Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 33


__ADS_3

Mendengar teriakan suaminya, Alula bangkit dan memastikan sendiri apa yang terjadi.


"Mama!" pekik Lula yang juga segera menghambur ke arah Santi.


"Mama kenapa Mas?" tanya Lula panik.


"Aku sendiri juga tak tahu, waktu aku datang, mama sudah tak sadarkan diri seperti ini."


"Mungkin mama mendengar semua yang aku katakan tadi." tukas Lula yang merasa bersalah.


"Jika itu benar, dan bila terjadi sesuatu pada mama, aku takkan memaafkan kamu. Mama sangat menyanyangi kamu sehingga beliau tak ingin kita berpisah. Pikirkan kembali ucapan kamu!" hardik Kevin, mendengar teguran suaminya Lula menunduk lesu.


"Sudah, sebaiknya kita bawa mama ke rumah sakit. Ambilkan jaketku dan kunci mobil di kamar!" titah Kevin sambil membopong Santi.


"Baik!" Lula segera beranjak mengikuti perintah suami nya.


Kevin melajukan mobil, membawa Santi ke rumah sakit ternama di kota itu. Alula bersama Santi di jok belakang. Alula menggenggam erat tangan mertuanya seraya tak henti -hentinya berdoa dalam hati.


"Ya Tuhan, selamatkan mama, aku takkan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padanya. Dia adalah wanita yang baik, jadi selamatkan nyawanya."


Tak butuh waktu lama, Santi sudah mendapatkan penanganan yang serius. Dokter pemilik rumah sakit sendiri yang memeriksa keadaan Santi. Setelah berbagai pemeriksaan dilakukan, dokter menemui Kevin dan menyampaikan hasil pemeriksaan nya. Santi hanya mengalami benturan kecil di kepala dan tidak ditemukan penyakit serius. Santi pingsan mungkin shock dengan apa yang barusan dilihat atau didengar.


Setelah dokter menyampaikan hasil pemeriksaan dan pergi, Satria datang dengan tergopoh.


"Bagaimana keadaan mama kamu, Kevin?" Satria yang baru saja pulang dari pemancingan mendapat kabar dari Viona dan langsung menuju rumah sakit.


"Alhamdulillah, tidak terdapat luka atau penyakit serius Pa, mama hanya shock saja kata dokter tadi." terang Kevin yang sekarang sudah tak cemas lagi.


"Kata Viona, mama datang ke apartemen kamu, jadi bagaimana mama bisa pingsan?" selidik Satria yang mencium bau tak beres dengan putra sulungnya.


Kevin membisu. Dan Alula yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.


"Ini salahku." ujar Lula.


"Kamu, istrinya Kevin kan?" tebak Satria yang baru tahu wajah Alula secara langsung. Alula mengangguk.


Kevin tak berhenti menatap istri nya. Terlihat jelas kalau istrinya sangat takut.


"Nanti saja Pa, Kevin ceritakan masalah nya." Satria mengangguk paham.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian. Santi membuka mata.


"Papa!" Santi ingin bersandar, Satria yang respon langsung membantu istrinya.


"Mama tidak apa -apa kan?" Satria membenahi rambut istrinya yang sedikit berantakan.


"Mama baik, tapi sedikit pusing," keluh Santi seraya menatap kedua pasangan suami istri di depannya secara bergantian. Alula di sebelah kiri ranjang pasien. Kevin di sebelah kanan ranjang pasien. Santi merasa sedih jika menantu kesayangannya menggugat cerai putranya. Kevin memang nakal, ia sadari itu. Tapi ia tak ingin anaknya terjerumus jadi sengaja menikah kan dengan Lula yang ia yakini mampu mengubah tabiat putra nya.


"Alula," panggil mertua perempuan dengan lembut. Santi ingin membicarakan masalah yang baru ia dengar saat berada di apartemen.


"I-iya, Ma," sahut Alula sedikit kikuk. Ia merasa tak enak dengan ucapan sendiri tentang perceraian.


"Pasti mama ingin membahas itu." batin Lula dengan perasaan gusar.


"Sini peluk mama!" Santi merentangkan tangan menyambut menantunya.


Alula merasa enggan, ada apa dengan mertuanya. Kevin menggerakan dagu memberi isyarat agar istri nya mendekat. Alula mengangguk dan cepat menjawab.


"Iya Ma!"


Setelah Alula mendekat, Santi mengeratkan pelukannya, begitu juga Lula membalas pelukan Santi.


"Alula, kamu sayang kan sama mama?" tanya Santi setelah melepas pelukan.


"Iya Ma," lagi, hanya itu yang bisa Lula katakan.


"Alula sangat menyanyangi Mama, Mama seperti seorang ibu kandung bagi Lula." sambungnya.


Satria dan Kevin saling melempar pandang. Memperhatikan kedua wanita di depannya.


"Jangan pergi dari kehidupan mama ya, kamu mengerti kan maksud mama apa?" Santi tak langsung merujuk pada pokok permasalahan yang sebenarnya ia tahu. Dia lebih memilih bahasa lain untuk menyampaikan ke Lula.


Alula sendiri memahami maksud perkataan mertuanya. Dengan terpaksa dan hati yang tergores ia kembali menerima Kevin.


"Kevin, kamu kan sudah janji sama mama untuk menjaga dan membahagiakan Lula, lantas kenapa raut wajah Lula terlihat masam?" Santi melempar pandang pada Kevin dan dengan wajah masam menegur putranya.


"Eum, iya Ma. Kedepannya Kevin nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku dan Alula baik-baik saja kok." Kevin memutar dan mendekatkan diri di samping Lula. Sambil berbisik.


"Bersikaplah manis di depan mama, jika kamu tak ingin membuat mama sedih!"

__ADS_1


Alula memutar mata malas mendengarnya. Kevin meraih tangan Lula dan menggenggam jemarinya yang runcing. Alula melotot ke arah Kevin, tapi Kevin bersikap acuh. Lula juga memberontak ingin melepas tangannya.


"Sudah, kamu diam saja!" bisik Kevin sambil memperlihatkan senyum di depan Santi.


Alula tak bisa berkutik, dengan senyuman terpaksa ia membiarkan suaminya menguasi situasi ini.


"Nah, begitu kan romantis!" seru Santi.


"Ehem!" Satria menetralkan suara nya.


"Eh, Papa, sini!" Santi mengayunkan tangan ke arah Satria.


"Jadi, hati Mama sudah berpindah nih! Kok sayangnya sama menantu, sama suami sendiri enggak!" protes Satria yang merasa diacuhkan.


"Ih, Papa begitu saja iri! Ya enggak lah, cinta mama kan hanya untuk satu orang yakni, Papa."


"Preett!" semprot Kevin yang membuat semua orang tertawa.


Setelah Santi sadar, dia diperbolehkan pulang. Kevin dan Alula mengantar Santi ke kediamannya. Setelah tiba, mereka semua disambut Viona.


"Mbak Lula!" teriak Viona dari balik pintu setelah Alula turun dari mobil. Viona berlari memeluknya.


Satria, Santi dan Kevin menyaksikan pemandangan itu. Betapa sayangnya Viona pada kakak iparnya.


"Aku kangen banget sama Mbak Lula, gimana kabar Mbak?" celoteh Viona tanpa melepaskan pelukannya.


"Viona cantik, lepas dulu tangannya! Mbak jadi sulit bernafas ini," Alula dengan ekspresi nyengir kuda.


"Eh, iya!"


"Nah, begitu, kabar mbak, alhamdulilah sehat!" sahut Lula sambil merangkul adik iparnya.


"Hem, yang punya adik siapa, yang dikangeni siapa," celetuk Kevin yang tak terima Viona pilih kasih.


"Biarin, habis nya Kak Kevin selalu usil sih!" Viona menjulurkan lidahnya mengejek.


"Sudah-sudah! Mama datang kok nggak disambut, malah ribut sendiri," gerutu Satria yang membuat Viona melepas tangan Lula dan membaur ke Santi.


Keluarga besar itu masuk ke dalam rumah. Bi Wawa sudah masak dengan porsi besar malam ini. Setelah mereka semua berada di meja makan, keluarga besar itu menikmati makanan dengan khidmat. Kecuali Lula.

__ADS_1


Bulimia Nervosa yang mengganggunya tak dapat dikendalikan. Ia makan dengan begitu cepat dan lahap. Hingga membuat Satria jijik melihatnya. Alula tanpa sadar telah mempermalukan diri. Beda dengan Santi dan Kevin yang sudah tahu akan kebiasaan Lula.


Satria menyudahi makan malamnya dan beranjak pergi tanpa kata. Kepergian mertua lelakinya membuat nyali Alula menciut. Ia merasa tak pantas berada dalam keluarga Aluwi.


__ADS_2