Buih Jadi Permadani

Buih Jadi Permadani
20


__ADS_3

Sementara Gibran sedang berada di pinggir jalan dekat dengan kantornya. Wajahnya terlihat tak bahagia.


"Kalian bodoh atau bagaimana, menangkap seorang wanita saja tak becus! Jumlah kalian kan lebih banyak." geram Gibran seraya melempar separuh uang untuk hasil kerja para pesuruhnya. Wajahnya angkuh membuang muka.


"Maaf Tuan, kami lari sebelum mobil polisi datang. Kami takut jika tertangkap." ujar salah satu dari enam preman.


"Cih, preman cemen. Aku tak perduli lagi alasan kalian. Besok kalian pasti kan untuk bisa menangkap wanita itu!" tegas Gibran seraya menunjuk mereka.


"Baik Tuan, kami akan berusaha menangkapnya lagi." para preman itu segera pergi. Sementara Gibran penasaran dengan wanita itu. Apa hebatnya dia bisa menarik hati Kevin yang jelas sudah berpacaran lama dengan putrinya? Gibran kembali ke kantor untuk mengurus kerja sama dengan investor.


Sementara Kevin yang masih merasa perih di bagian luka jahitannya mencoba bangkit, dia keluar kamar dengan berjalan terseok lalu menuju dapur, tak didapati istrinya di sana.


"Sudah hampir siang, tapi Lula belum keluar kamar juga, apa dia sakit?" gumam Kevin, ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Lula.


"Lula, apa kamu sudah bangun?" tanya Kevin sopan.


Hingga tiga kali ketukan, tetap tak ada sahutan dari balik pintu.


Meski belum ada sahutan, tapi terlihat jelas kalau di dalam kamar ada orangnya karena lampu kamar masih terlihat terang.


Kevin ingin melakukan sesuatu sebagai bukti kalau dia bisa berbuah. Dirinya berkutat di dapur untuk membuat kopi. Karena dia tak pandai memasak dan matahari sudah meninggi, dia pun memesan makanan via on line. Setengah jam kemudian pesanan datang. Dengan semangat meski masih nyeri Kevin menata makanan di atas meja. Tak lupa juga dia membuatkan secangkir susu coklat.


"Mungkin dia suka, ah, tak apalah suka atau tidak terserah yang penting aku sudah mencobanya." Kevin meletakkan secangkir coklat panas di atas meja yang biasanya Lula tempati.


Di tengah kesibukannya menata piring, ponselnya mendadak berbunyi ternyata dari Nabil. Setelah Nabil tahu kalau Alula adalah istri Kevin, pupus sudah harapannya untuk mendekati dia. Nabil jelas tahu selera Kevin sangat tinggi. Tapi kenapa harus Alula yang jelas bukan kriterianya? Alula hanya menang cantik, tapi pendidikannya tak setara dengan Kevin.


"Halo, Nabil ada apa?" Kevin sedikit kesal lantaran terganggu dengan sahabatnya itu.


"Bos, ada masalah dalam perusahaan. Kemana saja kamu selama ini, mentang -mentang punya istri cantik hawanya pingin di rumah terus. Buruan ke sini!" omel Nabil yang tak tahu keadaannya sekarang.


"Sial kamu, aku sedang sakit. Memang ada masalah apa?" Kevin mulai penasaran dengan kabar yang ia dengar.


"Kamu pernah mengatakan kalau hanya akan menikah dengan satu wanita yakni Vivi Amanda. Tapi, semua publik telah tahu kamu mengingkari janjimu. Kamu hanya menginginkan wanita-wanita langsing dan cantik sebagai pelampiasan dirimu." terang Nabil yang seketika membuat Kevin menganga.

__ADS_1


Bahkan dia belum melihat sendiri berita itu. Tapi, bagaimana bisa semua orang sudah tahu.


"Ucapan kamu saat bersama Vivi kemudian muncul di berbagai media on line, bahkan kamu menjanjikan aset perusahaan jika kamu ingkar janji." imbuh Nabil yang terdengar merasa geram dengan perilaku Kevin.


"Nabil, bagaimana bisa ini terjadi?"


"Aku sendiri juga tak tahu, cepat ke kantor, di sini sedang kacau kamu malah ***-***!"


"Diam kamu!" bentak Kevin yang kemudian menutup kasar panggilan telepon. Hatinya gusar mulai tak tenang. Selesai menata meja dia hendak bergegas keluar. Namun langkahnya terhenti ketika Lula dengan wajah kas baru bangun keluar kamar.


"Pagi Sayang!" sapa Kevin dengan langkah sedikit terseok menghampiri istri nya. Mencium kening dan menyelipkan rambut yang sedikit berantakan ke belakang telinga.


Mendapatkan perlakuan manis dari pria tampan tentu siapa yang bisa menolak? Lula terhipnotis juga, dengan tatapan kosong dia menerima perlakuan itu.


"Eum, kamu kan sedang sakit ngapain melakukan ini segala!" Lula menatap sajian di atas meja yang terlihat jelas dari ia berdiri.


"Mungkin kamu terlalu capek semalam menjaga aku, jadi sebagai timbal baliknya aku beli in makanan. Kamu pasti lapar, ayo kita makan!" Kevin meraih dan menggenggam erat tangan istri nya menuju meja makan.


Keduanya duduk saling berhadapan.


Sementara Lula jadi canggung begitu.


"Tapi kan aku belum mandi," Lula merapikan tali rambutnya.


"Ya sekalian nanti sesudah sarapan. Nih, aku juga sudah buatkan susu coklat juga. Tadinya sih masih panas, pasti sekarang udah dingin. Biar aku buatkan yang baru ya," Kevin hendak beranjak namun Lula mencegahnya.


"Tidak perlu, ini belum terlalu dingin. Masih terasa hangat kok! Terima kasih, aku suka yang kayak gini!" Lula memegang gelas dengan kedua tangannya. Menyeruput dengan pelan.


"Bagus deh, aku awalnya ragu kamu akan suka atau enggak. Ya udah ini ada bebek goreng, kamu juga suka kan ?" Kevin menyodorkan satu porsi nasi bebek goreng. Lula tercengang, porsi nya gede banget. Lula hanya mengangguk dan mulai memakannya.


Siapa sangka jika gangguan bulimia nervosa yang selama ini ia idap ternyata masih sulit dikendalikan. Dia makan begitu rakus dan tanpa ia sadari. Kevin menelan saliva menyaksikan itu.


Selesai makan Lula tersadar dan segera beranjak ingin ke dapur memuntahkan semua isinya. Kevin buru-buru mencegahnya karena ia tahu apa yang Alula lakukan.

__ADS_1


"Jangan pergi, kamu tak perlu khawatir dengan sesuatu yang sudah masuk ke dalam perut! Kevin meraih lengan Lula yang akan melewati nya.


Kevin berdiri dan meraih tangan Lula yang satunya lagi membawa dalam dekapan.


"Lula, bertahanlah untuk terus berumah tangga denganku. Aku sudah mulai mencoba dari hal kecil. Jadi, setelah ini kamu bisa memakai kamarku juga untuk kita tidur malam nanti. Aku ingin meminta hak ku." Kevin sungguh berani mengungkapkan keinginan hatinya. Jauh dari Lula terasa membuat dia menjadi gila.


"Maaf, aku belum bisa melakukan kewajiban. Hatiku masih ada luka yang belum sembuh." sahut Lula yang berhasil menampar hati.


"Baik, aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku akan pergi dulu, ada masalah yang harus aku selesaikan, yang disebabkan oleh diriku sendiri hingga perusahaan mengalami kekacauan." terang Kevin jujur.


"Tapi kan kamu masih sakit?"


"Aku masih bisa menahan, tapi jauh darimu aku sungguh merasa sakit." kelakar Kevin yang hampir membuat Lula muntah udara.


"Cih, dasar gombal! Playboy mana yang bisa begitu kalau bukan kamu," Lula tak ambil pusing dan langsung masuk kamar.


Kevin senyum sendiri melihat ekspresi istrinya yang ia anggap menggemaskan itu.


***


Walaupun akhirnya Kevin menyatakan permintaan maafnya lewat Facebook,  ia tetap tidak bisa merubah image perusahaanya di mata publik.


Pelajaran berharga yang perlu Kevin ambil ialah ketika seorang petinggi perusahaan memberikan pernyataan di depan media, ia harus berbicara sebagai orang yang merepresentasikan brand perusahaan. Jika ia salah bicara, bukan hanya citra si pembicara yang rusak, tetapi juga citra perusahaan.


Kevin melewati berbagai pertanyaan hingga akhirnya dia lelah dan putus asa.


Vivi datang dengan membawa map di tangan.


"Bagaimana Kevin?" tanya nya dengan semburat senyum di wajah. Seperti habis melakukan sesuatu yang menyenangkan.


"Sepertinya aku menyerah. Aku lebih memilih kehilangan jabatan dari pada harus menikah denganmu." ujar Kevin seraya menerima map dan merobek hingga menjadi dua.


Vivi membelalakkan mata dengan apa yang barusan ia dengar.

__ADS_1


__ADS_2