Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 37


__ADS_3

Semenjak perebutan kekuasaan di perusahaan Kevin, Vivi jarang sekali muncul di layar televisi. Dia tengah sibuk melakukan diet untuk mendapatkan tubuh yang ideal agar menarik perhatian Kevin lagi. Maria ibunya sudah memperingatkan agar tak berlebihan saat melakukan diet. Tapi Vivi tak mengindahkan nasehat ibunya. Dia hanya makan satu kali saja dan selebihnya hanya makan buah. Terkadang ia merasakan kalau perutnya terasa perih. Ingin sekali mencicipi cokelat secuil saja, dia juga tak berani, takut nya wajahnya menjadi rusak karena jerawat.


Kini dia sedang menikmati salad buah di teras depan. Sesekali dia meneguk jus jeruk kesukaannya. Sudah tiga hari ini ia absen pemotretan, padahal tinggal satu lagi selesai. Setelah itu wajahnya akan muncul di majalah dewasa.


Banyak model yang mengeluarkan uang agar bisa ikut pemotretan di majalah dewasa, begitu juga dengan Vivi, selain biaya nya yang lumayan mahal ia juga bisa berbagi cerita tentang kisah cinta nya yang kandas dengan mantan. Vivi tak boleh meninggalkan kesempatan ini. Setelah mendapat peringatan terakhir dari sang fotografer, ia segera beranjak dan pergi.


Sementara Alula tengah sibuk menemani Arjun di klinik. Untung lukanya tidak cukup serius jadi tak perlu perawatan yang intensif.


"Aku akan mengantarmu pulang!" Arjun beranjak dari kursi tunggu dan merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobil.


"Tidak perlu Arjun, sepertinya nasibmu selalu apes jika terus bersamaku. Aku pembawa soal bagimu." Alula menahan diri untuk tidak mengikuti ssahabatnya.


"Tidak ada manusia pembawa sial di dunia ini, hanya kurang beruntung saja. Jangan pesimis! Ayo!" Arjun mendesak sambil melambaikan tangan. Alula menggelengkan kepala, ia tak ingin orang lain terseret dalam masalah pribadinya, apalagi ini menyangkut rumah tangganya yang sejak awal tak bermakna sama sekali.


Arjun bukan tipe yang mudah menyerah tapi dia juga tahu diri posisinya apa sekarang. Karena setelah sedikit paksaan Lula tak juga bergeming, Arjun pun meninggal dia.


Setelah menghubungi Kevin, Arjun segera pulang, dia merasakan seluruh badannya benar -benar remuk.


Tak lama kemudian, Kevin datang dengan kecemasan yang penuh tanda tanya juga.


Kevin mendengar dari penjelasan Arjun, kalau ponsel Alula telah dirampok. Tapi ia juga melihat pesan suara yang terakhir Alula kirim tadi, saat akan memutarnya tiba-tiba ada panggilan masuk dari Arjun, jadi Kevin belum tahu.

__ADS_1


Saat keduanya sudah dekat, Alula menundukkan kepala. Seakan dirinya malu menatap suaminya. Kevin tak banyak bicara dan langsung memeluk istrinya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Kevin seraya memegang kedua bahunya. Alula tetap diam hingga Kevin mengangkat dagunya yang mungil. Ditatapnya bola mata yang indah dan terlihat berkaca-kaca itu. Seolah ia tahu, istrinya sedang bersedih. Meski ia tak tahu seperti apa kronologis kejadiannya. Rasanya ingin bertanya tapi ia tahan sampai keadaan istri nya stabil. Mungkin istrinya masih shock dengan kejadian yang menimpanya.


"Tenang saja, kamu tak usah khawatir, hari ini aku tidak marah karena Arjun sudah menolongmu dari perampok itu. Nanti kita beli ponsel yang baru ya," hibur Kevin sambil menuntun istri nya keluar dari klinik.


Alula ingin memulai penjelasannya, tapi karena sikap Kevin berbeda sedikit melunak, ia menundanya.


"Sungguh, kamu tak marah pada nya?" Alula masih belum yakin. Dan bertanya untuk meyakinkan. Kevin hanya mengangguk meski sedikit rasa sesak di hati. Bagaimana tidak, sudah jelas tadi pagi ia mengantar pulang ke apartemen, bagaimana bisa dia bersama Kevin di klinik?


Keduanya pun sampai ke mobil. Kevin tak langsung mengantar pulang ke apartemen. Dia membawa Lula ke Surabaya cell untuk membeli ponsel baru. Setelah memilih satu merek hp yang terkenal, mereka pulang.


Sesampainya di apartemen, Kevin menuntun Alula untuk duduk di sofa sembari mengeluarkan ponselnya yang baru.


Jawaban Lula masih diam dan enggan bicara, Kevin tak gegabah ia mencoba mengulur waktu sampai Lula benar -benar siap bercerita.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Kevin asal, ia menebak kalau istrinya belum makan.


"Belum," sahut Lula kalem. Kebetulan sekali siang tadi setelah meeting Kevin tak memakan jatah makan siangnya, ia membawa pulang makanan itu dan menaruhnya di paper bag. Kevin beranjak dan kembali membawa satu paper bag.


"Makanlah!" Kevin membukanya dan menyuguhkan makanan itu pada istrinya.

__ADS_1


"Pecel lele!" seru Lula terlihat girang. Ia segera melahap makanannya. Sebelum itu terjadi, Kevin sudah memperingatkan untuk perlahan dan tetap rileks saat makan.


Alula paham, dan sedikit mulai mengontrol cara makannya. Alula tak sadar kalau suaminya juga lapar hingga bunyi keroncongan menghentikan aktivitas makannya. Lula menatap suaminya yang sejak tadi memperhatikan makanannya.


"Aku tidak akan habis, ini porsi yang cukup banyak. Jangan menolak aku akan menyuapimu!" Lula mengambil satu jumput nasi dan potongan ikan. Mendengar itu Kevin terperangah tak percaya. Bukankah hubungan mereka terlihat retak. Tapi kali ini, sikap Lula sangat berbeda dari biasanya, kalau marah dia akan dingin. Sedingin salju Himalaya.


Kevin masih diam dan rasanya aneh ingin membuka mulutnya.


"Ak! Buka mulutmu!" perintah Lula yang membuat Kevin mau tak mau harus mau.


Kevin mendekatkan tubuhnya hingga jarak dia dengan tangan Lula dekat. Rasa ini membuat jantungnya kambuh. Juga aliran darahnya memacu cepat. Sungguh, perilaku yang langka. Lula menyuapi langsung memakai tangannya.


Makanan itu sudah masuk ke dalam mulut. Kevin memamahnya pelan, seakan menikmati setiap bulir nasi. Kevin berpikir sebelum perceraian mereka terjadi, ia tak ingin menyiakan kesempatan sekecil apa pun itu.


Sementara Lula bersikap biasa saja. Ia menyuap untuk dirinya sendiri. Lalu menyiapkan suapan untuk suaminya. Rasa canggung Kevin mulai memudar dan ia menerima suapan lagi dari Lula hingga makanan itu habis. Saat giliran Lula akan makan Kevin menghentikan pergerakan Lula.


"Izinkan aku sekali saja untuk menyuapi kamu. Mungkin ini pertama aku melakukannya sebelum kita resmi bercerai." ujar Kevin yang membuat Lula menurun kan tangannya dan meletakkan nasi itu kembali. Kevin yang mengambil alih dan menyuapkan ke mulut Lula.


"Sungguh, aku ingin seperti ini terus." batin Kevin yang meronta tak ingin bercerai dengan Lula.


Lula membuka mulutnya dan mulai memamah makanannya. Hatinya miris mendengar ucapan suaminya. Dengan cepat Lula menelan makanan itu. Keduanya lalu mencuci tangan dan pindah ke kamar untuk istirahat siang. Sebenarnya Kevin ingin kembali ke kantor, tapi suasana hatinya sedang ceria jadi lebih memilih bersama Lula.

__ADS_1


"Apa kamu belum membuka pesan dariku?" Lula yang sudah siap bercerita menarik nafasnya dalam-dalam.


"Belum sempat." Kevin merogoh ponselnya.


__ADS_2