
Malam semakin larut, Lula belum bisa memejamkan mata. Kakinya terasa linu dan masih sedikit perih. Kemudian dia keluar kamar sekedar ingin menghilangkan kejenuhan. Membuka kulkas dan menemukan berbagai varian snack di sana. Air liurnya hampir saja menetes tak bisa menahan. Bagaimana tidak, semua itu adalah kesukaannya. Tangannya hendak mengambil satu, namun ragu.
"Ini pasti yang beli si playboy itu, sejak kapan dia juga suka ngemil." ujar Lula yang tak jadi mengambil karena bukan miliknya.
"Aduh, aku mendadak lapar nih!" Gerutunya seraya mengusap perutnya yang rata.
"Kalau mau, ambil saja, enggak usah gengsi!" kata Kevin yang ternyata sejak tadi berdiri di depan pintu kamarnya. Dia juga terbangun karena lapar.
"Ogah, jadi enggak nafsu." sahut Lula jutek padahal pingin banget. Lula mengambil segelas minum dan meneguknya sampai habis. Ia berjalan sedikit terseok menuju sebuah sofa untuk menyalakan televisi.
"Kenapa kakimu ?" Kevin yang merasa diacuhkan mendekat sambil menilik kaki yang runcing itu.
"Enggak usah sok peduli, sana, aku ingin sendiri!" usir Lula tanpa melihat, matanya fokus memilih chanel.
"Katanya tadi lapar, kok nggak jadi makan?" mendadak Kevin begitu peduli, dia bergegas membuka kulkas dan mengeluarkan semua snack yang pagi tadi ia beli. Dia sengaja melakukan itu untuk mengganti rugi snack milik Lula yang ia makan tempo hari.
Kevin mengambil satu dan membuka bungkusnya.
"Nih, ambil, cari chanel di no 9 ada acara sepak bola!" kini Kevin tahu kalau istrinya menyukai acara itu. Lula pun memindah chanel dan yang dikatakan Kevin benar. Lula memposisikan duduknya senyaman mungkin, kakinya ia selonjorkan.
Lula melirik bungkusan itu, dan tanpa ragu lagi mengambilnya. Memakan dengan lahap.
"Terima kasih!" sahut Lula lirih namun masih terdengar oleh Kevin. Kevin menimpali hanya dengan senyuman.
Kevin pun ikut duduk di sebelahnya. Lula menggeser posisinya. Ini kali pertama mereka berdua akur. Kevin menatap tajam ke layar televisi dan sesekali mencomot snack.
"Ih, apaan sih, ambil sendiri!" celetuk Lula seraya menampik punggung tangan suaminya.
"Itu kan aku yang beli, masa ambil sedikit saja tak boleh?" dumel Kevin seraya mengambil snack lain di atas meja. Lula mendekap snack miliknya dan mengacuhkan Kevin. Kevin melihat tumit istri nya lecet. Dia mengurungkan niat dan beranjak berdiri menuju kamarnya. Lula menatap kepergian suaminya.
"Jadi lega, aku hampir sesak terlalu lama berada di sampingnya." Lula memakan lagi.
Beberapa detik kemudian Kevin datang.
"Kalau masih sakit, besok nggak usah masuk kerja. Akan aku bilang ke Kiki!" tanpa mendapat persetujuan istri nya, Kevin reflek mengoleskan salep di tumit kaki sebelah kanan.
"Aku baik dan jangan sok peduli padaku." Lula sedikit mendesis menahan rasa sakit. Ia tak menolak saat Kevin memperlakukannya dengan lembut.
"Aku bukannya peduli padamu, tapi jiwa kemanusiaan ku lah yang terpanggil. Mana, ada yang lecet lagi nggak?" tanya nya serius.
Melongo mendapat jawaban seperti itu dengan mulut yang penuh, Lula hanya menggeleng. Kevin pun pergi dengan membawa satu bungkus snack.
Merasa mendapat sedikit perhatian, Lula agak melunak setelah beberapa minggu ini hatinya mengeras.
"Dia bisa baik juga padaku, ah ini pasti akal-akalan dia agar segera berpoligami. Mau menikah dua kali kek, tiga kali kek, aku tak masalah." Lula segera bangkit setelah merasa agak kenyang. Mematikan televisi dan bergegas ke kamar. Rasa perih sudah tak terasa lagi.
"Obatnya manjur juga," Lula pun segera memejamkan mata.
Seperti biasa Lula bangun lebih pagi ketimbang Kevin. Dia membuat nasi goreng spesial dengan porsi lebih. Tak ada satu jam dia berkutat di dapur, dua porsi nasi goreng sudah tersaji di meja.
Kevin yang baru selesai mandi bergegas ke luar kamar.
"Aromanya enak banget, kamu masak apa?" suara Kevin mengagetkan Lula.
"Akkhhh ...!" Lula menjerit histeris seraya menutup wajahnya.
Kevin baru sadar kalau ia keluar hanya dengan membelitkan handuk di pinggangnya.
"Pantas saja dia menjerit," Kevin tersenyum simpul dan segera berlari kecil kembali ke kamar. Memakai kaos dan celana pendek selutut. Dia keluar kamar, tapi tak mendapati istrinya. Kevin kelupaan dengan ponselnya dia kembali lagi ke kamar.
Alula turun drastis berat badannya pagi ini dari 75 kg menjadi 45 kg.
"Syukurlah, sekarang tubuhku langsing!" gumam Lula setelah melihat angka di timbangan. Lula segera ke luar kamar untuk membuat minuman.
Kevin melewati cermin, sebentar ia menatap pantulan dirinya.
"Masih terlihat tampan, jangan panggil aku Kevin kalau tak bisa mendapatkan hati wanita," gumamnya dan segera keluar kamar.
Melihat perubahan yang Alula alami, perlahan membuat Kevin jatuh hati padanya. Tapi dia menolak untuk mengakui itu.
"Gend ..." hampir saja ia memanggil istrinya gendut dan seketika dia menahan suara. "Eh, dia kan sudah langsing, mana cocok dipanggil gendut."
"A-Lula," panggil Kevin lirih, sontak Lula memunculkan kepalanya saja di balik dapur.
"Apa?" sahut Lula yang ternyata masih sibuk.
"Ehm, tidak, aku hanya ... eum apa itu, tidak ada!" Kevin bingung sendiri, lidahnya terasa kelu.
Lula melanjutkan kesibukannya. Dia sedang membuat kopi susu tentu untuk dirinya sendiri. Setelah selesai dia membawa secangkir kopi itu ke meja.
Di sana sudah ada Kevin yang menunggu Lula.
"Loh, kopi ku mana?" merasa Lula hanya membuat secangkir, Kevin pun protes.
__ADS_1
"Bikin saja sendiri." sahut Lula ketus. Sebenarnya dia bisa saja membuat lagi tapi terlanjur males.
Kevin belum beranjak, dia seakan menyadari begini rasanya diabaikan. Lula mengalah, dia beranjak ke dapur dan membuat satu cangkir kopi susu lagi.
"Aku tak tahu seleramu, lain kali katakan saja, akan aku buatkan." Lula meletakkan secangkir kopi di samping piring suaminya.
"Terima kasih," ujar Kevin yang membuat Lula tak percaya. Si playboy yang sudah terpatri di hatinya sebagai suami yang dingin dan angkuh itu mendadak bisa sopan dan menghargai dirinya.
Alula tak membalas, mereka berdua segera menyantap sarapannya.
"Masih sakit?" Kevin melontarkan pertanyaan, tentu Lula tahu arahnya ke mana.
"Tidak, terima kasih, salep yang semalam sangat manjur."
"Tentu saja, apa lagi yang mengoleskan itu aku, pasti akan cepat keringnya." tukas Kevin dengan kepedean tingkat dewa.
"PD banget, emang lukanya cuman kecil kok, bentar juga kering." Lula segera menghabiskan sarapannya, setelah piring punya dia bersih, dia berdiri untuk menetralkan hatinya yang mendadak bergemuruh mengingat semalam, saat kakinya disentuh oleh suaminya untuk kali pertama. Lula hendak ke dapur untuk mencuci piring.
"Tidak usah masuk, jika masih sakit!" ujar Kevin terdengar begitu peduli. Lalu dimana sikapnya ini saat jadi pengantin baru, dua temannya hampir saja menodai dia. Lula ingat betul itu dan sulit sekali untuk melupakan.
"Aku baik, tidak apa-apa, hanya luka kecil saja tidak akan membuatku malas bekerja." sahut Lula enteng.
Kevin menahan lengan istri nya yang hendak melangkah pergi.
"Kalau begitu kita berangkat bareng saja," tawar Kevin yang tak berhasil menahan Lula.
"Tidak, nanti semua orang curiga denganmu, seorang CEO semobil dengan office girl. Enggak level kan?" Lula menarik lengannya hingga terlepas dari genggaman Kevin.
Lula yang sudah rapi segera keluar meninggalkan Kevin yang sendirian.
"Ada apa denganku, aku merasa sedikit sakit jika dia menyudutkan aku seperti tadi." Kevin segera melahap sarapannya yang tinggal sesuap. Dia kembali ke kamar dan segera bersiap.
Sementara Alula sudah melesat jauh dengan kecepatan tinggi mengayuh sepedanya.
Sesampainya di kantor, Lula mendapat titipan bunga dari Emi.
"Dari siapa bunga secantik ini?" tanya Lula penasaran.
"Seorang cogan, baru pergi beberapa menit yang lalu." terang Emi yang juga ikut senang sahabatnya mendapatkan penggemar.
Lula mengerutkan dahi, siapa gerangan pengirim bunga misterius ini?
Tak begitu lama Kevin pun tiba. Matanya menyorot tajam ke arah bunga yang ada pada dekapan istrinya. Dia menaruh curiga pada cowok kemarin yang mengantar Lula pulang.
Melihat reaksi dari Kevin yang tampak tak suka melihat Lula membawa bunga, Lula pun bergegas menghindar saat Kevin memanggil namanya.
"Bos memanggilmu tadi, kamu kok nggak menyahut?" protes Emi yang khawatir jika Lula kena marah.
"Masa, aku nggak dengar tuh!"
***
Sepulang kerja Lula baru bisa memegang ponsel. Dia masih berada di tempat parkir. Betapa terkejutnya dia mendapat satu pesan dari temannya waktu kecil.
[Alula, bagaimana bunga yang ku kirim tadi?] Arjun.
[Oh, itu darimu, aku suka banget!]Lula.
[Syukur deh, disimpan ya!] Arjun.
[Pasti, terima kasih, bunga nya sangat cantik!] Lula.
[Iya, secantik yang menerima.] Arjun.
Lula tak lagi membalas pesan, akhir-akhir ini baterai ponselnya sering melemah.
Arjun senyum-senyum sendiri ketika membaca pesan dari Alula. Hatinya benar-benar terisi penuh oleh Alula.
Sementara Kevin mempercepat pekerjaannya. Berkas yang masih menumpuk itu tak kunjung usai.
"Bro, kita karaoke yuk!" ajak Nabil yang baru saja masuk.
"Kamu tak lihat, aku sedang sibuk!" tolak Kevin tanpa menatap sahabatnya itu.
"Andho lagi sakit, kita jenguk dia yuk!" ujar Nabil yang tak mudah menyerah untuk mempertemukan Kevin dengan Intan.
Kevin melihat jam di pergelangan tangannya.
"Oke, sepuluh menit lagi." Kevin lalu melanjutkan pekerjaannya.
Nabil berkeliling, kedua matanya tertuju di balik koridor.
"Vin, ada bidadari baru!" pekik Nabil yang menatap Lula dari lantai 5.
__ADS_1
Kevin tak menyahut.
"Gila, cantik -cantik naik sepeda, siapa dia, biar aku kencani malam ini." seketika Kevin menoleh ke arah sumber suara. Merasa gadis yang Nabil maksud adalah istrinya, Kevin segera bereaksi.
"Jangan dia!"
"Kenapa? Kamu juga mengincar dia?"
"Kamu lupa? Dia adalah pembantuku yang waktu di apartemen hampir kau goda. Dia sangat marah. Dan berjanji padaku, jika kau melakukan itu lagi maka dia akan melaporkan kamu ke polisi. Kamu mau?" ujar Kevin berbohong agar Nabil ketakutan untuk mendekati Lula.
"Yang bener, Vin? Kok beda, yang ini cantik banget seperti kupu -kupu baru keluar dari kepompong!" Nabil saja bisa memuji istrinya, kenapa dia tidak?
Kevin menyudahi aktivitasnya.
"Ayo, kita ke rumah Andho!" ajak Kevin mengalihkan pemikiran Nabil yang hampir terangsang dengan penampilan Lula.
Kedua pemuda itu sudah sampai di parkiran. Ternyata Lula belum pulang, dia masih mengecek kondisi ban sepedanya.
Nabil mempercepat langkahnya mendahului Kevin.
"Ku mohon jangan laporkan aku ke polisi, Nona, waktu itu aku bukan diriku yang sebenarnya. Aku dalam pengaruh alkohol. Maafkan aku!" Nabil menyodorkan tangan. Tentu saja Kevin tak terima itu. Hatinya bergemuruh dan sesak. Istri nya sungguh menggoda iman pria lain.
Alula melongo. Tanpa berpikir panjang pun dia menerima uluran tangan Nabil.
"Perkenalkan, aku Nabil!"
"Alula Farhah, panggil saja Lula!"
Kevin yang tak suka dengan pemandangan di depan segera melepas tangan keduanya.
"Kenapa belum pulang?" tanya Kevin terdengar kasar.
"Ban sepedaku kempes, aku perlu ke bengkel."
"Tidak perlu, tinggalkan saja di sini. Aku antar kamu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri." kekeh Lula.
Nabil yang melihat mereka tak akur segera melerainya.
"Vin, sebentar lagi gelap. Buruan kita jenguk Andho!" desak Nabil.
"Lula, cantik, kamu bisa kan pulang sendiri. Aku mau mengajak Kevin pergi."mendengar itu Lula hanya mengangguk. Nabil menyeret Kevin yang masih enggan untuk pergi.
Mobil Kevin belum berpindah, masuk lah sebuah mobil sport yang Kevin lihat kemarin. Seorang cowok turun dan membawa Lula pergi.
"Kenapa dengan pria lain kamu mau ikut, sedang denganku kamu menolak." batin Kevin yang mulai teriritasi.
"Ayo, berangkat, kok malah ngelamun!" Nabil menepuk pundaknya.
"Ah, iya,"
***
Sampai di rumah Andho, ternyata Andho baik-baik saja, baik secara fisik maupun non fisik.
"Katanya kamu sakit, makanya aku kemari buat nengok kamu." Kevin segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.
Andho tertawa, "Pasti kamu dikerjai Nabil,"
Mendengar namanya disebut, Nabil pun segera beringsut. Dia pergi ke kamar kecil.
"Kurang kerjaan banget anak itu." dumel Kevin.
"Kebetulan kamu ke sini, ada Intan di dalam. Tuh, dia kemari!" Andho menunjuk seorang cewek cantik yang berjalan ke arahnya.
"Kevin!" pekik Intan histeris tak percaya.
"Intan? Apa kabar, kamu makin cantik saja setelah setahun tak bertemu." Kevin membiarkan Intan menempelkan pipinya.
"Benarkah, kamu juga semakin tampan saja," ujar Intan.
Kevin pun baru tersadar seketika itu juga, tidak ada rasa sama sekali saat berdekatan dengan Intan. Dia berniat ingin memutuskan semua pacarnya. rasanya beda saat dirinya berdekatan dengan Lula. Sengatan listrik yang begitu menggelora di dada.
Setelah acara temu kangen dengan pacar pertamanya, Kevin memutuskan pulang. Entah mengapa dia berharap segera tiba di rumah dengan cepat. Meski sudah banyak bicara dengan Lula, ia merasa tetep kurang komunikasinya.
Kevin mencoba menghubungi nomor Lula untuk menanyakan kemana tadi, namun nomor Lula tak aktif. Pikiran negatif mulai muncul, ia tak ingin pria lain mendekati Lula, kecuali dirinya.
Kevin segera menancap gas menuju apartemen.
Suasana apartemen masih sepi, menunjukkan kalau penghuninya belum pulang.
"Kamu kemana Lula, apa terjadi sesuatu padamu hingga kamu tak mengangkat panggilan dariku?" Kevin memasuki apartemen dan terlihat layar televisi sedang menyala.
__ADS_1
"Lula, kamu sudah pulang?" kekhawatiran Kevin hilang seketika.
"Kevin!" panggil suara wanita yang tak asing baginya. Mata Kevin membulat sempurna setelah tahu dia.