
Pijatan demi pijatan ia torehkan di setiap sisi bahu dan lengan, meski terasa pegal juga, Kevin tetap semangat memijat. Suara seseorang dari luar apartemen membuat dia harus berjalan untuk melihat siapa yang datang. Kevin membuka pintu dan ternyata adalah kurir pengantar makanan, setelah menyerahkan tip dia kembali sambil membawa dua bungkus makanan.
Setelah kembali ia mendapati Lula tengah berdiri menghadapnya.
"Ka-kamu sudah bangun?" Kevin seketika nampak gugup dengan tatapan Lula. Lula tak menyahut hanya mengangguk, bola matanya melirik apa yang Kevin bawa. Nyaris tak ada yang dibicarakan lagi Lula memilih berbalik menuju kamarnya. Langkah nya tertahan sejenak.
"Aku tahu kamu belum makan, ini aku pesankan makanan untukmu!" Kevin menahan Lula, ia mencoba cara untuk bersikap manis padanya.
"Besok kamu akan syuting lagi kan, jadi kamu perlu mengisi tenaga sebelum tidur." sambungnya.
Akhir-akhir ini Kevin lebih agresif dan banyak ngomong. Meski demikian terkadang ada sikap nya yang bisa membuat Lula melunak.
Lula mematung bahkan tak menyahut sedikitpun. Dia rasa ucapan Kevin bukanlah pertanyaan yang harus dijawab. Dia kembali pada tujuan awal tadi, pergi ke kamar.
Kevin kembali dibuat nya kesal, sudah cara halus ia coba, tapi istri nya malah mendiamkannya. Cara kasar ingin ia coba takutnya malah memperkeruh keadaan. Kevin mendesah kasar. Dia berjalan lesu menenteng bungkusan menuju meja makan.
Sikap Lula berubah drastis dari penurut menjadi berontak. Tak hanya penampilan yang transformasi, tapi juga sikap dan tindakannya.
Biasanya, sebelum beristirahat Lula melipat baju yang menumpuk dan terkadang menyetrika juga. Karena sekarang dia sangat sibuk menjadi artis baru di dunia entertaimen Lula lebih memilih membawa pakaian kotor ke laundry. Tidak hanya punya dia punya Kevin juga.
Kevin menyadari kalau istrinya ini berubah, tapi jiwa playboy nya tak mau menyerah untuk mendapatkan hati Lula, menempatkan dia di lubuk hati terdalam, mengunci rapat -rapat agar tak bisa lepas. Kevin juga berjanji pada diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.
Kevin menjatuhkan pantatnya di kursi dengan kasar. Nafsu makan nya mendadak hilang padahal tadi perut nya sudah terasa perih. Matanya menatap kosong ke arah meja.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar Lula terbuka, seketika itu juga Kevin menoleh. Alula baru saja selesai membersihkan diri terlihat jelas rambutnya sedikit basah. Baju nya pun juga sudah ganti, memakai baby doll dengan motif bunga, terkesan imut tapi tetap elegan. Sungguh terlihat seperti bukan Alula yang selama ini Kevin kenal.
Kenal dari mana coba? Bahkan Kevin sangat acuh tat kala Lula pertama kali datang dalam hidupnya. Dan sekarang Lula membalas semua yang pernah Kevin lakukan padanya. Termasuk menceraikan dia.
Dengan masih diam dia berjalan menuju meja makan. Keheningan terjadi, Kevin ingin berujar tapi takutnya salah. Dia juga diam sambil menatap Lula berjalan ke arahnya.
"Ayo makan!" ucap Lula yang mencairkan suasana yang terlihat sejak tadi tegang.
"Eum, baik!" seketika senyum Kevin mengembang. Dia mengambilkan sendok dan piring meladeni istri nya, ya buat apa lagi coba kalau tak untuk mengambil hati sang Permadani.
__ADS_1
Selama makan pun tak ada pembicaraan sampai mereka berdua selesai.
"Besok aku akan ke pengadilan agama." ujar Lula seketika membuat Kevin menelan salivanya. Lula sebenarnya juga masih ada rasa dengan suaminya yang playboy itu, tapi jika mengingat perlakuan kasarnya dulu yang menyayat hati, tekadnya kembali bulat.
"Aku tidak akan setuju kamu melakukan itu. Jika kebebasan yang ingin kamu peroleh, tidak dengan cara bercerai denganku. Kamu bisa melakukan apa pun tanpa tekanan dariku. Kecuali, dekat dengan pria lain."
"Ch, pria maunya menang sendiri." Lula berdecak sambil menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggung ke belakang.
"Terserah dengan peraturan yang kamu buat! Aku tak suka jika kamu mencampuri urusan pekerjaan ku lagi seperti sore tadi di lokasi syuting. Sudah cukup kamu membuatku malu untuk yang sekian kali, dan kali ini aku tak bisa tinggal diam jika kamu terus menindas ku!"
"Itu bentuk keperdulian ku padamu, bukan penindasan!" Kevin penuh penekanan agar Lula tak salah paham.
"Tekad ku sudah bulat, kecuali ... " Lula menggantung kalimatnya membuat Kevin punya kesempatan jika itu ada. Kevin tak langsung menyahut, dia menyimak dengan baik ucapan Lula selanjutnya.
"Jika aku hamil."
"Ha-hamil ? Maksud kamu?" Kevin setengah tak percaya dengan apa yang Alula sampaikan.
"Itu jika yang kamu inginkan, aku bisa mengabulkannya!" sahut Kevin percaya diri jika bisa membuat Lula hamil.
"Aku tak suka paksaan dan kekerasan. Jujur, dulu aku sungguh mengagumimu dan secara perlahan rasa itu berubah benci. Aku sangat membencimu, bahkan setelah kamu bercumbu dengan Vivi di depan mata kepalaku. Aku tak bisa menjamin kamu bisa meluluhkan hatiku lagi. Semua sikapmu sudah terekam jelas di memori otakku. Aku bagaikan buih dalam hidupmu. Aku sadari siapa lah jatidiriku, aku hanya gadis yang hina di depanmu." Tak banyak lagi yang bisa Lula sampaikan, dia beranjak dan melangkah pergi menuju kamarnya. Tak terasa bulir air matanya terjatuh.
Sementara Kevin mengingat apa saja yang dulu pernah ia lakukan pada Lula si gendut.
Menarik rambut nya hingga tersungkur, Lula tak becus menyetrika kemejanya yang akan ia gunakan untuk rapat. Memakinya karena terdengar muntah yang menjijikkan setelah Lula makan banyak. Yang paling parah lagi, memamerkan kemesraan saat dia bercumbu dengan Vivi, seolah di situ tak ada orang.
Kevin mendongak, menunduk dan membenturkan kepalanya ke meja.
"Bodoh, bodoh, bodohnya diriku saat itu. Itu bukan aku. Aku menyesal atas sikapku yang dulu padamu, Lula!" teriak Kevin, meski Lula bisa mendengar dia tak lagi menghiraukan teriakan itu.
Seminggu kemudian.
Lula sudah datang ke pengadilan agama untuk mengajukan gugatan cerai. Semenjak kejadian itu, Lula dan Kevin saling diam dan tak pernah tegur sapa sama sekali. Mereka disibukkan dengan urusan masing -masing.
__ADS_1
Film yang Lula bintangi kini sudah di putar di layar lebar. Usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Tak hanya memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi Lula juga cantik. Karena karisma yang ia punya mampu menyulap mata dunia untuk mengagumi bakatnya di dunia entertaimen.
Semua orang beralih menyukai Alula sebagai bintang baru. Ketenarannya pun mengalahkan seorang model bernama Vivi. Mendengar hal ini, Vivi sangat murka dan ingin menghancurkan Alula.
"Alula ...!" teriak Vivi sambil merobek salah satu poster Lula yang terpajang di dinding jalan. Vivi menghentikan mobilnya karena jengah menatap ke sana ke sini penuh dengan gambar Lula.
Setelah kertas itu menjadi sobekan kecil, Vivi menginjaknya.
"Aku sangat membencimu sejak dulu sampai kiamat pun aku akan tetap benci!" teriaknya lagi.
Setelah puas meluapkan emosi, Vivi memasuki mobilnya.
Sebelum kejadian ini, Vivi tadi pergi ke mall untuk shopping. Mendapati penggemarnya tak lagi menghampiri dirinya malah beralih ke arah Lula yang kebetulan juga ada di sana.
Lula terlihat berpakaian sopan namun tetap elegan. Daya tariknya sungguh luar biasa.
"Nona Lula, bolehkah aku minta tanda tangan!" ujar salah satu penggemar Vivi dulunya.
"Tentu saja dengan senang hati." Lula meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangan di punggung orang tersebut.
Vivi sangat kesal melihat itu, rasanya ia ingin menjambak rambutnya.
"Nona Lula, bolehkah aku berfoto bersama denganmu!"
"Tentu saja boleh, eum, langsung panggil Lula saja, jangan pakai nona, kesannya biar kita lebih akrab!" Lula terkekeh begitu pula para penggemar.
"Oke, kita foto bersama, katakan, jangan lupa bahagia ...!"
Bersambung....
Oke reader semuanya, jangan lupa dukung terus karya author ini, Buih Jadi Permadani, dengan cara like , vote, hadiah dan komentar.
Semoga terhibur and terima kasih 😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1