
"Aku kurang tahu ia sakit apa, aku mengambil gambarnya sore tadi." Andho mengeluarkan ponsel dan membuka galeri. Vivi yang begitu cemas segera melihat foto Kevin. Karena foto yang Andho ambil begitu buram saat di perbesar, ia tak melihat jelas wajah pucat milik Kevin.
"Setahuku dulu dia tak pernah mengeluh dan aku juga baru tahu dia bisa sakit," ujar Andho. Andho dan Nabil adalah teman satu kelas saat SMA dan bahkan saat menuju jenjang yang lebih tinggi pun mereka tetap bersama. Meski demikian Andho tak pernah tahu penyakit Kevin.
"Mungkin dia menyembunyikan sesuatu. Apakah Lula juga sudah tahu kalau Kevin sakit?" begitu mendengar nama Lula disebut, Andho seketika bereaksi. Otaknya yang mesum tak berhenti membayangkan si cantik itu.
"Gadis cantik itu sepertinya juga tidak tahu." tanpa sadar Andho memuji Lula di depan Vivi. Mata Vivi melotot.
"Cantik kamu bilang?" Sentak Vivi yang membuat Andho tersadar dari lamunan.
"Eh, bukan, bukan begitu maksud aku." Andho menyangkal namun Vivi sudah terlanjur marah. Ia berdiri dan berbalik. Andho ikut berdiri dan mengejar. Mencoba menjelaskan.
***
Meski sudah minum obat, Kevin tetap tak bisa memejamkan mata. Bayangannya terus tertuju pada Lula. Ia tak bisa membiarkan Lula seperti ini. Mengingat perkataan dokter mengenai usianya yang hanya beberapa tahun, ia menjadi pesimis lagi.
Bagaimana nasib Lula selanjutnya setelah ia tiada lagi? Ia tak bisa membayangkan itu.
Terasa beban pikiran ini tak mampu ia tampung sendiri. Alhasil dari pemikirannya sepanjang malam, ia menyerah dan mengirim pesan pada Nabil untuk menemui dia di rumah sakit. Dia juga berpesan agar jangan ada orang lain yang tahu.
Pukul 04.00
Cuaca dingin membuat pria dengan lesung pipi ini terbangun. Ia menyibak selimut lalu bangkit menuju kamar mandi. Kemudian setelah selesai buang hajat ia ingin melanjutkan tidur. Ia meraih ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang.
"Masih malam, tidur lagi ah!" serunya. Sebelum ia melanjutkan tidur lagi, ia membuka beberapa pesan yang masuk. Dari sekian pesan ada beberapa notif dari atasannya.
Karena orang tua Siska datang lebih awal dari jadwal. Nabil bisa pulang meninggalkan Siska. Kedua orang tua Siska sangat berterimakasih padanya karena sudah menjaga Siska. Orang tua Siska tidak tahu hubungan Siska dengan Kevin. Jadi mereka menyangka kalau Nabil adalah kekasih anaknya. Siska tersenyum tipis ke arah Nabil sebelum pergi. Entah mengapa ada desiran di dalam hati kecil nya. Tapi ia tak sadar kalau sudah mulai jatuh hati pada mantan sahabatnya.
__ADS_1
Sebelum menyentuh profil Kevin, Nabil menggosok matanya agar saat membaca bisa jelas.
"Bos Kevin ada di rumah sakit? Tapi ini alamat nya beda dengan rumah sakit dimana Siska dirawat. Siapa yang sakit?" gumam Nabil seraya bangkit tak jadi menyambung mimpi. Ia juga heran untuk apa bosnya melarang dia untuk tidak memberi tahukan keberadaan dia sekarang. Padahal kemarin ia mendengar dari istrinya kalau Kevin pergi ke luar kota, tapi kenapa malah ada pesan kalau dia masih ada di kota ini?
Nabil jadi bingung sendiri, ia segera ke kamar mandi lagi dan bersiap. Untuk menghindari kemacetan di pagi hari ia memilih untuk berangkat di pagi buta, menyalakan mesin bergegas ke rumah sakit dokter Shodiq.
Sesampainya di sana. Nabil berjalan menuju ruangan Kamboja 2.
"Bos Kevin!" sapa Nabil dengan reaksi sedikit terkejut lantaran melihat atasannya berbaring terlentang.
Merasa ada yang memanggil namanya, Kevin membuka kelopak mata dan menoleh ke arah sumber suara.
"Asisten Nabil, syukurlah kamu sudah datang." Suara Kevin terdengar lirih dan agak berat.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kamu sakit apa?" Nabil lebih dekat kini, duduk dan meraih tangan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Nabil tercengang dan berkata, "Dada kamu sakit, bekas luka jahitan kah?"
Kevin tersenyum dan berujar, "Bukan, aku mengalami penyakit jantung di usia yang terbilang masih muda."
Lagi-lagi Nabil tercengang mendengar kejujuran Kevin. Ia sangat merasakan sakit melihat keadaan sahabat baiknya. Matanya menghangat seakan ada yang jatuh. Tapi ia mengabaikan rasa itu dan menatap langit -langit untuk mengalihkan pandangan.
"Aku yakin kamu bisa sembuh." ujar Nabil menenangkan. Meski dadanya ikut terasa sesak ia seolah biasa saja mendengar kabar buruk ini.
Kevin tersenyum renyah. "Dokter bilang usiaku sudah tak lama lagi." kemudian dengan reaksi sedih ia membuang muka.
Bagai tersambar petir rasanya Nabil mendengar ini.
__ADS_1
Nabil terkejut dan menguatkan hatinya.
"Itukan hanya perkataan dokter. Tuhanlah yang menentukan hidup mati sejuta umat." ujarnya santai. Kevin menatap Nabil lagi.
"Aku ingin kamu melakukan satu hal padaku." Kevin menutup mata sejenak dan membuka nya lagi.
"Apa?" Nabil sedikit cemas apa yang akan disampaikan bosnya.
"Aku tak ingin keluarga dan istriku tahu hal ini. Bersediakah kamu menepati janjimu ?"
"Tapi ...."
"Berjanjilah padaku !" awal nya Nabil tak terima dengan perkataan Kevin tentang hal itu. Karena dia hanya sebagai bawahannya saja, ia menyanggupi juga.
Setelah berkata demikian, Kevin kembali tidur.
Nabil menatap tubuh kurus itu dengan perasaan kasihan. Merasa penasaran dengan kondisi Kevin, ia bergegas menemui dokter yang menangani Kevin untuk meminta keterangan lebih.
Selesai menemui dokter Shodiq, Nabil kembali ke ruangan pasien. Ternyata Kevin sudah bangun dan sedang duduk bersandar menatap koridor. Cahaya mentari samar-samar masuk melalui celah.
Pikirannya tertuju pada Lula, sudah 2 hari ini ia tak menghubungi istrinya. Padahal sudah beberapa kali Lula memanggil dan mengirim pesan. Tapi Kevin belum juga membalas.
Suara langkah Nabil menyadarkan Kevin dari lamunan.
"Apa sebaiknya aku meninggalkan Lula sekarang, mumpung dia belum terlalu jauh mencintaiku." ujar Kevin seraya menatap Nabil.
Nabil tak bereaksi bingung dengan sikap atasannya yang plin plan.
__ADS_1