Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 56


__ADS_3

Ingin rasanya ia lari dari kenyataan ini, namun dia harus mengikuti takdir. Kevin mendesah dan berkata, "Maksud aku, aku tidak akan kemana -mana, hanya saja jika aku pergi sewaktu -waktu karena tugas yang mendadak. Itu saja." Kevin gelagapan sendiri dengan ucapannya. Ia membuat alibi palsu. Tidak mungkin dia menceritakan tentang penyakitnya disaat istrinya tengah bahagia.


Lula manggut -manggut sambil bersenandung, "Ohh, kira in Mas mau pergi lagi. Pokoknya aku mau saat lahiran anak kita nanti, Mas Kevin nungguin aku 24 jam!"


Kevin terbelalak agak bengong, kemudian dia menjawab dengan ragu, "I-iya Sayang, itu pasti! Aku akan selalu ada di sisimu, tak hanya 24 jam, seumur hidupku aku akan ada untukmu."


Alula tersenyum bahagia, "Terima kasih, Mas!" kemudian dia memeluk pinggang suaminya dari samping. Kevin mengangguk dan tersenyum.


Kevin bergumam dalam hati, "Jika laupun Tuhan memanggilku dalam waktu dekat, aku ingin menikmati sisa hidupku bersamamu dan anak kita." Kemudian Kevin menuntutnya menuju kamar.


Saat mereka berdua melintasi ruang tamu, ada Viona di sana. Viona menyilangkan tangan di depan dada.


Viona memandang acuh kakaknya dan sedikit memaki, "Dasar orang pelit!"


Mendengar itu Kevin langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Alula turut serta.


Kevin menyorot tajam pandangannya ke arah Viona, dan dengan nada marah bertanya, "Aku tidak tuli, siapa yang kamu maksud pelit itu?"


Viona melepas tangannya dan berjalan ke arah iparnya, "Mbak Lula, Mbak sadar tidak siapa orang yang terpelit di antara kita bertiga?" Viona mendekatkan mulut nya ke arah telinga Lula dan mengangkat salah satu tangannya untuk menutupi pembicaraan itu. Matanya melirik ke arah kakaknya.


Meski suaranya terdengar lirih, namun Kevin mampu mendengar setelah itu dia menggertakkan gigi sangking geramnya dikatai pelit oleh adiknya.


Alula terkekeh kemudian mendongak menatap Kevin. "Siapa?"


Viona tersenyum masam, "Ya tentu saja suami kakak yang sok tampan ini!"


Viona berhasil membuat Kevin marah, meski sebenarnya adiknya itu hanya bercanda. Kevin juga tahu itu.


Kevin mengepalkan tinju dan berteriak, "Viona!" Kevin menyadari jika mudah terpancing emosi maka akan memperparah kerja dari jantungnya. Kemudian dia menarik nafas dan berkata dengan lembut, "Baiklah, karena aku sedang bahagia, katakan apa maumu?"


Viona tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang runcing, "Nah, begitu dong!" Viona menggandeng iparnya dan berkata, "Bagaimana Kak kalau kita pergi shopping, mumpung masih pagi?"


Kevin melotot dan wajahnya berubah masam, "Jangan, Lula sedang hamil muda! Dia tak boleh pergi!"


Viona tak mudah menyerah dan memberi tawaran, "Sebentar saja, aku pastikan nanti pulang cepet kok, masa nggak boleh!"

__ADS_1


Kevin berkacak pinggang, "Aku bilang enggak ya enggak!"


"Dasar pelit, pinjam istrinya sebentar saja nggak boleh!"


Kevin meledek, "Sana cari cowok, biar ada yang nemeni!"


Lula menoleh dan memperhatikan reaksi kedua kakak beradik itu. Lula mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Diam! Mengapa kalian berdua tidak bertanya padaku, setuju atau tidak, malah sibuk berdebat sendiri." protes Lula yang tak suka dengan sikap suaminya yang kekanak-kanakan.


Suara Kevin melemah dan meraih lengan Lula, "Bukan begitu, Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi kita,"


Alula mendesah dan berkata, "Mas Kevin tak perlu resah, aku akan baik -baik saja jika pergi ke luar. Lagi pula aku juga bosan di rumah terus. Sudah dianggurin, tak di ajak ngobrol pula!"


Kevin sadar dengan sikapnya beberapa hari yang lalu. Akhirnya dia menyerah dalam berdebat ,"Baiklah, kalian berdua boleh pergi! Tapi aku yang akan mengantar kalian."


Viona melotot tak terima, "Yah, nggak seru kalau ada Kakak!"


Alula mengusap bahu adiknya, "Sudah, dari pada nggak diizinkan,"


Kevin menyebik, "Nggak seru apanya,"


Setelah ketiga orang itu rapi dan susah berpamitan pada Santi, mereka menuju mobil dan si sopir alias Kevin sendiri melajukan mobilnya menuju Plaza Mall. Di sana Viona dan Alula memborong berbagai macam pakaian dan alat kecantikan.


Selesai belanja, Kevin terlihat buru-buru saat menyetir.


"Pelan -pelan, Mas! Banyak orang yang melintas." Alula memperingatkan. Kevin menoleh ke kursi samping nya dan mengangguk. Kemudian dia fokus lagi menyetir.


Mobil Kevin berhenti di depan gerbang dan menurunkan penumpangnya.


Melihat sikap suaminya, Alula bertanya, "Kelihatan buru-buru banget, Mas mau pergi?"


"Iya," sahutnya singkat dan menoleh ke arah Viona dan berteriak.


"Viona, titip istriku dulu, aku mau keluar sebentar!"


Alula menyebik, "Emangnya aku barang, dititip -titipkan!"

__ADS_1


Viona mengangkat tangannya, "Tenang saja, Kakak nggak perlu khawatir!"


Kemudian Kevin segera memutar balik mobil nya menuju hotel. Sampai di sana ia segera membuka pintu dan berjalan cepat ke arah meja. Mencabut bunga plastik dari vas. Menuangkan vas tersebut ke atas meja. Maka berjatuhan butiran-butiran obat yang berharga.


Kevin menatap obat itu, tangannya sedikit bergetar dan memungutnya. Ia berniat akan mengkonsumsi obat-obat itu sebagai jalan mempertahankan usianya sampai anaknya nanti lahir ke dunia.


Selesai mengemas semua barang pribadinya di kamar hotel, ia mengambil ponsel dan mencari kontak dokter Shodiq.


"Apa kamu ada waktu, aku mau bicara!"


"Datanglah, aku ada di belakang rumah sakit sekarang!"


Hari ini adalah hari libur, jadi dokter Shodiq memanfaatkan hari liburnya untuk bermain bulu tangkis di sebuah tanah lapang yang letaknya di belakang rumah sakit dimana ia praktik.


Dokter Shodiq belum menikah diusianya yang hampir berkepala empat. Pernah ada yang bertanya mengapa belum menikah, karena belum ada yang cocok sahutnya singkat tanpa keterangan lebih lanjut.


Dia menghentikan aktivitas nya setelah mendengar derap langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.


"Kamu bersemangat sekali!" seru Kevin melihat kegigihan dokter itu saat berolah raga.


Dokter Shodiq bersenandung, "Oh tentu saja, aku harus memperpanjang usiaku untuk bisa merawat banyak orang sakit. Tenagaku masih diperlukan." kalimatnya terdengar mengejek.


Kevin mengimbangi hanya dengan senyuman dan berkata, "Itu bagus, bersyukurlah kamu yang memiliki jantung yang sehat."


Mendengar ucapan itu, dokter Shodiq mengangkat tangannya memberi kode pada teman lawan mainnya untuk istirahat. Kemudian dia menggiring Kevin ke sebuah kursi. Lalu duduk di sana.


"Apa ada keluhan lagi, hingga di hari libur begini kamu mencariku?"


"Tidak ada. Aku tertarik dengan perkataanmu tempo hari. Transplantasi jantung. Katakan padaku, bagaimana agar aku bisa bertahan lebih lama lagi," Kevin terlihat serius ketimbang tempo hari.


"Itu tak semudah yang kamu bayangkan, tidak banyak orang di dunia ini yang rela mati lalu menyerahkan organnya begitu saja pada orang asing."


Mendengar penjelasan dokter itu wajah Kevin mendadak muram, "Lantas aku ...."


"Untuk sementara bertahanlah dengan obat -obat yang aku berikan padamu, sampai ada pendonor yang cocok."

__ADS_1


__ADS_2