Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 55


__ADS_3

Minggu pagi, Alula baru terbangun setelah mendengar alarm di ponselnya. Ia menguap lebar dan mengingat semalam mulai tidur sekitar pukul 2 pagi. Karena sedikit tidur membuat dia merasakan pusing di kepalanya. Segera bangkit untuk membersihkan diri dan membuat sarapan.


Susu hangat sudah siap dan mampu mengurangi rasa mual di pagi hari. Ia meminum segelas susu sampai habis tak tersisa. Alula juga menyiapkan beberapa cemilan untuk mengurangi rasa bosan dan kesepian.


Setelah selesai sarapan ia mengecek ponselnya. Nihil, tak satu pun panggilannya terjawab oleh suaminya. Lula mendesah dan menyandarkan kepalanya di sofa. Membayangkan saja terasa sakit apalagi mengetahui yang sebenarnya. Pernikahannya tak semanis yang ia inginkan.


Lula memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas berniat menginap di rumah mertuanya, meski ada Satria yang tak suka dengannya, ia menepis prasangka itu dan segera mengambil kunci mobil. Ia benar -benar suntuk dan ingin punya teman bicara. Mengemudi sendiri untuk pertama kali mungkin sangat mendebarkan, tapi Lula berhasil melakukannya hingga sampai di rumah mertuanya.


Santi menyambut kedatangannya dengan senang. Apalagi Viona sangat merindukan kakak iparnya itu. Viona menutup lembar buku kerjanya dan berlari menghampiri iparnya. Meski hari libur, gadis seusianya sudah pasti pergi ke mall atau ke tempat lain, ini dia malah sibuk dengan buku tugas nya. Kebetulan Satria sedang tak ada di rumah jadi Alula tak perlu merasa canggung.


Santi sangat kaget dicampur senang dengan berita kehamilan menantu kesayangannya. "Akhirnya, kamu hamil dan akan menjadi seorang ibu. Selamat Lula, mama sangat bahagia mendengarnya!" Santi memeluk dan mencium pucuk kepala. Begitu Alula datang langsung digandeng mertuanya masuk menuju ruang tamu, dan duduk di kursi yang empuk.


Lula tersenyum, kasih sayang mertuanya mampu mengobati rasa sakit di hati.


"Wah, Mbak Lula hamil! Aku bakal jadi tante -tante nih!" seru Viona tak kalah hebohnya. Karena jarang keluar rumah dan tak memiliki banyak teman kehadiran Lula membuatnya sangat terhibur.


"Sudah berapa bulan, Sayang?" Santi mengusap rambut Lula yang panjang.


"4 minggu, Ma." Alula menunjuk empat jarinya.


"Usia di awal kehamilan sangat rentan, kamu jaga kondisi baik -baik dan jangan mudah capek ya. " pesan Santi.


"Iya , Ma, aku juga rajin minum susu kok." ujar Lula dengan muka masam.


"Kalau di pagi hari mual-mual itu wajar Sayang, dan kalau bisa kamu cuti syuting saja!" saran Santi.


Santi melihat menantu kesayangannya seakan tak senang dengan kehamilannya. Bukannya menyahut Lula menundukkan kepala dan memainkan jari - jemari nya.


"Kenapa dengan wajahmu?" Santi mengangkat dagunya dan menatap wajahnya.


"Enggak kok, aku cuman khawatir dengan mas Kevin. Sudah empat hari ini dia tak menghubungi ku, katanya ada tugas di luar kota." Alula tak menceritakan soal fashion show kemarin. Sebisa mungkin ia menyembunyikan tentang hubungan Kevin dengan wanita misterius itu.


"Coba nanti mama yang akan bicara dengannya, sekarang kamu istirahat dulu di kamar,"


"Viona temeni ya Kak!"

__ADS_1


"Iya,"


"Ayo!"


Sementara Kevin terbangun dengan sejuta rasa bersalah. Sebisa mungkin dia menghilangkan rasa cinta semakin dia merasakan sakit. Dia bingung harus berbuat apa. Nama Alula kini sudah melekat di dasar hatinya, jadi tidak mudah melepas nama itu. Ia segera bangkit dan bersiap.


Selesai membersihkan diri, terdengar panggilan masuk dari ponselnya yang ia letakkan di atas kasur. Saat ia melihat siapa yang menghubunginya, tertera nama Santi di layar ponselnya.


Kevin mengangkat panggilan itu. Santi meminta Kevin untuk segera pulang, ada kabar gembira yang akan disampaikannya.


Panggilan telepon berakhir, Kevin tak merasa curiga dengan permintaan Santi.


Empat puluh lima menit lebih lama sampai dari pada waktu biasanya, karena ini adalah hari libur. Kevin mematikan mesin mobil lalu membuka pintu. Langkahnya terlihat lesu dan tak ada gairah sama sekali.


Orang yang pertama kali ia lihat saat masuk ke dalam rumah adalah Lula.


"Lu-la!" Kevin terperanjat seolah ia belum siap untuk bertemu.


"Mas Kevin, akhirnya kamu pulang. Kita harus bicara!" serang Lula sudah tak sabar lagi.


Kemudian Santi melihat mereka berdua seperti sedang ada masalah. Ia segera menghampiri keduanya.


"Kevin, bagaimana kabar kamu!" sapa Santi yang langsung memeluk putranya.


"Ma-ma, kabar Kevin baik. Mama sendiri bagaimana?" Kevin memaksakan senyum yang akhir-akhir ini sudah jarang ia perlihatkan.


"Luar biasa baiknya!" Santi melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Kevin. "Akhirnya mama akan menjadi seorang nenek. Kamu tahu, mama sangat bahagia sekali! Untuk merayakan hari yang begitu bahagia ini, mama sudah meminta bibi untuk memasak menu spesial malam nanti."


"Seorang nenek?" Kevin menautkan kedua alisnya dan berpikir kalau mamanya menjadi nenek berarti dirinya akan menjadi ... itu artinya Lula?


Alula terlihat malu dan menundukkan kepala.


Kevin memindai pandangannya ke arah istrinya yang menunduk.


"Iya, Lula hamil. Kamu akan menjadi seorang ayah." ujar Santi. Santi kemudian meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Mata Kevin berbinar dan keceriaan seakan datang menerpa hidupnya lagi. Ia melupakan sejenak penyakitnya. Tangannya berpindah memeluk Lula.


"Apakah aku bermimpi?"


Alula tersenyum dan melepas pelukannya, "Tidak, kamu tidak bermimpi Mas, aku hamil anak kamu."


Kevin kembali memeluk istrinya. Mengecup pucuk kepalanya. Mendengar kabar yang begitu menggembirakan. Perlahan Kevin melepaskan pelukannya. Wajahnya mendadak muram.


"Kenapa Mas, kamu tak senang dengan kehadiran calon bayi kita?"


"Bukan, bukan itu, aku sangat senang mendengar berita ini."


"Lalu, mengapa wajahmu mendadak sedih?"


Kevin bingung mau mengatakan apa, kemudian dia jujur mengenai wanita saat ada di fashion show waktu itu. Wanita itu adalah seperti saudara baginya, dia baru pulang dari luar negeri dan ingin menyaksikan acara tersebut.


"Lalu, mengapa kamu menghindari ku?"


"Karena aku belum siap bertemu denganmu." Kevin menundukkan kepala. Suaranya terdengar melemah.


"Belum siap kenapa?"


"Sudahlah, Sayang, bisa tidak kita membahas hal lain saja?"


Alula mengangguk dan percaya.


"Apa kamu sudah melakukan USG?" jika tahu Lula hamil, Kevin pasti mengantar untuk periksa ke dokter. Tapi ia melewatkan fase itu.


"Sudah," Alula mengangguk, hatinya mulai lega dan ketenangan batin ia dapatkan juga.


"Bagaimana kata dokter?" Kevin mengusap perut Lula yang masih rata.


"Sehat Mas," Lula memegang tangan Kevin di atas perut dan mengelus nya.


"Aku senang mendengarnya. Jaga anak kita selagi aku tak ada." Kevin berpindah tangan meraih kedua tangan istrinya,membawanya dalam dekapan dan mengecup kedua punggung tangannya.

__ADS_1


"Loh, emang Mas Kevin mau pergi lagi?" Lula mengernyitkan dahi, berpikir baru bertemu sejenak masa sudah mau pergi lagi?


__ADS_2