Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
Bab 34


__ADS_3

Suasana dalam ruang makan menjadi hening. Alula yang sudah selesai makan sejak tadi masih menundukkan kepala sangking malunya. Ia pun berdiri. Rasa gugup mulai datang.


"Maaf, gara-gara ulahku, papa jadi tak berselera untuk makan. Aku memang tidak pantas berada di keluarga ini." Alula merasa bersalah.


"Bicara apa kamu!" Sentak Santi yang membuat Lula menatap wanita itu. "Bukan salah kamu, Lula, duduklah!" titah Santi yang merasa kalau menantunya tersinggung dengan kepergian suaminya tadi.


Lula yang enggan duduk kembali mendapat sentuhan tangan dari Kevin yang duduk di sebelahnya.


"Sayang, bagaimana kalau kita besok pergi ke dokter untuk sekedar berkonsultasi tentang gangguan makan yang kamu alami?" ujar Kevin penuh semangat.


Alula ragu untuk pergi ke dokter, ia takut jika gangguan yang ia idap ini berbahaya. Dia masih diam tak menyahut.


"Iya, Lula, mama juga setuju dengan usul Kevin. Siapa tahu dengan pergi ke dokter kamu bisa tahu gangguan apa yang kamu alami. Semoga bukan sesuatu yang serius!" Santi mendukung keinginan putranya.


"Baik," sahut Lula pasrah.


"Mbak Lula, sakit apa?" tanya Viona yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Aku sendiri juga nggak tahu, Dik. Sejak SMA aku mengalami gangguan makan, hingga berat badanku setiap hari naik. Aku juga nggak pernah memeriksakan diri ke dokter. Karena aku takut." ujar Lula dengan sedikit kecewa.


"Kita akan tahu besok, jadi kamu jangan sedih lagi. Semoga dokter tidak menemukan penyakit yang serius." hibur Kevin.


"Amiin, Mas!"


"Mbak Lula, nginep sini kan?" Viona memang seneng banget jika Lula nginep. Selain buat nyuruh bantuin mengerjakan PR dia bunga cerita baru untuk didengar.


Alula tak langsung menyahut, dia menoleh ke arah Kevin.


"Nginep saja, jarang -jarang loh!" bujuk Santi yang sangat merindukan menantunya.


"Aku terserah mas Kevin saja." pasrah Lula setelah mendapat anggukan kepala dari suaminya.


"Ya, kita akan menginap sehari di sini." ucap Kevin.


"Siiplah kalau begitu! Mama akan ke kamar dulu, memberi pengertian pada papa tentang keadan ini." Santi beranjak yang sebelumnya mengelap mulut nya bekas minyak dengan tisu.


"Hore, Mbak Lula, entar malam kita begadang ya, aku punya film korea terbaru loh ...!" seru Viona dengan girangnya.


"Enggak bisa!" tolak Kevin yang keburu meraih tangan Lula untuk diajaknya ke lantai atas.

__ADS_1


Alula berdiri sambil melambaikan tangan ke adik iparnya yang sedang cemberut.


"Yah, gagal maneh!"


Sesampainya di kamar.


"Aku nggak bawa baju ganti." terang Lula sambil mematung 2 detik lamanya.


Kevin menyadari itu dan menarik Lula hingga terduduk di tepi ranjang.


"Tenang, aku punya stok kaos seukuran dengan body kamu." Kevin menghampiri lemari dan mencari kaos di tumpukan baju nya yang lama. Sekiranya pas dengan ukuran istri nya yang kini ramping, Kevin menempelkan kaos itu di depannya.


"Bagaimana dengan yang ini, sepertinya pas?" Alula berdiri dan mengambil kaos itu.


"Biar aku coba." Alula hendak melangkah ke kamar mandi namun langkah nya tercekal.


"Udah, ganti baju di sini saja, lagian aku juga sudah pernah lihat semua nya ," wajah mesum suaminya terlihat.


"Jangan harap!" Alula melenggang begitu saja dan membanting pintu kamar mandi dengan keras. Jujur saja, dia masih marah dengan kelakuan suaminya. Kevin hanya tersenyum nakal.


"Oh, iya, mana ponselku?" Kevin merogoh sakunya, namun tak ada.


Kevin mencari ponselnya yang tertinggal di meja makan.


Saat menaiki tangga ia melewati kamar orang tuanya dan tanpa sengaja mendengar sayup-sayup suara Satria.


"Ma, masa punya menantu cantik tapi jorok seperti dia. Apa Mama dulu nggak salah pilih? Masih banyak wanita cantik dan bersih di luar sana." ujar Satria yang terdengar tak menyukai tabiat Lula.


"Pa, mama menilai seseorang tak sembarangan, meski dari fisiknya Alula yang gendut dulu, tapi ia memiliki hati bak malaikat loh! Kan Papa dulu juga tak mempermasalahkan siapa Lula,"


"Ini beda, Ma, menantu kita cara makannya kurang sopan. Bagaimana kalau dia di ajak di acara tertentu, terus membuat malu keluarga kita, hah!"


"Besok Kevin akan membawa Lula pergi ke dokter untuk menanyakan masalah Lula. Jadi, mama berharap jaga sikap Papa untuk tidak menyinggung perasaan Lula."


Kevin menguping pembicaraan orang tuanya. Ia kini tahu, kalau papanya tak menyukai istrinya.


Belum banyak yang ia dengar dari pembicaraan itu, ia memutuskan untuk tidak jadi menginap. Dengan langkah kesal ia segera masuk ke kamarnya.


"Lula, siapkan dirimu, kita pulang sekarang!" begitu Kevin membuka pintu, didapati istrinya tengah berbaring.

__ADS_1


"Loh, kenapa ?" Lula bangkit dari pembaringan.


"Sudah, jangan banyak tanya !" Kevin membentak, membuat Lula sedikit takut.


"Kenapa dengan orang ini?" gumam Lula seraya bersiap mau mengganti baju.


"Tidak usah ganti, nanggung!" ujar Kevin saat tahu istri nya mengambil baju yang lain.


"Iya," sahut Lula singkat dan segera mengikuti langkah suaminya pergi.


Santi dan Satria berada di ruang keluarga sekarang, mereka berdua tengah menonton televisi.


"Loh, kalian berdua mau kemana?Apa nggak jadi menginap?" tegur Santi saat Kevin menuruni tangga sedang Lula menyandang tas miliknya. Menunjukkan kalau mereka sedang akan pergi.


Satria melihat masam ke arah Lula, seakan dirinya benci. Pandangan keduanya pun saling bertemu. Melihat mertua laki -lakinya yang tak suka dengan dirinya, Alula lebih memilih menunduk.


"Kevin nggak mau kalau ada orang di rumah ini yang membenci Lula." Kevin menggandeng tangan istri nya. Membuat Lula salah tingkah plus malu.


"Siapa, di sini semua sayang sama Lula," Santi tahu siapa yang dimaksud putra nya, ia menoleh singkat ke arah Satria.


"Papa. Papa nggak suka kan sama istriku?" ujar Kevin tegas membuat Satria tersentak.


"Bukan begitu, Vin, papa hanya saja merasa kalau istri mu itu perlu di beri contoh, bagaimana cara makan yang sopan itu seperti apa? Nanti, kalau ada acara keluarga, dia tidak membuat malu." sahut Satria dengan santainya tanpa sadar telah menyinggung perasaan Lula.


"Papa!" mendengar keterangan Satria membuat Santi emosi. Padahal tadi dirinya sudah berpesan agar tidak membahas itu lagi.


"Oh, jadi, istriku makan nggak sopan, begitu?" Kevin membela istrinya.


"Sudah, Mas, nggak usah diperpanjang !" bisik Lula yang semakin malu.


"Yah, itu pesan papa saja, untuk kebaikan istri kamu." pangkas Satria yang kemudian meninggalkan ruang keluarga.


Santi yang merasa bersalah atas sikap suaminya segera menghambur ke arah Lula.


"Lula, Sayang, jangan dimasukkan ke dalam hati ya, omongan papa barusan." hibur Santi sambil mengusap bahu Lula.


"Iya, Ma, apa yang dikatakan papa barusan itu ada benarnya juga. Lula akan berusaha memperbaiki cara makan Lula." ujar Lula dengan seulas senyum yang sengaja ia tampilkan, menunjukkan kalau dia sedang baik-baik saja padahal nyata nya lain.


"Yuk, kita pulang !" ajak Kevin dan terus menggandeng tangan Lula.

__ADS_1


__ADS_2