
Desainer terkenal di Jakarta itu menampilkan koleksi terbarunya untuk musim gugur. Lula mengenakan busana rancangan Vivienne yang memiliki belahan dada rendah.
Melihat kejadian tersebut, sang desainer yang duduk di barisan depan penonton fashion show langsung naik ke atas panggung. Vivienne menyelamatkan muka Alula yang sudah merah karena malu belahan dadanya terekspos.
Desainer 74 tahun itu dengan cepat memperbaiki busana yang melorot tersebut sehingga menutupi lagi dada Alula. Vivienne tampak tenang dan berusaha tersenyum selama menata kembali busana yang tampak seperti perpaduan berbagai motif itu. Setelah busana tersebut sudah tertata dengan benar, Alula pun kembali berjalan di runway dan berpose ke kamera.
Dari jauh yang awalnya akan mentertawakan kejadian tersebut mendadak Vivi memasang muka kusut.
"Sial, rencana ku mempermalukan dia gagal!" kemudian dia turun dari panggung dengan perasaan sejuta kesal.
Insiden baju melorot tersebut tidak mempengaruhi fashion show koleksi terbaru Vivienne. Show tetap berjalan lancar hingga seluruh busana ditampilkan dan sang desainer naik kembali ke atas panggung untuk menyampaikan terimakasih kepada penonton.
Semua model sudah berganti busana sekarang.
Lula mengenakan kembali bajunya yang semula. Dia sungguh merasakan malu dan mencoba mengingat kejadian tadi. Arjun yang mengetahui hal itu berusaha mengembalikan keceriaan Lula seperti sedia kala.
"Sudahlah, lagi pula itu hanya kecelakaan kecil."
"Kecil katamu? Itu tampilan perdana ku, Arjun, bagaimana setelah ini semua orang mentertawakan aku?"
"Tidak akan, tidak ada satu orang pun yang akan mentertawakan kamu. Kamu tadi sungguh luar biasa sempurna!" Arjun berusaha menenangkan kecemasannya.
Di tengah perdebatan kecil itu datang beberapa orang dari tamu undangan yang hadir.
"Selamat Nona?" Seorang pria berusia sekitar 40 tahunan lebih menjabat tangan Lula.
"Alula Farhah," Alula menepuk dadanya.
"Selamat Nona Alula, saya sangat mengagumi Anda di depan tadi! Ini sebuah buket bunga untuk Anda." Pria itu melepas tangannya dan memberikan buket bunga yang sangat cantik.
"Terima kasih!" ujar Lula bahagia karena kenyataan dia malah mendapat apresiasi dari tamu.
"Wah, selain kamu sangat cantik beberapa busana tadi juga sangat cocok untuk kamu, ini hadiah untuk kamu!" tamu pria lain juga memuji keberhasilan Lula.
Arjun menyunggingkan senyum melihat Lula yang dikelilingi penggemar.
Tak hanya dua orang itu saya, masih banyak tamu yang lain yang mengucapkan selamat pada Lula.
__ADS_1
Melihat kebahagian Lula, Vivi semakin kesal dan menghentakkan heel nya ke lantai dengan kuat.
"Aww!" pekik Andho yang segera mengangkat salah satu kakinya. Ia kaget padahal awalnya tadi sedang memandang Lula dari kejauhan.
"Kakiku!" teriaknya lagi sambil mengaduh kesakitan.
Vivi panik mendengarnya, "Andho! Sakitkah? Lagian siapa suruh kaki kamu berada di dekat ku,"
Andho segera mengkondisikan tubuhnya meski masih meringis, "Bukannya minta maaf, malah menyalahkan kakiku!" Gerutunya.
"Iya, ya, aku minta maaf! Aku sebel banget sama mantan babu itu!" Vivi menunjuk dengan dagunya ke arah Lula berdiri.
"Kamu iri dengannya?"
"Bodo amat!" kemudian setelah menghentak kan kaki lagi, Vivi pergi dengan marah. Andho menyusul nya dengan berjalan sedikit terseok.
Setelah tamu undangan itu mengucapkan selamat, mereka pergi.
Alula seperti melihat sosok yang selama ini ia rindukan dari jauh.
"Mas Kevin, aku tak salah lihat, itu kamu!" Lula menyipitkan mata dan ekspresinya berubah masam setelah tahu pria itu tak sendiri, ia bersama wanita lain yang sangat cantik.
Dari kejauhan terlihat mereka sedang berciuman.
Arjun mengarahkan pandangan yang sama.
"Kevin, mengapa dia tak menyapa Lula dan malah asyik dengan wanita lain?" Gumam Arjun yang menaruh rasa curiga.
Lula berjalan cepat ke arah Kevin berdiri. Mengepalkan tangan dan dengan suasana hati yang membara.
Kevin sendiri sudah tahu kalau dirinya diperhatikan oleh istrinya. Kevin segera mengambil langkah seribu. Ia bergegas pergi sebelum Lula berhasil menemuinya.
Menyuruh seseorang untuk menghalangi langkah Lula.
"Nona, sepertinya desainer Viviane ingin menemui Anda." ujar pria itu hingga membuat Lula berbalik.
Lula merasakan sesak di dada. "Kamu tega melakukan ini padaku, bahkan kamu tak meneleponku. Datang dengan menunjukkan kemesraan bersama wanita lain. Apa maksud kamu mas?" Lula hampir saja menitikkan air matanya.
__ADS_1
Arjun menghampiri Lula dan mengusap bahunya. Lula menyandarkan kepalanya sambil terisak. Air matanya tumpah juga.
"Kenapa dia melakukan itu lagi padaku?" suara isak tangis Lula terdengar memilukan di telinga Arjun.
Dengan masih mengusap bahu, Arjun menenangkan Lula, "Aku akan cari tahu, mengapa Kevin seolah menghindari kamu."
Alula mengangkat kepalanya dan mengambil ponsel.
"Aku tidak mau digantung seperti ini, aku harus meneleponnya dan meminta keterangan sekarang juga!" Tangan Lula terlihat bergetar dan ponselnya jatuh.
Buru -buru Arjun membungkuk dan memungut ponsel Lula.
"Lula, kamu baik-baik saja?"
"Setelah apa yang aku lihat barusan, kamu masih bertanya aku baik -baik saja?" Lula merasa sesak dan berusaha tegar.
"Tenangkan dirimu, sebaiknya kita pulang sekarang!" Arjun menggenggam erat tangan Lula yang sepertinya enggan untuk beranjak. Menariknya lalu mengajak pulang.
Sesampainya di apartemen Lula terus menghubungi kontak Kevin. Ia tak peduli meski suasana sudah larut. Ia terpejam setelah air matanya tak keluar lagi.
Sementara Kevin berada di hotel, menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Tangan sebelah meremas dadanya.
"Sakit," gumamnya dan air mata pertama kali ia jatuhkan selama menikah.
Kevin menguatkan perasaannya untuk tetap pada pendiriannya. Membuat Lula membencinya.
Sebelum tidur Kevin ingat dengan obatnya dan mengeluarkan dari laci.
"Percuma juga aku meminum obat ini, nyawaku tidak bisa diperpanjang lagi." kemudian dia menatap langit -langit kamarnya, air matanya menitik lagi, "Lula maafkan aku, tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Aku sangat mencintai kamu. Kamu lebih berhak bahagia bersama orang lain. Mungkin Arjun adalah pilihan yang tepat untukmu setelah aku."
Setelah mengamati butiran obat, ia segera membuangnya. Memasukkan butiran obat itu ke dalam vas bunga yang ada di meja. Tak jadi meminumnya sebutir pun.
Padahal dokter Shodiq membeli obat itu dari luar negeri, susah payah ia mendapatkannya malah dibuang begitu saja. Jika dokter Shodiq tahu hal ini, ia pasti akan sangat marah dan takkan mau untuk merawatnya lagi jika kambuh. Ia tidak punya cara lain dalam berusaha. Kecuali transplantasi jantung, ini merupakan langkah penanganan terakhir untuk menolongnya.
Bukan perkara mudah menemukan donor yang tepat. Biasanya, donor jantung berasal dari orang yang baru meninggal dengan kondisi jantung yang masih baik, misalnya karena kecelakaan lalu lintas.
Dokter Shodiq sudah pernah membicarakan ini, namun Kevin mengabaikannya dan tak menanggapi dengan serius.
__ADS_1
Sepertinya Kevin sudah benar-benar menyerah.