.
Lula berbalik dan mendapati wajah Kevin yang sumringah.
"Kenapa kamu senyum -senyum begitu?" Lula mengerutkan kedua alisnya, seakan penuh tanya. Melihat ekspresi sang suami, Lula berpikir ingin membalas sapaan dengan sebuah pelukan, tentu hal itu tidaklah salah, namun karena egonya yang begitu tinggi dan takut direndahkan ia bersikap biasa saja.
Ingin rasanya Kevin menyapa gadisnya dengan sebuah pelukan, hal yang sama dalam benak Lula juga, tapi ia ragu untuk melakukan itu. Takut jika Lula bersikap dingin lagi.
"Tidak, tidak ada." Kevin menggelengkan kepala cepat. Menyimpan semua angan dan berharap dikemudian hari menjadi nyata.
"Aneh!" Lula memutar malas bola matanya.
"Kenapa kamu memanggilku?"
"Jangan geer, sarapan sudah siap! Sengaja aku memanggilmu untuk sekedar memberi tahu, mumpung makanan masih hangat. Bergegaslah!" ujar Lula sedikit jutek.
"Baik. Kita sarapan bareng yuk!" ajak Kevin yang berjalan mendahului Lula.
"Aku belum lapar." tolaknya sambil menggulung rambut bersiap akan mandi.
Mendapati leher jenjang dan mulus itu, benda di balik kain segitiga menegang. Kevin menelan saliva seraya otaknya berhalusinasi bagaimana bisa menyantap hidangan yang begitu menggoda itu.
"Aku nggak mau sarapan jika nggak kamu temani." satu kalimat yang berhasil ia susun untuk memaksa Lula. Pikirannya kembali ia simpan, sebisa mungkin menahan dan bisa mendapatkan apa yang dinginkan secara suka rela. Ia tak ingin memaksa, biarlah berjalan mengikuti waktu.
"Cih, mulai!" Lula berdecak.
"Ayo! Sia-sia dong kalau kamu masak tapi nggak ada yang makan. " Kevin menarik paksa tangan isterinya dan berhasil menggiring dia ke meja makan.
"Justru itu makanya kamu yang makan,"
"Kan aku sudah bilang padamu, temani aku, ya!"
Lula tampak berpikir sejenak, "Baiklah!"
Mereka berdua sarapan dengan nikmat.
"Enak, besok aku mau kamu buatkan sarapan seperti ini lagi!"
"Itu semua tak gratis."
"Apa? Jadi sekarang jika aku meminta sesuatu padamu harus bayar, begitu?" Kevin mendelik.
"Ya nggak gitu juga, karena kamu pengangguran tak salahnya jika kamu membereskan perabot seperti mencuci piring bekas punyamu." Lula menunjuk lantai dan piring kotor.
"Siap, Tuan Putri!" sahutan Kevin dengan sikap hormat layaknya pengibaran bendera.
"Jangan lebai, aku tak mudah terpengaruh!" Lula beranjak pergi untuk bersiap ke lokasi syuting.
__ADS_1
Kevin tak keberatan jika ia melakukan pekerjaan rumah tangga, harga dirinya ia anggap bukan hancur tapi lebih tepatnya ini sebuah pengorbanan untuk melunakkan hati sang Permadani.
Lula kini sudah berada di lokasi syuting, sepanjang perjalanan ia ada pengawal sejumlah empat orang untuk menjaganya kalau ada preman datang lagi.
"Lula, akhirnya kamu datang juga!" Arjun menghampiri Lula, ekspresi wajahnya begitu senang.
"Tentu, bagaimana dengan adegan yang kemarin?"
Arjun dan Lula sibuk berbincang seputar pekerjaan sebelum mereka disibukkan dengan kegiatan syuting.
Sementara Kevin sudah siap dengan aktifitas nya yang baru. Kegiatan yang pertama ia lakukan adalah membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci.
"Ini mudah Kevin, kamu pasti bisa!" ujarnya menyemangati diri sendiri.
Selesai dengan urusan dapur ia menyapu dan mengepel lantai. Teringat dengan kaos putih yang Alula rendam, ia bergegas akan mencucinya. Pukul tiga sore, Kevin baru beristirahat. Semua pekerjaan terasa melelahkan. Namun ia tak mengeluh, tentu demi apa? Demi sang Permadani.
Lula kini sudah ada di depan apartemen, sebelum masuk ia berpesan pada pengawalnya untuk tetap waspada jika ada orang asing yang ingin mendekatinya.
Matanya berkeliling mengamati keadaan ruangan sekitar. Beberapa detik, manik matanya tertuju pada seorang pria yang sedang terlelap di atas sofa.
"Mas Kevin, ternyata kamu bisa diandalkan. Padahal tadi pagi aku tak serius dengan ucapanku." Lula sengaja tak membangun Kevin, ia bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri setelah itu menyiapkan makan malam. Alangkah terkejutnya dia saat memasuki dapur.
"Mas Kevin ...!" Lula menjerit geram.
Mendengar lengkingan istrinya, Kevin terperanjat dan berlari ke sumber suara.
"Ada apa Lula?" Kevin yang baru bangun, kaget jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Tadi sabun cuci piring nya habis, jadi aku pakai deterjen aja, kan sama-sama sabun." sahut Kevin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Pantas saja, ada butiran -butiran halus." Lula memaklumi kalau suaminya tak pernah mencuci piring. Padahal bagi perempuan ini adalah hal yang sangat mudah. Anak kecil saja bisa.
Lula mengambil semua piring dan mencucinya kembali. Kevin memperhatikan dengan seksama.
"Aku beli kan nasi bungkus untuk kita makan malam nanti, aku ingin mengangkat jemuran dulu! Lula ke belakang mengambil semua pakaian yang kering. Saat berjalan dia baru sadar kalau lantai apartemen sedikit berbeda, lebih bersih dari biasanya. Karena sibuk syuting Lula jarang sekali mengepel lantai. Seharusnya Kevin menyuruh seseorang sekedar untuk bersih-bersih, pernah Alula menyarankan seperti itu, tapi dia menolak entah apa alasannya.
Alula menghela nafas panjang, ternyata jemuran sudah tidak ada. Dia kembali dan melihat tumpukan baju sudah dilipat rapi di atas keranjang.
"Mas Kevin, apa semua ini kamu yang melakukannya?" tanya Lula saat Kevin menghampirinya.
"I-iya, tadi aku ingin mengatakan kalau jemuran sudah ku angkat tapi kamu keburu pergi," terang Kevin seraya menggaruk kepalanya untuk menghilangkan grogi, ia takut kalau pekerjaannya tak memuaskan istrinya.
"Kamu tak perlu melakukan ini, Mas! Aku bisa panggil pembantu jika kamu izinkan."
"Tidak perlu Lula, lagi pula aku ini seorang pria yang hebat. Jangan kamu kira aku seorang anak mama yang tak tahu pekerjaan. Justru aku sebenarnya bisa apa saja kecuali memasak. He he he...."
"Wah, hebat kamu Mas! Seorang CEO yang bisa apa saja!" puji Lula.
"Kamu keliru Lula, sekarang aku bukan CEO lagi." Kevin terdengar pasrah dan menundukkan kepala.
Alula mendekat mencoba menghibur suaminya. "Kamu bisa kembali."
__ADS_1
"Itu terlalu berisiko, aku akan kehilangan kamu. Dan itu tidak akan ku biarkan terjadi."
Alula mengusap bahu Kevin sambil tersenyum tipis. "Terima kasih sudah melakukan sesuatu yang tak pernah aku duga. Aku sudah membatalkan gugatan cerai ke pengadilan."
"Benarkah? Alula, jadi kamu bisa menerima ku kembali?" Kevin mengambil kedua tangan Lula membawa dalam dekapan dan mengecupnya.
Alula tak menyahut hanya mengangguk.
"Sebagai imbalan atas kebaikanmu, malam ini kamu boleh tidur denganku."
"Sungguh?" Kevin tiga kali lipat bahagianya.
Sementara Vivi sedang sibuk menghubungi seseorang. Dia kini berada di ruangan Kevin. Duduk di kursi kebesaran sambil memainkan rambut. Setelah sambungan terhubung, dia menurunkan kaki dati atas meja dan berjalan menatap jendela.
"Hallo, Andho, bagaimana kabarmu?"
"Hallo, Vivi, ada tujuan apa kamu menghubungi nomorku. Bukankah selama ini kamu sangat sibuk dengan kekasihmu?" Andho yang sedang sibuk di counter ternyata belum tahu kabar yang sedang gencar saat ini.
"Kamu terlalu serius bekerja hingga tak tahu kabar dunia. Ada yang ingin aku bicarakan. Kita harus bertemu!"
"Tidak bisa. Katakan saja sekarang, apa maumu!" Terdengar Andho tak suka jika dihubungi.
"Hei, tak bisa kah kamu bersikap lembut padaku? Aku memberikan tawaran yang bagus. Temui aku di cafe RHUM pukul 17.00 nanti."
Tanda mendengar sahutan dari Andho, Vivi memutus sambungan ponselnya.
Andho, Nabil dan Kevin adalah tiga sahabat sejak kuliah dulu. Hubungan ketiganya tak pernah renggang meski Andho menyimpan dendam perkara kekasih. Andho menyimpan rasa pada Vivi dan pernah mengungkapkan cinta juga. Tapi Vivi menolak lantaran sudah berpacaran dengan Kevin. Merasa Vivi dalam posisi terancam hubungan putus dengan Kevin dia berencana menindaklanjuti dengan perebutan kekuasaan.
Andho sangat pendiam, sehingga Kevin tak tahu kalau dia menyukai Vivi.
Andho akhirnya menerima tawaran Vivi, sesuai jadwal dan tempat yang ditentukan dia menemui Vivi.
"Katakan, apa maumu!" Andho masih bersikap dingin pada Vivi sejak cinta nya ditolak.
"Tanpa sepersetujuan ku, Kevin telah memutuskanku." ucapan Vivi membuat Andho sedikit melunak, masih ada rasa ternyata.
Andho tak menyahut, diam menunggu Vivi bercerita.
"Dia sudah menikah diam-diam. Aku ingin menghancurkan pernikahannya. Kamu bisa membantuku?"
"Apa imbalan yang akan kamu berikan padaku?"
"Apa pun yang kamu minta, asalkan kamu berhasil merebut istri nya demi aku."
Andho membuang kasar nafasnya lalu menyunggingkan senyum.
"Temani aku malam ini di hotel."
"Kamu gila!"
"Terserah, kamu bisa cari orang lain untuk melakukan tugas ini!" Andho hendak beranjak dengan cepat Vivi mencegahnya.
__ADS_1
"Baik. Lakukan tugasmu dengan baik setelah ini!"