
Saat makan malam pun tiba, keluarga Aluwi sedang berkumpul di ruang makan. Ada Satria juga yang baru datang dan ikut bergabung. Awalnya ia tak tahu kalau Kevin dan istrinya juga ada di sana, segera mungkin ia menghapus pikiran negatifnya tentang Alula.
"Malam Pa!" sapa Kevin yang juga diikuti Alula.
"Malam juga, sudah lama kalian tidak mampir ke sini," ujar Satria seraya menarik kursi dan segera duduk di samping Santi.
"Iya Pa, karena ada urusan bisnis yang begitu padat." sahut Kevin yang tak menceritakan masalahnya. Sebisa mungkin rahasia tentang penyakitnya biar dia saja yang tahu. Karena tidak ingin melihat orang yang ia cintai terlihat sedih. Karena dulu kakeknya juga meninggal karena serangan jantung, jadi Kevin tak ingin membuat orang di sekitarnya sedih. Meski ia menyadari suatu saat mereka pasti bersedih juga jika ia mendadak mati suatu waktu nanti.
Alula hanya tersenyum kemudian menundukkan kepala.
Santi yang merasa suasananya menjadi canggung segera ambil suara, "Ini Pa, ada rendang kesukaan Papa!" Santi menaruh nasi dan rendang di atas piring Satria.
Satria mengerutkan alis dan bertanya heran, "Tumben masak beginian?"
Santi melengkungkan bibir dan menjawab, "Iya dong Pa, ini adalah hari spesial."
Mendengar ucapan Santi, Satria sempat berpikir apakah ada yang ulang tahun hari ini dan mengapa tidak ada kue?, kemudian bertanya lagi, "Hari spesial? Memangnya ada acara apa?"
"Ini loh Pa, kita berdua bakal jadi kakek dan nenek!" Santi dengan kegembiraan meluapkan perasaan nya. Mengambil tangan suaminya dan mengusap dengan ibu jari.
"Jadi ...." Satria menggantung kalimatnya, ia tahu yang dimaksud istrinya adalah salah satu dari anaknya sedang hamil, itu pasti bukan Viona karena dia masih pelajar.
"Mbak Alula hamil Pa!" dengan cepat Viona mengucapkan itu. Dia juga salah satu anggota keluarga yang paling senang mendengar kabar ini. Selain menjadi tante, dia bakal dapat mainan baru.
"Syukurlah, papa ikut bahagia mendengar ini." ujar Satria tanpa rasa jijik seperti pertama kali bertemu dengan Lula dulu. Kedua tangannya menyapu ke arah wajah sebagai bentuk syukur. Dia terlihat sangat senang dengan kabar ini.
Satria ingat dengan perkataannya dulu pada Lula dan menyadari memang sulit untuk mengubah suatu kebiasaan, tapi tujuannya adalah baik untuk kedepannya nanti bagi Alula. Dia juga sudah tahu kalau gangguan yang dialami Alula perlahan akan menghilang setelah dia diperiksakan ke dokter.
Kemudian Satria mengarahkan pandangan matanya ke arah Lula sambil berkata dengan lembut, "Alula, maafkan atas sikap papa yang dulu pernah menyinggung atau membuat kamu merasa tak enak. Tidak ada maksud lain. Sungguh!"
Alula menoleh setelah mertuanya memanggil namanya dan berkata, "Iya Pa, tidak ada yang salah, aku sudah melupakan itu. Jadi, Papa tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Terima kasih, Alula, mari kita mulai makannya!" seru Satria.
Semua keluarga Aluwi menyantap hidangan itu dengan penuh rasa syukur.
Selesai makan, Viona bergegas menuju kamarnya untuk mempersiapkan pelajaran besok.
Sementara Santi menahan dua pasangan yang tengah dimabuk rindu, "Kevin, maafkan mama Nak, tapi mama harus mengatakan ini." Santi menatap pada suaminya seolah meminta persetujuan. Satria pun mengangguk meski ia tak paham apa yang akan dikatakan istrinya.
Kevin mengerutkan kening dan perlahan ia mengendurkan keningnya setelah Alula menggosok bahunya untuk menurut. Kevin mulai serius mendengarkan perkataan mamanya, "Iya, Ma, katakan saja, tidak perlu meminta maaf."
Santi menarik nafasnya panjang dan melepaskan perlahan sebelum bicara, "Kevin, Alula kan sedang hamil muda dan itu rawan sekali terjadi keguguran. Meski mama bukan dokter kandungan tapi mama hanya memberi saran saja, ya jika itu kamu bisa menahan."
Perkataan Santi membuat Kevin tak paham dan bertanya, "Menahan apa? Ya, Mama katakan saja, kenapa setengah -setengah menyampaikan nya."
Santi merasa tak enak mengatakan ini karena ia tahu mereka berdua sudah lama tak bertemu. Kemudian demi kebaikan bersama Santi memberanikan diri, "Sebaiknya saat ingin melakukan hubungan suami istri di tunda dulu, setahu mama jika terlalu sering kalian melakukan, janin di dalam rahim bisa mengalami gangguan."
Kevin berkerut dan membelalakkan mata tak percaya, padahal itu yang akan ia inginkan. Tentu Kevin tidak mau terjadi apa-apa dengan calon anaknya. "Benarkah?"
Santi mengangguk, "Sebaiknya kamu konsultasi ke dokter dulu untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut, menimbang kalian pasangan yang baru menikah dan pasti membutuhkan info itu untuk keselamatan bayi kalian."
Kemudian Santi dan Satria meninggalkan mereka berdua.
Kevin menelan salivanya dan menatap Alula, "Sayang, aku padahal sangat menginginkan kamu malam ini. Mendengar perkataan mama tadi, aku jadi takut jika aku bisa melukai calon bayi kita."
Alula tersenyum dan memahami perasaan suaminya, "Aku tahu itu, bagaimana kalau kita besok pergi ke dokter saja untuk membicarakan masalah ini. Meski terdengar sepele tapi ini juga penting."
Kevin mengangguk setuju.
Di lain sisi, Gibran mendapati istrinya dengan wajah muram dan lesu.
"Ada apa, Ma? Mama terlihat sedang kurang enak badan?"
__ADS_1
Maria berjalan lesu dan menatap Gibran, perlahan air matanya jatuh. Suara nya seakan tertahan.
"Kok malah nangis?" Gibran mengusap punggung Maria dan membawa masuk ke dalam, menuntun duduk dan mencoba menenangkan.
Setelah lama terdiam, akhirnya Maria mengaku. Dia tersungkur dan bersimpuh di bawah kaki suaminya, "Maafkan aku Pa, aku baru saja ditipu."
Gibran bingung, datang-datang istrinya langsung berkata demikian. Ditipu apa maksudnya. Gibran menatap serius istrinya dan bertanya, "Ditipu?"
"Iya Pa, mama mengikuti arisan dan tidak tahu kalau arisan yang mama ikuti itu adakah arisan bodong."
"Apa!" mendengar itu, Gibran langsung merasakan sesak dan nyeri di dada.
"Pa, Papa! Papa kenapa?" Maria sontak berdiri dan mengusap dada suaminya, menuntun untuk duduk.
Gibran menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan, setelah agak tenang dia bertanya lagi, suaranya terdengar bergetar. "Berapa uang yang Mama hilangkan?"
Maria menggigit bibirnya, diam tak berani berkata takut jika kesehatan suaminya memburuk.
Gibran tak mendengar suara istrinya menyahut dan membentaknya dengan lantang. "Katakan, berapa Ma!"
Maria tercengang, baru kali ini suaminya membentak dirinya. Dan kali ini juga melihat suaminya sangat marah. Maria kesulitan menelan ludah. "Se-kitar 50 juta, Pa!"
Gibran membelalakkan mata tak percaya, uang sebanyak itu bisa hilang dalam hitungan jam. Gibran berdiri dan berkacak pinggang. "Ma, kamu tahu kan dana yang aku pinjam dari perusahaan itu untuk modal kita ke depan, dan Mama sudah menghilangkannya dalam sekejap. Mama ingin membunuh aku?"
Maria bersimpuh lagi memohon ampun, "Maafkan mama, Pa. Mama khilaf dan mama juga sudah berusaha membawa pengacara untuk melaporkan kasus ini."
Gibran yang seperti tahu akan situasi ini mengusap wajahnya dengan kasar, "Ma, polisi zaman sekarang kalau tak disogok mana mau beraksi, dan pasti mereka menyangkal kalau bukti yang Mama berikan kurang kuat."
Maria tercengang seketika, bagaimana suaminya bisa tahu, "Papa tahu?"
"Tentu saja, papa sudah makan asam garam kalau perkara seperti itu."
__ADS_1
Tak lama mereka berdebat terdengar suara ketukan pintu dari luar.