Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 45


__ADS_3

"Ma, apa mas Kevin semalam kemari?" tanya Lula begitu datang ke rumah mertuanya. Netralnya seakan menunggu sosok pria yang akan segera turun dari lantai atas begitu dia berteriak memanggil nama suaminya.


"Lula!" Sentak Santi hingga Lula berhenti berteriak. Santi juga tak percaya jika Lula selingkuh. Ia tetap berharap rumah tangga menantu dan anaknya tetap utuh.


Lula menoleh. "Mana mas Kevin, Ma?" ujar Lula dengan nada memelas. Harapannya seakan sirna, karena yang dicari tak kunjung muncul juga. Rasa sesak di hati sudah tak bisa ditahan. Ia mulai menangis.


Santi segera mendekat ke arah menantunya dan memeluknya erat. Begitu juga dengan Lula, membalas pelukan Santi. Begitu hangat dan meneduhkan.


"Mama percaya sama kamu. Katakan pada mama kalau yang dikatakan Kevin itu semua adalah bohong." Santi melepas pelukannya dan menatap mata menantunya. Berharap ada sebuah harapan dari sana.


"Lula mencarinya sepagi ini, itu artinya Kevin tak pulang semalam. Lantas kemana perginya anak itu?" batin Santi.


Alula menyeka air matanya dan menceritakan semuanya pada Santi. Kemudian Santi mendesah, "Memang anak itu sudah ceroboh. Tidak bisa menahan rasa cemburunya. Lula, apa kamu sudah menghubungi ponselnya?" Lula hanya menggeleng.


Akhirnya Lula sedikit lega karena mertuanya tidak ikut menyalahkan dia. Sudah panggilan ke sepuluh ia lakukan tapi satu pun tak diangkatnya.


Sepulang dari rumah mertuanya, Lula datang ke lokasi syuting sampai sore. Setelah syuting dia terlihat sedikit serius dengan Arjun. Membahas saham yang sudah berada di tangan Lula.


"Aku sudah meminta seseorang untuk menghancurkan nilai saham milik Gibran." ujar Arjun memulai topik pembicaraan. Meski Lula tak begitu paham dengan urusan bisnis. Ia yakin pada sahabatnya.


"Bagus. Lanjutkan segera!" ujar Lula singkat dan segera beranjak. Ia ingin mencari Kevin di tempat kerjanya.


Setelah mendapat kepuasan dari Lula, Arjun segera pergi juga untuk mengurus hal baru. Ya, apalagi kalau bukan menghancurkan perusahaan Gibran sesuai permintaan sahabatnya itu. Terkadang ia berpikir kalau pekerjaannya ini adalah sedikit kotor. Tapi mengingat rasa sakit yang dialami Lula, tentu saja Arjun tak tinggal diam.


Sesampainya Lula di tempat kantor Kevin. Ia segera memasuki ruangan CEO, tapi ruangan itu terlihat kosong dan tak begitu lama kemudian Nabil muncul dengan berkas di tangan.


"Nyonya Lula, sedang apa kamu di sini?" tanya Nabil penasaran, setahunya Kevin meminta cuti, ia fikir pergi berlibur bersama Lula. Nabil meletakkan berkas itu di atas meja dan menatap Lula yang sejak tadi memperhatikan ruangan CEO dengan seksama.


"Nabil, apa mas Kevin tidak masuk hari ini?"


"Semalam dis menelponku dan mengatakan akan cuti untuk beberapa hari ke depan. Aku kira kalian sedang berlibur?"


"Berlibur? Kamu jangan bercanda. Bahkan semalam dia tak pulang." mendengar keterangan Lula, Nabil mengernyitkan dahi.


"Lantas, kemana ia pergi dengan meninggalkan setumpuk pekerjaan ini?" Nabil merogoh kantung saku dan mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


"Apa kalian bertengkar?" terka Nabil yang membuat Lula menundukkan kepala karena malu. Seharusnya ia tak membawa urusan pribadi ke dalam kantor. Alula tak menyahut, yang menandakan hubungan mereka sedang tak baik.


"Kamu tenang saja, aku akan menghubungi dia." Nabil sudah berada dalam panggilan masuk.


Sepertinya Kevin tahu kalau Alula sedang mencarinya. Ia mengabaikan beberapa panggilan dan pesan masuk dari orang -orang.


Nabil mendesah lalu menggoyangkan ponselnya sebelum memasukkan kembali ke dalam saku.


"Dia tak mengangkat panggilan dariku."


Mengetahui tak ada jawaban dari sini, Lula pergi meninggalkan kantor. Saat ia sedang menunggu taksi. Emi teman lamanya datang menyapa.


"Lula!" pekik Emi dengan lengkingan suara yang tinggi sangking senangnya bertemu teman lama.


"Emi!"begitu pula dengan Lula tak mau kalah heboh dengan Emi. Mereka berdua berpelukan dan berjingkrak ria. Setelah menanyakan kabar, Emi mengajak Lula mengobrol di kafe.


"Kok kamu sendirian, bos Kevin mana?" tanya Emi yang tak tahu kalau atasannya tidak hadir hari ini. Emi seharian ini sibuk dengan segudang aktivitas.


"Hubunganku sedikit renggang. Dia cemburu dan mau berpisah denganku." curhat Lula yang mulai terbuka.


"Jangan dong, kalian pasangan yang sangat serasi! Aku sangat menyayangkan jika kalian berpisah. Pasti masih ada cara lain untuk menyelesaikan urusan kalian." keluh Emi sambil mengusap punggung tangan temannya.


"Entahlah. Terkadang aku juga bingung dengan perasaanku padanya."


Setelah mengobrol cukup lama dengan Emi. Lula memutuskan untuk pulang.


Lula segera turun dari taksi. Hujan begitu deras membuat baju nya sedikit basah. Hawa dingin membuat dia merasa kepalanya sedikit pening. Dan rasa meriang mulai menyerbu tubuhnya. Seharian ini Lula tak nafsu makan membuat daya tahan tubuhnya menurun.


Ia segera mengganti baju dengan setelan baju panjang untuk mengurangi rasa dingin. Sesekali ia merasakan mual dan ingin muntah. Ia mencari kotak obat dan segera mengkonsumsi nya.


Sementara Kevin sedang meringkuk di atas sofa kamar hotelnya seharian ini. Tidak banyak aktivitas yang ia lakukan selain murung dan mengurung diri.


Ia teringat saat pertama kali menjamah tubuh istri halalnya. Begitu nikmat tiada tara dan tak sebanding dengan rasa yang pernah ia lakukan bersama mantan nya.


Saat sedang melamun tiba -tiba ponselnya berdering. Satu pesan dari nomor tak dikenal. Mengirim sebuah foto. Kevin buru -buru membuka foto itu, ternyata foto Lula dengan Arjun sore tadi.

__ADS_1


"Ini pasti ulah pengirim yang sama dengan yang kemarin." gumam Kevin. Kevin mencari kontak Arjun dan menghubungi nomornya. Kevin mengajak bertemu.


Kevin terlebih dulu memesan kopi sambil menunggu Arjun datang. Saat menyeruput kopi panas, Arjun berdiri di sampingnya.


"Aku sedang sibuk. Jadi katakan secepatnya!" Sentak Arjun yang sedikit tak menyukai panggilan tadi.


Kevin melengkung kan senyum masam.


"Sombong sekali. Aku sudah memesan kopi untukmu. Duduklah!" Arjun duduk dengan rasa malas.


"Minumlah!" pinta Kevin saat kopi milik Arjun datang. Arjun menarik nafasnya dalam dan mulai mengangkat cangkirnya.


"Sedekat apa hubungan mu dengan Lula?" Kevin bukan tipe orang yang suka basa basi.


Mendengar pertanyaan itu, Arjun tertawa.


"Jauh -jauh kamu mengajak ku bertemu hanya untuk menanyakan ini?" Lalu Arjun menghentikan tawanya.


"Aku sangat mencintai istriku. Dan rasa cemburu sangat menyakitkan. Kamu pasti pernah merasakan itu juga. Keadaan rumah tanggaku dengannya, kamu pasti sudah tahu, kan?"


"Kamu memintaku untuk apa?"


"Pergi jauh darinya. Dengan begitu aku akan merasa sedikit tenang."


"Cih, egois sekali!" umpat Arjun tak sependapat dengannya.


"Kamu tahu apa soal perasaan cinta?" Arjun mencibir. "Kamu kan seorang player, tinggal pergi ke tempat satunya sudah pasti membuatmu puas."


Kevin mengepalkan tinju tak suka dengan sindiran Arjun. Sebisa mungkin ia mengabaikan ucapan nya.


"Terserah apa yang kamu ucapkan. Jika kamu pria baik. Sudah sepantasnya kamu sadar diri, yang sedang kamu dekati status nya masih istri orang." Setelah mengatakan itu Kevin beranjak pergi meninggalkan Arjun.


Kevin merasakan keningnya sakit. Ia sempoyongan saat akan pergi. Dan saat itu juga ia roboh. Arjun segera menghambur ke arahnya.


"Kevin, Kevin!" panggil Arjun sembari mengguncang bahunya.

__ADS_1


__ADS_2