
Sepulang dari tempat casting Alula minta izin pada sang mertua untuk pergi ke kantor Kevin.
"Ma, aku kan sekarang sudah diterima di tempat kerja yang baru, aku mau ke kantor untuk minta izin keluar dari pekerjaan sebagai office girl secara resmi." terang Lula.
"Iya, mama antar kamu ya," tawar Santi.
"Baik, Ma."
Sesampainya di kantor, Santi langsung pulang karena sedang mempersiapkan kepulangan suaminya dari luar negeri.
Alula berjalan menuju ruangan Kevin, sepanjang perjalanan dia menjadi tatapan semua orang yang ada. Mungkin karena tak memakai seragam, jadi tak banyak orang yang tahu kalau dia adalah office girl.
"Siapa gadis cantik itu, mungkinkah itu kekasih bos Kevin yang baru?"
"Bisa jadi,"
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi di mana ya, aku kok lupa,"
"Bukankah itu Alula?"
"Masa sih, kok terlihat beda,"
"Mungkin karena dia tak berseragam seperti kita, jadi kita tak mengenalinya."
Semua rekan saling berbisik. Emi yang sedang mengepel dikejutkan dengan kedatangan Lula. Hanya dia yang mengenali Lula ketika berpenampilan lain.
"Lula, kemana saja kamu? Kok kamu nggak memakai seragam kerja?" protes Emi.
"Maaf, Emi! Entar aku ceritakan ya, sekarang aku ada urusan sebentar." Lula segera pergi. Emi memandang penuh tanya kepergian Lula.
Lula kini tepat di depan pintu. Berdehem untuk menetralkan suara. Mengetuk pintu dan setelah suara dari dalam ruangan mempersilahkan masuk Lula membuka pintu.
"Alula?" Kevin terkejut melihat sosok gadis cantik berambut sepinggang masuk ke ruangannya. Alula tampak menundukkan kepala lalu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap serius ke arah Kevin.
"Eum, aku kemari untuk menyampaikan satu hal." ujar Lula bingung memulai dari mana. Kevin diam menunggu perkataan Lula yang terjeda.
"Aku ingin mengundurkan diri sebagai office girl di kantor ini." seketika Kevin tersentak. Alula ternyata serius menerima saran mamanya.
"Tapi kenapa, bukankah kamu menyukai pekerjaan ini?" Kevin terdengar keberatan dengan keputusan Lula.
"Apa yang dikatakan mama benar, aku harus mengejar mimpi, semua orang telah pernah menghinaku karena profesiku dan kini aku sudah diterima dan lulus casting. Aku akan memulai pekerjaan baru dan kehidupan baru. Baik itu tanpa mu atau tidak aku akan memulai karirku." terang Lula dengan yakin.
__ADS_1
"Lula, aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, aku akan berubah jadi tetaplah selalu berada di sini, di sisiku. Jika kamu keluar, lantas siapa lagi yang akan membersihkan ruangan ku hingga sebersih ini?" Kevin mencoba menahan Lula agar tetap bertahan bekerja di sini.
"Cih, suruh saja pacarmu itu untuk membersihkan ruangan ini!" decak Lula yang mulai malas terlalu lama berada di ruangan itu. "Toh, ruangan ini juga terasa najis bagiku. Melihat kalian melakukan perbuatan haram menambah keyakinan aku untuk segera keluar dari sini." ujar Lula tegas membuat Kevin kesulitan untuk menyangkal. Itu benar, sudah sering Kevin dan sang pacar melakukan hubungan terlarang di tempat ini.
"Jadi, tanpa izinmu atau tidak aku akan tetap keluar dari sini!" Lula membalikkan badan menuju pintu.
Kevin sontak berdiri, dan meraih lengan Lula.
"Apa perlu aku menempatkan kamu di posisi yang lebih tinggi? Misal sekretaris atau yang lainnya." Mendengar itu Lula tertawa sambil menutup mulutnya.
"Aku ini tak sepintar kamu, dan hanya lulusan SMA, apa nanti kata orang ? Aku malah akan dianggap tukang sogok." Lula menepis tangan Kevin dan segera pergi.
Kevin tak tinggal diam, dia meninggalkan pekerjaan yang menggunung, setumpuk berkas masih tersusun di atas meja. Dia setengah berlari mengejar istri nya.
"Lula, istriku, tunggu!" teriak Kevin hingga membuat semua orang yang tengah sibuk bekerja menyorot mereka.
"Bos Kevin menikahi seorang office girl?" pekik Kiki kaget, dia kebetulan ada di sana.
Tak hanya dia yang kaget, semua orang di sana juga sama. Termasuk Emi, sahabat Lula. Mengapa Lula tak pernah menceritakan tentang rumah tangganya, padahal Emi adalah sahabat baiknya? Itu karena pernikahan yang rahasia.
Lula mematung seketika. Entah mengapa dadanya terasa lega namun masih ada rasa nyeri di hati. Denyut jantungnya pun memompa lebih kencang seperti habis lari maraton. Bola matanya berputar, memandang semua orang yang menyorot padanya.
Kevin dengan tanpa keraguan dan keberanian yang menumpuk entah apa kata orang nanti tidak akan ia pedulikan. Dia berdiri tepat di depan Lula sekarang, meraih tangan nan putih itu.
"Dia, Alula Farhah yang bekerja sebagai office girl adalah istri sah dari CEO di PT CAHAYA INDO LESTARI, yang tidak lain adalah aku."
Alula masih terdiam seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Lula, semua orang sudah tahu tentang pernikahan kita, jadi, ku mohon tetaplah bertahan di sini." pinta Kevin, kedua tangannya mendekap tangan Lula.
Lula memejamkan mata menahan rasa sesak di dada. Dulu dia amat di hina, sekarang setelah tahu dirinya berubah penampilan, suaminya mengangkat kehormatannya.
"Terlambat. Aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Terima kasih sudah mengakui aku adalah istrimu. Tanpa kamu melakukan itu pun, keputusan ku tidak berubah. Aku akan mengirimkan surat gugatan cerai padamu." kemudian Lula pergi.
Kevin benar -benar kacau sekarang. "Sebelum dia menggugat cerai aku, aku akan berusaha mendapatkan hatimu kembali." batin Kevin menasehati.
CEO yang terkenal playboy itu berjalan lesu menuju ruangannya.
Sementara Lula terhenti karena ada Emi di sana.
"Emi, awalnya aku ingin memberi tahu kamu, tapi waktu yang tak bisa. Dan sekarang aku bisa menjelaskan semua ini padamu." Lula bisa menangkap kemarahan sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu pikir selama ini kita adalah sahabat baik. Nyata nya kamu sama saja dengan yang lain. Kamu belum terbuka sama sekali padaku. Bahkan aku baru tahu kalau kamu adalah seorang nyonya, "Emi langsung balik kanan dan berlari. Tak terasa air matanya menitik.
Selama ini Lula adalah tempat curhat yang nyaman, setelah Emi tahu faktanya, dia merasa kalau dia sedang dibohongi.
Lula ingin menjelaskan, namun terlanjur membuat kecewa hati sahabatnya.
"Emi, maafkan aku. " Lula pun juga pergi.
***
Malam ini Kevin lembur dan pulang sedikit terlambat dari jam biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Perut nya sangat lapar tapi mulut terasa pahit ingin menelan makanan.
Perlahan dia memasuki apartemen. Dilihat lampu kamar Lula masih menyala, itu tandanya dia belum tidur.
Rasanya ingin menyapa namun lidah terasa kelu. Kevin langsung masuk ke kamar, dia tidak mandi dan hanya berganti pakaian. Memilih mengenakan sweater dan celana panjang. Padahal udara sangat panas, baginya udara malam ini terlalu dingin.
Kevin keluar kamar dan membuka tudung saji. Dia tak menemukan apa pun di sana. Teringat snack yang kemarin masih ada, dia bermaksud ingin memakannya.
Setelah habis tiga bungkus, bukannya rasa kenyang yang ia dapatkan melainkan rasa perih dan mual.
Kevin berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
"Sepertinya aku demam, lebih baik aku istirahat saja di kamar. Besok pasti lebih baik." gumamnya seraya menarik selimut.
Alula merasa kesulitan untuk tidur, padahal matanya sudah terpejam. Dia bangkit dan mematikan lampu kamarnya. Berharap besok adalah hari yang baik.
"Besok aku akan mulai syuting, semoga saja lancar." batinnya dan segera tidur. Dia teringat dengan ancaman yang ia lontarkan pagi ini, menggugat cerai suaminya.
"Aku sudah tidak tahan dengan hubungan ini. Lebih baik aku bercerai saja. Tapi, bagaimana dengan janjiku yang sudah ku buat dengan nyonya Santi? Ah, wanita itu terlalu baik padaku. Aku jadi tak tega membuatnya sakit. Aku terlalu lemah jika sudah berhadapan dengan wanita itu." ujar Lula bermonolog. Tak lama kemudian Lula pun tertidur dan terdengar mendengkur tipis.
Keesokan paginya, Lula tak sempat memasak karena bangun kesiangan. Dia hanya sarapan roti tawar dan segelas susu. Setelah rapi dengan dandanan yang sangat cantik Lula meraih tas di meja rias dan keluar kamar. Lula melewati kamar Kevin.
"Si playboy itu pasti sudah berangkat, kenapa dia tak membangun kan aku, ini sudah pukul 09.00. Aku harus cepat." Lula pun pergi tanpa memastikan keberadaan Kevin.
Sesampainya di depan, ia melihat mobil Kevin masih ada di parkiran.
"Loh, ini mobilnya masih ada, kenapa dia belum berangkat. Ah, bodo amat, ngapain juga aku mikirin dia." gumam Lula. Jemputan Lula sudah datang dia pun pergi ke lokasi syuting yang hanya menempuh perjalanan sekitar 25 menit.
Pukul tiga sore, Lula sudah kembali ke apartemen. Karena tadi tak sempat masak, dia tadi membeli nasi goreng di warung depan.
"Mobilnya sudah ada di parkiran, tumben dia pulang cepat." ujar Lula yang melihat mobil Kevin. Nyata nya mobil itu terparkir dengan keadaan yang sama.
__ADS_1
Lula memasuki apartemen dan suasana masih sama seperti saat ia pergi pagi tadi.