
Kevin pulang dengan tangan kosong tanpa membawa Lula. Karena hari nya suntuk dia pulang ke rumah.
"Kevin, kamu nggak masuk kerja?" tanya Santi saat tahu putranya duduk lesu di ruang keluarga sambil membaringkan tubuhnya.
"Baru sembuh." sahut Kevin singkat.
"Kamu baru sembuh? Emang sakit apa?" setahu Santi, Kevin ini pria yang sehat dan jarang sekali jatuh sakit.
"Sakit hati." sahut Kevin singkat sambil memejamkan mata. Pikirannya berkelana membayangkan sang istri saat akting di depan kamera. Sungguh idaman para pria, begitu cantik dan penuh karisma.
"Sama siapa? Lula?"
Kevin hanya menyahut dengan deheman tanpa merubah posisinya.
"Baru kali ini kamu merasakan sakit hati, sudah loyo begitu, mana jiwa playboy mu yang dulu? " ujar Satria yang baru keluar dari kamar. Suara papanya membuat dia terperanjat.
"Papa! Papa sudah pulang?" Kevin bangkit dari sofa, merentangkan tangan menyambut hangat kepulangan papanya dari Meksiko.
"Iya, satu jam yang lalu baru sampai."
"Kok Mama nggak ngasih kabar kalau papa pulang?" protes Kevin menatap mamanya butuh penjelasan.
"Maunya begitu, tapi kamu keburu datang. Biasanya kan kamu main ke sini satu bulan sekali. Itu pun jika kamu ingat." Santi tak mau disudutkan. Kevin terdiam, memang benar apa yang dikatakan mamanya. Dia mengusap rambut belakangnya sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Duduklah, papa ingin bertanya padamu!" pinta Satria, mereka berdua pun duduk berhadapan.
Santi ke dapur untuk memesan minuman dan cemilan pada bi Hanum. Tak lama kemudian bi Hanum datang dengan membawa baki berisi tiga gelas teh hangat dan dua toples cemilan.
"Mama bilang kamu sudah menikah, bahkan istrimu itu pilihan mama kamu. Jika itu sudah terjadi, kamu harus bisa menjadi pribadi yang bertanggungjawab sebagai kepala keluarga. Dan itu artinya kamu juga harus sudah siap menjadi seorang ayah. Selain fokus pada pekerjaan di kantor, kamu juga jangan melupakan kebahagiaan istrimu." terang Satria.
Kevin termenung mendengar nasehat ayah nya yang benar apa adanya.
"Iya, Pa, Kevin usahakan!" sahutnya lesu.
"Kamu kenapa lesu begitu. Muka ditekuk persis tikar kamu."
"Istriku Pa, dia merajuk."
"Merajuk kenapa Vin? Pasti kamu bawa pacar kamu ke apartemen atau kamu melakukan KDRT padanya ?" celetuk Santi yang membuat Kevin mengusap wajahnya kasar.
"Bukan begitu Ma! Lagian aku juga sudah putus dengan pacarku,"
"Lantas Lula merajuk karena apa?"
__ADS_1
"Aku memergoki dia sedang syuting, dia menolak untuk berhenti dari pekerjaan barunya itu."
"Istri kamu artis?" Satria setengah kaget, padahal dari cerita Viona saat video call beberapa minggu yang lalu menerangkan kalau istrinya adalah seorang office girl.
"Iya Pa, sudah dua hari ini dia mengikuti syuting."
"Kamu seharusnya bahagia bisa melihat perubahan Lula, bukannya malah menyuruh dia berhenti. Aku sendiri Pa yang menyarankan Lula untuk ikutan casting dan alhamdulillah dia langsung diterima. Lula memang sangat berbakat di bidang entertaimen. Selain cantik aku yakin Lula bisa dengan mudahnya terkenal meski baru pemula." Santi sangat mendukung Lula.
"Kevin, kamu harus menghargai setiap profesi seseorang. Jangan mudah memberikan vonis kalau pekerjaan yang dilakukan orang lain itu buruk! Tidak ada salahnya istri kamu menjadi artis. Malah bagus jika dia bisa go international." Satria pun terlihat mendukung Lula.
"Tapi dia bermesraan dengan pria lain saat di depan kamera,"
"Itu kan hanya adegan, kamu kan juga bisa melakukan sendiri setiap malam!" ucapan Satria membuat Kevin menekan egonya betapa ruginya dia yang belum pernah sama sekali menyentuh Lula.
"Eum, itu Kevin belum berani Pa."
"Apa? Jadi selama kamu tinggal bersama istri kamu, kamu belum menyentuh dia sama sekali?" Kevin mengangguk malu.
"Ya tentu saja Pa, Kevin dan Lula kan tidur terpisah," pangkas Santi yang sejak tadi menyimak perbincangan hangat ini.
"Kevin, Kevin, masa seorang playboy tak bisa menaklukkan hati seorang istri. Papa saja yang kerennya selangit hanya dengan mengedipkan mata sudah bisa mendapatkan bidadari cantik seperti mamamu." Satria melirik Santi.
"Ih, Papa, bikin mama malu saja!" Santi mengedipkan kedua matanya, terlihat jelas genitnya.
Setelah mendapat wejangan dari kedua orang tuanya, Kevin pamit ingin menjemput Lula sekali lagi. Semoga kali ini Lula mau pulang bareng dengannya.
Kevin sudah ada di area syuting lagi sekitar pukul 17.00. Jam segini biasanya Lula selesai.
Sementara Alula mendapatkan tambahan waktu untuk menyelesaikan adegan bertemu dengan sahabat lama. Dalam cerita yang sedang ia perankan, Lula menjadi rebutan oleh dua pria. Mantan kekasih dan sahabat.
Pria yang sangat beruntung mendapatkan kontrak kerja adalah Arjun, sahabat Lula sendiri.
Arjun yang menjadi lawan main di film yang Alula bintangi tampak bersemangat sekali. Selain mereka sudah saling kenal, kesempatan ini bagus untuk mendekati Lula yang sedang retak hubungannya dengan Kevin.
Lula sendiri sangat senang bisa berakting dengan sahabat sendiri, jadi tidak merasa canggung lagi ketimbang yang tadi. Lula juga sudah merasa rileks untuk beradegan mesra karena sudah belajar banyak dari beberapa video yang ia tonton tadi. Jujur saja, Alula dulunya tipikal cewek yang culun dan hanya suka menonton bola.
Untuk adegan mesra tidak sampai berciuman, tentu sutradara sudah tahu etika yang baik dalam membuat film yang baik.
Kevin melongo dengan suguhan yang ia tonton barusan. Tak henti -hentinya dia merutuki pria yang sedang bersama Lula sekarang.
"Sabar, jika aku gegabah Lula akan semakin menjauh. Lebih baik aku mengalah, menerima profesi Lula sekarang. Benar yang dikatakan papa, aku jauh lebih berkuasa memiliki Lula karena statusku sebagai suaminya." batin Kevin menggurui.
Tapi entah mengapa, dadanya terasa sesak dan lama-lama menjadi panas. Kevin sontak menjatuhkan pukulan pada Arjun saat ada adegan pegangan tangan. Wajah Arjun lebam membuat sang sutradara murka. Alula pun sama.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan, hah!" bentak Lula histeris seraya memegang bahu Arjun yang tersungkur.
Arjun yang meringis menahan memar merasakan kalau Kevin sedang cemburu. Dia berusaha mengendalikan emosi agar tak tersulut. Arjun mencoba bangkit dan tak marah. Lula membantunya.
"Om Yuda, sepertinya adegan berbahaya seperti ini di skip saja. Entar bukan aku saja yang akan kena amukan dia, bahkan kru yang lain akan bernasib sama denganku." saran Arjun seraya memicingkan mata pada Kevin.
Kevin sedang naik turun dadanya, menahan amarah.
Sutradara tak tinggal diam dan memberikan teguran yang berat. Bahkan tak segan akan membawa urusan ini ke pihak yang berwajib.
Lula merasa malu atas sikap Kevin yang kekanak-kanakan.
"Arjun, apa wajah kamu sakit? Apa perlu aku membawa kamu ke dokter untuk memeriksamu?" tanya Alula khawatir yang membuat Kevin semakin membenci Arjun.
"Kamu lupa, aku ini pria sejati mana mungkin merasakan sakit hanya dengan sekali pukul," sanggah Arjun yang memperlihatkan kalau dia sedang baik -baik saja.
"Lula, cepat pulang!" hardik Kevin yang tak tahan melihat mereka sedekat itu.
"Pulanglah, dan urus si pencemburu itu!" bisik Arjun.
"Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya!"
"It"s oke, Lula!" sahut Arjun yang segera pergi. Terlalu lama melihat Lula bersama suaminya menambah rasa perih di tubuhnya.
Syuting sore ini harus berhenti karena insiden yang diciptakan Kevin. Lula meminta maaf juga pada om Yuda. Setelah semua teratasi, Lula segera menghampiri Kevin dan mengajaknya pulang.
"Ayo, pulang dan selesaikan ini di apartemen!" Lula berjalan mendahului Kevin tanpa menoleh saat Kevin meneriaki namanya.
"Lula, tunggu aku! Aku respon tadi memukulnya, tak ada niatan apa pun untuk melukainya." sanggah Kevin tepat saat Lula akan memegang handel pintu mobil.
"Benarkah, lalu kenapa kamu diam saja tanpa mengucapkan kata maaf?"
"Itu karena aku sedang marah." sahut Kevin datar, tak ada kalimat lain yang menjadi pilihannya.
"Marah, marah dan terus marah! Mulai detik ini jangan melampiaskan kekesalanmu pada seseorang!" hardik Lula yang membuat Kevin tak menyahut. Lantas dia memasuki mobil. Diantara keduanya tak ada perbincangan lagi sampai tiba di apartemen.
Lula terlihat sangat capek, dia tak langsung masuk ke kamar. Duduk di sofa dan meluruskan kakinya yang terasa pegal.
Kevin merasa perutnya sangat lapar. Karena tadi menolak saat diajak makan kedua orang tuanya. Lantas dia memesan makanan lewat on line.
"Kamu sangat capek, mau aku pijit?" tawar Kevin yang langsung menyentuh bahu istrinya. Lula tak merespon, sayup-sayup matanya terpejam menikmati begitu enaknya dipijat.
Kevin mencuri kesempatan, menikmati wajah istrinya yang benar -benar cantik.
__ADS_1
"Betapa bodohnya aku dulu yang mengabaikan dia," Rutuk Kevin dalam hati.