Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 25


__ADS_3

Alula sangat bagus dalam berakting. Bahkan dia sudah mendapatkan job baru dari sutradara lain. Membintangi sebuah film yang sangat bersejarah di Indonesia, memerankan menjadi tokoh wanita yang sudah berhasil mengangkat derajat wanita agar setinggi dengan pria. Ya, Alula sedang berperan menjadi RA. Kartini. Arjun yang berprofesi sebagai make artis terjun langsung untuk me make up sahabatnya itu.


"Lula, kamu sangat cantik meski tak menggunakan make up tebal!" puji Arjun tatkala memoles bedak tipis-tipis ke wajah Alula.


"Aku tersanjung, terima kasih dan semoga hari ini lancar! Aku sudah tidak sabar berakting di depan kamera." ujar Lula dengan semangat.


"Tenang saja, alur cerita ini bertema sejarah yang sangat mudah memerankan tokoh ini, kamu hanya tinggal menghayati saja karakteristik tokoh nya."


"Iya, eum, bagaimana dengan sanggulku?" Alula menyangga sanggul dengan telapak tangannya.


"Pas, tidak terlalu besar dan membuatmu terkesan sangat kalem."


"Oke, sudah siap semuanya, bisa kita mulai syuting!" teriak sutradara untuk memanggil semua kru.


"Siap!" sahut semua kru termasuk Lula, sebelum Lula beranjak Arjun menyemangati nya.


"Semangat Lula, jangan lupa bahagia!"


"Baik!" Lula pun menyusul kru yang lain.


Sementara Kevin sedang berdebat dengan Andho dan semuanya terhenti ketika Nabil datang.


"Kevin! Sungguh aku tak percaya kamu kembali memimpin di sini." ujar Nabil bahagia sambil menepuk kedua bahu Kevin.


"Memimpin? Kevin maksud kamu? Nabil, apa kamu juga meragukan kemampuan Vivi?" seolah Andho yang merasa paling benar.


"Andho, kamu juga sudah tahu bagaimana kinerja Kevin ketimbang seorang model, sudah pasti kalah jauh!"


"Kamu meledek ku?" Vivi memicingkan mata tak suka.


"Jujur saja, selama aku kamu suruh ini itu, aku merasa muak dan jelas aku mendukung kepemimpinan Kevin ketimbang kamu." Nabil menuding Vivi yang membuat Vivi naik pitam.


"Kamu kurang ajar! Berani melawan atasanmu! Kamu, sekarang juga aku pecat!" ucap Vivi dengan nada membentak.


"Silahkan kamu pecat aku! Ini, berkas yang kamu berikan padaku aku kembalikan dan urus saja sandiri!" Nabil sudah di ambang batas kesabarannya. Kinerja Nabil sebelas dua belas dengan Kevin. Jadi sangat berpotensi sekali di perusahaan itu.


Nabil hendak melangkah meninggalkan ruangan yang membuatnya terasa sesak.


"Tunggu, tak ada yang boleh memecat dia selain aku!" Kevin menahan Nabil.

__ADS_1


"Hallo, kamu lupa siapa kamu?" ujar Vivi dengan nada mengejek.


Andho mendekati Vivi dan ikut mengejek.


"Dia belum beruban tapi sudah pikun." Andho tertawa keras diikuti juga dengan Vivi.


Kevin mengepalkan tangan, ingin sekali merobek mulut mereka tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya. Apa bedanya dengan mereka jika terpancing dengan omongan mereka.


"Kalian yang aku pecat dari perusahaan PT CAHAYA INDO LESTARI! Aku kembali dan bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang aku buat. Kamu jangan khawatir, aku akan menggaji kamu selama menggantikan posisiku di sini." Nabil terharu dengan apa yang Kevin ucapkan. Kevin mengambil ponsel dan sedang menghubungi seseorang.


Setelah mendengar jawaban dari pihak Rapat Umum Pemegang Saham, Kevin diangkat kembali menjadi CEO. Dia kembali menduduki kursi yang seminggu ini ia anggurkan.


Vivi dan Andho tak punya kekuasaan lagi sekarang. Kaki keduanya seakan kaku tak bisa bergerak.


"Kalian sudah mendengar dengan apa yang bos Kevin katakan!" bentak Nabil pada keduanya.


"Nabil, jangan kasar pada mereka! Mereka diam-diam telah berjasa menunggu ruangan ini selama satu minggu lebih. Bersikaplah sopan!" ujar Kevin yang terdengar mengejek.


Mendengar penuturan Kevin, hati Vivi bergejolak ingin marah, ingin memaki dan mengobrak-abrik tampat ini. Namun, semuanya hanya di angan saja. Menelan ludah saja kesulitan, bagaimana mau bicara.


Andho yang sangat mengerti bagaimana keadaan Vivi segera menarik tangannya pergi dari ruangan CEO.


Kevin dan Nabil tertawa puas!


"Terima kasih, sejauh ini kamu selalu berada di pihakku!"


"Kamu tenang saja. Kita harus memperbaiki semua laporan yang sudah mereka susun. Kevin, aku ingin bertanya sedikit padamu!"


"Banyak juga boleh, katakan saja!"


"Aset perusahaan telah hilang 75 persen, lalu dari mana kamu akan memulihkan dana perusahaan?"


"Nabil, tidak semuanya keberhasilan itu didapat dengan mudah. Meski aku kehilangan separuh lebih aset, masih ada sisa untuk membuatnya agar utuh kembali. Bersedia kah kamu membantuku memulihkan perusahaan dari awal lagi?"


"Tentu, aku akan bekerja siang malam untuk perusahaan ini!" Nabil kembali memeluk sahabatnya.


Setelah Kevin kembali ke perusahaan, dia memulai aktifitasnya di depan laptop. Seorang office girl datang membawakan dua cangkir kopi panas.


"Bos, ini kopi panasnya!" ujar office girl itu, sedikit gugup saat meletakkan cangkir di meja.

__ADS_1


Kevin melihat jelas kalau tangan wanita bernama Emi itu bergetar sangking gugupnya.


Kevin segera menyeruput kopi. "Kopinya enak, terima kasih!" ujar Kevin. Mendengar itu Nabil segera berhenti mengetik dan menoleh ke arah Kevin. Tanda tanya besar, dia bersikap ramah dengan bawahan.


Mendengar pujian dari atasan, Emi langsung salah tingkah. Dia menundukkan kepala, "Sama-sama Bos!"


"Kamu yang sering sama Alula kan?" tanya Kevin sekedar merilekskan suasana yang sejak tadi tegang.


"I-iya, Bos!" Emi merasa dihargai keberadaannya segera mengangkat kepalanya.


"Apa kamu masih sering berhubungan dengan istriku?"


"Tidak Bos. Sudah lama sekali sejak dia keluar dari pekerjaannya."


"Apa ada yang ingin kamu katakan ke dia, biar nanti aku sampaikan padanya."


"Jangan lupa bahagia! Hanya itu bos yang bisa saya sampaikan." ujar Emi yang langsung pergi.


Kevin tahu, itu adalah semboyan Lula yang sering ia ucapkan ketika memulai pekerjaan. Kevin tersenyum sendiri hingga deheman dari Nabil membuatnya mengkondisikan sikap nya.


"Kamu kesambet atau apa?" ledek Nabil.


"Sembarangan kamu! Aku masih waras."


"Aku perhatikan aura wajahmu menunjukkan kamu sedang happy. Ayolah, berbagi cerita denganku!" desak Nabil yang kini sudah pindah posisi duduknya, duduk di depannya hendak menyimak kisah sahabatnya yang seminggu lebih tak ada kabar.


Kevin hanya tersenyum saja menanggapi Nabil.


Sepulang kerja Kevin ingin menjemput Lula, meski ada pengawal rasanya tetap saja ia yang ingin disamping istri nya.


Sesampai di lokasi syuting, Kevin melihat Alula sedang dibantu Arjun untuk melepas sanggulnya. Sebisa Mungkin ia menghilangkan rasa cemburu yang benar -benar sudah mendarah daging.


"Arjun, aku pulang duluan ya! Tuh, suamiku datang menjemput." ujar Lula berpamitan.


"Hati-hati!" timpal Arjun yang segera mengemasi semua peralatan make up nya.


Alula tak menyahut dan sebuah tangan kekar meraih jemarinya.


"Malu, dilihat banyak orang!" tegur Alula saat Kevin sudah berada disampingnya.

__ADS_1


"Biarin, biar semua orang tahu kalau Permadani ini punyaku." gombal Kevin sambil menuntun Lula menuju mobil. Para pengawal membuntuti mereka dari arah belakang.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," Kevin menggantung kalimatnya hingga membuat Lula penasaran.


__ADS_2