
Lula termangu memikirkan segenap hatinya. Ia tak yakin jika menyampaikan kabar kehamilannya ini akan mempertahankan rumah tangganya.
"Lula, temanku sedang mengalami kecelakaan. Aku harus ke rumah sakit sekarang!"
Ia teringat terakhir Kevin mengucapkan kalimat itu sebelum pergi tadi.
Betapa sakitnya hati yang ia rasa saat ini. Lula mengusap perutnya yang datar dan segera pergi meninggalkan apartemen. Ia ingin tahu sendiri dan menyakinkan dengan mata kepalanya sendiri sejauh mana suaminya berhubungan dengan wanita yang bernama Siska itu.
"Aku tak bisa tinggal diam begini." Lula memesan taksi on line. Dan besoknya baik tanpa Kevin atau tidak ia akan belajar menyetir sendiri.
Kevin sudah berada di rumah sakit sekarang. Ia khawatir karena tahu kalau Siska hidup di kota ini hanya sendirian. Selama menunggu kepulangan orang tuanya dari luar negeri, sementara Kevin yang akan menjaga nya saat ini.
Untunglah tusukan pisau yang mengenai perut nya tidak terlalu dalam hingga mengenai usianya. Dia hanya mendapat beberapa jahitan.
Dokter terbaik di rumah sakit memberikan pelayanan terbaik pada bidan cantik itu.
Siska seorang bidan yang sangat terkenal hingga ketenaran nya membuat semua orang menyayangi nya.
Pukul 18.00 Siska baru tersadar. Ia membuka kelopak matanya dan melihat pria yang sangat tampan sedang duduk menatapnya.
Kevin bergegas menuju ke arah ranjang pasien.
"Siska, kamu sudah sadar?" tanya Kevin begitu peduli.
"Kevin, terakhir aku ingat, aku sedang menuju parkiran dan seseorang tiba -tiba menusukku dari samping." terang Siska dengan suara samar. Ia bangkit, Kevin membantunya untuk bersandar. Tak terima dengan perlakuan Kevin, sontak Siska memeluknya dengan pelukan yang erat dan enggan untuk melepaskannya.
"Kamu tenang saja, polisi sudah menangkap penjahat itu." saat Siska memeluknya Kevin tersentak batinnya. Ia ingin melepas pelukan itu.
"Izin kan aku seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu." Siska menempelkan wajahnya di bidang Kevin. Membuat Kevin kesulitan untuk bergerak.
"Orang tuaku akan datang besok pagi. Bisakah kamu menemaniku malam ini?" Siska menunjukkan wajah pilu dan pucat. Tentu sangat membuat Kevin tak tega.
"Maaf, aku tak bisa!"
"Sekali ... saja, ku mohon ...!" Siska memelas menampakkan wajah imutnya beralih memegang lengan Kevin. Kevin terdiam tampak berpikir.
__ADS_1
Sejak Siska sadar tadi, mata Lula sudah memerah tapi sampai saat ini ia masih kuat dan tidak menangis. Mencoba bertahan dengan hubungan yang seperti ini ternyata sangat menyakitkan. Lagi-lagi ia mengusap perutnya dan bergumam.
"Jika aku harus berpisah dengan ayahmu, itu bukan salah bunda, ayahmu yang memulainya."
Kemudian Lula pergi dengan perasaan yang begitu menyesal, alangkah baiknya jika ia tidak datang ke sini tadi.
"Akan aku usahakan." sahut Kevin kemudian. Di sisi lain Siska pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Tapi itu adalah masa lalu. Bukannya ia egois tapi setidaknya ia harus bisa menolak Siska, karena sudah ada istri yang menunggu di tempat lain.
Siska sudah merasa tenang sekarang. Ia terpejam lagi.
Kevin merasa gelisah dan tak bisa berlama-lama di rumah sakit. Ia segera menghubungi Nabil untuk menggantikan menjaga Siska. Setelah Nabil datang, Kevin segera pergi menuju apartemennya.
Hampir tengah malam ia baru tiba. Serangkaian kejadian tadi membuat suasana hatinya tak nyaman. Begitu ia masuk ia mendapati istrinya sudah menunggu di sofa. Dahinya berkerut.
"Lula, kamu belum tidur?" tanya Kevin begitu khawatir.
Lula menurun kan tangannya yang sejak tadi ia silangkan di depan dada.
"Bagaimana aku bisa tidur, sementara suamiku berada di luar sana bersama wanita lain." sahut Lula dengan aura begitu dingin.
"Apa maksud kamu?" Kevin tak tahu kalau Lula sudah mengikutinya tadi.
Kevin memindai bola matanya. Segera membuka map tersebut.
Betapa kagetnya ia mendapati surat cerai yang sudah Lula tanda tangani. Kevin menggelengkan kepala dan merobek isi map tersebut.
Dengan suara lantang ia menghardik Lula, "Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan kamu, Lula. Ada apa denganmu? Masalah rumah tangga apa lagi yang kamu khawatirkan hingga dengan mudahnya mengatakan cerai padaku?"
"Aku sudah muak dengan semua ini, Mas! Kamu bilang kamu akan berubah, tapi nyatanya apa? Kamu masih sama seperti kamu yang aku kenal di awal. Aku sangat membencimu!" setelah mengatakan itu, Lula berbalik dan pergi menuju kamar lamanya.
Kevin menghela nafas panjang, merasakan dadanya begitu nyeri seperti tertusuk. Dia terduduk sambil memegang dadanya.
"Sakit!" keluhnya sambil mengernyit.
Keesokan paginya.
__ADS_1
Lula sudah bangun dan mendapati Kevin tertidur di sofa.
Ia tak bisa munafik. Ia sangat mencintai pria ini.
Lula berbalik menuju dapur, berkutat dengan pekerjaannya. Di tengah kesibukannya, Kevin muncul.
"Aku akan pergi beberapa hari ke luar kota." namun saat mengatakan demikian ia tak benar-benar pergi ke kota. Ia akan menjalani serangkaian pengobatan di rumah sakit.
Semalam Kevin menghubungi dokter Shodiq dan menyampaikan keluhannya. Kevin diminta untuk ke rumah sakit. Sampai saat ini ia belum tega menyampaikan penyakitnya pada Lula, ia sungguh tak ingin melihatnya ikut sedih. Cukup ia saja yang akan menanggung rasa sakit itu sendiri.
Lula tak menyahut meski ia mendengarnya.
Kevin berbalik menuju kamar. Setelah rapi ia sarapan sekedar makanan yang sudah tersaji di atas meja. Kemudian ia pergi. Sebelum sampai ke pintu, ia menoleh dan berkata.
"Kamu bisa meminta bantuan Arjun untuk mengajari menyetir mobil. Maaf, aku sangat sibuk hingga lupa akan hal itu." kemudian tanpa menunggu sahutan dari Lula, Kevin sudah menghilang.
Lula mengusap dada sekedar menenangkan hatinya yang berkecamuk.
Saat akan berdiri membawa piring yang kotor, ponselnya berdering. Ia melihat nama Arjun di sana.
"Ada apa, dia menelponku sepagi ini?" gumamnya dan segera mengangkat panggilan itu.
Satu jam yang lalu, Kevin berpikir untuk menyerah. Dia sudah termakan omongan untuk bertaruh dengan Arjun. Dan menunda membuktikan padanya tentang makna cinta yang sebenarnya. Ia menghubungi Arjun untuk menitipkan Lula selama beberapa hari ke depan. Ia tahu Arjun adalah saingannya, tapi mengapa ia memilih Arjun. Entahlah, hanya Kevin yang tahu.
"Lula, kamu ada jadwal syuting hari ini?" tanya Arjun di seberang sana.
"Tidak ada." sahut Lula datar.
"Sama dong, bagaimana kalau pagi ini kita keluar." ajak Arjun sekedar basa-basi.
"Aku sibuk."
"Sibuk apa?"
"Mau belajar menyetir."
__ADS_1
"Itu urusan kecil, aku yang akan mengajarimu."
"Baiklah!" tanggapan Lula tanpa berpikir panjang lagi.