Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 11


__ADS_3

Vivi membanting pintu mobil dengan kasar. Dadanya masih naik turun. Sebisa mungkin dia menetralkan amarahnya, namun kejadian tadi sangat menusuk hati. Ia tetap tak bisa membayangkan kekasihnya berpaling begitu cepat.


"Apa istimewanya dia dibandingkan dengan aku yang seorang model terkenal, selain cantik aku juga kaya. Lah sedangkan dia apa? Gadis yang dulunya gendut dan lusuh begitu apanya yang dibanggakan? " omel Vivi monolog. Dia segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi hingga tiba di rumah. Dengan langkah terburu Vivi memasuki kamar dan berteriak histeris menyebut nama Kevin.


"Kevin ...! Aku tak mau putus darimu!" Vivi menyapu bersih semua alat make up di meja riasnya hingga berserakan di lantai. Mendengar suara pecahan dari kamar, ibunya Vivi yang baru saja pulang dari acara arisan segera mendatangi sumber suara. Wanita paruh baya itu bernama Maria.


"Vivi, ada apa Nak? Kamu memecahkan semua alat make up mu, padahal semua itu benda yang amat kamu sayangi bukan?" Maria bertanya dengan lembut seraya mengusap bahu putri tunggalnya. Vivi berbalik.


"Mama," Vivi menghambur ke arah mama nya dan menangis lagi malah semakin menjadi.


"Tenangkan dirimu, apa kamu sedang bertengkar dengan Kevin?" tebak Maria, memang selalu peka wanita berambut keriting itu mengenai masalah putrinya. Vivi melepaskan pelukannya dan mengangguk.


"Kevin jahat, Ma. Dia memutuskan aku hanya demi seorang pembantu. Bahkan secara diam dia telah menikahi wanita jelek itu." tutur Vivi yang masih sesenggukan.


"Apa?" Maria juga tak percaya Kevin bersikap demikian, setahunya Kevin berencana akan melamar putrinya.


"Katakan pada mama, siapa dia yang telah berani merusak kebahagian anak mama!"


"Dia Alula Ma, seorang office girl di PT CAHAYA INDO LESTARI. Aku sudah lama membenci dia saat duduk di bangku SMP dulu."


"Wanita itu teman kamu?" Vivi hanya mengangguk.


"Bagaimana rupanya hingga dia bisa merebut Kevin darimu?" Maria penasaran dengan sosok Alula.


"Dia sangat jelek Ma, dulu dia gendut sekarang tubuhnya sangat langsing. Bahkan tubuhku ini seakan tersaingi olehnya." keluh Vivi.


"Kalau tahu dia jelek, kenapa dia lebih memilih wanita itu? Kamu kan seorang model terkenal jangan mau kalah dengan dia. Vivi, berusahalah dan jangan bersedih lagi!"


"Nah, sekarang hapus air matamu. Mama akan pikirkan cara agar Kevin meninggalkan wanita itu. Kamu sudah makan?" Maria berhasil menenangkan Vivi.


Vivi mengusap air matanya dan tangisannya pun sudah resa.


"Terima kasih Ma. Vivi belum lapar.


"Itu selalu alasan kamu. Jika kamu mogok makan dan sakit, kamu tidak akan bisa berbuat untuk merebut Kevin kembali. Ayo, kita makan!" ajak Maria.


"Baik, Ma,"


Sementara Alula masih merinding dengan peristiwa barusan. Kini dia berada satu mobil dengan Kevin.


"Aku ingin ke makam ibuku." ujar Alula memecah keheningan.


"Hm, aku akan mengantar kamu." Kevin menoleh ke arah Lula dan kembali lagi fokus menyetir.


"Tidak. Aku ingin pergi sendiri."

__ADS_1


"Aku tak mengizinkan kamu pergi sendirian."


"Apa hak kamu melarangku sekarang?" bentak Alula.


"Karena aku suamimu."


"Cih, sejak kapan kamu mengakui pernikahan ini, aku tak ubahnya pembantu di kehidupan kamu." decak Lula kesal.


"Aku sudah putus dengan Vivi, apa itu kurang menyakinkan kamu kalau aku sudah mulai berubah?"


"Itu urusanmu." Alula diam. Bukan ini jawaban yang ia inginkan. Dan jika Kevin telah berubah, ia berharap kalau Kevin mengungkapkan isi hatinya secara jujur. Suasana hening sampai mobil Kevin berhenti di sebuah pemakaman umum.


"Aku akan menunggu kamu di mobil." Lula tak mendengarkan dan segera keluar.


Alula membeli buket bunga dan mulai memasuki makam. Setiba di batu nisan ibunya, Lula memanjatkan doa. Setelah selesai dia menuju mobil.


"Alula!" panggil seseorang yang tak asing suaranya. Alula menoleh.


"Arjun? Kamu ada di sini juga?" Alula tak habis pikir, seakan dimana pun dia pergi sahabat kecilnya ini selalu ada.


"Iya. Kedua orang tuaku juga dimakamkan di sini. Jaga kulitmu, Alula! Lihatlah, ada kemerahan di pipimu bagian kiri!" Arjun menunjuk sisi itu.


"Benarkah, kamu pasti berlebihan! Aku sudah biasa keluar tanpa make up, masa begini saja sudah gosong?" Alula sedikit panik jika penampilannya mendapat koreksi.


Arjun terkekeh, "Ya enggak begitu juga Lula, make up kamu yang sekarang sebenarnya bisa melindungi wajah kamu dari paparan sinar ultraviolet. Aku hanya menguji kamu saja, melihat reaksi kamu seperti tadi, kamu terlihat sangat lucu."


"Itu pasti karena Kevin kan?" tebak Arjun yang mulai merasakan sahabatnya ini berubah.


"Enggak, aku hanya tak ingin wajahku terlihat jelek." elak Lula seraya merapikan tatanan rambutnya. Tapi, sebenarnya Arjun tahu kalau Alula tak ingin kelihatan jelek agar bisa mendapatkan perhatian suaminya.


Dari seberang sepasang mata menatap tajam. Pria itu berjalan sedikit berlari menghampiri Lula.


"Menjauh kamu dari istriku!" gertak Kevin, Arjun hanya menyunggingkan senyum.


"Kevin Aluwi, CEO dari PT. CAHAYA INDO LESTARI, sejak kapan Anda mengakui kalau Alula Farhah adalah istri Anda? Bukankah semua orang tahu, kalau Anda memiliki kekasih seorang model terkenal? Biarkan Alula memilih untuk bebas." ucap Arjun santai tapi berhasil menampar kenyataan.


"Itu bukan urusanmu, Arjun Anaufal Okta!" bentak Kevin seraya menunjuk dada bidang Arjun.


Arjun menatap tajam Kevin, dengan tatapan tak suka. Ia mampu melihat kalau Kevin cemburu. Itu yang ia inginkan.


Sementara Alula terdiam, bingung dengan pemikirannya.


Kevin menarik paksa tangan istri nya menjauh dari Arjun dan keluar pemakaman. Alula hanya mampu menatap jauh sahabat kecilnya itu.


"Lepas kan tanganku !" bentak Lula yang sebisa mungkin menepis tangan suaminya, karena terlalu kuat Alula kewalahan.

__ADS_1


Kevin tak menghiraukan hingga sampai di mobil.


"Masuk!" perintah Kevin dan Alula menurut.


Kevin segera melajukan mobilnya, keheningan tercipta lagi sampai keduanya tiba di apartemen.


Kevin mengambil kotak P3K, dan mengeluarkan obat merah.


Alula yang terduduk di sofa meluruskan kakinya.


"Sini tangan kamu!" titah Kevin seraya mengulurkan tangannya.


Alula tak menjawab dan memalingkan muka, enggan menatap Kevin. Seharusnya dia senang karena Kevin telah mengakui dia sebagai istri sahnya. Tapi, sejujurnya sakit hatinya masih terukir jelas di dalam dada.


Melihat penolakan Lula, Kevin tak tinggal diam, dia ikut duduk di samping Lula dan meriah lengannya. Lula hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun. Kevin tersenyum tipis, karena kejadian ini membuat dia bisa lebih dekat dengan istri nya yang dingin. Sikut yang memerah itu kini sudah tertutup plester. Selesai membereskan peralatan P3K, Kevin pun beranjak.


Alula melunak dengan sikap suaminya yang manis itu, tapi ia tetap menjaga image nya agar tak ketahuan.


"Terima kasih!" ucap Lula lirih, namun Kevin bisa mendengarnya. Kevin terhenti dan langsung menoleh. Dia juga tak buru -buru merespon untuk menyembunyikan rasa senang melihat Alula yang melunak .


"Eum, terima kasih untuk apa?" Kevin pura-pura bloon.


"Jangan pura-pura!" Alula terlihat suntuk dan beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Kevin menelan ludah, "Bodohnya aku, kenapa yang keluar kalimat itu,"


***


Maria menemui seseorang di sebuah apotik, menerima sebuah benda dan menyimpannya di dalam tas kecil. Maria meninggalkan apotik setelah memberi orang yang ia temui segepok uang.


"Ini pasti akan berhasil." Gumam Maria yakin seraya masuk ke dalam mobil. Dia terkekeh hingga terlihat jelas garis-garis di wajahnya. Seorang sopir lalu membawanya pergi.


"Ini, semoga berhasil Nak!" Maria menemui Vivi tepat di halaman kantor milik Kevin.


"Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini, Ma?" Vivi bergetar takut jika sesuatu terjadi padanya.


"Kamu tak perlu takut. Taburkan benda ini pada bedak yang sering ia gunakan. Dengan begitu wajahnya akan memanas dan duar, dia akan menjadi lebih jelek lagi dari wajahnya yang sekarang." terang Maria yang membuat Vivi tersenyum.


"Baik, aku akan segera masuk ke dalam." Vivi pergi setelah mencium pipi ibunya.


Vivi berjalan pelan sambil mencari cara agar bisa melancarkan aksinya. Seketika itu juga dia melihat Kiki yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Kiki, aku perlu bantuanmu sebagai ganti atas semua uang yang sudah aku berikan padamu kemarin. Jika kamu meminta imbalan padaku, aku tak segan melaporkan kamu ke polisi atas tuduhan pemerasan." ucap Vivi mengancam.


Kiki yang hanya pegawai biasa pun tentu takut jika terseret ke polisi. Lebih lagi dia sangat butuh uang yang ia dapat kemarin.

__ADS_1


"Jangan Nona, baik aku akan membantu Anda!"


__ADS_2