
Hujan di sore hari membuat beberapa jalan menjadi licin. Banyak orang yang meski hujan deras tetap memilih keluar karena berbagai urusan termasuk Arjun. Pukul 6 sore ia sudah sampai di sebuah cafe. Dan disampingnya seorang wanita cantik bernama Naura.
Naura mengenakan gaun berwarna hitam yang sangat indah. Dia juga sudah memesan makanan. Sebelum makanan datang, dua jus alpukat sudah ada di meja. Naura sedikit tahu beberapa makanan dan kesukaan Arjun, jadi ia memesan ini untuknya.
"Hai, Naura, sudah lama kamu menungguku?" sapa Arjun ketika tiba, dia segera duduk di depan Naura.
Naura sangat senang melihat pria tampan ini, "Tidak, aku juga baru saja tiba." ujar Naura, padahal dia sudah setengah jam yang lalu berada di cafe.
"Wah, ada jus Alpukat!"
"Minumlah!"
Arjun sedikit berpikir, bagaimana gadis di depannya bisa tahu minuman kesukaannya ? Arjun tak ingin berpikir buruk, tangan nya terulur mengambil gelas dan meneguknya.
Naura memperhatikan lekat setiap pergerakan Arjun. Ini adalah momen yang sangat berarti untuknya.
"Oh, iya Arjun, sengaja aku mengajak kamu makan di sini adalah untuk mempererat pertemanan kita." Naura mendadak canggung untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia ingin melihat penilaian Arjun terhadap dirinya.
Arjun tersenyum membuat lekuk di pipinya semakin kentara, "Santai saja, dan terima kasih sudah mengajak ku makan di tempat seperti ini. Jujur saja semenjak Alula cuti dari kegiatan syuting aku sudah jarang makan ke tempat seperti ini."
Mendengar penuturan Arjun dan menyinggung nama wanita lain saat berdua di tempat seperti ini, membuat hati Naura terasa panas. Namun Naura menutupi kekesalannya dengan memaksakan senyum. "Apakah Alula sangat berarti untukmu?" Selintas pertanyaan untuk menebak bagaimana perasaan Arjun yang sebenarnya.
Arjun membenarkan posisi duduknya dan mulai membuka bibirnya, "Alula adalah sahabatku di waktu kecil. Kita sudah lama bersama, susah maupun senang. Tapi, saat ini aku tak bisa membantunya saat dia dalam kesusahan."
Arjun menatap kosong ke sisi yang lain, membuat Naura mendesah kesal.
Naura bertanya kesal, "Emangnya ada apa dengannya?"
Arjun bersemangat sekali untuk bercerita, "Kevin, suami Alula sedang sakit dan membutuhkan donor jantung secepatnya."
Mengetahui hal itu, Naura semakin cemas. Bagaimana tidak, jika Kevin tidak segera mendapatkan donor jantung maka otomatis ia akan mati. Dan itu memberikan kesempatan yang bagus untuk pria seperti Arjun menggantikan posisi Kevin.
"Kasihan," ujar Naura memperlihatkan rasa simpatinya.
Makanan pun datang dan mereka berdua menikmati makanan itu.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Naura semakin gusar dan ingin mengetahui perasaan Arjun. "Arjun, sebagai teman bolehkah aku bertanya padamu?"
Arjun tertawa kecil, "Tentu saja boleh, bertanyalah!"
Naura memberanikan diri dan siap menjaga mentalnya apa pun itu jawaban Arjun. "Apakah ada wanita yang kamu sukai?"
Arjun menyorot tajam, mengerutkan dahi dan kemudian tersenyum, "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Tadi, kamu bilang boleh?"
"He he he, ada." mendengar jawaban itu, Naura meremas ujung gaunnya.
Sebelum Naura kembali bertanya, Arjun membuka bibirnya, "Tapi, seseorang yang aku suka tidak akan pernah menyukaiku. Dia hanya menganggap aku sebagai temannya saja. Aku sadar seperti apa posisiku. Jadi, jika ada wanita lain yang menyukaiku selain dia, aku akan menolaknya secara halus. Karena aku hanya menyukai satu orang saja."
Naura tahu siapa yang dimaksud wanita yang ia sukai, pasti itu Alula. Tapi ia sudah waspada jika jawaban Arjun seperti itu.
"Terima kasih Arjun, aku puas mendengar jawabanmu. Saran dari ku sebagai teman adalah, jangan menyakiti hatimu sendiri, hidup tak selamanya untuk menanti."
Arjun tersenyum dan tidak mengatakan apa pun lagi. Keduanya kemudian berpisah dengan mobil masing-masing.
Hujan sudah reda, tapi tidak menutup kemungkinan jalanan tidak licin.
Di ujung jalan, tak terlihat lampu rambu lalu lintas karena sedang ada gangguan, Arjun tak mengurangi kecepatan.
Sebuah truk membawa muatan balok kayu berjalan dengan kecepatan sedang. Karena terlalu jauh perjalanan yang ditempuh, sang sopir terlihat sangat ngantuk.
Di menit ke dua, mobil Arjun berhasil melewati rambu lalu lintas dan dari arah berlawanan sopir truk bermuatan balok kayu tanpa mengurangi kecepatan menabrak mobil Arjun hingga ringsek.
***
Alula tak sengaja menjatuhkan gelas di meja hingga membuat Kevin kaget. "Alula, kamu tak apa-apa?"
Alula segera berjongkok untuk memungut pecahan gelas, "Maaf membangun kan kamu, aku tidak apa -apa, aku akan segera membereskan ini."
"Hati-hati!"
__ADS_1
"Iya,"
Dalam diam, Alula merasakan tak enak dan entah itu apa.
Setelah Gibran dan Maria pergi, Alula merasakan kalau hidupnya akan lebih berwarna dengan status barunya yang memiliki orang tua lengkap. Tapi, ia belum tahu kabar Vivi sekarang. Apakah saudarinya itu menerima dirinya atau tidak?
Di sisi lain, Nabil yang mengejar Vivi sejak tadi berhasil menenangkan dan membawa Vivi pulang ke rumah.
"Entah kamu menolak atau menerima Alula sebagai saudari, yang jelas kamu tidak bisa mengubah fakta ini. Perlahan dunia tahu, kalau kalian bersaudara." ujar Nabil sambil menyodorkan secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh.
"Kamu benar. Dulu aku begitu membenci dirinya, dia merebut pacarku dan sekarang dia merebut orang tuaku." Vivi menyeruput kopi di tangan.
"Revisi untuk mu, Vivi. Hilang kan kata merebut dari kalimat kamu tadi. Dulu, bukankah kamu dan Kevin sudah putus sebelum dia menikahi Alula?"
"Belum, kami belum resmi putus. Dan wanita itulah yang salah dalam hal ini."
"Itu tandanya takdir tidak mendukung kamu untuk memiliki Kevin. Dunia ini tak selebar daun kelor, masih banyak pria yang pantas untuk kamu cintai." nasehat Nabil yang merujuk ke dirinya.
"Pria lain, siapa ?" Vivi tersenyum kecut mendengar ocehan Nabil.
Nabil meletakkan kopi di meja lalu membusungkan dada dan menepuk dada dengan tangan kanannya. "Seperti aku, misalnya."
Vivi membelalak dan tertawa, "Kamu?"
Nabil akhirnya berhasil membuat Vivi tertawa lagi, meski ia tahu bukan kriteria Vivi.
"Baik. Mari kita coba! Aku beri kesempatan untuk kamu membuat aku bisa menyukai kamu. Satu bulan saja ya," ujar Vivi.
Nabil tak percaya dengan gurauan yang baru saja ia ciptakan, "Kamu serius?"
Vivi tersenyum malu, "Seribu rius malahan."
Nabil meraih tangan Vivi dan membawanya ke depan dada. "Aku tak tahu memulai semua ini dari mana, aku tak cukup berpengalaman dalam hal pacaran."
"Oke, mulailah dalam hal kecil!" Vivi menarik tangannya karena tak ingin Nabil merasakan keringat dingin di kulitnya.
__ADS_1
"Oke. Jadi, kita resmi pa-ca-ran?"
Vivi mengangguk malu.