Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 30


__ADS_3

Kevin tak bisa berkutik jika sudah demikian. Dalam diam ia masih tetap tak percaya dengan kenyataan yang menohok ini. Refleks tangannya menyobek bukti itu menjadi empat bagian sama kecil dan segera berlari mengejar Lula yang terlihat semakin jauh.


Senyuman jahat terukir jelas di wajah Intan, dia mengusap perutnya yang masih rata sambil bergumam, "Mudahnya membuat kalian hancur." dan setelah itu ia pergi.


Sementara Lula sudah menghentikan taksi, masuk ke dalam mobil kuning itu, dan si sopir segera tancap gas.


"Kita ke mana Nona?" tanya pak sopir dengan sopan, sesekali ia melirik wajah Lula yang terlihat sembab.


"Kemana saja Pak, asal pergi menjauh dari tempat ini!" sahut Lula dengan suara masih terisak. Mendengar itu si sopir ingin membantah tapi ia urungkan niatnya. Menyadari kalau penumpangnya sedang tak baik-baik saja.


"Baik, Nona!"


Melihat mobil taksi yang memutar arah, Kevin bergegas lari mengejar taksi dan ingin menghentikannya. "Alula, berhenti, ku mohon jangan pergi! Aku tak mau kita cerai !" teriak Kevin dengan lengkungan suara yang tinggi. Dia membungkuk kan badan sambil memegang lutut, bahunya terlihat naik turun seirama dengan nafasnya yang tersengal -sengal.


Alula mampu mendengar dengan baik teriakan Kevin, segera ia menutup kupingnya dengan dua tangan. Air matanya sedari tadi tak kunjung surut.


Kevin sadar lebih baik menabrakkan diri jika ini pilihan terbaik. Mobil taksi itu semakin dekat dan hampir saja tubuh Kevin terlindas. Matanya terpejam, namun ia tak merasakan apa pun. "Apa sekarang aku sudah ada di surga," gumamnya.


Dengan keahlian kusus dan cekatan sopir taksi menginjak rem kuat-kuat. Tak hanya kepala si sopir, kepala penumpang nya pun ikut terhuyung ke depan. Sopir segera membuka pintu mobil dan keluar.


Merasa ada seseorang yang berteriak menuju ke arahnya, Kevin membuka mata.


"Aku masih hidup." ujarnya girang, setelah sadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja terjadi, Kevin kembali pada pikirannya.


"Dasar gila! Kalau kamu mau mati jangan di sini, sana pergi!" usir si sopir dengan marah karena mobilnya hampir saja menabrak orang yang ia anggap gila.


Kevin tak perduli dengan omelan sopir itu. Dia memutar menuju bangku penumpang dan mencari sosok Lula di sana.


"Lula!" pekik Kevin histeris karena tak mendapati istrinya di sana.


Alula ternyata diam-diam sudah keluar dari mobil taksi itu, dia berlari sejauh mungkin untuk menghindari Kevin.

__ADS_1


Kevin melihat kosong isi jok penumpang, lalu ia membanting kasar pintu mobil. Hati dan pikirannya sangat kacau. Ia menjambak rambutnya dan berteriak menyebut nama Lula.


Sementara Lula kini sudah berada sangat jauh dari keramaian. Ia berada di pinggir sawah, duduk sambil merangkul lutut di bawah pohon rindang. Pemandangan sawah yang hijau menyejukkan mata yang terasa masih pedas. Hatinya tak karuan rasanya. Mengingat kembali janji yang suaminya ucapkan. Bahwa dia sudah putus dan tidak ada hubungan apa pun dengan semua pacar nya. Tapi kenapa gadis bernama Intan mengaku hamil olehnya?


Hampir dua jam ia di sana, setelah sedikit tenang Lula beranjak dan merogoh ponsel di dalam tasnya.


"Yah, nggak ada sinyal lagi!" keluhnya, padahal berniat ingin mencari ojek online.


Karena daya baterai lemah, ponselnya pun mati juga. Lula ngedumel tiada henti merutuki nasib yang menimpa sambil berjalan menuju jalan raya.


Kakinya pun semakin pegal. "Aku capek banget, haus lagi." Lula berhenti di sebuah warung yang kumuh. Penjualnya seorang wanita tua yang sakit-sakitan.


"Nek, beli minuman ada?" tanya Lula sopan. Ucapan Lula menarik perhatian pelanggan yang kebetulan semuanya pria. Mata genitnya menatap Lula dari atas sampai bawah.


"Ada Neng, mau beli berapa?" tanya si penjual dengan ramah.


"Satu saja, Nek!" Setelah Lula menerima botol minuman dan melakukan pembayaran seorang pemuda genit menahan uang Lula.


"Sudah, aku bayar! Uangnya kamu simpan saja!" ujar pria itu.


Merasa daerah itu sangat rawan, Lula segera bergegas mencari taksi. Lula mempercepat langkahnya. Sesekali dia menoleh ke belakang. Rasa curiga muncul kalau seseorang telah mengikutinya.


Dan benar saja, suara teriakan dari arah berlawanan berhasil membuat Lula berhenti.


Pria genit itu tak sendiri, dia bersama keempat temannya mengepung Lula.


"Mau apa kalian!" bentak Lula seraya mencengkeram kuat handel tasnya.


"Manis, sini ikut aku yuk!" bujuk salah satu dari mereka.


"Kita main dulu yuk!" ajak yang lain.

__ADS_1


Melihat lima pria genit di depannya, otak Lula berputar mencari cara agar bisa kabur dari daerah tersebut.


Kemungkinan sulit karena tak ada celah untuk berlari. Pilihan utama adalah teriak minta tolong. Sekuat tenaga ia menjerit tak ada satu pun orang yang mendengar. Pas kebetulan jalanan itu sepi.


Lula memberontak saat tangannya berhasil dipegang oleh seorang yang berjaket kulit.


"Kamu mau kemana cantik? Tak kan ku biarkan kucing manis ini pergi begitu saja. Ayo, kita bawa dia ke markas. Kita perkosa dia ramai -ramai!"


Mendengar kalimat itu, jantung Lula berdegup begitu cepat. Aliran darah berpacu hebat. Alula memohon namun tak mereka hiraukan.


"Lepaskan aku! Ku mohon!" rengek Lula dengan perasaan takut.


"Aku akan membayar berapa pun uang yang kalian minta, asalkan jangan perkosa aku!" salah satu dari mereka berhenti dan memandang satu sama lain.


Alula mengganggap idenya berhasil namun tak menyangka mereka malah mentertawakan Lula.


"Kamu kira kami bodoh, hah !" mereka tetap menggiring Lula menuju sebuah gudang.


Dari jauh sebuah mobil hitam melaju kencang ke arah mereka. Ini kesempatan bagus bagi Lula, Lula berteriak minta tolong. Namun, tangan pria genit berhasil membungkam mulutnya. Mobil hitam itu bukannya berhenti malah berjalan lurus. Kesempatan kedua kabur gagal.


Otak Lula berpikir keras untuk melawan mereka berlima. Sempat dalam hati ia merenung, inilah akibat jika pergi tanpa izin dari suami. Lula mulai menangis.


"Ssstt, jangan menangis cantik, enggak sakit kok!" goda pria genit yang berada di depannya.


Situasi ini bagus, Alula yang kakinya leluasa bergerak menendang kuat ke arah ************ pria di depannya hingga jatuh meringis. Langkah berikutnya, menggigit tangan pria yang sedari tadi membungkam mulut nya. Pergelangan nya merasa longgar dari pegangan dua pria yang panik. Lula menginjak kaki pria satunya dengan sepatunya yang mahal. Lula lolos dan segera pergi dengan lari sejauh mungkin. Kekuatan otot kakinya sangat bagus, ia berlari bak peserta maraton.


Sebuah mobil hitam hampir saja menabraknya. Lula mengetuk pintu cepat agar pemilik mobil membuka nya.


"Tolong saya, sekelompok pria ingin memperkosa saya!" ujar Lula penuh iba. Merasa kasihan dan tak curiga, pria di dalam mobil membuka kaca jendela. Berhenti sesaat dan mengamati penampilan Lula yang berantakan. Dari jauh seseorang berlari berteriak.


"Ku mohon, tolong saya!"

__ADS_1


"Masuklah!" perintah suara dari dalam.


Lula selamat dari kejaran pria genit.


__ADS_2