
"Ayah?" Gumam Lula dalam hati saat tahu wajah pria paruh baya membuka pintu di sebelah kemudi.
"Cepat!" Sentak pria berkumis itu hingga membuat Lula sadar dari lamunan. Lula masuk dan duduk disamping pria yang ia sebut sebagai ayah barusan.
Mobil hitam itu segera menghilang dari daerah yang rawan tindakan kriminal menuju jalan raya.
"Terima kasih Tuan, Anda telah menyelamatkan kehormatan saya!" ujar Lula memulai percakapan. Sesekali Lula menelisik wajah pria yang begitu familiar di otak nya.
"Ya, kamu beruntung bisa bertemu denganku. Jangan khawatir aku orang yang baik! Aku juga memiliki putri seusia denganmu. Berbuat baik agar berimbas pada putriku jika terjadi sesuatu hal yang sama denganmu." ujar pria berkumis itu santai seraya mengingat anaknya yang sedang dilanda duka karena putus cinta.
Dari gaya bicaranya, Lula ingat betul kalau pria ini adalah seseorang yang sangat ia benci. Gibran Farhah.
"Cih, beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu, ayah. Kau lupa dengan anak gadismu yang satu ini? Lebih baik aku berpura -pura tak mengenal ayah untuk mengorek lebih dalam keluarganya yang lebih ia cintai ketimbang aku." batin Lula.
"Saya pernah mendapatkan nasehat dari seorang guru senior, bahwa ketika berbuat baik kepada seseorang jangan sekali-kali berharap akan mendapatkan kebaikan yang sama dari orang yang bersangkutan. Peringatan itu diberikan, masih dari seorang guru, adalah agar kita tidak kecewa. Diingatkan bahwa sedikit sekali orang yang telah menerima kebaikan mampu mengingat kebaikan yang telah diterimanya itu. Kebanyakan karena mereka lupa." ujar Lula panjang lebar yang membuat Gibran tersinggung.
"Lancang sekali gadis ini!" batin Gibran tak suka namun sebagai orang tua agar disegani ia bersikap santai padahal dia acuh.
"Yah, kamu benar. Sepertinya kamu bukan gadis biasa, gaya berbicara kamu menunjukkan kamu dari kalangan orang elit. " sanjung Gibran.
Alula sedikit tertawa renyah.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang wanita biasa juga." sanggah Lula.
"Kamu tidak salah, buat apa meminta maaf padaku?" Gibran menghentikan mobilnya karena lampu merah.
Alula tersenyum sambil berpikir kalau ayah nya ini perlu diberi pelajaran.
__ADS_1
"Anda bilang tadi kalau Anda memiliki seorang putri?" Gibran mengangguk lalu Alula melanjutkan bicaranya.
"Pasti putri Anda juga sangat baik, bisa bersekolah tinggi tentunya. Beruntung sekali dia memiliki orang tua yang mapan seperti Anda."
"Aku mapan seperti yang kamu lihat ini tidaklah mudah, aku harus bekerja keras untuk bertahan hidup dan demi sebuah keluarga kecil. Kerja siang malam, bahkan tidak tidur sama sekali aku juga pernah." ujar Gibran dengan sombong nya, yang tanpa sengaja ucapannya membuat sesak di hati Lula. Bagaimana tidak, keluarga kecil yang mana yang ia maksudkan. Bahkan saat ibunya meninggal ia tak perduli dan tak datang untuk melayat.
"Aku juga keluarga kecilmu , ayah," batin Lula miris.
Setelah lampu kembali hijau, Gibran melajukan mobilnya. Alula ingin rasanya memberikan kritikan pedas tentang masa lalu ayah nya. Kalau dia seorang yang pemabuk dan pemalas. Setiap hari menadahkan tangan untuk meminta uang pada ibunya. Kerja keras mana yang ia maksudkan?
"Anda benar, sebuah usaha keras tidak bisa kita dapatkan kalau bukan dimulai dari nol. Dimulai dari usaha yang kecil yang kita lakukan tanpa harus meminta -minta pada orang lain." mendengar penuturan Lula, Gibran sedikit emosi dan melakukan pengereman yang mendadak.
"Ada apa Tuan?" tanya Lula yang ternyata lebih peka, ia tahu kalau ayah nya tersinggung.
"Tidak. Tidak ada, tadi aku hampir menabrak kucing yang mau menyeberang." ujar Gibran beralasan.
Untuk menghilangkan kecurigaan Lula akan dirinya yang tersinggung, setelah melajukan mobil, Gibran kembali menyombongkan diri.
"Kamu pun bisa menjadi orang yang sukses jika meniru cara kerjaku."
"Terima kasih atas saran Tuan!
Kita sering mendengar ungkapan 'sedikit-sedikit, nanti jadi bukit'. Hal-hal besar tidak selalu lahir dari pekerjaan besar. Hal besar juga bisa lahir dari hal-hal kecil atau terlihat sepele, tapi lambat-laun menjadi besar. Yah begitu lah.., memang, kita sering hanya melihat segala sesuatu dari 'hasil', tapi kita melupakan bahwa yang besar bisa saja lahir dari 'proses' penumpukan yang kecil-kecil atau dianggap sepele atau dianggap tetik bengik. Tumpukan pasir yang dulunya hanya butir-butir kecil bisa menjadi gunung pasir, atau bahkan padang pasir luas." Lula memberikan serangan balik. Untuk sementara waktu Gibran masih diam.
"Hal itu juga berlaku dalam kehidupan kita. Kita sering menyepelekan hal-hal kecil, padahal hal yang kecil itu bernilai, bahkan jika berakumulasi, hal-hal itu menjadi besar. Sadarkah kita bahwa segelas air putih akan tampak tidak berarti jika disandingkan dengan minuman mewah lain, tapi air putih bisa jadi sangat berarti bagi seseorang yang sangat kehausan di tengah terik matahari." sambung Lula.
"Kamu sudah keterlaluan!" Gibran menghentikan mobilnya dengan mendadak.
__ADS_1
"Aku sudah berbuat baik menolong kamu dari para bajingan itu. Tapi apa balasan yang kamu berikan? Sebuah omong kosong yang tak henti -hentinya!" Sentak Gibran karena tersulut dengan ucapan Alula.
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya meluruskan! Perbuatan baik yang kecil sering kita anggap tidak bernilai. Membuang duri dari tengah jalan menjadi tampak sepele, tapi jika tidak disingkirkan, akan ada orang yang terluka."
"Orang yang telah diberi kebaikan seharusnya akan membalas kebaikan pula. Namun yang terjadi adalah tidak selalu demikian. Banyak orang yang berbuat baik, tetapi kemudian justru dibalas dengan keburukan atau setidaknya kebaikan itu dilupakan begitu saja. Saya sangat berterima kasih sekali atas tumpangan yang Anda berikan. Jujur tidak ada maksud saya untuk memperolok Tuan." setelah itu Alula diam.
Sementara Gibran menarik nafas dalam-dalam sebelum membuangnya pelan. Bertemu orang baru tapi sudah berhasil membuatnya sadar dari mana ia berasal dulu. Gibran menetralkan suasana yang canggung ini.
"Bagaimana bisa kamu berada di tempat ini?" sambungnya kemudian. Lula tersentak dari lamunan.
"Saya sedang ada masalah dengan suami saya, jadi saya memilih sendiri untuk sementara waktu dan tanpa sadar saya menyasar sampai ke tempat tadi." terangnya, mengumbar masalah untuk sedikit meluapkan rasa sesak yang mungkin jika disampaikan akan merasa lebih baik.
"Pasangan muda terkadang sangat labil dalam mengambil keputusan. Pikirkan dengan kepala dingin dalam bertindak, jangan gegabah jika kamu dan suamimu saling mencintai!" ucapan pria bernama Gibran ini ada benarnya bagi Lula. Merasa mendapat nasehat Lula enggan bicara lagi.
"Iya," sahut Lula singkat tanpa membantah.
Gibran membuka pintu mobil.
"Ku rasa para bajingan itu sudah tidak bisa mengejar kamu lagi. Kamu bisa turun sekarang!" ujar Gibran berubah dingin.
Alula yang merasa lancang bicara tadi sebelum turun mengangguk hormat.
"Siapakah nama Tuan? Jika bertemu dikemudian hari suatu saat nanti, saya bisa menyapa Tuan."
"Gibran Farhah." sahut pria yang ternyata adalah ayahnya yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkan dia dan ibunya tanpa rasa tanggung jawab.
Mendengar nama itu seolah Alula membuka luka lama.
__ADS_1